Umang : Cerita Banjir (editing ver. Saran & kenyataan)

Saran dan kenyataan

Umang memandangi rumahnya. Di dinding rumahnya terdapat garis berwarna kuning kecoklatan yang berbentuk gelombang-gelombang kecil. Garis itu bukan hasil karya Umang ataupun tukang cat. Tapi hasil karya alam yang datang 2 minggu lalu. Banjir yang datang dan mengenangi jalan, pekarangan dan rumah Umang.

Umang yang baru berumur 6 tahun itu tertawa lebar. Saat itu Umang tidak takut sama sekali, dia tidak khawatir sama sekali. Malahan Umang sangat gembira, bagaimana tidak. Karena banjir itu Umang bisa bermain air sepuasnya, walaupun sambil diteriakki ibu dan bapaknya. Dan walaupun airnya sangat keruh dan banyak sampah yang mampir, ada cacing dan binatang kecil lainnya yang menemaninya juga lho.

Umang melihat ibu dan bapaknya sangat cemas dengan keadaan itu. Mereka berbicara sambil menatap jendela yang menghadap ke halaman depan. “Bagaimana ini pak? Hujannya turun lagi. 3 hari hujan berturut-turut. Bagaiman mau surut airnya. Lihat pak, airnya mulai masuk lagi. Ibu capek hari bersihin dan ngepel terus! Lalu bagaimana kalau terjadi kayak di tv itu pak, tsunami pak?” bapak Umang hanya menepuk pundak ibu Umang.

Umang tidak perduli dengan ucapan ibunya. Dia malah asyik memandangi seekor cacing nyasar yang masuk kerumahnya. “Bu, lihat ada cacing!” Ibu Umang berteriak ketakutan seperti melihat hantu saja (memangnya dia pernah lihat hantu??).

“Umang! Buang itu nak. Itu jorok!” teriak ibu Umang. “Buang mahluk itu Mang, jangan taruh dekat-dekat ibu!” ibunya histeris, tapi Umang hanya melonggo. Mengapa ibunya yang cerewet sekali dan galak itu takut sama benda kecil yang tidak berdaya itu?

“Astaga air di got meluap pak!” teriak ibu Umang.
“Kalau begitu bapak harus betulkan dulu. Siapa tahu bisa lancar alirannya, dan airnya tidak masuk rumah lagi bu,” Bapak Umang mengambil jas hujan dan memakainya, dia juga mengambil linggis dan palu kemudian berjalan keluar.
Orang-orang di komplek itu sudah keluar kejalan komplek. Mereka semua beramai-ramai membuka saluran air komplek itu.

“Tante, sebaiknya got ini di buka saja. Siapa tau saluran airnya bisa lancar. Lagipula got nya tante uda sumbat sih!” ucap Asang tetangga Umang.
“Enak saja bilang saluran got tante uda kesumbat, masih lancar lho. Masih bisa plong lho!’ tante Min memang sedikit genit, apalagi kalau sudah melihat Asang tetangganya yang masih muda dan ganteng.
“Maksud saya got ini lho tante!” teriak Asang kesal. Tante Min hanya tersenyum.

Akhirnya mereka beramai-ramai membongkar got yang sudah disemen itu. Berharap kalau got itu dibongkar setidaknya bisa mempelancar jalannya air menuju parit atau kali-kali kecil. Tiba-tiba saja saat membongkar got perut bapak Umang terasa mules-mules. Tapi dia tidak enak harus meninggalkan pekerjaan yang tinggal sedikit itu. “Pret .. pluk .. prat .. peh .. ph .. pret” dan bau pun menyebar.

Bapak Umang merasa malu dan tidak enak pada yang lain, tapi dia enggan mengakui kalau dia pelakunya. “Kayaknya ada suara ikan yang loncat ya!” ucap Bapak Umang dengan suara keras.
“Iya, sepertinya begitu. Kalau sudah banjir begini banyak ikan yang nyasar,” Tante Min menambahkan tanpa tahu suara yang sebenarnya.

Saat melihat beberapa orang mulai mengendus-ngedus bau tidak enak bapak Umang langsung menutupi lagi dengan kata-katanya “Kalau musim banjir gini, sampah-sampah pada bermunculan dimana-mana. Bikin polusi udara yah,” ucapan itu langsung disambut anggukan oleh yang lain. Dan sekarang dia sudah tenang, perutnya juga sudah lumayan tenang.

“Seharusnya waktu bikin rumah tuh harus memperhatikan saluran pembuangan air juga,” ucap pak RT.
“Betul itu pak, dan seharusnya ndak boleh nutup got untuk memperluas halaman rumah tante,” ucap bapak Umang.
“Ya, saya ngerti. Tapi mau gimana lagi. Toh uda terjadi kan. Yang lain juga pada begitu!” ucap tante Min dengan kesal.
“ Sampah-sampah tuh harus dibuang ketempatnya. Jangan dibuang keselokan,” ucap tante Min lagi.
“Benar itu tante,” tante Min tersenyum lebar saat Asang menaggapi ucapannya.
“Harusnya kita kerja bakti, bersihkan got dan betulin saluran air,” ucap Pak Doni yang tinggal di blok B.

=====================

Hari ini langit cerah dan Umang sedang asyik bermain dikamarnya. Ibu dan bapaknya sedang sibuk memperhatikan tukang-tukang yang bekerja membuat pagar depan halaman rumah mereka. Sesekali Ibu Umang berteriak untuk memastikan Umang masih berada didalam. Ibu Umang takut kalau Umang keluar dan menginjak paku atau pergi tiba-tiba atau diculik!!

“Umang! Umang! Mang!!” ibu Umang masuk dan menemukan Umang sedang bermain dengan robotnya. “Umang, kalau dipanggil itu nyahut! Jangan ndak sopan, ibu kan jadi cemas,” Umang hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian ibu Umang berteriak lagi, “Umang, Umang!” Umang langsung menyahut teriakkan ibunya.

“Ibu! Ibu!” teriak Umang. Ibunya mendengar tapi dia sedang sibuk dengan pagar dan garasi baru yang akan dibangun sehingga dia hanya diam tak menyahut. Paling-paling anak itu minta dicariin mainannya, pikirnya.
“Ibu! Ibu, Ibu Umang!” teriak Umang lagi, dan lagi-lagi dia dicuekin.

Umang berlari keluar, “Umang! Bapak sudah bilang kamu jangan keluar nanti kena paku!” teriak bapak Umang.
“Ibu tuh nakal. Ibu, kalau Umang panggil ibu harus nyahut, biar Umang tahu ibu masih ada diluar atau tidak dan sangat tidak sopan kalau dipanggil kita tidak nyahut!” Umang menirukan ucapan ibunya. Ibunya hanya bisa tersenyum dan mengaku salah “Tapi Umang, ndak perlu teriak-teriak sekencang itu kan,”

“Ibu, kenapa got kita ditutup?” tanya Umang.
“Sht!!! Anak kecil diam saja!” ucap Bapak Umang.
“Tapi waktu banjir kemarin bapak bilang kita ndak boleh nutup got!” Umang menatap ibu dan bapaknya meminta penjelasan.
“Yah, ini juga terpaksa Mang. Kita mau bikin garasi dan tanah kita ndak cukup. Hitung-hitung pinjam dulu lah. Lagipula kalau cuma kita yang betulin got, ndak akan berpengaruh banyak Mang. Hal itu akan sia-sia, tidak akan mengubah kejadian banjir kemarin. Karena toh banyak got-got lain yang tertutup,” ucap bapak Umang untuk membela diri. Dan lagi-lagi Umang hanya mengangguk pelan.

“Ibu! Kenapa sampah-sampah bekas gergajian dibuang ke got tante Min? Katanya ndak boleh buang sampah di got, menutup jalan air. Nanti airnya jalan lewat mana lagi bu?” tanya Umang ketika melihat ibunya menaruh bekas potongan kayu dan triplek di got tante Min.

“Umang, ini ndak masalah kok. Kamu lihat sekeliling kita. Semua sama, jadi ibu cuma ikut-ikutan. Lagipula kalau got sudah sumbat airnya tetap saja bisa jalan. Jalan lewat atas lah,” ibu Umang tersenyum dan masuk kedalam rumah untuk mengambil teh es untuk para pekerja. Umang kembali manggut-manggut “Oh, jadi airnya lewat jalan tol aja ya!”

“Umang jangan buka PS dan TV diluar bersamaan. Nanti bayar listriknya mahal. Lagipula kita harus membantu pemerintah untuk menghemat listrik!” teriak ibu Umang dari dalam rumah.

“Ah ibu, biasa saja lah. Ndak perlu teriak-teriak seperti itu, ngomong yang pelan-pelan saja,” ucap Umang.
“Sudah dihidupin ndak ditonton lagi TV-nya, PS-nya juga ditinggal begitu saja Ntar listriknya makin berat dan ntar listriknya padam terus lho! Nanti PLN-nya bangkrut dan kamu ndak bisa pakai listrik lagi” Ibu Umang berusaha menasehati anaknya.

“Ah ibu, Umang kan terpaksa bu. Tadi Umang keluar nyariin ibu, habis ibu ndak nyahut waktu Umang panggil. Lalu kalaupun Umang matiin PS dan TV-nya ndak akan berpengaruh juga, toh listrik di kota Pontianak ini akan tetap saja hidup .. mati .. hidup .. mati .. yah .. gitu deh,” ucap Umang.

“Lalu coba bapak dan ibu ikut Umang,” Umang berjalan keluar halaman rumah dan menunjuk setiap rumah di komplek itu.
“Ibu dan bapak lihat kan, semua juga menghidupkan lampu dan TV mereka disiang hari. Jadi Umang hanya ikut-ikutan. Bagaimana mungkin pengorbanan Umang untuk mematikan dua alat itu bisa membuat listrik tidak hidup-mati lagi! Jadi hal itu hanyalah sia-sia,” Umang berjalan masuk dan mengeleng-geleng kepalanya “Bapak dan ibu tidak konsisten sama ucapan mereka sendiri!” ucapnya dengan pelan dan helaan nafas panjang.

Bapak dan ibu Umang hanya dapat saling memandang dan mengakui kalau kata-kata Umang itu benar. Setiap diri orang dewasa tidak pernah mau mengakui kalau mereka adalah contoh yang buruk bagi anak-anak mereka. Hanya dapat memberi nasehat tanpa dapat menjalankan nasehat itu sendiri.

Read previous post:  
37
points
(1026 words) posted by cat 7 years 10 weeks ago
74
Tags: Cerita | petualangan | anak | cat | indah | Kehidupan | Kenyataan | mall | SD | tur
Read next post:  
90

tokohnya mirip sincan yang nyebelin, tapi terlalu pinter buat sincan

80

nyindir ^_^

gehehhehehehe, sip sip!!

80

Saran : pesan ceritanya dipertajam.

Kritik : masih soal tanda baca tuh. utamanya awalan di- kalo menunjuk tempat ato waktu di-nya dipisah, kalo verba baru gak dipisah. seperti kata dipisah itu sendiri, gak dipisah kan?
mudah-mudahan gak bingung.

Tetap menulis yaaa...

50

Cat pernah nggak buat cerpen cinta ?.Nyoba deh.
Aku males bacanya,ceritanya biasa aja,datar.Coba di kasih polesan keju.Enak tuh.Yah.

90

dan sindiran sosial yg dikemas dlm sbuah cerita...nice!

tp kok judulnya rasanya gimanaa gitu..bs diganti gk?(walau sy gkbs ngasi saran jg sih, apa y...hehehe)

90

Ini bagus...
Dan "real time" ...
We need it more..

Chatarou

70

smart kid..

nice story.., Rien bacanya sambil senyum-senyum

keep writing

Mohon saran & kritiknya
Nilai kgk masalah .. kalo mank krg bagus kasih aja 0