Zheik; The One With Power - 1st Scroll Chapter 1

Gulungan I
Peta Kerajaan Bes Yua
Bés Yua, hari ke-7, bulan Siwali, Tahun 514.

Matahari kembali menampakkan sedikit bagian dari dirinya di bagian timur Hyrnanderh seperti pagi-pagi sebelumnya, bersinar dan membagi cahaya. Ayam-ayam mulai berkokok menandakan waktu ritagi, begitu penduduk kerajaan Bés Yua menyebut waktu fajar, telah tiba. Kokokan ayam-ayam terdengar membahana di pagi yang senyap. Meski masih sangat pagi, beberapa penduduk sudah bersedia untuk memulai pekerjaan sehari-hari.

Reiđ (baca:rei-do) memulai kebiasaan sehari-hari pada saat fajar menyingsing, pekerjaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya selama beberapa tahun belakangan ini. Reiđ tidak sendiri, beberapa penduduk desa Hallari yang lain juga mulai menggembalakan ternak mereka. Beberapa menggembalakan weznobs (kambing--red), dan beberapa menggembalakan upyua, hewan ternak yang bentuknya seperti jerapah namun besarnya seperti keledai, badannya diselimuti dengan bulu-bulu putih yang mirip dengan bulu domba.

Sambil menggiring kawanan upyua yang dia gembalakan, Reiđ menyapa beberapa tetangga yang masih sibuk membuka kandang ternak mereka. Reiđ memandang upyua-upyua miliknya yang sudah jinak, sambil sesekali mengelus kepala upyua yang berada di dekatnya.

”Hei, Reiđ!” seorang laki-laki yang berumur kira-kira sebaya menyapa. Reiđ menoleh. Seorang yang sebaya menghampiri dari arah samping.
”Selamat pagi Pallas!” Reiđ membalas sapaan Pallas. Reiđ menatap pada kawanan weznobs yang digembalakan Pallas.

”Hari ini ternak siapa yang kamu gembalakan?”

”Milik Pak Bergren. Dia ada urusan yang harus dilakukan di ibukota. Nanti siang dia sudah harus berada di Contur untuk berbisnis, jadi dia harus berangkat pagi ini.” jawab Pallas.

Reiđ dan Pallas berjalan beriringan sambil mengawasi ternak-ternak yang mereka gembalakan. Weznobs dan upyua mereka berbaur tak karuan, berebutan untuk saling mendahului.

”Bukankah tujuh hari lagi kamu akan berumur 20 tahun?” Pallas membetulkan posisi topi hitam bundar kesukaannya. Topi itu menutupi rambut pendek ikal Pallas, hingga terkadang orang-orang mengira Pallas tidak mempunyai rambut

”Apa kamu sudah mempersiapkan untuk pestanya?”
Reiđ hanya tersenyum. Dia membiarkan kawanan upyua miliknya berbaur dan berdesak-desakan dengan kawanan weznobs yang digembalakan Pallas.
Sambil melamun Reiđ malah memikirkan hal yang sangat penting pada saat itu.

”Hei Pallas, jika 1 tahun itu adalah 10 bulan, dan 1 bulan adalah 4 minggu, sementara 1 minggu adalah 10 hari, dan 1 hari itu lamanya sebanyak 40 putaran pasir, berapa putaran pasir umurku sekarang?” tanya Reiđ.

Pallas hanya menggeleng, dia tahu Reiđ ingin mengalihkan pembicaraan.

Tapi Pallas ingin agar Reiđ berani menghadapi kenyataannya. Akhirnya Reiđ menanggapi pembicaraan Pallas dengan serius.

”Aku tahu kalau tradisi mengharuskan setiap pemuda yang berumur 20 tahun, dan 18 tahun untuk perempuan harus mengadakan upacara adat.

Tapi kamu tahu sendiri kalau kondisi keuangan keluargaku tidak begitu...” Reiđ tidak melanjutkan kalimatnya, dia hanya memasang mimik muka yang pasrah. Pallas pun sudah mengerti, keadaan keluarga mereka tidak jauh berbeda. Bahkan kalau boleh dibilang, keluarga Pallas tidak semampu keluarga Reiđ. Pallas hanya bisa mengambil gaji dari ternak-ternak milik orang lain yang dia gembalakan, tidak seperti Reiđ yang menggembalakan ternak sendiri.

”Tidak usah bersedih, tradisi hanya tradisi.” kata Pallas. ”Yang terpenting adalah semangat untuk bertahan hidup. Aku rasa Dewa Kyros akan mengerti.” Pallas menocba membuat teman sejak kecilnya itu tersenyum.

”Hei, upyuamu sudah semakin banyak. Padahal seingatku kamu dulu hanya punya tiga pasang upyua. Sudah berapa tahun sejak itu. Rasanya seperti baru kemarin.”

Reiđ mengangguk, teringat pada saat pertama kali dia diberi tiga pasang upyua oleh salah satu kerabat ibunya. Upyua memang hewan ternak yang tidak murah, jika tidak keluarga Reiđ tidak akan sanggup membeli satu hewan ini, apalagi membeli sepasang. Di Hyrnanderh, daging hewan upyua memang daging yang sangat terkenal karena rasa daging yang khas daripada daging hewan yang lain. Tidak butuh lama untuk menjinakkan hewan pemakan tumbuhan ini.

”Sudah hampir dua tahun, kini sudah ada 13 ekor upyua. Tapi sampai sekarang baru dua ekor yang bisa dijual. Lebih sulit menjual jika tidak secara besar-besaran. Pembeli dari desa lain atau dari ibukota lebih senang membeli secara besar-besaran. Padahal cukup banyak yang memelihara upyua lebih banyak dari jumlah milikku.” Reiđ sesekali mendorong upyua-upyua yang berhenti untuk memakan rumput.

”Bersabarlah teman, keadaanku tidak jauh lebih baik dari dirimu. Ini adalah jalan hidup masing-masing orang.” Pallas memang selalu optimis.
Reiđ dan Pallas menggiring kawanan ternak melewati ladang kubis, ladang gandum, dan ladang jagung. Desa Hallari memang terkenal sebagai penghasil kubis, gandum, dan jagung terbaik. Mereka berdua melewati bukit pertama, beberapa ternak sudah digembalakan di sana. Reiđ dan Pallas mengenal siapa yang sering menggembalakan di tempat ini.

Berteriak mereka menyapa sang penggembala.

Menjadi penggembala membuat Reiđ dan Pallas menjalin semacam persahabatan antar-penggembala di desa Harali. Mereka melanjutkan menuju bukit berikutnya setelah menyapa tiga orang penggembala di bukit pertama. Hal yang sama mereka lakukan tiap kali bertemu dengan sesama penggembala. Sampai pada bukit ke empat, Reiđ menghentikan kawanan ternaknya.

“Sampai jumpa nanti sore Pallas.” Reiđ sudah sampai pada tempat dia biasa menggembalakan ternak. Sementara Pallas tetap melanjutkan perjalanan.

“Yakin tidak mau bergabung denganku di bukit sana.” ajak Pallas sambil mengarahkan pandangan matanya yang berwarna hitam ke bukit tempat dia biasa menggembalakan ternak.

Reiđ menggeleng,

“Aku sudah terbiasa dengan bukit ini. Meskipun kecil, tapi aku menyukainya.”

Pallas mengangguk,

“Sampai nanti sore kalau begitu.”

Reiđ mendekat ke arah sebuah pohon kecil tempat dia biasa beristirahat. Matahari sudah menampakkan diri sepenuhnya, membangunkan semua yang berselimut gelap dengan cahaya. Reiđ bersender pada pohon maple hijau, matanya menatap tebing-tebing batu yang tinggi dan terjal. “Dinding Raksasa”, begitulah penduduk Hyrnanderh menyebutnya. Tebing-tebing yang menutup rapat bagian barat dan utara pulau ini seperti sebuah dinding, berbatasan langsung dengan laut.

Reiđ tersenyum kecil, bertolak belakang dengan tebing-tebing terjal yang gersang, penuh bebatuan keras, desa mereka malah banyak dihiasi dengan bukit-bukit dan tanah lapang yang menghijau.

Reiđ mengistirahatkan diri, beruntung ternak miliknya sudah jinak, hingga Reiđ bisa sepuasnya berkhayal sambil menutup matanya dengan kain yang tadi digunakan sebagai penghangat leher dari serangan angin dingin. Angin sejuk yang membelai membuat matanya semakin berat dan akhirnya tertidur. Reiđ mengambil sebatang lawu, dia sangat menyukai rasa manis seperti madu dari rumput kecil berwarna merah itu.

Reiđ menyelipkan lawu di mulut, dan menikmati rasa manisnya.
Panas terik tengah hari membuat Reiđ terjaga dari tidur. Waktu Asias hampir datang, waktunya untuk makan siang. Reiđ mengambil bekal makan yang sudah disiapkan oleh ibunya sebelum dia berangkat menggembala.

Reiđ membuka bekal yang terbungkus kulit daun moses, pohon yang mirip dengan pohon pisang. Reiđ tersenyum begitu bungkusan dibuka, bekal makanan yang dia gemari, roti gandum basah. Roti gandum yang dibakar setengah matang dan direndam dengan kuah yang terbuat dari campuran air sari buah jeruk dan madu lebah. Reiđ mengambil kantung air yang dari tadi dililit di sabuk celana, meminum beberapa teguk air untuk menghilangkan rasa gerah pada tenggorokan sebelum menyantap makan siang.

Baru saja selesai menikmati makan siang sederhana, tiba-tiba dari arah kanan sebuah bola seukuran buah vafyw (jeruk--red) dari rotan yang dilapisi dengan kulit weznobs, mendarat tepat di kepala Reiđ. Tersentak kaget, Reiđ menghentikan makan siangnya. Reiđ berdiri dan menatap ke arah pelempar bola yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat dia makan siang. Dan si pelempar bola tidak sendirian.

Empat pemuda yang sebaya dengan Reiđ tertawa, Datang dari arah bukit tempat Pallas biasa membawa gembala-gembalanya. Diantara mereka, Reiđ juga melihat ada Pallas di sana. Reiđ agak kesal dengan perbuatan mereka, tanpa membereskan makan siangnnya, dia bergegas menghampiri mereka.

“Apa kalian sudah merasa bosan hidup?” Reiđ menggenggam erat bola yang tadi mengenai kepala dan diacungkan ke arah Pallas dan teman-temannya.
Pallas dan pemuda-pemuda itu semakin tertawa. Mereka mendekati Reiđ.

“Sementara kamu sedang sibuk bercinta dengan upyua-upyuamu, kami sudah berlatih dengan keras untuk mengalahkanmu!” seorang pemuda menyahut sambil mengambil bola yang disodorkan oleh pemuda penggembala tadi.
“Bersiaplah Reiđ, karena kamu hari ini akan kami kalahkan!” pemuda yang berambut keriting berwarna coklat menimpali. Tangan kanannya memegang sebuah kayu berwarna coklat tua sepanjang dua kaki (2 kaki = 1 meter--red). Bagian gagang kayu itu bulat dan pipih di tiga perempat bagian lainnya.

“Tidak usah banyak bicara, ayo kita buktikan!” Reiđ menerima tantangan mereka dengan tenang. Dia tersenyum bodoh, kedua taring atasnya menyembul.

Salah seorang pemuda yang masih asing bagi Reiđ sedang mengamati Reiđ dari ujung kaki hingga ujung rambut. Seakan-akan terpana melihat sesuatu yang aneh.

Pallas tersenyum,

”O iya, Reiđ kenalkan ini Apton. Sepupu jauh dari Kérsen.” Reiđ menatap Apton kemudian menatap Kérsen yang sedang mencari membuat lubang-lubang kecil dengan kayu. Berbeda dengan Kérsen yang berambut coklat keriting, Apton berambut hitam lurus dan terawat. Wajar karena Apton berasal dari golongan keluarga yang kaya.

Apton masih saja termangu melihat Reiđ. Jika dilihat sekilas Reiđ tidak jauh berbeda dengan inland (manusia--red) pada umumnya. Yang berbeda hanya pada telinga yang berbentuk lebih runcing pada bagian atas dan berbulu seperti telinga seekor rubah, gigi taring yang lebih panjang serta ekor yang panjangnya sedikit lebih pendek daripada kaki Reiđ.

”Dia seorang iexian, setengah inland setengah binatang. Dari ras vosian, benar tidak Reiđ?” Kellas meminta konfirmasi Reiđ.

Reiđ mengangguk.

”Yup, dari ras vosian, rubah merah.” kata Reiđ sambil memainkan telinganya dan ekornya untuk menunjukkan kalau dia bukan dari bangsa inland.

”Senang bisa berkenalan denganmu.” Reiđ mengulurkan tangan. Apton sedikit canggung untuk berjabat tangan.

”Jangan takut, aku tidak akan menggigit.” Reiđ mencoba mencairkan ketegangan Apton.

”Maafkan sepupuku, dia baru kali ini bertemu dengan iexian. Dia berasal dari dunia barat, yang katanya hanya ada ras inland saja. Kerasnya dunia barat, membuat orang tuanya melarang dia keluar dari rumah, sejak dari kecil. Akibatnya dia tidak mengenal dunia luar. Maklum, anak orang kaya.” Kérsen menimpali sambil memberi isyarat bahwa permainan bisa dimulai. Lane yang dari tadi asyik memainkan bola, melemparkan bola ke arah Apton setelah mendapat isyarat dari Kérsen.

”Tapi aku tidak tahu permainan ini.” Apton merengek. Khas cara bicara anak orang kaya yang manja.

”Nama permainan ini adalah ifluck. Permainannya sederhana, kamu lihat garis melintang yang tadi dibuat oleh Lane, itu adalah garis batas untuk menggulirkan bola ke dalam lubang. Jumlah lubang sesuai dengan jumlah pemain. Satu pemain mendapatkan satu lubang yang harus dijaga masing-masing.” Kérsen menjelaskan dengan sabar.
Pallas ikut membantu menjelaskan bergantian dengan Kérsen.

”Tiap pemain mendapat giliran satu kali dalam satu putaran untuk memasukkan bola ke dalam lubang lawan. Berapa banyak putaran tidak terbatas sampai ada bola yang masuk. Jika bola masuk ke dalam lubang salah satu pemain, maka pemain yang memiliki lubang itu harus dengan cepat mengambil bola dan mengejar pemain yang lain. Pemain ini harus bisa melemparkan bola mengenai pemain lain sampai semua pemain terkena lemparan bola. Kami menyebutnya pelempar. Dalam keadaan memegang bola, pelempar tidak boleh berjalan lebih dari tiga langkah. Dalam tiga langkah dia harus melemparkan bola.”

Reiđ bergegas menuju garis batas untuk menggelindingkan bola ke dalam lubang. Lane berdiri di dekat lubang.

”Saat salah satu pemain menggulirkan bola, yang lain juga menunggu di garis batas. Jadi saat bola sudah masuk ke dalam lubang, misalnya lubangku, aku harus segera mengambil bola. Dan saat itu kalian harus secepatnya berlari, atau kalian akan merasakan kerasnya bola ini.” Lane berjongkok sambil menunggu Pallas, Kérsen dan Apton mendekat dan berjejer di samping Lane.

”Yang bukan pelempar harus menghindari lemparan bola dan berusaha memasukkan tujuh batu kecil ke dalam lubang miliknya untuk mengakhiri permainan. Tapi saat pelempar sudah memegang bola, para pelari tidak boleh melangkah tetapi boleh menghindar saat bola dilemparkan ke aranya. Pelari yang terkena lemparan bola akan menjadi pembantu pelempar. Dia harus membantu menerima passing bola dari pelempar yang lain untuk menghabisi para pelari. Selama bola tidak sedang dipegang, pelari harus mengisi tujuh batu kecil ke dalam lubang miliknya sendiri, jika berhasil maka permainan pada putaran ini akan berakhir dan akan dilanjutkan ke permainan putaran berikutnya.

Diputaran berikutnya, lubang pelari yang berhasil mengisi tujuh batu kecil akan diberi kekebalan, artinya meskipun bola masuk ke dalam lubang miliknya dia tidak menjadi pelari, dan pemain yang menggulirkan bola-lah yang menjadi pelempar. Sebaliknya jika pelempar berhasil menghabisi pelari, maka putaran berakhir. Pemain yang sebanyak enam kali menjadi pelempar, akan dinyatakan kalah dan permainan berakhir.” Kérsen melanjutkan sambil berjalan ke arah Lane.

”Pelempar boleh lari kemana saja selama masih di dalam area yang telah disepakati. Biasanya sebuah garis berbentuk segi empat menjadi batas akhir untuk lari. Bola yang dilempar keluar dari batas menjadi tanggung jawab si pelempar. Kamu pasti akan mengerti kalau sudah ikut bermain, tenang saja semua akan mengajari.” Kérsen menggerak-gerakan rahang. Menjelaskan tadi sempat membuat pegal mulutnya. Pallas lagi-lagi tersenyum.

”Dan si rubah kampung itu terkenal paling jago bermain ini, dia berlari sangat kencang. Karena itulah banyak teman-teman di desa Hallari ini yang ingin mengalahkan dia dalam permainan ini. Dan semoga saja kamu bisa mengalahkannya, siapa tahu, keberuntungan pemula. Aku beritahu sebuah rahasia, dia boleh cepat, tapi tidak gesit.” Pallas mengedipkan sebelah mata, mengintimidasi Apton agar berambisi untuk mengalahkan Reiđ.

Reiđ memonyongkan mulut, dan menunjukkan raut wajah ketakutan. Permainan dimulai.

Next

Read previous post:  
67
points
(1282 words) posted by makkie 10 years 15 weeks ago
83.75
Tags: Cerita | Novel | fanfic | petualangan fantasi pedang zheik novel
Read next post:  
90

Baru baca sekarang...
Lanjutkan!

heuheuheu..makasih Ea...

90

Saya mo nanya!!!
Gimana caranya bikin peta kayak gitu?!!!
hehehe
.
Sejauh yang saya baca ceritanya bagus, dan idenya lumayan, tapi gak gitu menarik ya(tergantung selera juga sih ...)--tapi mungkin gara-gara gak ada glosarium sebelumnya jadinya agak ngebetein juga ngebaca istilah-istilah aneh tapi baru dijelasin disini. hmmm...
Tapi oke deh. ku kasi nilai 9

iya,,,banyak yang komen masalah istilah2 asing...dulu ta bikin footnote,,tapi banyak yang ga suka juga..jadi ta biarkan saja dulu...yang penting selesein cerita...
bikin peta...aku si bikin pake corel...makasih dah mampir,,tapi pangeran mikhael kayae bukan di chapter ini deh..heuheuheuheu...

tenang saya baca bukan buat nyari si mikhael wkwkwkw (di kehidupan nyata saya saua uda bosen ngeliatin mikhael-mikhael yang berkeliaran, baik di gereja, kampus, bahkan sampe interent ... bosen ah--mikhael ternyata nama pasaran wkwkwkwk)

heuheuheu,,kalo gitu saya ganti aja deh nama tokohnya yang ga pasaran...hmmm,,,udin apa amat ya..?? XD XD XD

70

Komen positip dulu: pas baca aturan gamenya agak puyeng. Tapi saat mengerti gambarannya, sepertinya asik dan gak gitu rumit. Bagus.

Komen agak negatip: sebenernya sih sama ama yang para pendahulu sebelumku. Pusing ama urusan jargon uy. Tapi ya ni emang salah satu kendala fantasi. Logikanya sih kalo dunianya bukan bumi tentu istilahnya juga gak bumi lagi. Tapi masalah cerita ini untuk orang-orang di bumi 'kan? Hehe. Jadi kupikir kalo kambing ato jeruk ato fajar ato siang sih gak perlu lah diganti-ganti. Tapi kalo masih tetep ngotot, bikinlah pendahuluan yang berisi glossarium, begitu?
Hehe, sori kalo sotoy. Toh kalo ini udah jadi novel dan ceritanya asik, biasanya sih melebur gitu aja. Halah, tapi ya aku termasuk salah satu yang bermasalah dengan conlang yang tidak pada tempatnya.

Kalo tentang inti ceritanya sendiri, hm, belum ada yang bisa dikomentari. Tidak ada yang sampe aneh gimana gitu. Masalah bahasa bisa diefisien dan dirampingkan.

Oh ya petanya keren abis. Mirip Zelda.

..thanks dah mampir...en komennya..
nanti deh aku coba revisi lagi...
sebenarnya dah bikin glossarium-nya sih...tapi binun juga mw ditampilin pa ga..
makasi..makasi..makasi..

Keren

..jangan sungkan buat mencaci makkie...:D

40

dhek, kamu niat banget buat cerita ni. oom salut! peta woke, istilah woke, dan nama-namanya kedengaran lebih pas dari yang oom pernah baca sebelum karyamu. tapi masalahnya dhek, itu kamu menampilkan terlaaaalu banyak istilah disertai apendix yang ngebuat oom sedikit bengong.
misalnya si weznobs yah kalo tau itu kambing mah bilang aja kambing dhek ndak perlu di kasih kata ngejelimet biar ngerti aja itu para pembaca, btw emang itu dari panggilan wedhus ya dhek? kalo emangnya jeruk, yawes bilang aja jeruk lah, ndak perlu di kasih nama susah susah..
nah sulitnya AU itu gitu dhek, aplikasimu sebenernya dah lumayan, logika kebangun secara bagus dan runut biarpun masih kurang greget berkenaan sama dialog yang kesannya "Jelasin" ke pembaca bukannya menampilkan dialog yang benar-benar kejadian, tapi ya dhek pembaca cepet capek kalo dirimu menerapkan hal yang sama sepanjang satu bab penuh
inget dhek, orang itu ndak ada yang mau diajarin atau dijelasin yang ada maunya mengerti dan cara buat ngerti itu bisa dengan "DITUNJUKAN" alih-alih "MENJELASKAN" secara panjang lebar sampe muntah muntah, lah kalo penulis ngajari pembaca soal dunianya, otomatislah pembaca ogah lagi nyerap kata-katamu dhek, oom bilang sayang. padahal kamu punya ide besar di balik cerita ini.
deskripsi benda-benda di luar dunia ini yang ada di AU-mu juga dhek, oom saranin jangan ngambil mentahnya dari dunia ini, kyk si upya yang katamu mirip jerapah dsb, soalnya pembaca cenderung nemplokin gambar jerapah bantet yang di kasih mantel bulu-bulu, lah itu malah jadinya kan ndak sedep diinget dhek, itu juga jadi faktor yang ngurangin kesenengan ngebaca ceritamu
btw, mengenai kata taun yang reido ungkapin ke si pallas itu kok dimiringin dhek? ada makna lain kah di balik kata yang kamu miring-miringin?

huah...mantab komennya...makasih Oom..(Oom ato Ka ni manggilnya)...
iya, saya memang ga punya bakat "nyeni", maklum kuliah diteknik yang selalu berkutat dengan laporan yang harus "formal", jadi agak2 susah bikin tulisan yang bisa "membuai" pembaca...memang ni lagi nyolong2 ilmu sambil baca2 novel teman2 di k.com...mulai dari POV, Show Not Tell, de el el..tapi yang namanya otak badung, ya mang agak lama loading nya heu heu heu...

mengenai istilah2 asing, saya mang mw nunjukin bahasa yang digunakan di "dunia" saya..biar gimana geto..tapi kalo kesannya malah membingungkan, mungkin hewan2 yang normal akan saya beri istilah yang normal juga :)
iya, satu tahun di hyrnandher berbeda dengan satu tahunnya kita...bingung juga ni,mw dibikin istilah asing apa ga..??

btw,anw,busway, thx banget Oom (atau Ka) buat masukannya...
jangan sungkan buat kasih saran lagi...
buat teman2 juga...silakan kalo mau komen, kritik, saran...semuanya saya terima dengan lapang dada...

nyeni mah ada bakatnya dhek di tiap orang dhek, buat tulisan formal yang bikin fokus masuk juga masuk nyeni :D
ndapapa, bagus! kalau bisa kamu sampe ke taraf bisa bikin conlang sendiri, tapi ya ribet sih ya dhek wong mbah tolkien aja buat cerita gak cukup dua taun hok hok hok
kalau saya pikir lebih bagus kamu bkin glossariummu sendiri, ooohh, memangnya berapa taun bedanya dhek?
sama sama dhek, kip semangka!

oke Oom..saya simpen semangkanya.. XD
semoga saya bisa mengikuti jejak mbah tolkien, dan mbah marijan...kekekeke...

btw, 1 tahun itu adalah 10 bulan, dan 1 bulan adalah 4 minggu, sementara 1 minggu adalah 10 hari, dan 1 hari itu lamanya sebanyak 40 putaran pasir, satu putaran pasir tu 30 menit waktu kita, jadi secara matematis
1 tahun = 30 menit x 40 putaran pasir x 40 hari x 10 bulan / (360 hari kita * 60 jam kita) = 22,222222222 tahun kita
heu heu heu...repot amat yah...

mohon bantuannya...

WAH! koyok harpes mun yoo dhek, ndasku mutermuter dhek... sipp, LAN-JUT-KE!!

nek mumet pegangan Oom...ndak jatuh nanti..

90

wuih keren, ada petanya! :D
hewan dan tumbuhannya unik2 ya.
oh, ada sedikit keanehan sih. tadi di awal dijelasin kalo mereka udah latihan ifluck tapi kok apton ternyata belum tau permainannya seperti apa. jangan2 apton baru datang pas mereka udah selesai latihan ya? hehe ^^
btw, permainannya menarik, keren :D

90

bagus! :)

makasi....mohon bantuannya... :D

70

akhirnya...petanya bisa di upload...

100

Sudah lama tidak berkunjung ke K.com, ternyata sudah banyak tulisan-tulisan keren. Cerita ini salah satunya. He he he Maaf, meski udah lama baru mulai baca sekarang. BTW settingnya bagus, jika ada ilustrasi peta mungkin bakal lebih jelas. Ah dan "...upyua, hewan ternak yang bentuknya seperti jerapah namun besarnya seperti keledai..." ini mengingatkanku pada Llama.

Tambahan lagi, karena si reid dideskripsikan mirip rubah, apa berarti di dunia sana ada rubah juga ya... he he he

mmm..sankyu...iya...di dunia ini mang ada jg binatang rubahnya...
yah...mungkin kayak ada hewan dan siluman hewan he he he...
maaph masih banyak yang asal...

70

coba2 ku edit..tapi pasti belum ok bgts

100

aku kurang mendalami fantasi....

walau dari awal ceritanya kurang enak..tapi pas akhir wadfuh...gk bisa komen,,,

80

"Topi itu menutupi rambut pendek ikal Pallas, hingga terkadang orang-orang tidak bisa mengira Pallas tidak mempunyai rambut..." (agak gak dong, maap y)
:-(

"Dia tersenyum bodoh, kedua taring atasnya menyembul," (sesuatu yg menarik, pmberitahuan yg spontan!!!)
;-)

Beberapa kslahan teknis spt ini: "Reiđ bersender pada pohon maple hijau," wajar sekali, siapa yg nggak?! Cm klo tulisan ini kmu bca ulg lg psti prubahannya lbh sgnifikan
ktimbang org2 lain yg baca (& berkomentar). Toh, si penulis teteup org no.1 yg plg phm mksud critanya sndri. Yg jd mslah adl apakah ia jg memaksudkan ceritanya utk dpahami o/ org lain.
:-D

Selain itu jg mngenai kata serapan &/ kta2 asing, kta depan, dsbnya, prlu dprhatikan. Sya gak gtu pham jg siey coz bkn ahlinya (jd intinya mau apa gw ini???!!)
=))

Jk perbendaharaan kata 'own-made' nya sebanyak itu mungkn lbh baik klau kmu melengkapi smua artinya jg, spy pmbca bs pham isinya. Klo arti kta2 tsb sgt brpengaruh utk kelanjutan cerita sebaiknya djelaskan lgs dlm cerita & tdk dmsukkan dlm appendix (sbisa mungkin). Coz gak semua pmbaca berminat utk lgs lompat ke appendix bgtu ketiban kata itu.
:-)

Klemahan Appendix berlebih (pnglaman sbg pmbaca):
misal: lg seru2nya gw baca suatu adegan kepotong krn satu kata 'asing bgt' & trpaksa hrs lompat ke appendix (yg sukur2 klo cm sbg cttan kaki, tp klau udh pny hlman trsendiri di blkg buku??? Wahh mubeng iki!!)
;-)

Tp sya jg pham koq utk cerita orisinil spt ini (khususny fantasi appendix udh mrpkan 1kesatuan pndukung crita). Just keep trying to do better, coz cra pnjabaran kmu ini sbnernya udh bgs bgt, saluuut, sya gak mungk mnyamai!!
:-)

NB: Slam kenal yo rek, eh dr Srbyo atw Jogya y? Lupa!! :-D

ya..mang rencananya mo ta edit..biar ga ada appendix lagi..
tp belum kesampaian..yang ada malah majuin cerita selanjutnya..
sankyu bgt..mang ada beberapa kalimat terasa janggal, karena lupa di edit, tergesa-gesa, de el el..
salam kenal jg..dari Jogja tapi bukan orang Jogja

90

salam dariku...makasih sudah komen...

jadi tertarik baca ceritamu...yuhu.,...sayang tak ada prolog

80

Hoho memang benar bagus. Hanya saja cukup memusingkan dgn semua naming dan istilah yg bertebaran itu. Pelan2 aja diperkenalkan ke pembaca. Catatan kaki juga tidak dianjurkan. Males soale bolak balik ngecek artinya. Anyway, nice fantasy, aku akan ikuti ceritamu ini :)

90

wow
dibalik
cerita panjang dan bikin bingung
ada cerita sebagus ini
:D
sip2
setuju ma diakon
untuk catetan kaki lebih baik di satukan dengan penjelasan deskripsi
atau catetan kakinya d simpen d sebelah kanan
tempat yg biasa kita isi mengenai cerita
:D
soal bab 2 HC ku
ada d
http://www.kemudian.com/node/224081
yg bab 2 dulu
ga tw knp ilang begitu ajah
aq juga bingung
>.<
(btw d bab 2 juga aq masih menggunakan catetan kaki :)) )

2550

oo begitu..mm, nanti ku coba editnya. kemaren ku bikin gt soalnya takut kebanyakan deskripsi di ceritanya, makanya ku pikir mending dipisah aja. kita liat nanti, tapi tuk sementara gini dulu aja yah..
gomen, kemaren aku baru sempet liat sereneth knights yg chapter I..jadi malu neh..paling telat sendiri. tapi ku suka koq, seru..pasti ta ikutin smp selesai..he he he..
makasih..makasih..makasih..:D

80

udah aku baca ulang... dan sebenarnya... keterangan footnote itu cukup mengganggu... kenapa kata2 asing kaya upyua dkk itu dikasi footnote dan tidak dideskripsikan saja di paragrafnya?

contohnya :Reiđ memulai kebiasaan sehari-hari pada saat fajar menyingsing, pekerjaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya selama beberapa tahun belakangan ini. Reiđ tidak sendiri, beberapa penduduk desa Hallari yang lain juga mulai menggembalakan ternak mereka. Beberapa menggembalakan weznobs, binatang sejenis kambing, dan beberapa menggembalakan upyua, sejenis hewan ternak yang mempunyai badan seperti kangguru tetapi mempunyai kepala seperti domba. Meski mempunyai badan seperti kangguru tetapi upyua berjalan tetap menggunakan ke empat kaki. Badan upyua diselimuti dengan bulu-bulu putih yang mirip dengan bulu domba, hanya saja bulu upyua tidak setebal bulu domba.

well tu sih terserah anda sebagai penulis... tapi saya jujur jadi tak bisa menikmatinya karena merasa itu cukup menganggu...

kalo dari jalan cerita, kurasa keren juga... ku lanjut dulu dah heheh maaf sok tau... tapi tu jujur dari dasar hati (halah)

hehehe anyway... komen ceritaku juga donk ;;)
hahahahaah

60

hore... setelah ku pecah jadi banyak bab akhirnya tampilannya jadi normal..sankyu minna san..
oy y Ritagi tuh waktu fajar...
kalo setting-nya di kerajaan Bes Yua, desa Hallari.
nanti ku postingin deh..kemaren waktu bikin di word, jadi ku taruh di footnote, jadi ga ikut ke posting..
sankyu..sankyu..sankyu atas masukannya
nanti ku coba edit, kalo komp-ku dah ga lelet ;p

50

ku bagi jadi 3 bab ternyata tetap kepanjangan..hua..jadi desperate

60

tampilannya bermasalah itu pasti karena kebanyakan kata... hahahahah jujur aja aku cuma baca beberapa bagian aja... terlalu malas lihat yang sebanyak ini... sarannya ndyw dicoba aja... dipisah jadi beberapa bab.... kalo kayak gini biasanya orang baru buka langsung ditutup lagi begitu liat 12ribu kata kayak gini...

soal jalan cerita, karena belum baca jadi aku gak tau... maaf yah... maaf banget...

70

wow
hebatnya atau nekadnya... :D
hebat d sini bisa bikin cerita sepanjang itu :)
klo soal nekad karena posting cerita sepanjang itu dalam satu postingan :d
ati - ati loh
mungkin klo dah bentuk buku sih ga masalah
tp ini kan liad d monitor, alasannya :
1.mata capek
2.puyeng
3.enek liad angka 12532 kata menjeblak di awal :(
mungkin lebih bijak klo di pecah menjadi beberapa part
tp itu cm usul loh :)
klo dari segi cerita sepanjang aq baca sih "cukup menarik"
selebihnya sama seperti kata akina n Mylon
:D
mampir ke tempatku juga ya
:D

70

met kenal..
wah,, fantasy juga nihh.. hwhwhw.. teman seperjuangan kita :P
ummm..
bedewe... Ritagi itu apa?
settingt tempatna itu dimana?? (dicari2 di awal gak ktemu2)
dari awal kubaca... (walaupun blm sampai abis krn tulisannya mepet2 gitu dan membuat pusing X_X)
ada beberapa yang mengganjal...
beberapa kali ada penggunaan kata yang rasanya kurang cocok
Sudah hampir dua putaran pasir sejak Finly berangkat memanggil Reiđ di bukit, namun Nyonya Lyall, ibu Reiđ masih belum melihat tanda-tanda kedatangan kedua anaknya.
satu putaran pasir berapa lama??
Nyonya Lyall yang sedang menatapi jalan di depan rumah.
ckup menatap jauh lebih oke :)
dan banyak kalimat lain yang kurang efektif dalam paragraf..
==
lalu posisi tokoh.. diceritakan bahwa temannya Reid itu ada di tempat itu dari awal Reid datang ke rumah, tapi penjelasan yang agak terlalu terlambat itu membuat bayangan yang sudah tergambar dibenak saya hrz di 'remodel' kembali..
mungkin bisa ditambahkan keterangan sebelumnya?
==
ada banyak istilah-istilah asing tersisip diantara kalimat2..
bagaimana kalau istilah-istilah itu diberi tanda barangkali? atau sedikit deskripsi,, krn belum tentu orang lain mengerti apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis...
but,, oke buat idea-nya.. walaupun blm baca sampai habis, saya bisa menangkap alurnya..
anyway,,
kip nulis yahh...
kapan2 mampir ke page-ku.. lolz

2550

mmm...kok tampilannya sedikit bermasalah ya??