Bukan Kebetulan

“Is there anything more I can do for you? Before I run?” tanyaku pada sosok tinggi besar berambut pirang di depanku sambil melirik cemas pada arloji di tangan kiriku yang menunjukkan pukul setengah enam sore.

“Run? Where are you going?” sosok itu mengamati wajahku dengan seksama, “Unless you are meeting a boyfriend, I won’t allow you to go, no, not yet,” sambungnya begitu mendapat kesan aku sedang sedang terburu-buru, bahasa tubuhku pasti menegaskannya, ia bersikap seolah benar-benar ingin menahanku. Tapi aku tahu, ia hanya sedang menggodaku. Sayangnya aku merasa sama sekali bukan waktu yang tepat untuk bersilat lidah saat itu, aku lalu menjawab sekenanya, “Well, you know I won’t even ask you if it is about boyfriend, I would have just taken a day off,” aku memasang tampang datar berharap ia mengerti bahwa aku sedang tidak bergairah berdebat dengannya sehingga ia akan segera menyudahi percakapan itu dan mengizinkanku pergi. Tapi ia belum menunjukkan tanda-tanda menyerah.

“So, who is this silly boy?” tanyanya sambil mengucek-ucek kedua matanya dengan jari-jemari tangannya dan bersandar di kursinya dengan malas.

“Sshe is not silly, I don’t make friend with silly woman,” aku sengaja memberi penekanan pada huruf ‘S’ di awal sehingga ia tidak mungkin salah memahaminya, “and she’s flying to California very soon tonight. The problem is, I might not have a chance to meet her ever again since you keep holding me here asking questions,” aku memberinya jawaban panjang agar ia
segera mengerti dan berhenti bertanya. “Can I?” alisku nyaris bertaut menanyakan hal itu karena aku tak melihat tanda-tanda persetujuan darinya. Roman tak senang pasti mulai muncul di wajahku. Yaaa, wajah ekspresif ini tak mungkin menyembunyikannya. Dan dia sudah terlalu lama menjadi atasanku hingga tak mungkin tidak menyadarinya.

“It depends on how important she is for you,” ujarnya dengan penuh penekanan dan menatapku serius. Bagiku, ia terlihat seperti sedang menantangku untuk berdebat lebih lama dan aku sungguh-sungguh tidak punya waktu untuk meladeninya. Aku harus segera membungkamnya.

“Hmm…pfhhh…” aku menarik nafas panjang dan mendesah pelan, bersandar di pinggir mejaku, melipat kedua tangan di dada. “Say….I would kill just to have a last chance to meet her tonight and say goodbye,” kali ini aku melemparkan sebuah senyuman kepadanya tanpa melepaskan tatapanku dari matanya. Senyum dingin yang mematikan, begitu sahabatku Libe menyebutnya. Senyum khas yang entah bagaimana keluar begitu saja tanpa kurekayasa ketika aku merasa sedang harus melindungi diriku atau menutup diri dari orang-orang yang kuanggap tidak penting bagiku. Kali ini instingku memberitahu kalau pria yang ada di hadapanku sedang berusaha merecoki dan menahanku persis ketika aku sedang diburu waktu.

Pria itu sepertinya sependapat dengan Libe, ia menyuruhku pergi. Dan aku tak menunggu ia menyuruh dua kali, kuraih tas kulit berwarna coklat dari atas mejaku, segera berambus dari situ. Tak lama setelah itu aku mendapati diriku sedang menumpangi sebuah ojek ke Stasiun Gambir, berharap-harap cemas tidak sampai ketinggalan bus Damri terakhir yang bisa membawaku ke bandara Sukarno Hatta. Untungnya lokasi kantorku sangat dekat dengan tempat yang kutuju sehingga aku dapat tiba di lokasi perhentian bus dalam waktu tak lebih dari sepuluh menit.

Satu-satunya bus yang tersisa di situ sudah mulai bergerak ketika aku tiba, tapi supir ojek yang kutumpangi langsung berinisiatif membunyikan klakson motornya. Bus itu berhenti. Cepat-cepat kuberikan uang sepuluh ribu rupiah sebagai ongkos ojek dan berlari masuk ke dalam bus, menghempaskan pantatku di bangku paling belakang bus yang segera melaju. Ah, lega rasanya. Jarum panjang di arlojiku sudah mengarah pada angka sebelas, tapi aku yakin masih punya waktu sekitar satu setengah jam untuk bercengkerama dengan sahabatku nanti sebelum ia menaiki pesawat, sebab biasanya hanya butuh waktu sekitar satu jam bagiku untuk tiba di bandara bila menumpangi bus itu.

Kupandangi arloji yang melingkar di tangan kiriku. Warna putih besi itu kini terlihat kusam, kaca dan tali besinya tergores di sana-sini, mungkin karena terlalu sering kukenakan. Aku hanya melepasnya ketika harus mandi atau sedang tidur, itu pun karena Libe - yang menghadiahkannya padaku pada hari ulang tahunku dua tahun yang lalu - memberitahuku agar tidak mengenakan arloji pada saat tidur. Dia bilang padaku ada penelitian yang membuktikan bahwa arloji mengandung zat radio aktif yang berbahaya bagi tubuh terutama saat pemakainya sedang tidur di malam hari. Sejak itu aku tidak pernah mengenakan arloji saat tidur, aku mempercayainya saja, aku bahkan tidak mencari informasi lebih lanjut tentang kebenaran penelitian itu. Ah, buat apa, dalam hal membaca, ia memang lebih rajin daripadaku, dan biasanya, ia memang memberitahukan informasi sebagaimana apa yang dibacanya, bukan mengada-ada. Kalau pun ada yang salah, ia akan segera bilang, “Eh, maaf dulu ya, kemaren itu aku salah.”

Libe, saat ini ia pasti sudah berada di bandara, ya, harus. Aku sudah mewanti-wantinya sejak kemarin malam, tadi pagi pun aku masih sempat mengingatkannya agar tiba dua jam lebih awal dari waktu terbangnya. Aku bahkan menganjurkan untuk datang lebih cepat lagi bila memungkinkan. Aku khawatir kondisi jalan di Jakarta yang sulit diprediksi ini memberi masalah hingga kemudian ia terlambat untuk check-in. Terlalu besar resikonya, apalagi untuk perjalanan ke luar negeri yang baru kali ini dihadapinya. Aku sendiri pun tidak pernah juga melakukannya sehingga memutuskan ia harus datang jauh lebih awal untuk mengantisipasi kekurangan waktu ketika harus menyelesaikan permasalahan yang mungkin timbul saat sedang check-in.

Libe, bayangannya membawa pikiranku menerawang jauh kembali ke masa awal pertemuan kami yang terbilang aneh. Sampai sekarang pun kami selalu tertawa bila mengingatnya. Apalagi teman-teman lain yang mendengar ceritanya. Sungguh sebuah kejutan hidup dan kebetulan yang penuh makna. Sosok itu bagai ‘counter part’ bagiku. Sering kami bertanya-tanya, benarkah pertemuan kami hanya sebuah kebetulan?

Sosok perempuan yang tingginya tak lebih dari seratus limapuluh lima senti meter itu pertama kali kutemui di sebuah warung nasi yang terletak tidak jauh dari lokasi kerjaku saat itu, sekitar awal tahun 2004. Ia sendiri menyewa kamar di sebuah rumah yang berada di sekitar warung nasi itu.

Saat itu hari Sabtu, jadi aku yang kala itu bekerja di sebuah tempat penyewaan komputer milik temanku di bilangan Jakarta Pusat hanya bekerja sampai pukul satu siang. Aku baru saja berjalan memasuki gang yang membawaku ke kamar kontrakan yang kuhuni bersama adik perempuanku, Tira, tapi kondisi perut yang kosong dan keroncongan memaksaku untuk singgah di warung nasi yang kulewati. Waktu itu warung yang kudatangi sudah sepi karena memang waktu makan siang sudah berlalu. Bahkan pemilik warung sudah memindahkan makanan dagangan yang tersisa ke bagian dalam rumah. Karena telah terbiasa dengan keadaan itu, aku masuk begitu saja ke dalam rumah dan memesan makanan pada pemilik warung yang sedang merapikan piring di atas meja, meminta agar pesananku dibungkuskan segera karena rasa lapar yang amat sangat. Ia pun masuk ke dapur, menyiapkan pesananku.

Selagi aku duduk di kursi menunggu pesananku tiba, sekonyong-konyong sosok perempuan bertubuh kecil dalam balutan kemeja berwarna krem dan rok coklat, dengan rambutnya yang ikal digulung dan dijepitkan ke atas, menyelonong masuk dan berjalan penuh percaya diri menuju meja makan yang ada di sebuah sudut dalam rumah itu. Ia membuka tudung saji, meraup sayur hijau yang dikukus dari atas sebuah piring kecil, memasukkannya ke dalam mulut tanpa ragu sedikit pun. Aku nyaris terperangah, takjub dengan keberaniannya. Dalam benakku aku bertanya-tanya, siapa gerangan mahluk yang masuk tanpa aba-aba itu. Ia sama sekali tidak tampak sebagai salah satu penghuni rumah itu. Dan aku tak habis pikir dengan keberaniannya memakan sayuran orang lain tanpa permisi. Pemandangan seperti itu bukan hal biasa bagiku, tak urung tingkah lakunya membuatku terperanjat sekaligus geli. Aku tertawa-tawa di dalam hati, kupikir, Tira harus diberi tahu tentang mahluk unik yang satu ini. Tapi aku menyimpan semua keterkejutanku di dalam hati, pengalaman itu berubah menjadi sebuah observasi.

Mahluk unik itu sepertinya tak menyadari bahwasanya aku sedang memperhatikannya, ia kembali mengulurkan tangannya ke bawah tudung saji dan mengambil sepotong kecil sayuran hijau dari sana. Oh My God, what is she doing? Pertanyaan itu sempat mampir di benakku. Ia bahkan masih mengunyah ketika ibu pemilik warung akhirnya kembali dari dapur dan membawakan pesananku.

“Ehhh, Libe, mo pesen apa, Be?” sapaan akrab pemilik warung itu langsung menyalakan alarm di kepalaku, mengingatkanku untuk tidak berprasangka buruk lebih dahulu. Ya, mahluk itu tak mungkin berani ‘mencicipi’ sayuran itu kalau dia tidak kenal betul dengan pemilik warung. Ya, dia pasti sudah biasa membeli makanan di situ.

Mahluk kecil itu meminta ibu pemilik warung membungkuskan makanan baginya, sementara aku masih menanti uang kembalian dari pemilik warung. Saat itulah ia sepertinya menyadari perhatianku. Secuek-cueknya mahluk, dia pasti tahu kalau sedang diperhatikan. Ia tersenyum padaku, ramah sekali. Aku kebingungan dengan sikapnya yang terlihat sangat akrab padaku, seolah-olah kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Bayangan seseorang yang sangat mirip dengan perawakannya berkelebat di benakku, mungkinkah dia teman dari temanku yang juga tinggal tak jauh dari sini? Ah, siapa namanya ya? Yuli…ya, Yuli, teman sekontrakan Sri. Pasti dia. Pasti dia ingat kalau aku sering main ke sana, kalau tidak, kenapa pula dia senyum-senyum sok akrab padaku? Aku memutuskan untuk membalas keramah-tamahannya setelah berhasil meyakinkan diriku sendiri.

“Eh….Yuli ya?” tanyaku sambil mencoba tersenyum lebih akrab, hebatnya senyumanku lebih lebar dari senyum yang ditawarkannya.

“Siapa?” mahluk kecil itu menelengkan kepala, mulutnya terbuka, keningnya mengernyit bingung. Ups, mampus aku! Seketika itu juga aku menyadari bahwa aku baru saja mempermalukan diriku sendiri, senyuman ramah ternyata tak selalu berarti bahwa seseorang dikenali. Tapi kepalang tanggung, aku bermaksud memperjelas kondisi yang sebenarnya.

“Kamu Yuli, bukan? Temannya Sri? Yang ngekos di gang 14?” tanyaku memastikan tanpa putus berharap semoga tebakanku tidak terlalu jauh meleset. Ya, aku berharap ia memang tinggal di gang 14, satu kontrakan dengan temanku Sri. Tapi jawabannya menegaskan bahwa aku salah sama sekali.

“Ooo…bukan, namaku Libe, aku tinggal di sini,” katanya sambil menunjukkan arah lokasi tempat tinggalnya dengan telunjuknya, “bukan di gang
14.”

Tak butuh waktu lama bagi kami berdua untuk segera mengakrabkan diri satu sama lain, memperkenalkan nama masing-masing. Daerah asal yang sama membuat kami semakin merasa santai untuk berbicara, lalu beranjak meninggalkan warung itu dalam waktu yang bersamaan, berjalan bersisian karena kebetulan kami melewati gang yang sama agar dapat mencapai rumah kontrakan masing-masing. Karena rumahnya tidak terlalu jauh, kami segera tiba di depan rumahnya setelah bertukar informasi seadanya.

Aku baru saja hendak melanjutkan perjalananku ketika ia tiba-tiba mengajakku singgah. Aku sempat tertegun dan berpikir sejenak, mahluk yang satu ini rupanya tidak hanya unik, dia juga sangat berani, atau…lugu? Terlalu mudah mempercayai orang asing? Dia kan tidak kenal aku? Aku juga tidak kenal dia, masakkan dia berpikir aku bakal mau diajak singgah ke rumahnya? Meskipun kami ternyata berasal dari daerah yang sama? Yang benar saja, masakkan aku akan mengikuti ajakannya? Memangnya aku bodoh? Di Jakarta begini percaya sama orang yang baru kenal? Hmm, aku berpikir-pikir. Dia pasti bisa melihatnya, mahluk yang memperkenalkan diri dengan nama ‘Libe’ itu lalu tersenyum ramah.

“Nggak apa-apa kok, yok, main aja, Oma sama Ompung baik kok,” katanya mencoba meyakinkanku.

“Oma? Ompung?” aku agak kebingungan dengan kombinasi itu. Biasanya aku mendengar Oma bersanding dengan Opa, bukan dengan Ompung. Tapi Libe memahami kebingunganku, ia lantas memberi penjelasan singkat tentang pemilik rumah itu.

Wanita Menado pemilik rumah itu memang menikah dengan seorang pria asal Tapanuli. Setelah menimbang-nimbang, aku mau juga memenuhi undangannya. Meski aku sendiri kebingungan dengan putusanku. Tapi entah mengapa, di dalam hati aku merasakan sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan secara logis, ia sosok yang asing bagiku, tingkahnya teramat berbeda dengan orang-orang yang biasa kutemukan di lingkunganku, terkesan ceriwis. Dari pengamatan sekilas, karakter yang dimilikinya jelas-jelas bukan sosok yang pernah kubayangkan untuk menjadi sekedar temanku, apalagi sahabat. Tapi sesuatu yang bertumbuh di dalam hati pada saat itu juga, mungkin seperti sebuah reaksi kimia yang biasa dialami seorang pria dan wanita, hanya saja, dalam kasus kami, reaksi kimia ini bukan sebagai sepasang kekasih, ini reaksi kimia di antara calon sepasang sahabat.Ada suara-suara yang berbicara di dalam sanubariku yang mengatakan bahwasanya aku membutuhkannya sebagaimana ia membutuhkanku. Ada suara-suara yang memberitahuku bahwasanya aku sedang melakukan hal yang benar. Aku biasanya sangat hati-hati dan selalu mempertimbangkan konsekuensi dari segala sesuatu yang kulakukan, dan waktu itu setelah menimbang-nimbang, aku mengikuti kata hatiku.

bersambung....

Read previous post:  
Read next post:  
Writer estehpanas
estehpanas at Bukan Kebetulan (10 years 21 weeks ago)
80

ntar ku bca yang kedua dulu yawww...yang ini ...ada bhs.inggrisnya..yang kedua ada juga ga ya..? soale bhs.inggris ku dapet jelek..

Writer brown
brown at Bukan Kebetulan (10 years 22 weeks ago)

windy, aku dulu tinggal di salemba loh. aku jadi berpikir, jangan-jangan...kamu beneran cucunya oma sama ompung. hmmm....

Writer miss worm
miss worm at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
80

nice.. ^^ silakan lanjut

Writer ariebhewhe
ariebhewhe at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
70

bagus sesuai dengan alur cerita

Writer windymarcello
windymarcello at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
80

yaahh..bersambung..segera yah sambungannya. btw, aku jadi inget alm. oma sama opungku yang tinggal di daerah salemba. wanita manado yang menikah sama pria asal tapanuli ;)

Writer azura7
azura7 at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
70

tau apa yang kurang, tapi mungkin itu takutnya kelebihan. ragu
cerita keren

Writer dimas_rafky
dimas_rafky at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
70

Menarik!

Writer fortherose
fortherose at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
80

... mari lanjuttt :)

^_^

Writer arien arda
arien arda at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
70

nice story..

keep writing

Writer Chatarou
Chatarou at Bukan Kebetulan (10 years 23 weeks ago)
90

Awal yang menggelitik
Cermat dan teliti...

Kutunggu besok di tempat dan jam yang sama.

Chatarou