Zheik, The One With Power - 1st Scroll Chapter 5

Pallas mengeluarkan ternak milik keluarga Reream, kerjanya menjadi dua kali lipat. Selain mengurusi ternak milik Pak Bergren, dia juga mengurusi ternak milik Reiđ.

Beruntung rumah Pak Bergren satu jalan dengan arah menuju bukit. Hujan deras tadi malam membuat jalan penuh dengan genang air, Pallas menjadi malas mampir ke dalam rumah dengan alas kaki yang sangat kotor bercampur dengan tanah basah. Bersegera dia langsung menuju kandang milik keluarga Reream.

Nyonya Lyall sudah bersiap sejak pagi, sudah dua hari ini dia membuatkan bekal untuk Pallas. Sebagai sedikit tanda terima kasih kepada Pallas. Perlahan dia membuka pintu depan, cahaya matahari mengintip sedikit ke dalam rumah. Nyonya Lyall menghirup udara pagi perlahan dan lama, seakan sudah lama tidak berjumpa dengan udara bersih.

Pallas menyapa Nyonya Lyall tanpa menghentikan kegiatannya, tangannya sibuk memancing agar upyua-upyua keluar dari kandang.

Finly keluar dari rumah, dia juga sudah bersiap di belakang Nyonya Lyall. Pakaiannya rapi.

”Hei Finly. Ikut ke kuil lagi?” teriak Pallas sambil menghitung upyua yang keluar dari kandang.

”Ya. Aku dan ibu akan selalu pergi ke kuil tiap pagi untuk berdoa buat kak Reiđ sampai dia pulang nanti. Semoga Dewa Kyros selalu melindungi dirinya.” Finly balas berteriak. Nyonya Lyall menegur Finly untuk tidak berteriak. Nynoya Lyal memberikan bekal makan kepada Finly untuk diserahkan kepada Pallas.

Ditegur ibunya Finly tersenyum, dia mengambil bekal dari tangan ibunya dan bergegas berlari mendekati Pallas. Sesekali berhenti untuk mencari jalan yang tidak tergenang air.

”Kakak akan menggembala dimana? Di bukit tempat kak Reiđ biasa menggembala?” Finly mengelus kepala upyua-upyua yang melewati pintu kandang. Menatap Pallas, dalam hati dia ingin ikut membantu menggembala namun disisi lain dia ingin menemani ibunya berdoa ke kuil.

Pallas menggeleng,
”Mungkin aku akan membawa ke tempat aku biasa menggembala, kali ini ternak yang ku jaga lebih banyak dari biasanya. Bukit kecil kakakmu tidak cukup untuk mereka semua.” Pallas menutup pagar begitu upyua terakhir keluar. Jumlah mereka sesuai, tak ada yang tertinggal di dalam.

Pallas mengambil tongkat yang biasa dia gunakan untuk menggiring kawanan ternak. Bersiap untuk berangkat menuju tempat kerjanya. Finly menyerahkan bekal makan pada Pallas.

”Finly, ayo cepat.” Nyonya Lyall memanggil sambil menaiki kereta kuda.
Finly menoleh dan mengangguk,

”Kalau nanti aku selesai cepat dari kuil, aku akan mendatangi kak Pallas. Soalnya ibu ada urusan di pusat desa nanti. ” kata Finly sambil berlari menuju kereta tanpa mendengarkan jawaban dari Pallas.

Pallas tersenyum sambil melambai ke arah Nyonya Lyall dan Finly.
##

Pagi tidak berapa lama berlalu, namun tidak ada bedanya keadaan di hutan, masih gelap. Mina terbangun, mendengar dari suara ayam-ayam hutan yang berkokok, seakan memberitahukan bahwa pagi sudah datang. Bergegas Reiđ dan Mina melanjutkan pencarian. Ini adalah hari ketiga mereka bersama menjelajahi hutan yang luas, tetapi masih saja mereka tidak menemukan sosok Classyalabolas ataupun bunga Jantung Hijau. Mina semakin merasa bosan dengan pencarian ini.

Reiđ tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan lebih dalam lagi hutan. Padahal menurut Mina mereka pasti sudah berjalan lebih dari setengah luas hutan ini. Waktu siang yang terlalu pendek menjadi salah satu penghambat, belum lagi terkadang mereka harus bertemu dengan binatang-binatang buas atau harus berburu untuk bekal makan.

Di bagian dalam hutan sangat tidak menguntungkan bagi inland seperti mereka berkeliaran. Pepohonan tumbuh tidak teratur, sulur-sulur juga melintang kemana-mana seperti sarang laba-laba. Sulur-sulur yang ada di mana-mana itu akan menghambat gerakan mereka. Reiđ sibuk menebas beberapa sulur-sulur yang menghambat arah jalan sementara Mina dengan tenang meliuk-liuk di antara sulur-sulur tanpa harus memotong.

Setelah agak lama, Mina merasa ada sesuatu yang ganjil pada pepohonan di sekitar mereka. Ada sesuatu yang tidak alami. Mina bergegas berlari ke depan meninggalkan Reiđ kebingungan dengan tingkah laku Mina yang selalu tergesa-gesa. Atau memang karena Mina yang sangat lincah, padahal Reiđ merasa dia sangat cepat. Reiđ bergegas mengejar Mina.

Mina menghentikan larinya dengan mendadak, terkejut ketika di depannya terhampar sebuah pemandangan yang lebih mengerikan dari tempat pengintaian pertama. Kali ini tidak hanya tulang belulang inland. Tapi juga tulang belulang hewan-hewan, tulang belulang hewan yang sangat besar. Hampir dua kali lipat ukuran mammaro -gajah. Seberapa besarkah Classyalabolas hingga mampu mengalahkan hewan-hewan besar itu. Mina bergetar ketakutan memikirkan hal itu, Reiđ menyadari itu karena hal yang sama juga dia rasakan.

Reiđ menepuk punggung Mina.

“Bagaimana? Masih mau diteruskan? Atau perjalanan ini akan menjadi sia-sia?” tanya Reiđ sedikit mengejek Mina. Reiđ tetap berusaha menutupi rasa takut agar tidak terlihat oleh Mina. Ada perasaan malu jika martabatnya sebagi laki-laki hilang karena rasa takut.

“Huh, aku masih ada urusan yang sangat penting dengan kreyzure itu !” tegas Mina sambil mengamati jejak-jejak kaki hewan yang ada di sana. Mina melihat beberapa jejak kaki yang sangat besar dan tidak terlalu lama. Perkiraan Mina, tadi pagi si pemilik jejak besar itu baru saja berkunjung ke sini. Berjongkok Mina mengamati arah datang si pemilik jejak kaki.

“Ayo kita cari sarang kreyzure itu dan menghabisinya.” kata Mina sambil menyiagakan perlengkapan tempur, terpancing dengan perkataan Reiđ, Mina menjadi lebih berani.

Namun belum sempat mereka bergerak, dari arah kanan terdengar dengusan nafas yang keras disertai dengan getaran yang hebat di tanah. Reiđ dan Mina serentak menoleh ke arah sumber suara itu. Suara gemerisik dedaunan terdengar semakin jelas.

Akhirnya kreyzure yang mereka cari-cari muncul, menyeruak dari semak-semak sambil membawa seekor hewan seukuran kuda di mulut. Entah hewan apakah yang menjadi santapan Classyalaboas, Reiđ tidak bisa mengetahui karena bangkai hewan itu sudah tidak berbentuk lagi. Classyalabolas baru saja berburu makan siang. Reiđ dengan cepat menarik Mina ke belakang, menyembunyikan diri ke semak-semak sambil mengamati kreyzure itu.

Mereka berdua mengintip dari balik semak-semak.

“Astaga, lihat ukuran kreyzure itu!” tubuh Mina sedikit gemetar, ketakutan kembali datang begitu melihat makhluk itu dengan jelas. Mina mencoba menguasai diri. Memang dia sudah sering mendengar cerita tentang Classyalabolas, namun saat berhadapan langsung tetap saja dia merinding, keringat dingin perlahan menjalar dileher dan kepalanya. Nyali untuk memburu makhluk itu menjadi ciut begitu melihat kenyataan yang terpampang di depan mata.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang diceritakan oleh orang-orang. Makhluk itu mempunyai tubuh besar dan ekor yang panjang. Duri-duri yang besar seperti lempengan kapak batu berjejer di bagian punggung, dari leher sampai mendekati ujung ekor. Gigi-gigi yang tajam dan kuat seakan-akan memberi pesan bahwa apapun yang berada dalam gigitannya tidak akan pernah dilepaskan.

Classyalabolas berjalan mengangkut mangsanya menuju sarang. Tanah bergetar, suara berdebam bersahutan seiring dengan langkah kaki Classyalabolas.

Reiđ dan Mina mengikuti kreyzure itu sembunyi-sembunyi, sengaja agar Classyalabolas tidak menyadari keberadaan mereka. Mereka tidak ingin mengantar nyawa secepat ini. Pengejaran itu menuntun mereka ke sebuah gua, gua berukuran besar yang berada di sebuah tebing batu.

Mina mengamati keadaan. Jalan di depan gua tidak ditumbuhi rumput liar, pertanda bahwa makhluk ini sudah lama mendiami tempat ini. Kreyzure itu masuk ke dalam gua yang penuh dengan sulur-sulur yang menjuntai dari langit-langit gua. Reiđ dan Mina yakin kalau gua itu adalah sarang Classyalabolas.

Reiđ dan Mina tidak bisa melihat dengan jelas keadaan di dalam gua. Mendekat mereka belum berani. Mina mendongak ke atas, tanpa berkata apa-apa dia langsung melompat ke atas pohon. Menakjubkan bagi Reiđ, Mina berlari di batang pohon seakan-akan itu hanya sebuah jalan datar. Pada saat mendekat sebuah dahan, Mina moloncat ke arah dahan tersebut. Reiđ masih terkagum, hampir saja dia berdecak kagum. Mina menatap sebentar temannya yang berada di bawah.

Reiđ menggeleng, mengisyaratkan dua hal sekaligus. Tanda kekaguman dan tanda kalau dia tidak bisa memanjat pohon. Mina menggaruk kepala. Tidak mau membuang waktu, dia membiarkan Reiđ dan mengintai ke dalam gua.

Reiđ mengerti, dia tidak berdiam diri, beberapa langkah di depan Reiđ melihat sebuah pohon yang rimbun tetapi tidak terlalu tinggi dan mudah dipanjat karena jarak anatra dahan yang satu dengan yang lain bisa dijangkau. Paling tidak bisa dia jangkau pikir Reiđ.

Mina menoleh ke bawah, mengernyitkan dahi melihat Reiđ yang mengendap-endap maju. Kebingungan Mina mulai samar begitu Reiđ hendak memanjat pohon rimbun di depan. Reiđ memberi isyarat pada Mina agar tetap mengawasi Classyalabolas selagi dia memanjat. Mina mengangguk.

Reiđ mengambil nafas, duduk di antara dahan-dahan pohon. Tidak sulit baginya untuk memanjat pohon. Reiđ mengatur nafasnya, jantungnya terasa berdebar lebih cepat. Dia merasa gamang, Reiđ baru sadar kalau dia sebenarnya takut akan ketinggian, karena itu sejak kecil dia tidak senang memanjat pohon seperti teman-temannya yang lain. Dia menoleh ke belakang ke arah Mina berada, dia masih bisa melihat Mina. Semoga saja Mina bisa melihat dirinya di antara rimbunnya pohon ini pikir Reiđ. Berpaling dia mengamati sarang Classyalabolas. Jaraknya dengan gua itu kurang lebih 100 kaki. Perlahan matanya menangkap sesuatu di balik gelapnya gua. Mata Reiđ tertuju pada sesuatu yang tumbuh tidak jauh dari mulut gua.

Sebuah bunga berbentuk seperti jantung dan berwarna hijau dengan daun lebar berbintik-bintik, Reiđ tidak yakin apa warna bintik itu, tapi dia yakin kalau itu adalah bunga yang dia cari, Jantung Hijau.

Ya, Reiđ yakin sekali kalau itu adalah Jantung Hijau yang sedang dia cari-cari. Bentuk bunga itu sesuai dengan gambaran yang diceritakan oleh orang-orang. Tetapi akan sangat sulit untuk mengambil bunga, karena Classyalabolas sedang asyik menikmati hasil buruan tidak jauh dari mulut gua. Reiđ berpikir keras bagaimana caranya untuk mengambil bunga itu tanpa menganggu si pemilik sarang, jujur dia sangat takut jika harus berhadapan dengan Classyalabolas. Dalam kebingungan Reiđ menoleh ke arah Mina. Kebingungannya bertambah, Mina tidak lagi ada di pohon. Reiđ menoleh ke segala arah, tetapi dia tetap tidak menemukannya.

”Jangan terlalu banyak memandang sekeliling, nanti jatuh.” Mina mengagetkan Reiđ. Dalam sesaat Mina sudah berada di samping Reiđ.

Reiđ hampir saja terjatuh, beruntung tangannya memegang erat batang pohon.

”Bagaimana kamu...” belum selesai Reiđ berbicara, Mina memotong dengan gerakan isyarat untuk diam.

”Kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?” Mina bertanya dengan berbisik. Reiđ mengernyitkan dahi, tak urung dia mengangguk.

”Iya, sepertinya aku sudah melihat Jantung Hijau. Tapi mengapa kita berbisik seperti ini? Kurasa makhluk itu tidak akan mendengar kita dengan jarak sejauh ini.” Reiđ juga berkata-kata dengan berbisik.

”Bukan masalah itu, aku masih merasa takut. Dan ketakutanku bertambah, biasanya makhluk pemangsa punya kemampuan untuk merasakan rasa takut dari makhluk lain. Dan kalau makhluk itu bisa mencium bau takut tubuhku, dia pasti akan curiga dengan suara-suara saat kita berbicara.”

Reiđ tertawa kecil tanpa suara, padahal dia juga merasa takut.

”Bukan bau takutmu yang akan membuat makhluk itu mengetahui persembunyian kita. Tapi ku pikir dari bau badanmu.” Reiđ masih bisa bercanda. Mina tersinggung, dia memukul lengan Reiđ, sesaat kemudian dia ikut tertawa tanpa suara, dia sadar kalau Reiđ hanya mencoba untuk menenangkan dirinya, atau mereka berdua bagi Reiđ.

”Jadi, apa yang akan kita lakukan?” tanya Mina

Reiđ menggeleng-gelengkan kepala, dia tidak punya rencana apa-apa. Semua rencananya menjadi buyar begitu melihat Claasyalabolas yang sebenarnya. Satu-satunya kesempatan yang dia punya hanyalah mengambil Jantung Hijau. Dengan begitu Tuan Tanah tidak akan meributkan rumah dan tanah mereka lagi. Tidak apa-apa jika tidak memenangkan sayembara, paling tidak hutang sudah terbayar. Untuk hidup, mereka bisa mencoba usaha yang tidak perlu sampai mengantarkan nyawa lagi.

”Aku tidak yakin bisa mengalahkan makhluk itu.” tegas Reiđ. ”Meskipun ada 10 lagi orang sepertiku.” dia menatap Mina. Meskipun bernada tidak serius namun Mina menganggap Reiđ serius dari tatapan matanya.

”Yang ku pikirkan sekarang adalah bagaimana mengambil Jantung Hijau tanpa menarik perhatian Classyalabolas, itu sudah cukup bagiku. Tapi tujuan kamu berbeda denganku. Sekarang terserah denganmu, aku akan membantumu, apapun keputusanmu. Aku berjanji atas nama Bés Yua.”

Mina menghembus nafas, mendengar perkataan dan janji Reiđ dia merasa menjadi lebih berani. Namun Reiđ benar. Reiđ hanya membutuhkan Jantung Hijau dan tidak perlu bertarung dengan Classyalabolas, sementara dia sendiri hanya punya satu tujuan, membunuh Classyalabolas.

Mina menatap ke bawah, sesaat dia menjadi pusing. Bukan karena ketinggian. Pikirannya menjadi berkecamuk. Apakah dia akan mengorbankan tujuan temannya atau dia harus mengorbankan enam tahun dia belajar bermacam-macam ilmu bertarung agar Reiđ bisa mengambil Jantung Hijau dan menyelamatkan keluarganya.

Mina memukul telapak tangan kiri dengan tangan kanannya, dia sudah mengambil keputusan.

”Aku akan bantu kamu mengambil Jantung Hijau dan menyelamatkan kehidupan keluargamu. Setelah itu aku akan kembali menemui kreyzure ini, dan aku harap kamu mau menemaniku lagi. Maukah kamu berjanji seperti itu padaku wahai pemuda Bés Yua?”

Reiđ mengangguk, dia tidak menyangka Mina akan mementingkan keluarga Reiđ daripada ambisinya.

”Janji seorang laki-laki Bés Yua adalah janji seumur hidup!” tegas Reiđ.
##

Next

Read previous post:  
49
points
(2669 words) posted by makkie 10 years 18 weeks ago
81.6667
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
80

hee, kirain reido berambisi ngebunuh Classyalabolas buat balas dendam atas kematian ayahnya, ternyata cuma mau ngambil jantung hijau toh.
narasimu tetep enak ya :)
eh, next postnya kok ga ada? mesti cari2 dulu nih >.<

iya...yang scroll 1 chapter 6 ga bisa dibuka2 dari kemaren...
ga tw knp...nanti deh ta coba lagi...

iya nih, saya dari tadi buka ga bisa2 >.<
kalo udah berhasil bukanya, bilang ya :)

heu heu...ttep ga bs dibuka...T_T
ta post yang baru aja...coba aja cari di
http://www.kemudian.com/node/245614

70

pegel..baca edit baca edit...

80

hem
sori nih kali ini aq cm bisa komen junk ajah
:(
" Keren.. "
tp
memang ada yg kurang sreg sedikit
buts
its okay
mampir ke tempatku ya
http://www.kemudian.com/node/227240#comment-706850
Dragonadopters

90

Waw bagus ^-^ ceritany mengalir n gak terburu2 (gw sh bkn cerita slalu buru2 hehe)
cuma, bener kata diakon tadi, ad bebrp kal yg krng efektif
selebihnya sih kykny ga da mslh ^-^

lanjutanny sangat d tunggu ^-^

70

Aku tidak melihat ada masalah... :D
mungkin cuma gak sreg sama penggunaan istilah2 asing saja...

lalu wild beast kenapa tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia saja? feel-nya pasti berubah...

juga rasanya banyak kalimat yang nggak efektif... cari ndiri deh ntar ketemu... ngakngakngak :D

hahaahah klik telor nagaku yak..
Dragonadopters

mmm...pengennya sih ta ganti pake bahasa Indo, tp ga ada yg cucok bo..
ni lagi ta pikirin bahasa downworldnya..

70

mohon saran dan kritiknya lagi..saknyu..