Sepenggal Cerita Vagina

Aku terus saja melepaskan senyum menggoda pada setiap pejalan kaki yang lewat. Tentunya pria-pria berkocek tebal agar mereka sudi melirik, dan kalau lebih syukur lagi menikmati kencan singkatku. Jarum jam merengsek naik menandakan tengah malam ketika sebuah mobil kapsul berhenti di depanku.

“Hai…apa kabar? Suara kubuat semenggoda mungkin. “Mau rekreasi ya?”
“Iya nih.Bisa temani kami?” jawab pria di belakang setir. Lumayan tampan juga. “Tapi kami berlima. Gimana dong?”.
“Tak masalah. Yang penting dobel bayarannya.” Jawabku enteng
“Berapa sih?” pria itu menyelidik.
“Dua ratus deh. Kan berlima”
“Ga bisa turun nih? Kemahalan”
“Maunya berapa sih?”
“Seratus?”
“Naik lagi dong” rengekku manja
”Seratus duapuluh deh. Kalau nggak mau cabut nih”
“Iya deh” cepat-cepat aku mengiyakan takut mangsaku kali ini kabur

Aku langsung masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah sang pengemudi. Di jok belakang kulihat empat pria tersenyum penuh birahi padaku. Dengan penuh keramahan yang terpaksa kusapa “Hai semua”. Bau alkohol merebak seantero mobil itu.

“Kita mainnya di losmen aja ya” si pengemudi berujar tanpa mengalihkan konsentrasinya.
“Di mana aja boleh” jawabku

Dalam hati aku begitu gembira. Bisa dikatakan jarang aku bisa membawa pulang seratus ribu lebih semalam, akhir-akhir ini. Paling-paling semalam hanya sampai delapan puluh ribu. Karierku sebagai wanita malam, yang tidak pernah aku inginkan, boleh dikatakan sudah tamat. Aku sudah tidak muda lagi. Usiaku sudah berkepala tiga. Kalah bersaing dengan yang masih gres dan muda usia. Tersingkirlah aku ke pinggir jalan. Ya pinggir jalan di kompleks lokalisasi di kota modern ini menjadi tempat menggantung hidup puluhan wanita seperti diriku, yang sudah tidak laku dijual, yang sudah tua. Hukum alam berjalan sebagaimana mestinya. Kadang di atas, kadang di bawah. Semua ini demi Amir, putraku yang sudah kelas tiga sekolah dasar. Dia tinggal bersama orang tuaku di kampung. Masalah klasik memang, kemiskinan memaksaku melakukan semua ini. Untuk membiayai anakku beserta kedua orang tuaku. Mau bekerja apa selain menjajakan sekerat daging suciku ini. Sekolah pun aku cuma sampai kelas tiga sekolah dasar. Mau jadi apa?. Oh Amir, aku teringat lebaran kemarin ketika kuhadiahkan dia sebuah tas dan sepatu baru. Betapa gembiranya dia kala itu. Puas hatiku melihat tawa riangnya. Melihat senyum imutnya yang menggemaskan. Entah siapa ayahnya aku pun tak tahu. Yang kuingat saat itu aku di penghujung status primadona ketika.aku hamil. Nasi sudah menjadi bubur. Aku tak kuasa menggugurkannya karena tak dipinjamkan uang untuk biaya menggugurkan kandungan oleh mucikariku. Dan lahirlah Amir.

Aku tersentak dari lamunanku ketika mobil berhenti di depan sebuah losmen. Aku diajak masuk oleh mereka. Kamar losmen itu tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Ada dipan yang cukup lebar. Empat pria menunggu di luar. Kini tinggallah aku bersama si pengemudi tadi. Tanpa banyak kata langsung saja kulayani dia. Lalu berikut, berikut, dan berikutnya lagi hingga selesai mereka kulayani. Aku tak menghitung berapa jam total keseluruhan kulayani mereka. Tapi yang tersisa adalah kelelahan yang amat sangat. Kami pun meinggalakn losmen beserta kamar yang menjadi saksi bisu bagaimana kehidupanku selama ini, kehidupan yang penuh coreng di wajah.

Sampai di sebuah jalan yang cukup sepi aku diseret keluar oleh mereka lalu ditinggalkan begitu saja. Tanpa membayar jasa yang telah kuberikan. Anjing!!!!! makiku… aku tahu jalan ini masih sangat jauh menuju tempat tinggalku. Terpaksa aku melangkah dengan peluh masih tersisa di keningku. Aku berharap ada pengendara kendaraan yang melewati tempat itu, dan sudi mengantarku pulang. Gelap malam di ujung jalanan itu tak pernah kuhiraukan. Gelap dan malam menjadi temanku setiap hari.

“Mau kemana mbak?” seorang pria bersepeda motor yang kucoba hentikan bertanya.
“Ke kompleks” semua orang di kota ini mengerti apa artinya kompleks
“Oh mari saya hantar..tapi imbalannya apa nih?”
“Apa aja deh. Saya layani juga boleh, tapi setelah sampai dulu ya…”aku mencoba bernegosiasi
“Ok deh ayo”

Meluncurlah kami menuju kompleks. Sepanjang jalan terus kugoda pria itu. Dalam hatinya pasti dia berpikir mendapat durian runtuh. Sesampai di kompleks aku minta dia menunggu di ujung lorong rumahku. Diam-diam kupanggil si Jarod preman kompleks untuk mengusir pria itu. Dari kejauhan aku masih dapat melihat bagaimana pria itu begitu ketakutan ketika Jarod menarik kerah bajunya. Dia langsung tancap gas kabur entah ke mana.

Kurebahkan kepala di tempat tidur sambil merenungi nasibku hari ini. Sudah yang ke sekian kalinya aku ditipu, setelah diservis malah ditinggal tanpa menerima sepeser pun. Begitulah nasib kami yang beroperasi di jalanan. Tak ada pengawasan yang ketat terhadap para penikmat jasa kami oleh centeng-centeng atau mucikari.. Lain halnya bagi primadona-primadona yang berpraktek di dalam kompleks. Adalah kiamat bagi para pria yang mencoba untuk tidak membayar karena tangan-tangan kokoh centeng-centeng akan segera menghajar mereka.
Kulihat jarum jam sudah menandai angkat empat. Ah sudah subuh, sudah hari sabtu. Aku harus segera tidur untuk mempersiapkan fisikku nanti malam. Hari sabtu, malam minggu merupakan hari yang istimewa dan selalu kunantikan. Setiap sabtu aku selalu dijemput mas Ragil, pria alim yang terlihat seperti seorang ustadz. Dia tidak memintaku melayani dia, tapi memberikanku bayaran yang lebih dari cukup. Dia hanya ingin bicara padaku. Bicara tentang segala hal, bercerita tentang mimpi-mimpi kami.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer wkeyfh
wkeyfh at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 42 weeks ago)
90

kecewa..
karna ceritanya abis....
bagus banget mas..

Writer chaca
chaca at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
40

Hm.,.....

Bgus....!!!!

N menarik juga.....

Writer chanif_84
chanif_84 at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
70

Bagus mas

Writer just_hammam
just_hammam at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)

kawan..selamat..kamu berhasil cari sensasi...hehehehe

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
100

Hehehe kiraian vagina yang bercerita. Sip, keren. Walaupun kurang dramatis, kurang vulgar.

Writer Rizal21
Rizal21 at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)

yup..anda bisa benar

Writer on3th1ng
on3th1ng at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)

judulnya bener2 bikin penasaran..tp, setelah baca tidak sesuai harapan saya. masih terlalu biasa..
endingnya juga terkesan menggantung dengan adanya penambahan tokoh Ragil.
apa memang ada terusannya?

Writer starlian
starlian at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
50

ga terlalu gres.
masih terlalu biasa
apalagi dari judulnya yang agak "wah" ternyata ceritanya tidak menghadirkan ke "wah"an

kita masih harus terus belajar ya

Writer AkangYamato
AkangYamato at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
80

Penuturan ceritanya udah bagus, tapi kurang menggigit, terlalu biasa, coba cari sudut pandang yang berbeda, kalo dari judulnya, saya sih mengusulkan gimana mengambil cerita dari sudut pandang "bagaimana kalau (maaf) kemaluan wanita bicara?" kan terlihat lebih menarik ketimbang cerita seorang wanita malam, its too ordinary. ;)

Writer Rizal21
Rizal21 at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)

klo usul ttg kemaluan wanita berbicara sudah sy buat bung..tp sengaja tidak dipublikasikan..lagi pula maksud vagina di sini bukan terminologi kelamin..tapi vagina dlm arti wanita...rada filosofis memang..

Writer cerpen_maker
cerpen_maker at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
80

bagus.ini cerbung yah? pengen taw akhirnya gmna. keep nulis. baca punyaku juga

Writer Onik
Onik at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
80

Lalu? Akhirnya? hehehe, aku jg punya cerita semacam ini :
http://www.kemudian.com/onik/cerita/kehidupan/lorena_ooh_lorena
:)

Writer Shinichi
Shinichi at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
50

terlihat biasa-biasa saja
segi ide dan gaya bertutur

maap, kalau kurang berkenan

salam :)

Writer mahar_fans
mahar_fans at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
80

bgus!
hnya sja mnurut saia, msih ada klanjtannya
n_n

salam
koreksi karyaku juga ya^^

Writer ananda
ananda at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)

wow judulnya asik

Writer zak_ia
zak_ia at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
80

bagus deh ceritanya. tapi ada kata-kata yang tidak tepat tu.
(meinggalakn)

Writer haerulsohib
haerulsohib at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)

kasihan banget tuh...

Writer Bintang1902
Bintang1902 at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
70

Seperti bisa membayangkan bagaimana kehidupan
Dan nasib para wanita malam ya...

Writer puisi tanpa arti
puisi tanpa arti at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
80

+_+ nice...
ku tunggu kelanjutannya

Writer ferliarostory
ferliarostory at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
100

NASIB...!! ITULAH HIDUUP...

Writer trisun123
trisun123 at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
70

Lho, ceritanya segitu aja :-/
Alur ceritanya menarik, membuatku seolah menjadi sang lakon

Writer 51-374
51-374 at Sepenggal Cerita Vagina (5 years 46 weeks ago)
100

hidup dalam dunia hitam tak sehitam yang diduga :D
endingnya :-?