Kicau burung bernyanyi di pagi yang berembun sejuk. Burung pipit yang bertengger di atas ranting sedikit bernyanyi ria lalu terbang membelah angkasa.
Seorang anak berlari ria di koridor rumahnya. Dengan sedikit pelan ia membuka pintu sebuah kamar.
“Hah? Kenapa tidak ada?” tanyanya dalam hati.
Read more (1829 words)
Ia lalu berlari ke depan pintu rumahnya. Rumah yang ia huni cukup sederhana. Atap seng dan dinding dari semen terlihat begitu kokoh walau hanya setingkat. Rumah sederhana yang umum dijumpai di daerah kalimantan barat, khususnya di daerah Pontianak. Dengan tiang kayu belian sebagai penopang rumah. Dan ada jarak antara lantai dan tanah sehingga jika banjir masih bisa berharap untuk tidak tergenang.
Si anak itu kembali berlari kecil di rumahnya yang kira-kira seluas 25 x 25 meter persegi itu. Di rumahnya ada beberapa kamar dan di belakangnya ada sedikit ruang kosong untuk dijadikan taman yang asri.
“Ternyata..., belum datang!” desahnya.
Si anak itu lalu duduk di tepi lantai di belakang rumahnya. Kakinya menjuntai ke bawah. Beberapa senti talapak kakinya akan benar-benar jejak di tanah. Sedikit bersantai karena tadi ia berlari-lari di rumahnya sendiri.
“Wah! Ternyata sudah bangun, ya?” suara yang ringan dan bersahabat menyapa si anak dengan lembut.
Ia menoleh dengan wajah yang gembira. “Ayah!” serunya.
Anak itu sedikit malu untuk merangkul ayahnya yang baru datang. Ia hanya bisa meminta ayahnya untuk duduk bersamanya.
“Ayah, lusa kan orangtua murid harus datang untuk acara kelulusan siswa kelas 3 SMP, ayah harus datang, ya!” pinta si anak.
Ayahnya melirik anaknya. “Hm, bisa nggak ya?” ucapnya.
“Memangnya, ada barang yang harus diantar lagi?” tanya si anak. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi kecewanya.
“Yah..., begitulah kalau jadi orang terkenal, ha ha ha...!!!” ayayhnya tertawa lantang. Anaknya pun ikut tertawa bersamanya.
“Jadi...?”
“Jadi apa?”
“Apa bisa lusa datang, Yah? Soalnya orangtua murid wajib datang, lho!” kata si anak.
“Ayah akan usahakan. Hari ini, ayah mau antar barang lagi,” jawab si ayah dengan senyum tipis di bibirnya. Sedikit brewok menghiasi ayah paruh baya ini.
“Kenapa? Bukannya tadi baru pulang?” tanya si anak.
“He? Nggak kok! Ayah pulang tadi jam 3 pagi,” jawab si ayah.
“Itu berarti 36 jam ayah meninggalkan ku sendiri! Ayah pergi jam 3 sore dua hari yang lalu dan pulang jam 3 pagi hari ini! Kan, aku kesepian!” keluh si anak.
“Wah wah! Ternyata anak lelaki ayah bisa kesepian! Kamukan udah besar, kenapa gak ajak pacar kamu aja?” tanya ayahnya sedikit menggoda.
“AYAH! Kenapa ayah begitu, memangnya anakmu ini mau berbuat yang aneh-aneh di rumah yang tenang ini!”
“Aneh-aneh? Jangan-jangan kamu memikirkan hal yang “gitu-gitu” ya? Ayo! Kamu nonton apa kalau ayah pergi?” tanya si ayah tambah semangat menggoda anaknya yang berusia 14-an itu.
Si anak sedikit terpancing. “Nggak mungkin aku begitu! Aku paling cuma baca majalah model-model wanita cantik yang terbit seminggu sekali kok! Itupun nggak ada yang buka-bukaan!” bantah si anak.
“Oh, begitu ya? Ternyata anak ayah ini sukanya dengan wanita yang lebih tua, ya?” kata si ayah tambah semangat menggoda.
“AYAH!!!”
Ayahnya segera beranjak dan langsung merangsek masuk ke kamar anaknya untuk mencari majalah yang dimaksud. Si anak itu mengejar ayahnya dan menjelaskan kalau itu adalah hal yang sebenarnya.
Ketika si anak menyusul masuk ke kamarnya. Ayahnya menyambut dengan tendangan ke atas. Si anak kaget dan terpaku. Tanpa banyak kompromi, si ayah melemparkannya ke tempat tidur yang berbusa. Si anak terpantul beberapa saat dan berguling jatuh ke bawah.
“Gedubrak!” si anak itu mengusap-usap kepalanya.
“Waduh-waduh, maaf!” si ayah lalu memeluknya dan membantu mengusap kepala anaknya.
“He he,” si anak tersenyum aneh.
Sebuah pukulan hampir mengenai dagu si ayah. Syukur ia bisa mengelak. “Eits, mau balas dendam, ya?”
Sedikit kisah manis terulang lagi di rumah sederhana itu. Hanya beberapa bagian yang hilang dan kembali.
“Lebih baik ini terjadi. Mungkin ini adalah hari terakhir kita, nak! Karena itu, aku mohon engkau tabah dan sabar. Pasti, engkau bisa menemukan cara, gaya, dan jalan hidupmu. Sayang, mungkin saat itu aku tidak bisa di sisimu lagi. Nah, Rina! Bagaimana? Anakmu ini? Anakmu yang sempat menyusu padamu sebelum engkau pergi. Apakah engkau sudah tahu takdir apa yang ia dapat? Mungkin kau sedikit tahu karena engkau ada di sisi-Nya. Mungkin, Dia memberimu sedikit bocoran,”
***
Hari yang dinanti tiba. Sang anak, menggunakan seragam putih biru dengan rapih. Hasil setrikaannya yang ia anggap paling sempurna. Baru jam 7 pagi. Acara akan dimulai jam 9 pagi. Sarapan hasil masaknya pun telah ia sisakan sedikit untuk ayahnya yang janji akan pulang pagi ini setelah mengantar barang.
“Tok tok tok!” pintu rumahnya digedor.
“Tunggu sebentar!” si anak berlari ke arah pintu.
“Halo, Gisa!”
Suara yang manis menyambut ketika ia membuka pintu. Di depannya terlihat sosok anggun yang cantik dan jelita. Tante Haruyni. Usianya masih 23 tahun, sebentar lagi ia akan sarjana.
“Tanteee...!!!” si anak melompat ke pelukan tantenya yang hangat. “Aah..., senangnya!” desah si anak.
“Bletak!” tinjuan hebat mendarat sempurna di atas ubun-ubun anak itu. Kembali lagi ia harus mengusap-usap kepalaya.
“Kamu! Masih belum berubah, ya?” tegur Tante Haruyni.
“Maah, deh!” ucap Gisa.
“Tapi, nggak apa-apa kok! Ayo sini,”
Dengan senang ia memeluknya kembali. Sedikit dingin sirna di kehidupannya pagi ini.
***
Siswa kelas 3 SMP bersorak gembira atas kelulusannya. Air mata berlinang di kedua bola mata tiap-tiap orangtua atas keberhasilan anaknya. Para dewan guru dan kepala sekolah bisa tersenyum puas anak asuhnya lulus semua. Tidak ada yang menangis dalam duka. Semuanya menangis dalam suka.
“Hey! Kita semua lulus! Ayo kita masuk SMA yang sama, Kita tunjukkan kalau SMP kita itu bermutu!” sorak seorang siswa yang mendapat nilai tertinggi di sekolah itu.
Semua anak mengamini apa yang diucapkan si jenius itu. Mereka berkumpul di tengah lapangan dan bersorak-sorai gembira. Seorang wartawan TV lokal dan koran meliput kejadian dramatis itu. Setelah tahun yang lalu hanya lolos 1,1 persen saja.
“Hey! Gisa, ayo ikut kita juga!” ajak si jenius dari atas panggung yang dibuat mendadak oleh para siswa dengan menggunakan meja seadanya.
Gisa menoleh ke arah tantenya. Wajah cantik Haruyni mengizinkan. Gisa berlari bercampur aduk dengan siswa lainnya. Pihak sekolah membiarkan siswa-siswinya larut dalam kemenangan. Sebagian guru menitikkan air matanya melihat fenomena langka di sekolah tempatnya bernaung.
“Hoooy...!!! Kalian semua masuk ke SMA N 1 saja! Kita tunjukkan ke sekolah elit itu kalau anak-anak kampung kayak kita bisa lulus dengan nilai jempolan, OKEEE??” teriak Gisa.
“Oke....!!!” sahut semuanya.
Nuansa penuh kemenangan terus berlanjut hingga hampri lima belas menit. Setelah itu semua saling berjabat tangan dengan para guru dan kepala sekolah. Ungkapan selamat terucap oleh para orangtua murid. Para siswa dengan harapan luas meninggalkan sekolahnya dengan hati yang senang.
Sekolah itu, dalam waktu satu jam... kembali hening. Tak berpenghuni. Seorang penjaga sekolah yang menyaksikan semua itu. Hanya bisa menitikkan air mata tuanya.
“Begitu cepat....,”
***
“Apa? Ayah ke sana?” tanya Gisa kaget.
“Iya, tiba-tiba saja klien ayahmu menyuruhnya mengantar barang ke sana!”
“Timur tengah, ya? Arab?” tanya Gisa.
“Nggak tau,” jawab Haruyni.
“Tapi nggak apa. Terus, kapan ayah pulang?”
Haruyni terdiam sejenak. Mulutnya seolah terkunci. Mereka masih dalam perjalanan pulang. Gisa yang menyadari tantenya berhenti, turut juga berhenti.
“Ada apa?”
“Begini, kalau ayahmu pulang bulan depan, gimana?”
“Hm..., aku akan tetap menunggunya,”
“Kalau setahun?”
“Pasti! Ayah pernah pergi pas pagi idul fitri dan pulang saat malam takbiran hari raya idul fitri,” sahut Gisa.
“Kalau..., 2 tahun?'
“Apa, dua tahun?”
“Tidak, bukan dua tahun. Tapi, kalau sampai sepuluh tahun, dua puluh tahun, atau...,” Haruyni berhenti berucap. Ia dengan sigap menutup mulutnya. Suara terisak terdengar sedikit dari kerongkongannya. Kulit lehernya yang putih tak mampu menyembunyikan hal itu.
Gisa terdiam.
“Oh, begitu ya?”
Haruyni tersentak kaget, Dilihatnya wajah keponakkannya yang sedang tersenyum manja di depannya. “Kamu?”
“Yah..., kata ayah hidup harus berlanjut walau apapun yang terjadi! Ayo, tanteku yang cantik! Kita pulang, aku sudah lapar. Sekalian kita mempersiapkan untuk pendaftaran ke SMA satu,” sahut Gisa melanjutkan langkahnya.
Sedikit langkah gontai mengiringi langkah anak lelaki itu. Sebuah anak sungai berubah membesar dan menitis deras. Air-air garam yang mengalir dari kedua bola mata anak lelaki itu tak bisa ditahan dan jatuh ke tanah.
Kepalanya menunduk saat berjalan. Kedua bahunya terkadang naik turun. Suara isakkan kepiluan terdengar sangat tipis. Tak kuasa menahan, Haruyni memeluk erat bocah lelaki itu. Keduanya hanya bisa berdiri dan menangis tak kuasa.
***
Dua tahun kemudian
“Silakan masuk!” Haruyni datang membawa dua orang teman mahasiswanya. Yang satu cowok dan satunya lagi cewek.
“EH...KOK?” kedua tamu itu sedikit tertegun melihat ruang tamu yang berantakkan.
Haruyni hanya bisa terpaku. Kepalanya mengeluarkan asap naga yang pekat.
“GISAAAA...!!!”
Kedua tamu istimewa itu hanya bisa terbujur kaku mendengar suara gledek yang membelah rumah sederhana itu.
Seorang lelaki terlihat berayun-ayun sambil memegang kuas. “Oh, maaf! Agak berantakan. Soalnya aku mau buka usaha baru, he he he,” Gisa kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Akhirnya, para tamu hanya bisa duduk di teras. Sambil menunggu, Haruyni membuat minuman.
“Ada yang tidak asing bagiku melihat semua ini,” desah Haruyni ketika melintas di depan ruang tamu yang telah dimodifikasi oleh keponakannya itu.
Kedua tamu sudah sedikit tenang dengan secangkir teh madu hangat. Haruyni kembali masuk ke rumah.
“Hey! Sebenarnya kamu mau buka usaha apa sih?' tanyanya.
“Pengantar barang,” sahut Gisa santai.
Bagai disambar petir, Haruyni hanya bisa terpaku. “Apa, maksudmu?”
Gisa menghentikan pekerjaannya sebentar. Ia meletakkan palu yang digenggamnya.
“Aku..., masih belum bisa menerima ayah pergi seperti ini. Aku yakin, ayah bekerja dengan orang-orang yang berbahaya, misi yang menguras tenaga hingga harus mengantar barang berhari-hari,”
“Gisa..., jangan-jangan kamu?”
“Iya! Aku akan mencari informasi apapun. Orang yang pernah menggunakan jasa ayah sebelumnya pasti akan datang kembali ketika mendengar kalau usaha ini aku teruskan. Akan kuketahui dimana ayahku berada. Aku yakin, ayah masih hidup dan berjuang mengantarkan barang. Entah barang apa hingga ia bertahun-tahun pergi,”
“Kamu..., serius?'
“Iya. Pasti! Pasti akan kutemukan!” kata Gisa dengan semangat.
Haruyni tersenyum.
“Ternyata, anak ini dewasa belum umur. Tapi..., hebat juga. Mungkin, usaha ini turun temurun. Setelah ayahku pensiun, abangku melanjutkannya. Tapi, ayahku, kakekmu itu, pensiun karena hilang karena tugas. Entah, apakah nantinya engkau akan menghilang meninggalkan anakmu kelak?” desahnya di hati.
“Ada apa, bi?”
“Tidak apa-apa,”
Haruyni membalikkan tubuhnya. “Kalau kau yakin itu adalah cara, gaya, dan jalan hidupmu? Aku akan membantumu,” ucap Haruyni dengan senyum menggoda.
Gisa terhenyak. “Hebat! Aku suka sekali tante bicara seperti itu. Kalau aku tidak wajar, pasti aku akan melamar tante!”
Sebuah tendangan keras menghantam tubuh Gisa hingga menembus rumah belakang dan mendarat dengan nyaman di WC umum. Kakek yang lagi indehoy eek terberoy kaget bukan kepalang. Emas batangannya tercecer di jalan karena lari pontang-panting dari WC tanpa menutup celananya. Terlihat seperti manusi berekor kuning emas yang terputus-putus. Seorang bocah yang melintas berhenti dan menyempatkan dirinya menggenggam eek terberoy itu dan melemparkannya ke wajah temannya.
Terjadi perang lemper eek yang baunya tak eek itu antar anak kecil, orang tua, dan geng-geng yang asyik menghisap rokok terbungkus batang bambu.
Hihi.., mungkin ini namanya cara, gaya, dan jalan hidup seseorang....
burungnya terbang ke ladang buat nonton seorang anak yang mainin suling! buruan nonton juga!
wuih,
jadi inget bokap.
he.
tapi penggunaan bahasa na baku bener ya?
hhi.
tapi bagus koq!
tetap smangat!
Hm....
Bagus sich certaNa.,....
But, bahasaNa terlalu kaku.
Agak membosankan....
Sorry....
Loe suka nulis juga ya....
Hm...bagus..........
Pertahankan....
n lam knal...
Haiya? kenapa ya? kayaknya penggunaan bahasa yang baku udah mendarah daging ^_^ jadi seperti penulis jadul, ya? btw, bnyk kok karyaku yang ngga paje bahasa baku. coba aja klik yang lainnya ^_^
em, ndy...coba sedikit keluar dari EYD dan penggunaan yang terlalu baku, deh kata-katanya. supaya kekerabatan antara bahasa dan pembaca jadi lebih erat. bedewe, aku baca dari awal ampe akhir koq ga ngerti ngerti jugak...