The Knight: Bab 21. Sabotase

Bab 21. Sabotase

‘Koordinat 140 derajat West dan 50 derajat North,’ Kata Wanda yang memperhatikan radar pada kendaraan Multi-Trans mereka.

‘Aneh, apa kau yakin dapat membaca radar itu dengan baik, Wanda?’ Tanya Warren yang menyetir sambil terus memincingkan matanya karena jarak pandang memendek akibat pasir yang terus berhamburan,’ Seharusnya kita sudah sampai di koordinat tersebut. Tapi aku tidak melihat Mutamander satu pun. Mereka kan makhluk raksasa jadi tidak mungkin terlewat dari pandangan kita begitu saja.’

‘Heh, Kak Warren, kalo aku tidak becus membaca radar ini, apa kaukira kita bisa sampai di Australia,’ Tanya Wanda dengan kesal.

Warren hanya mendengus kesal. Tanah Australia sudah hampir seperti padang pasir yang tandus, penuh dengan debu dan pasir. Selain karena ledakan nuklir yang menghancurkan segalanya jadi debu, udara beracun juga membuat kehidupan di Australia menjadi nol kecuali tentunya makhluk hasil mutasi, Mutamander yang hidup dengan memakan udara beracun dan menyimpan racunnya itu di dalam sisiknya.

‘Astaga! Pasir ini membuat mataku jadi sakit,’ Kata Warren sambil melepaskan setir sejenak untuk mengusap kedua matanya.

‘Awas!’ Seru Wanda yang terkejut melihat batu besar yang tiba – tiba muncul di hadapan mereka dari balik hamburan pasir. Maka benturan keras un kembali terjadi dan lagi – lagi Joe harus jatuh tertindih oleh tubuh Budi yang gemuk.

‘Huaaaaa! Pantas saja papa selalu menyuruh kita diantar oleh sopir dan tidak pernah membiarkan kau untuk menyetir!’ Teriak Wanda dengan marah,’ Orang idiot mana yang dua kali menabrak dalam sehari!’

‘Memangnya itu salahku?’ Balas Warren juga dengan teriakan marah,’ Pasir sial ini membuat aku tidak bisa melihat apapun.’ Lalu kedua saudara itu pun saling melotot marah.

‘Teman – teman, apakah batu itu mempunyai mata?’ Tanya Budi heran.

‘Hah?’ Seru yang lain berbarengan dan melihat keluar jendela.

Batu yang baru saja mereka tabrak sedang membuka matanya dan menggoyang – goyangkan kepalanya, melenyapkan timbunan pasir yang menutupi sekujur tubuhnya. Maka dari balik timbunan pasir itulah muncul sesosok wajah buruk bersisik dengan tanduk di moncongnya.

‘Mundurkan mobilnya!’ teriak Wanda panik. Warren segera mengambil tindakan cepat dengan memundurkan Multi-Trans dan berputar secepat mungkin. Mutamander yang melihat para ‘lalat’ pengganggu tidur siangnya hendak melarikan diri segera bangkit mengejar. Tanduknya diarahkan langsung ke kendaraan mereka.

‘Cepat! Tancap gas!’ Kata Wanda semakin panik. Joe dan Budi sudah berpelukan erat sementara Renna menutup matanya erat – erat.

‘Aku sudah tancap gas! Perhatikan saja radarnya karena aku tidak dapat melihat dengan jelas,’ sahut Warren yang menekan gas kuat – kuat hingga memaksa kendaraan Multi-Trans melaju dengan kecepatan 300 km/jam.

‘Dia masih mengejar, kak! Mutamander dapat mencapai kecepatan maksimal 350 – 400 km/jam,’ Sahut Wanda,’ Kalo ia berhasil mengejar maka kita semua pasti mampus.’

‘Kenapa kita lari?’ Tanya Budi,’ Bukankah kita seharusnya membunuh kadal raksasa jelek itu?’

‘Tidak dalam jarak dekat, bodoh!’ Kata Wanda marah besar,’ Kita seharusnya mendekati dengan diam – diam dan membunuhnya dlam sekali tembakan. Tapi si bodoh ini malah menabrak monsternya!’

‘Aku kan tidak lihat!’ Seru Warren,’ Lagipula salah sendiri dia tidur di tengah jalan!’

‘Kalau begitu sekarang tembak monsternya biar tewas!’ Teriak Joe berusaha mengalahkan suara deru angin dan mesin yang berisik.

‘Oke!’ sahut Warren yang mengaktifkan senjata missile launcher dan Plasma Cannon sekaligus,’ Matilah kau jelek!’ Tombol merah itu pun ditekan dan semuanya berharap ledakan hebat terjadi.
Namun, tidak terjadi apa – apa. Jangankan ledakan besar, bunyi petasan pun tidak terdengar.

‘Hei, apa yang terjadi?’ Tanya Warren yang jari tangannya terus menekan tombol senjata itu berulang kali,’ Senjatanya pasti macet atau rusak!’

‘Matilah kita!’ Kata Wanda histeris dan Renna mulai menangis ketakutan.

‘Jangan panik,’ Kata Joe yang entah darimana keberanian nya muncul kembali. ‘Warren, tetap menyetir dan Wanda, segera periksa sistem senjatanya. Kau yang paling mengerti tentang teknologi ini jadi aku yakin kau bisa membetulkan senjata itu.’

Wanda segera berdiri dan merangkak ke ruang mesin di belakang. Jarak mereka dengan Mutamander yang mengamuk semakin dekat. ‘Kawan – kawan, senjatanya tidak rusak!’ Teriak Wanda.

‘Baguslah!’ Kata Warren sambil kembali menekan tombol peluncuran senjata namun tetap tidak terjadi apa – apa,’ Hei! Senjatanya masih tidak bisa meluncur, Wanda!’ Namun sebelum Warren sempat melanjutkan protesnya, Wanda sudah keluar dengan muka pucat.

‘Senjatanya tidak rusak tetapi pelurunya hilang,’ sahut Wanda dengan nada tenang namun mimiknya wajahnya luar biasa pucat.

Mimik itu pun menular dengan cepat ke Joe dan yang lainnya. Wanda pun melanjutkan,’ Bukan hanya itu, kotak senjata kita juga kosong dan baterai untuk Multi-Trans pun hilang. Jadi, selama ini kita melaju hanya dengan menggunakan tenaga matahari dan itu artinya energi yang tersisa akan cepat habis apalagi jika dipakai ngebut terus – terusan seperti ini. Kita harus berhenti untuk mengisi ulang cahaya matahari sebagai sumber energi.’

‘Kita sedang dikejar monster ngamuk,’ sahut Joe dengan suara serak,’ Mana mungkin ada kesempatan untuk berhenti dan isi ulang energi?’

‘Celaka! Ini pasti gara – gara tabrakan pertama di karang tadi,’ Kata Budi,’ Akibatnya semua peralatan kita terbuang ke laut akibat guncangan itu.’

‘Dasar bebal! Memangnya kau kira kendaraan kita ini Land Bus murahan, yang setiap ada guncangan maka akan ada barang penumpang yang terbuang keluar atau dicopet?’ Teriak Warren,’ Pasti ada orang yang mencuri alat – alat kita. Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Kita kan gak pernah meninggalkan kendaraan ini.’

‘Salah, kak, kita meninggalkannya ketika di Pos Penjagaan. Pasti mereka yang telah melakukan sabotase ini,’ sahut Wanda lemas.

‘Tapi untuk apa?’ Tanya Joe,’ Mereka kan Knight dan para tentara khusus World League? Masa, sih, mereka mencuri senjata dan dijual lagi untuk mendapat uang?’

‘Sudah! Jangan bicara lagi,’ Sahut Warren,’ Kita punya masalah gawat. Kita mulai kehilangan kecepatan.’ Alat speedometer Multi-Trans yang tadinya menunjukkan angka 300 kini berubah menjadi 290 lalu terus turun ke 280... 270... 260... dan BRACKKK! Guncangan luar biasa keras itu membuat mereka berlima terdorong ke depan. Sebuah tanduk raksasa beracun menembus dan mengoyak Multi-Trans mereka dari belakang. Joe dan kawan – kawannya saling menindih, hilang keseimbangan. Untungnya mereka telah menggunakan Lifeguard Armor sebelumnya sehingga tidak langsung tewas keracunan begitu udara penuh radiasi merebak masuk dari lubang besar yang ditimbukan oleh tanduk Mutamander. Namun tanduk itu telah menghancurkan ruang mesin yang mulai mengeluarkan percikan api.

‘Semuanya keluar!’ Teriak Joe,’ Abaikan kapal! Abaikan kapal!’ Joe terus berteriak seperti seorang kapten yang kapalnya mau tenggelam. Dia lupa kalau sedang berada di daratan Australia, bukan di kampung halamannya di Jakarta yang merupakan kota bawah air. Namun di situasi sekarang, jelas Joe ingin memilih tetap berada di kampung halaman nya yang nyaman daripada harus tewas dimakan oleh hewan buas berbisa. Warren dan Wanda yang keluar lebih dulu dari pintu kemudi. Disusul Budi sambil menggendong Renna yang begitu ketakutan hingga tidak bisa menggerakkan kakinya sedikit pun. Terakhir barulah Joe keluar dan beberapa detik kemudian ledakan dashyat terjadi, melontarkan kelima orang malang itu.

Joe mendarat dengan keras dan kesakitan. Untungnya armor yang keras dapat meredam benturan sehingga mereka tidak terluka parah. Joe berharap ledakan itu juga menghabisi si Mutamander. Ia melihat ke arah tempat bekas ledakan. Asap hitam. Serpihan alat transportasi mereka yang terbakar. Dan sesosok bayangan besar. Tanduk besar. Mata merah. Mutamander dewasa dengan panjang 30 meter lebih (termasuk ekornya) dengan lebar 5 meter, menjulang tinggi bagai menara tempur. Lebih menyeramkan dibandingkan apa yang pernah dijelaskan Wanda.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ndyw
ndyw at The Knight: Bab 21. Sabotase (10 years 19 weeks ago)

kmn ajah nih om?
koq jarang nongol?

Writer warbots
warbots at The Knight: Bab 21. Sabotase (10 years 33 weeks ago)

maaf, aku lagi sibuk dan harus dinas ke banyak kota. Jadi tidak punya banyak waktu menulis. :)

Writer layaty
layaty at The Knight: Bab 21. Sabotase (10 years 34 weeks ago)
100

sip dech, kok lma bru post lagi

Writer Diakon
Diakon at The Knight: Bab 21. Sabotase (10 years 34 weeks ago)
100

aarrrggg!!! kmana saja kak warbots! kutungguin gada kabarnya hiks2
the knight mang paling top dah!!

huaaaaaaaaaaaa merindukan dirimu ini :((
senang rasanya kak warbots kembali