Grey berjalan perlahan ke arah benda bulat kecil itu dengan tegang. Matanya yang abu-abu terus menatap lekat ark itu. Bagaimanapun , sudah tiga kali dia terkena perangkap akibat benda kecil terkutuk itu.
Read more (1008 words)
'Ugh... Jangan-jangan passwordnya bukan Salamander. Kalau bukan, entah perangkap apa lagi yang akan menghantamku. Sial!!! Kenapa aku jadi tegang begini. Aku harus yakin... Lagipula, aku ini kan orang beruntung.'
Grey terus berjalan pelan mendekati ark itu sementara Slay dan Sherry mengamatinya dengan khawatir. Slay memang khawatir akan keselamatan Grey, tapi Sherry berbeda. Sherry khawatir kalau-kalau perangkap yang aktif juga akan mengenainya. Jadinya, Sherry mundur beberapa langkah, mencoba mendapatkan jarak aman jikalau seandainya dugaan Grey betul-betul salah. Slay sendiri sedang mengutak-atik Trackernya, memersiapkan diri untuk mematahkan perangkap jika memang ada.
Sekitar satu meter di hadapan ark, Grey menghentikan langkahnya. Satu langkah dihadapannya adalah tempat di mana puluhan anak panah api hampir menembus tubuhnya. Grey menarik nafas panjang, mempersiapkan mental dan semangat.
"Salamander!!!" Grey berteriak lantang dan mantap. Disertai dengan keyakinan kuat dan semangat untuk mengejek Sherry jika seandainya dugaannya benar, Grey melangkah pelan. Melangkah ke perangkap yang ham[ir memisahkan tubuhnya dengan roh yang berada di dalamnya.
'TAPPP...'
Grey tertegun agak lama di tempat itu. Tertegun dengan perasaan bercampur aduk.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sherry penasaran.
"Tidak ada..." Slay ikut bengong. Tangannya yang sedari tadi siap dengan kuda-kuda dia lemaskan.
Grey menyadari apa yang terjadi dengan cepat. Dia telah berhasil...
Senyum sinis mengembang di bibirnya. Lalu dia berbalik ke arah Sherry yang sedang bengong. Bersiap melontarkan kata-kata kemenangan. Matanya menatap Sherry dengan tatapan sinis sedikit angkuh solah berkata 'Fell that...'.
"Jadi..." Grey melipat tangannya penuh kemenangan. "Sepertinya semua sudah jelas..."
"Ugh... Baiklah, kau menang." Kata Sherry dengan wajah cemberut. Tidak setiap hari dia dikalahkan oleh Grey setelak itu.
"Apa!? Aku gak bisa dengar..." Dengan usil Grey memprovokasi Sherry agar makin kesal. Dan sepertinya dia melakukannya dengan baik.
"Iya... Iya... Kamu yang menang!!!" Sherry berteriak dengan dongkol. "Puas!!?"
Grey lalu tertawa keras mendengar perkataan Sherry. Tawa yang di telinga Slay terdengar seperti kodok sedang menelan sebuah subtance tube. Sherry tentunya makin kesal dengan tawa penuh kemenangan Grey, dan Dia pun meraba sabuk pinggangnya, mencoba meraih subtance tube untuk membungkam Grey.
Setelah tertawa agak lama dan puas melihat tampang cemberut Sherry, Grey kembali fokus pada misinya; mengambil ark. Grey berbalik ke arah ark lalu berjalan dengan santai. Semua perangkap telah dia matikan, jadi buat apa gentar.
Grey mengamati ark dihadapannya dengan tampang agak konyol. Konyol karena dia masih memikirkan kemenangannya. Perlahan tapi pasti, Grey menjulurkan tangannya ke ark yang tengah melayang itu.
'SYUUUT... DUARRR..."
***
Cahaya mentari yang menembus celah dedaunan pohon-pohon oak raksasa hutan migra memantul begitu mengenai barisan 31 kesatria dengan baju besi lengkap. Mereka berbaris rapi dipimpin oleh seorang kesatria berumur sekitar 43 tahun dengan hanya satu mata. Mata kirinya tertutup rapat oleh sebuah luka goresan yang memanjang dari kening sampai pipinya.
Kesatria bermata satu itu mengenakan baju besi yang mengkilat. Tangan kanannya menggenggam pedang dengan ornamen mewah berbentuk naga sementara tangan kirinya menggengam perisai dengan lambang persekutuan bintang.
Baju besi ke-31 kesatria itu berderak bersama dengan langkah kaki mereka yang makin cepat. Masing-masing dari mereka menggenggam pedang terhunus. Siap untuk menumpahkan darah siapapun yang menghalangi mereka. Termasuk puluhan centaurus yang sedang menghadang mereka dalam posisi siap tempur.
Shabon berjalan ke arah kesatria bermata satu itu dengan agung lalu menatapnya tajam. Terik matahari tidak sanggup mencegah kedua pasukan untuk menggigil akibat aura dari kedua pemimpin hebat itu.
"Apa yang kau inginkan di tempat suci kami Hei manusia?" Geram Shabon.
Kesatria bermata satu itu tersenyum, padahal aura yang dipancarkan Shabon bisa membuat seekor Bugbear raksasa mati di tempat. Kesatria bermata satu itu balas menatap Shabon lalu memperkenalkan diri dengan sopan.
"Namaku Canopus Straffe, Kesatria Persekutuan Bintang Ordo ketujuh."
"Maafkan ketidaksopananku kesatria." Kata Shabon setengah mengejek. "Aku Shabon, Pemimpin Centaurus hutan Migra."
"Kebetulan sekali..." Canopus memasang kuda-kuda yang sempurna diikuti oleh pasukannya. "Aku ingin meminta Ark dari kalian..."
"Cara yang aneh untuk meminta..." Shabon mencabut kedua pedang di punggungnya lalu meloncat mundur, Bersiap untuk bertarung.
***
"Slay, kamu lihat yang tadi bukan?"
"Ya... Jelas sekali."
"Hei...Hei..." Grey yang sedang terbaring dengan wajah cemberut mencoba protes. "Teman kalian baru saja dihantam api, terlempar ke dinding lalu berguling kesakitan dan kalian sama sekali tidak peduli?"
"Sudahlah, jangan manja..." Dengan kesal Sherry menarik tangan Grey yang agak menghitam karena perangkap. "Kemana senyuman angkuhmu yang tadi?"
Wajah Grey makin masam. Dengan kesal dia membersihkan tangannya lalu memperhatikan ark di tengah ruangan. Sherry sendiri tengah bersiap-siap melontarkan ejekan ketika dilihatnya Slay hendak berbuat nekat. Slay menjulurkan tangannya, mencoba meraih ark.
"Slay!" Sherry berteriak panik. "Kau mau apa!?"
Tangan Slay berhenti untuk sesaat. Dia menatap Sherry dalam-dalam lalu sebuah senyum penuh makna menghiasi wajahnya.
"Phoenix!" Slay berteriak agak lirih sembari menggenggam ark dengan tangan kanannya. Cahaya menyilaukan memenuhi ruangan sempit itu untuk sesaat. Sherry sempat melihat sesosok burung api keluar dari ark lalu menerjang menembus tubuh Slay. Sherry hanya bisa melihat tanpa berkata apa-apa. Cahaya itu mengunci tubuh dan mulutnya.
Beberapa detik kemudian cahaya itu menghilang. Sherry, begitu mendapatkan kendali atas tubuhnya langsung berlari ke arah Slay yang beriri mematung di tengah ruangan. Matanya sempat melirik ke tempat di mana ark itu selama ini berada. Ark itu lenyap.
"Slay, apa yang terjadi?" Dengan khawatir Sherry mengamati setiap jengkal tubuh Slay. "Kamu tidak apa-apa bukan?"
"Entahlah, aku tidak tahu." Slay dengan agak bingung memandang sekeliling, mencoba merekonstruksi kejadian yang baru saja dia alami.
"Huh..." Cibir Grey. "Sikapmu berbeda sekali pada ku."
"Tentu saja." Sherry memandang Grey dengan kesal, bersiap untuk melancarkan pukulan. "Itu karena tubuhmu tidak ditembus Phoneix."
Grey mencibir, tidak puas pada jawaban Sherry. Sementara Grey dan Sherry berdebat atau mungkin lebih cocok dikatakan bertengkar, Slay memeriksa seluruh tubuhnya dan menyadari bahwa dia sedang menggenggam sesuatu. Sebuah benda bulat kecil bernama ark.
Mata Grey sempat menangkap benda kecil itu. Dia langsung menghentikan pertengkarannya dengan Sherry lalu berjalan ke arah Slay. Sherry yang juga menyadari keberadaan benda itu ikut mengamatinya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Sherry dengan penasaran.
"Entahlah..." Slay yang sepertinya juga bingung menjawab seadanya. Mereka bertiga lalu mengamati kelereng itu dengan heran. Hingga...
'DUARRR... BRUAKKK...'
***
Lima elemen terakhir. Bersembunyi dalam kegelapan, bersama dengan para pendahulu. Bersiap tuk hancurkan dunia.
Kitab Galgazit; Hal 666
Well. Karena udah lama ga baca cerita ini, jadi agak-agak gimana, gitu.
Meski demikian, di cerita ini kamu sudah mulai berkembang. Mulai menceritakan dengan rapi.
Sip!
Terus berusaha!
Kesatria itu bukannya Ksatria yak??? :-/
(bingung)
klik naganya udah mo netas nihh plissss
