Zheik; The One With Power - 1st Scroll Chapter 2

Belum ada satu putaran Reiđ dan yang lain bermain tiba-tiba seorang anak kecil berlari tergesa-gesa menghampiri mereka dari arah yang sama saat Reiđ datang. Rambut anak kecil bertubuh kurus yang sedikit lebih gelap dari rambut Reiđ basah karena keringat.

“Kak! Kakak! Kak Reiđ!” teriak anak itu meskipun jarak dengan Reiđ masih jauh.

Reiđ tersentak, dia tidak terlalu memperhatikan kedatangan adiknya karena terlalu asyik bermain. Dia langsung berhenti dan mendekat begitu mendengar perkataan adiknya. Teman-teman Reiđ ikut berhenti. Reiđ menghampiri adiknya dan mengambil sekantung air yang sengaja mereka letakkan di pinggir lapangan.

Apton mengamati anak kecil yang baru datang tadi. Ada banyak kemiripan dengan Reiđ.

”Ada apa Finly?” tanya Reiđ sambil meminum air dan mendekati sang adik.

Finly terengah-engah, Reiđ menyodorkan air.

“Gawat Kak gawat, Tuan Tanah datang. Dia menagih uang pada Ibu. Dia juga membawa dua orang berbadan kekar ke rumah.” Anak itu meneruskan perkataannya meskipun dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Finly mengambil kantung air dan meminumnya dengan cepat.

“Benarkah itu Finly?” Reiđ balik bertanya “Bukankah seharusnya 10 hari lagi jadwal mereka menagih uang?”

Finly, adik Reiđ menggelengkan kepala.

“Aku juga tidak tahu kak. Tapi tadi Ibu sempat berdebat sengit dengan mereka. Aku takut kalau Tuan Tanah itu berbuat jahat pada Ibu.” Finly menujukkan mimik muka sedih dan ketakutan bersamaan.

”Ayo Kak, cepat pulang!” Finly merengek sambil menarik lengan Reiđ agar cepat segera kembali ke rumah.

“Teman-teman, permainannya sampai di sini dulu. Ada urusan yang sangat penting di rumah.” teriak Reiđ pada teman-temannya yang sedang melepas lelah.

Mereka mengganguk dan menyilakan Reiđ untuk pulang. Reiđ berlari sendirian meninggalkan Finly yang membereskan perbekalan yang biasa dibawa kakaknya.

Pallas dan yang lain sempat mendengar sedikit pembicaraan antara Reiđ dan adiknya.

”Kenapa bukan ayah Reiđ yang mengurus keluarga?”tanya Apton yang belum mengenal keluarga Reiđ dan penduduk desa Harali yang lain.

Pallas, Kérsen dan Lane serentak memandang Apton. Mereka maklum.

Kérsen memegang salah satu pundak sepupunya.

”Ayah Reiđ sudah meninggal. Sekarang Reiđ hanya tinggal bertiga bersama ibu dan Finly, adiknya yang baru berumur dua belas tahun. Meskipun Reiđ berusaha untuk menjadi tulang punggung keluarga, namun hasil yang dia dapat terkadang tidak mampu untuk menutupi kekurangan mereka. Oleh karena itu, mereka terpaksa menggadaikan tanah mereka kepada satu-satunya Tuan Tanah yang ada di desa Hallari ini. Dengan melakukan usaha kecil-kecilan mereka mencoba membayar cicilan tersebut.”

Apton mengangguk memahami permasalah keluarga Reiđ.

”Siapa Tuan Tanah? Kepala Desa sinikah?”

”Sedikit yang mengetahui siapa nama sebenarnya, orang-orang hanya memanggil dia dengan sebutan Tuan Tanah. Orang-orang yang kekurangan dalam hal keuangan biasanya meminjam uang kepada dia. Tapi karena tidak punya saingan, maka Tuan Tanah tersebut seenaknya saja memainkan harga-harga di desa tersebut, bahkan bunga pinjaman. Dan ibu Reiđ, merupakan salah seorang yang terjebak di dalam bisnis parasit itu.” jelas Pallas.

Pallas mendekat ke arah Finly, mengajak ketiga temannya untuk menemani si kecil Finly pulang ke rumah. Sambil berjalan, Finly menceritakan kedatangan Tuan Tanah hari ini.

++++
Sudah hampir dua putaran pasir (1 putaran pasir = 30 menit--red)sejak Finly berangkat memanggil Reiđ di bukit, namun Nyonya Lyall, ibu Reiđ masih belum melihat tanda-tanda kedatangan kedua anaknya. Berdiri bersandar pada dinding bagian terbuka pintu depan rumah, dihadapan Nyonya Lyall berdiri tiga orang pria. Satu orang berbadan gemuk pendek sementara yang dua berbadan kekar seperti prajurit dari istana.

”Kamu mendengarkan aku tidak?” pria yang berbadan gemuk pendek seakan menghardik Nyonya Lyall yang sedang menatapi jalan di depan rumah.

Nyonya Lyall berusaha untuk tenang walau hatinya terasa gelisah, situasi yang tidak dia inginkan sekarang mengurungnya. Tuan Tanah yang menagih pengembalian uang pinjaman. Kesalahan yang Nyonya Lyall lakukan setelah kepergian suaminya. Kedatangan mereka yang begitu mendadak membuat Nyonya Lyall panik dan bingung, tidak tahu harus berbuat. Sedikitpun dia tidak memiliki uang untuk membayar pinjaman bulan ini selain uang untuk hidup dua-tiga hari.

Reiđ terengah memasuki halaman rumah. Dia melihat ibunya sedang berdebat dengan Tuan Tanah. Geram, Reiđ mengambil sebuah batu dan melemparkan ke arah Tuan Tanah dan kedua pengawalnya yang berada di samping kiri dan kanan Tuan Tanah. Batu itu hampir mengenai kepala Tuan Tanah, batu itu melintas dan mengenai dinding rumah keluarga Reiđ yang terbuat dari tembok batu. Reiđ sengaja meleset, dia hanya ingin membuat Tuan Tanah berhenti membentak ibunya.

Tuan Tanah tersentak kaget. Salah seorang pengawal Tuan Tanah yang berbadan lebih pendek bersiap hendak menghajar Reiđ. Namun Tuan Tanah memberi isyarat agar si pengawal menghentikan niatnya.

“Wah..wah..wah, si penggembala kecil telah datang.” kata Tuan Tanah sambil menatap tajam. Tangannya mengambil sebuah kotak kecil dengan tutup dari beludru.

“Tuan Tanah, bukankah harusnya 1 minggu lagi baru batas waktu akhir pembayaran bulan ini?” Reiđ langsung berbicara tanpa basa-basi walau nafasnya masih belum teratur.

“Iya, aku tahu itu, aku tahu itu…” jawab Tuan Tanah sambil mengambil sebatang cerutu dari kotak beludru. Suaranya yang serak berbaur dengan tarikan nafas yang berat.

“Begini, sebenarnya saudara jauhku dari kota hendak datang. Dan dia ingin buka usaha di sini. Dia butuh tempat yang luas. Dan kebetulan di desa ini kalian juga salah satu penduduk yang mempunyai tanah luas. Dan kebetulan lagi kalian menggadaikannya padaku.” Tuan Tanah memandangi Reiđ dengan wajah acuh tak acuh. Salah seorang pengawal Tuan Tanah mengambil korek api batang, dan menyalakan cerutu yang sudah menempel di mulut Tuan Tanah.

“Sebenarnya aku juga tidak mau melakukan ini, tapi apa boleh buat. Saudaraku itu memaksaku terus untuk mencarikan tempat yang cocok buat dia.”

Sialan! pikir Reiđ. Saudara. Pasti hanya sebagai kedok dia. Memang sejak dari dulu dia menginginkan tanah kami atau lebih tepat Tuan Tanah menginginkan tanah semua orang yang ada di Harali ini. Kalau saja ayah masih hidup, keadaan mereka tidak akan seperti ini. Tuan Tanah sangat takut kepada ayahnya yang terkenal sangat keras kepala. Dulu ayah Reiđ berani menentang Tuan Tanah secara terang-terangan. Meskipun tidak pernah mengajak, beberapa penduduk desa Haralli menjadi lebih berani untuk menentang Tuan Tanah. Tapi sekarang sejak sang ayah meninggal, keadaan menjadi berbeda.

“Lalu kenapa anda mempercepat waktu pembayaran?” Reiđ mencoba mengorek keterangan.

Tuan Tanah mengisap cerutunya dalam-dalam. Sesaat dia berbalik ke belakang, menoleh ke arah jalan di depan rumah keluarga Reiđ. Finly, Pallas dan yang lain datang dengan tergesa-gesa dan mendekat ke arah Rei¬đ.

“Sudah ku bilang tadi, kalau saudaraku itu menginginkan tempat ini secepatnya. Mau bagaimana lagi, yang lain sudah membayar beberapa hari yang lalu. Dan yang belum hanya kalian, makanya aku mempercepat waktu pembayaran. Toh, bukankah sama saja. Aku tahu kalau keuangan kalian sekarang sangat tipis. Dan usaha kalian juga sedang merosot. Satu, dua minggu lagi atau sekarang pasti tidak akan ada bedanya. Kalian sudah tidak bisa menjual upyua kalian lagi, waktu pasar besar sudah lewat, dan baru bulan depan akan diadakan lagi.”

Kurang ajar! Reiđ kembali mengumpat dalam hati. Bukankah dia yang berusaha menghancurkan usaha kami dengan menaikan bunga pinjaman tiap bulan. Reiđ menggenggamkan kepalan tangan kanannya dengan kuat. Pallas yang sudah berdiri di samping Reiđ mengenali gelagat temannya itu. Reiđ terkadang tidak berpikir jauh jika sedang emosi. Pallas mencengkeram tangan kanan sambil menatap mata Reiđ. Reiđ mereda amarahnya.

”Kenapa anda tidak memberi kesempatan dalam waktu yang tersisa ini?” Pallas ikut ambil bicara.

“Tidak mungkin kalian bisa menghasilkan uang banyak hanya dalam waktu yang tinggal beberapa hari ini?” mata picik Tuan Tanah tersirat di wajah gemuknya itu. Tapi tiba-tiba wajahnya menunjukkan sesuatu yang tersirat, Reiđ tidak yakin apa maksud dari mimik muka itu.

“Ada satu cara supaya kalian bisa mendapatkan uang yang banyak, bahkan bisa menebus semua pinjaman kalian.” mata Tuan Tanah menyipit dan menatap Reiđ dengan tajam seakan-akan ingin menantang berkelahi. Reiđ tidak menyukai pandangan itu.

Lama terdiam Tuan Tanah menikmati cerutunya,

”Kalian bisa mengambilkan aku Jantung Hijau?” Tuan Tanah memberi penyelesaian yang sangat tidak masuk akal. Nyonya Lyall bahkan sampai mengelus dada begitu mendengar perkataan Tuan Tanah.

Reiđ, Finly dan yang lain tersentak. Hanya Apton yang kebingungan.

“Aku dengar kamu ahli dalam permainan crushball. Mungkin kecepatan berguna di hutan sana. Jika berhasil, aku akan menganggap hutang kita lunas. Katanya harga Jantung Hijau amat sangat mahal dimasa sekarang ini. Bagaimana? Apa kecepatanmu bisa berguna atau mungkin kamu bisa membantu keluarga pergi dari rumah ini ’secepat’nya!” ejek Tuan Tanah sambil sesekali menghisap cerutu yang sudah berkurang setengahnya. Para pengawal pribadi Tuan Tanah tertawa melecehkan.

”Apa itu Jantung Hijau?” Apton benar-benar tidak banyak mempunyai pengetahuan tentang keadaan di Hyrnanderh.

”Jantung Hijau. Bunga yang bisa mengobati semua luka, semua penyakit. Menurut cerita yang beredar, beberapa tahun yang lalu di hutan Collat pernah tumbuh Jantung Hijau. Namun Jantung Hijau itu dijaga oleh Classyalabolas Collat, begitu orang-orang desa menyebut makhluk penunggu hutan itu.” jelas Kérsen.

”Hutan Collat merupakan kawasan yang dilindungi oleh pihak Kerajaan karena keberadaan Jantung Hijau. Letak hutan itu berada delapan puluh mil ke arah barat dari desa Harralli. Namun sejak lima tahun yang lalu, entah darimana makhluk itu datang menguasai hutan itu. Seakan-akan dia adalah penjaga Jantung Hijau agar tidak diambil oleh makhluk lain.” Apton mengernyitkan dahi mendengar perkataan Kérsen, penjelasan itu terlalu rumit untuk dimengerti dirinya.

”Classyalabolas Collat? Makhluk apa itu?” Apton tidak berhenti bertanya.

”Nak, kamu sebenarnya hidup di dunia mana?” Tuan Tanah merasa tergangu dengan pertanyaan-pertanyaan Apton.

”Classyalabolas Collat adalah seekor kreyzure, binatang ganjil dengan tubuh sangat besar. Dari cerita prajurit yang selamat, makhluk itu mempunyai bentuk seperti iguana raksasa. Besar makhluk itu melebihi sebuah rumah dengan mulut yang bisa menyemburkan cairan asam yang bisa melelehkan baju besi perang. Bahkan baju perang yang terbuat dari emas sekalipun bisa tembus oleh cairan asam kreyzure itu.” Finly yang masih kecil menjelaskan pada Apton.

”Ya, Karena banyak korban yang berjatuhan jika melintasi jalur melalui hutan Collat maka pihak Kerajaan menutup jalur dari kota Aldoras ke Hallari melalui hutan Collat.” Pallas menjelaskan ikut menimpali. Dia sedikit memiliki dendam pada Classyalabolas. Karena ayahnya yang seorang pedagang terpaksa menuju kota Contur terlebih dahulu baru kemudian perjalanan bisa dilanjutkan baik ke Aldoras. Hal ini tentu saja memakan waktu yang lebih lama.

”Itu pula yang membuat desa Halari ini menjadi semakin terasingkan. Dan membuat minat pedagang yang datang ke sini menjadi berkurang. Padahal hanya Aldoras yang mempunyai pelabuhan dagang.” tambah Pallas

”Apa tidak ada yang berusaha membunuhnya? Atau menangkapnya?” Apton tidak mempedulikan pandangan mata Tuan Tanah.

”Pernah beberapa kali puluhan prajurit kerajaan dikerahkan untuk membunuh makhluk itu. Namun yang ada malah hampir semua prajurit itu tewas. Hanya tiga orang yang berhasil menyelamatkan diri. Itupun dengan tubuh yang penuh dengan luka berat. Salah satu dari prajurit yang tewas adalah ayahku.” rahang Reiđ tertahan, memendam perasaan marah terhadap Classyalabolas. Emosinya menjadi tidak karuan, marah terhadap Tuan Tanah, marah terhadap Classyalabolas. Finly menunduk, dia tidak begitu mengenal sang ayah, tapi dia juga merindukan figur seorang ayah. Meski begitu dia sudah merasa Reiđ menjadi sosok seorang kakak sekaligus seorang ayah bagi dirinya.

”Karena semakin bertambah korban dari rakyat yang kurang mengetahui keberadaan makhluk itu, maka pihak Kerajaan memutuskan menutup hutan tersebut. Sekarang sudah satu tahun hutan itu menjadi daerah terlarang bagi semua orang untuk memasuki hutan Collat.” jelas Kérsen sambil memegang pundak Apton, mengisyaratkan agar Apton tidak lagi bertanya. Ada masalah yang lebih penting.

”Namun beberapa tahun belakangan ini pihak Kerajaan mengeluarkan sayembara untuk menangkap makhluk buas tersebut dan bagi yang berhasil akan mendapatkan hadiah uang sebesar dua puluh strici.”

Kali ini Apton tidak bertanya, ayahnya sudah mengajari perhitungan uang di Bés Yua. Dia bisa menghitung kalau dua puluh strici setara dengan 10 keping emas, kurang lebih 80 karung yang masing-masing berisi 100 jagung.

Dua puluh strici, jumlah uang yang besar, hampir dua kali lipat dari jumlah hutang keluarganya pikir Reiđ. Reiđ sadar, sebenarnya itulah yang di inginkan oleh Tuan Tanah, bukan Jantung Hijau. Melainkan hadiah dari sayembara itu.

“Bagaimana? Kamu punya nyali untuk mengambil Jantung Hijau? Atau kalian bersiap-siap saja untuk merelakan tanah ini?” kata Tuan Tanah menghentikan lamunan Reiđ tentang Classyalabolas Collat. Senyum licik Tuan Tanah mengembang dibalik kumis tebalnya.

“Beri aku satu minggu!” kata Reiđ tanpa pikir panjang. “Akan aku berikan Jantung Hijau untukmu!” Reiđ terpancing dengan tantangan Tuan Tanah.

Finly dan ibu Reiđ tersentak, tidak terkecuali teman-temannya. Inilah yang dari tadi dikhawatirkan Pallas, orang yang berpikir pendek dan seenaknya. Sekarang sudah terlambat, Pallas tidak bisa lagi mencegahnya. Janji sudah terucap, di Bes Yua pantang bagi seorang laki-laki mengingkari janji. Nyonya Lyall menutup mata sambil memeluk Finly.

“Baik, aku beri kalian tujuh hari dari sekarang, sampai waktu Asias datang. Dan jika kalian tidak bisa membayarnya tepat saat itu, aku akan langsung menyita tanah kalian!” Tuan tanah mengangguk-anggukan kepala.

“Dan rumah inipun akan aku sita sekalian. Kamu boleh mengajak teman-temanmu untuk mengambilkan Jantung Hijau, mungkin mereka ada gunanya selain hanya bertanya.” kata Tuan Tanah mengejek Apton sambil beranjak pergi diiringi kedua pengawal kekar yang masih penasaran ingin menghajar Reiđ karena melempar batu.

Reiđ memukul dinding rumah melampiaskan kemarahan. Ingin sekali dia menghajar mereka kalau saja dia tidak memikirkan ibu dan adiknya, meski belum tentu dia menang. Paling tidak dia puas dengan menghajar Tuan Tanah.

“Reiđ, kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? Janji tidak boleh dilanggar!” Pallas kebingungan, dia ingin sekali membantu tapi menghadapi Classyalabolas, Pallas yakin mereka ke sana hanya mengantarkan nyawa.

Reiđ meredakan ketegangan dalam diri dan tersenyum penuh ambisi. “Akan aku bawakan Tuan lintah darat itu Jantung Hijau dan juga kepala kreyzure itu sekalian ke depan wajahnya. Ini janjiku!” katanya sambil memandang ibunya dengan kemantapan hati.

Ibu Reiđ hanya bisa menahan nafas. Sorot mata yang tajam dan penuh semangat terlihat dari mata Reiđ. Ia tahu kalau ia tidak bisa mencegah keinginan anak sulungnya itu. Sorot mata yang sama dengan sorot mata suaminya yang berkemauan keras. Suaminya yang berkeinginan untuk membunuh kreyzure itu. Walaupun dia menangis, namun suaminya tetap pergi ke hutan itu dengan alasan bahwa seorang prajurit harus menjaga keamanan dan ketentraman kota. Sesaat air matanya berlinang. Dalam hati dia merasa akan kehilangan untuk yang kedua kali. Namun Reiđ tidak menyadari kesedihan ibunya. Hatinya sudah dipenuhi kemarahan terhadap Tuan Tanah dan dendam terhadap Classyalabolas Collat yang mengambil nyawa sang ayah.

“Kak, janji kalau nanti kakak pulang dengan selamat.” Finly memeluk kakaknya. Finly tidak ingin kehilangan satu-satunya kakak yang sangat disayanginya itu. Reiđ balas memeluk adiknya itu. Sambil berbisik,

“Aku janji Finly. Janji seorang penduduk Bes Yua. Aku akan pulang dengan selamat dan dengan membawa kepala kreyzure itu. Aku takkan mati sebelum aku membawa kepala kreyzure itu.”

Next
[6]waktu setelah tengah hari, waktu makan siang di Kerajaan Bés Yua

Read previous post:  
115
points
(2139 words) posted by makkie 10 years 20 weeks ago
82.1429
Tags: Cerita | Novel | fanfic | petualangan fantasi pedang zheik novel
Read next post:  
90

hmm, mulai kelihatan misinya :)
entah kenapa, saya jadi suka ama apton, mungkin karena dia berani banget banyak tanya2 pas lagi berhadapan ama tuan tanah & bodyguard2nya yg serem ^^
lanjutannya saya baca besok yaa :p

wah...jangan kecewa ya...apton ga muncul lagi...lama baru muncul lagi dia...
oke...thx dah mampir...

90

Bagus.Cuma setahu saya tak banyak yang benar-benar menggunakan baju perang dari emas dalam pertempuran karena emas termasuk logam yang tergolong lunak. Tentu saja lain cerita kalau emas di dunia dalam cerita ini tidak sama dengan emas di dunia nyata. Fiuuh hari ini dua bagian dulu yang kubaca. Mudah2an ada waktu untuk membaca bagian selanjutnya.

hi hi...ku juga awalnya berpikir seperti itu...
tp ku teringat dengan anime Saint Seiya...baju jirah tertingginya kan baju jirah emas..he he he

100

wah...komen senior bagus amat...aku pengen deh..

80

"...mungkin mereka ada gunanya selain hanya bertanya.” kata Tuan Tanah mengejek Apton..." (petikan klimat fav-ku)
:-D

Menggunakan Appton (bbrpa kali) sbg tokoh yg membantu kmu mendeskripsikan hal2 trtentu mrpkn ide yg cemerlang (msukan bagus ni bwt gw!!). Tp jgn smpe aja hal ini justru 'merusak' karakter itu sendiri, msl: bnrka kmu mmg mau ngbuat dia (dr yg aku tangkep y!!) mjd org yg pny naluri ingin tahu dan (haha!) suka menginterupsi.
:-)

Tp dr petikan kalimat fav-ku (diatas) sndri udh nunjukin klo mungkin mmg itu mksud kamu, jd no problemo at all, congrats!!!
;-)

NB: maap klo kebanyakan cing-cong hehe!!! :-(

80

Soal pnghitungan tgl yg beda (dgn dunia kita) kmu cerdik; coz gak ribet (smw angkanya mudah), itu psti udh kmu perhitungkan y ;-) coz dr yg sya cba htg2 jg (iseng bgt siey gw!!!) beda umurnya gak gtu jauh dgn klau Reiđ hdp ddunia kita (keren bos!!)
:-D

Yg jd mslah adl apkah Reiđ yg umur hmpr 20 ini tergolong anak2, remaja, dewasa, atw perpaduannya_ddunia itu (msh agak bingung soalnya, maap y. Tp mungkn jg krn sy blm bca smw)
:-l

Setuju sm komennya Serpentwitch (klo gak slh) di chapter 1 (wlau agk telat dongnya) sebaiknya pengenalan thd tokoh2, kterangan2 &/ pnjelasan2 diberi 1per1, jd kesannya gak lgs menuang-paksakan isi kepala kmu ke pembaca (krn hei! dmna menariknya kalau pembaca udh tau semuanya spt halnya si pembuat cerita). Just be patient Prend, coz It's a nice story, so dont blow it up, plizz!!!
:-D

Anyway, maap klo gak gtu ngena di hati, lbh maap lg klo ngerasa gw gak tau diri (soalnya gw ngrasa, hiks) veri2 sori, gak brmaksud loh)
:-(

..............

(...msh dlm tahap membaca alias blm selesai.... harap maklum...) :-)

santai aja..aku orang yg terbuka bwt kritikan dan saran...pedas jg ga pa2, asal yang membangun..
membangun tidur halah..he3..sankyu..sankyu..
tenang aja..pasti ada twisting area-nya..ada surprise..
sankyu..

90

Hmm... Makin seru aja nh hehe... Gw sk cerita yg kyk gini ^-^
lanjut baca ^-^

70

sip
sip
sama ky diakon
klo butuh poin
komentari ajah ceritaku
:))

70

kekurangan poin buat posting?? komennin ceritaku ajah!! =))
(egois mode : on)