Kamu memandang tabjuk ke arah puluhan penari tersebut. Matamu menyorotkan sinar kekaguman, saat Rahwana datang dan memasuki lingkaran api yang dikelilingin manusia, saat Rama menarik busur panahnya, saat Shinta melenggok anggun dan tersenyum masygul, juga saat Hanoman beraksi. Kamu terus memandanginya tanpa berkedip, seolah takut kehilangan satu sketsa dari rangkaian tari itu. Untuk kamu yang sangat mencintai tarian tradisional semuanya mungkin memang sangat menabjukkan.
Read more (661 words)
“Kamu tahu, seharusnya penarinya berjumlah 720 orang. Ini hanya sekedar miniaturnya. Ah...” Kamu mendesah. Saya tahu meski tak nyata ada kekecewaan pada nada suaramu.
“Mungkin suatu saat kamu bisa melihat yang aslinya. Saya yakin pasti jauh lebih menabjukkan dari ini.”
Kamu tertawa. “Kalau maksud kamu saya harus ke Bali dahulu untuk menyaksikan versi asli tarian ini, hal itu sudah menjadi mimpi saya sejak masuk kampus ini. Saya ingin menikmati setiap jengkal pulau itu, setiap sudut-sudut kulturnya yang masih kental. Ah, tapi bukan hanya Bali yang saya ingin kunjungi. Banyak tempat yang ingin saya kunjungi.”
“Apa?”
Kamu tidak menjawab, selalu seperti itu. Kamu selalu membiarkan lawan bicaramu berspekulasi lebih dahulu. Itu caramu hidup bukan? Membiarkan lawanmu berimajinasi dahulu, lalu mematahkannya.
“Perancis-kah? Atau Jepang? Mungkin juga Jerman? Karena kamu selalu bermimpi ke tempat itu untuk melanjutkan S2 mu.” Akhirnya saya pun menyerah. Spekulasi pun keluar dari bibir saya.
Lagi-lagi kamu tertawa, padahal saya pikir tak ada yang lucu dari jawaban saya. “Apa yang akan kamu nikmati dari Perancis, Jepang, dan Jerman? Kalaupu n saya ingin kesana itu dengan alasan pendidikan. Nabi pun bersabda ‘kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina’”
“Kamu bisa menikmati Paris dan Notre Dome-nya, kamu bisa berjalan-jalan di Lion dan Marseille. Kamu juga bisa menikmati Jepang dan Gunung Fujinya, lalu jalan Harajukunya, di Jerman kamu bisa melihat-lihat runtuhan tembok berlin.”
Kamu tersenyum simpul lalu membenarkan jepitan rambutmu. Tahukah kamu? Kadang-kadang saya sangat sebal gerakan itu. Saya sangat hapal gerakan itu, itu artinya kamu sedang mengejek jawaban lawan bicaramu dan mengulur-ulur waktu akan pendapat yang akan kamu keluarkan padahal lawanmu sedang menunggu kalimat-kalimat yang akan keluar dari bibirmu. Sama seperti keadaan saya saat ini yang menunggu kalimat demi kalimat yang akan keluar dari bibirmu itu.
“Kamu aneh sekali yah.”
Nah, benarkan. Kalimat pertamamu saja sudah cukup mematahkan semua pendapat lawanmu.
“Kamu bodoh atau berpura-pura bodoh.” Kamu melanjutkan kalimat berikutnya. “Ketika kamu ke Paris maka budaya yang akan kamu temui sama saat kamu ke Lion, bahasa yang sama, baju yang sama, yang membedakan mungkin hanya gedung-gedungnya. Saat kamu ke Tokyo maka hal yang sama akan kamu temui di Okinawa, bahasa yang sama, masih dengan kimono mungkin hanya coraknya saja yang berbeda. Atau ketika kamu ke Berlin dan ke Munich kamu akan melihat semuanya sama. Khas orang Aria, Jerman.”
Kamu menghela nafas panjang, “Tapi coba kamu kelilingi seluruh Indonesia, saat kamu ke Aceh dengan Saman-nya maka akan berbeda saat kamu ke Jawa Barat dengan Tari Jaipong-nya. Belum lagi bahasa daerah yang berbeda. Bali dengan kultur Hindu yang masih sangat kental atau dengan Kutai Kartanegara yang corak Dayak Kenyah dan Dayak Punan-nya masih nyata. Belum lagi daerah-daerah lain yang tak mungkin saya sebutkan satu per satu kekayaannya. Semuanya ada di satu negara, yah negara kita. Negara Indonesia, budaya Nusantara kita.”
Kamu memutar tutup botol air mineralmu, meneguknya hingga hanya menyisakan setengah dari isi botol yang seharusnya. Keringat yang mengucur dari pori-pori kulit wajahmu nyata sangat menjelaskan bahwa kamu sedang dahaga dan kelelahan.
Kamu tersenyum lagi sambil melirik kamera Nikon yang tergantung di leher saya. “Kamu sudah selesai mengambil foto yang kamu butuhkan. Sejak tadi saya tidak melihat kamu memotret.”
Selalu begitu kan? Saya selalu lupa memotret saat bersama kamu dan mendengarkan semua teorimu yang selalu di luar nalar saya. Bahkan saya lupa memotret miniatur Tari Kecak yang sangat jarang sekali ditampilkan di kampus kita. \
Kamu mengulurkan sebuah kertas pada saya, lebih tepatnya adalah susunan acara pagi ini sampai malam hari. Kemudian kamu berlari ke belakang panggung, sudah saatnya kamu kembali bekerja bukan? Melihat apa yang tertera pada kertas itu membuat saya sadar, saya harus terus berada disini sampai malam hari untuk terus mengambil gambar. Tari Reog Ponorogo, Tari Burung Enggang, Tari Piring dan Gelombang, Tari Melinting, ah saya bahkan bingung dari mana asal semua tari ini. Kamu benar Din, inilah Indonesia. Nusantara kita yang amat sangat kaya.
Be the first person to continue this post
good
tapi lebih mirip naskah drama....
waw...rupanya karya anda berjenis wacana........terima kasih.
Salam kenal....saya yang dibawah ini, Muhammad Hendra Saputra Mahadera, memberi salam dari jauh.
kamu banget ra..
ntar moga-moga ke bali bisa menciptakan ilham baru,hehe
tulisannya ada yang salah ketik tuh..
MARI TERUS BERKARYA!
Cerita yang menyenangkan...
Cukup bisa aku nikmati, hanya saja masih banyak salah ketik, walaupun tidak terlalu mengganggu
payah... kenapa sih selalu kutemui tulisan yang dangkal dan minim padahal seharusnya ide ini mungkin bisa berkembang lebih jauh menarik dengan konflik - konflik kekinian di negeri ini. Lihat lagi kenyataan mbak dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berani dan liar. salam kenal
cckk...cckk...
seperti yang sudah sudah
`
b--*__^--d
`
===========================
`
Read My Novel
http://www.kemudian.com/users/harlockmail
Subscribe me too
cckk...cckk...
seperti yang sudah sudah
b--*__^--d
Nice. Pelestarian budaya
epos pewayangan yang disajikan dengan gaya tuang menarik!
Salut!
Salam lifespirit!
temane menarik. . . . apakah itu bisa terulang di masa yang akan datang
tema yang menarik... tapi caramu bertutur membuatku menguap..
walah walah
tinjauan menyejarah
yang amat kuat
sep sep !
Mmmhh...kamu perlu ke Buol atau Morowali deh..
nusantaranya masa lalu,,diregresi coba.. utk mmprediksi masa dpan.
kali ini Mba Arra sedang promosi budaya Nusantara.. Nusantara yg kaya Budaya..
gak tahu agak terganggu dengan kalimat awal, bagus kok komen juga punyaku ya
cerita kebanggaan atas nusantara.. sayangnya kebanggaan masa lalu, mungkinkah kita bisa mengereknya ke masa depan?
angi cukup bisa menikmati
takjub ataukah tabjuk??