Pelepah
*menggagas antara doktrin-doktrin*
pekat silau kemuning
serabut menyerat pada anyaman angin
langit pun masih teduh dan tak bergeming disitu.
sandra menawan rasa untuk berkilap, hanya coba gambarkan pada pekat di sekejap selimut
ini malam besok-pun akan datang
lalu rentasan bunyi jam tak henti berdering
melangkahkan mata yang berkedip-kedip
guratkan semayam mimpi yang kutinggal sejenak di guling kehangatan
ketika jumawa mengendong alam-lain untuk menternakkan mimpi. pada hari kuseduhan tumpah meruah di sejagat rasa penasaran
tapi akhirnya tak ada jawab dari segala pekik yang kutinggalkan berlembar-lembar pada halaman katamu
kota-kotak itu-pun seakan bisu
maka hanya bisa memukul-mukul keheningan hingga malam berbentur-bentur, mencipta petir pada Sang Maha malam bernyanyi
dia tak tertidur tapi sedang asik pesta keriangan
melihat mereka berlegam-legam mata mengais rasa
satu jariku terjatuh lalu berkata
"Aku seperti getah dan pelepah
mengeratkan yang berjauhan, menempelkan serat-serat yang berlainan
tapi kenapa aku terpisah?"
lalu malam melemparkan guguran sibak, seperti daun
"Inilah putik pada kembang-kembang yang tak tersinggahi, meranumkan mahkota merah merona, bersinar antara belantara hutan bunga yang terhitung. berbalas pantun lah kepada Ku. Melekat eratlah wajah-Ku sebagai pelepah bahkan getah.
maka nanti nantikanlah bingkisan indah bernama Syurga"
Rating
Comments: 10
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen
mengalir...
menyelaminya :)
berlembar-lemabar :D
alunannya aku suka
salam
:)
seperti biasanya, membuat om mengulangbacainya.
yang bercetak miring amat kuat rasa dan kemaknaannya.
Lemah d awal,menguat ampe akhr
kbalikanq
hmm.. suka!
Mengalir
wah menarik bang saya suka bait 1, komen juga puisi terakhir saia ya
Masih seperti karya-karya sebelumnya.... indah... selamat kawan..