Zheik, The One With Power - 2nd Scroll Chapter 1

Zahaifé, Hari ke-11, bulan Siwali, Tahun 514
Selamat Datang di Karnaval Akademi Sihir, Azura menatap dingin tulisan berwarna meriah yang terpampang di kain yang diletakkan di jalan-jalan utama kota Zahaifé. Menghembus nafas dengan kencang, Azura menggerutu, kesal menghampiri hatinya.

Pagi bahkan belum lama, namun keadaan di Zahaifé lebih ramai dari biasanya, di beberapa jalan dekat dengan Akademi Sihir, puluhan penduduk sedang mendirikan beberapa tenda. Meski kabut tipis masih menyelimuti seluruh kota, Azura bisa melihat dengan samar beberapa tenda berwarna yang cerah telah berdiri sempurna. Tenda-tenda kecil yang menjual makanan, minuman, mainan dan lainnya tidak ketinggalan memenuhi tempat itu.

Keramaian karnaval yang akan dimulai beberapa putaran pasir lagi itu berbanding terbalik dengan perasaan Azura. Bukan karena dia tidak menyukai karnaval, terkadang dia menikmati beberapa permainan yang ada pada saat karnaval, karena dalam permainan tidak boleh menggunakan sihir, Azura merasa yakin dengan kemampuan tubuhnya, namun karena karnaval ini untuk merayakan kelulusan para pelajar Akademi Sihir, dan banyak pelajar Akademi lebih muda dari dia yang lulus hari ini, sedangkan dia harus menunggu dan menunggu.

Azura terkadang jenuh, sudah menjalani tahun kelima di Akademi Sihir. Hari ini dia sedikit senang tidak perlu mengikuti pelajaran. Nartes Eva yang mengajar pagi ini sedang ada kesibukan untuk mempersiapkan perayaan kelulusan bagi beberapa pelajar Akademi Sihir. Beruntung dia sudah tidak mengambil pelajaran lagi sehingga hari ini dia bisa bebas melakukan apapun yang dia mau.

”Seharusnya aku tidak usah membuat sihir baru untuk ujian kelulusanku. Kenapa aku tidak menyempurnakan sihir-sihir yang sudah ada saja.” gerutu Azura sambil menjauh dari jalan utama. Pusing dengan pikiran-pikiran yang membuat depresi, Azura berniat menuju ke perpustakaan menyembunyikan diri dari keramaian.

Azura memasuki Akademi Sihir dari gerbang utama sebelah selatan, melewati pagar pembatas yang dihiasi dengan tanaman-tanaman dan bunga-bunga untuk mempercantik, dia ingat salah satu temannya pernah ikut merawat bunga-bunga di pagar saat tahun pertama mereka di Akademi Sihir, padahal dia seorang laki-laki. Cih, Azura mengumpat kecil, bukan karena masalah laki-laki yang merawat bunga, namun karena temannya itupun sudah lulus satu tahun yang lalu. Azura berjalan menuju ke sebuah gedung terbesar di Zahaifé, gedung utama Akademi Sihir dengan langkah sedikit gontai, tadi malam dia sengaja tidak tidur demi acara hari ini. Bukan karena dia ingin mengikuti karnaval, melainkan agar pada saat karnaval diadakan dia bisa tidur tanpa harus menatap kekecewaan yang sama sejak dua tahun ini.

Azura menatap gedung utama Akademi Sihir yang tepat berada di depannya dengan tatapan menyedihkan, gedung besar berwarna putih dengan atap kubah berwarna biru langit. Azura menyukai kubah gedung utama karena bisa dibuka atau ditutup jika diperlukan, biasanya digunakan apabila keadaan suhu atau tekanan ruangan di dalam gedung tidak dalam kondisi normal.

Azura memperlambat langkah kaki, hiruk pikuk dari dalam Akademi Sihir semakin terdengar. Dia mengurungkan niat untuk memasuki pintu utama selatan gedung utama, meskipun lebih cepat untuk menuju perpustakaan tapi dia tidak ingin bertemu dengan keramaian pelajar-pelajar yang lulus. Suasana hatinya tentu akan bertambah murung lagi. Berbelok ke kanan, Azura mempercepat langkah kaki menuju asrama yang berada di samping kiri. Dari asrama dia bisa melewati koridor penghubung antara asrama dengan gedung utama, lebih jauh tapi dia yakin pasti lebih sepi karena yang lain sedang berkumpul di aula gedung utama, bertemu dengan para lulusan.

Azura memasang menutup kepala dengan kerudung jubah hitamnya saat berpapasan dengan beberapa déxa--pengajar-, dia malu jika bertemu dengan déxa yang mengenal dirinya. Banyak déxa yang menganggap dia adalah murid yang cerdas, sehingga menduga kalau Azura akan lulus cepat. Tapi kenyataannya, dia sudah terlambat tiga kali masa kelulusan. Dan sekarang adalah yang ke empat, tepat dua tahun. Beruntung kabut pagi juga menyamarkan wajahnya, sehingga dia tidak perlu terus menunduk.

Azura mendongak, menatap tulisan bahasa bangsa Angin yang terukir di bagian depan gedung asrama.

”Estio Dimmo Unir.” seorang pelajar laki-laki yang sebaya dengan Azura berteriak, ”Adakah seseorang di sini yang mengetahuinya?” lanjut pelajar pemandu, bertanya pada rombongan pelajar yang masih sangat muda. Pasti pelajar baru yang sedang diperkenalkan dengan Akademi Sihir dan segala isinya pikir Azura.

Seorang pelajar mengangkat tangannya,

”Rumah Keluarga Estio” teriaknya.

”Bagus..bagus sekali.” sang pelajar pemandu memberi tepuk tangan kecil.

”Apa ada yang tahu dari mana bahasa itu?” tanya si pelajar pemandu lagi.

Tapi kali ini tidak ada yang bisa menjawab.

”Akademi Sihir menggunakan bahasa milik bangsa Angin untuk mantera-mantera sihir. Bangsa Angin yang mempunyai ilmu sihir putih terkuat di Hyrnanderh, jika sihir boleh dikategorikan menjadi hitam dan putih. Bangsa Angin sudah mempelajari ilmu sihir sejak ras yang lain baru belajar membuat aksara. Pemikiran, kemampuan dan teknologi mereka jauh lebih maju daripada ras yang lain. Bahkan dewa pertama yang di angkat dari makhluk tidak abadi seseorang dari bangsa Angin.” pelajar itu berjalan di depan mengajak para pelajar baru memasuki gedung asrama Estio. Azura terpaksa memperlambat langkah kakinya, dengan sebal menunggu di belakang.
”Bangsa Angin pulalah yang mewariskan kota ini pada Kerajaan Avalon. Zahaifé--tanah angkasa, sebuah pulau kecil yang melayang di angkasa, berada pada ketinggian 40 let--(Satuan panjang di Hyrnanderh; 1 let = 5 ring = 500 kaki) dari permukaan tanah.

Azura tesenyum mengejek, entah benar 40 let atau tidak, siapakah yang terlalu bodoh mau mengukur ketinggian kota ini.

Azura jadi ikut berpikir, sesuatu yang aneh bagi Azura adalah setelah perang Afras berakhir, bangsa Angin mengucilkan diri di tempat yang susah dijangkau oleh bangsa lain. Menurut cerita mereka pindah ke daerah dimana daratan bukan terbuat dari tanah melainkan dari es. Daerah Tila, The Frozen Land, begitu beberapa penduduk Hyrnanderh menyebutnya. Daerah dengan langit pelangi jingga yang tidak bisa dicapai oleh makhluk lain. Cerita lain juga menyebutkan kalau mereka benar-benar menghilang, meninggalkan dunia ini. Tidak ada yang tahu dengan pasti kenapa mereka meninggalkan dari Hyrnanderh.

Rombongan pelajar baru akhirnya bergerak menuju arah berlawanan. Azura melanjutkan langkah memasuki bangunan yang bukan asrama tempat dia tinggal, dia tidak peduli. Lagipula tidak ada larangan untuk berkunjung ke asrama lain. Selama pada jam-jam yang diperbolehkan dan tidak mengganggu penghuni asrama.

Tergesa-gesa Azura menuju ke lantai angkat, satu bagian dari lantai yang tidak menempel dengan lantai yang lain, tangga sihir untuk menuju ke lantai atas atau ke lantai bawah. Azura menginjakkan kaki di atas lantai angkat dan mengucapkan mantera.

”Asita. Rie.” Dan sesaat lantai angkat bergerak ke atas menuju lantai dua, dari sini Azura menuju koridor penghubung antara asrama dengan Akademi Sihir. Angin menghembus penutup kepala, membuat Azura susah untuk melihat, dia melepaskan penutup kepala, sesekali menatap keluar melalui jendela-jendela tanpa penutup. Angin menerpa rambut hitam Azura, poni rambut yang menutup mata kirinya tersibak. Azura membenarkan rambutnya, dia memang menyukai gaya rambut yang dia miliki sekarang, dengan poni rambut menutup salah satu mata. Sengaja, dia memang ingin mengurangi tatapan kedua matanya yang menurut orang-orang sangat tajam, sekarang paling tidak hanya satu mata yang bisa menatap sementara yang satu lagi ’mengintip’ dari celah-celah rambut. Azura melepaskan tali yang mengikat rambut panjang bagian belakangnya, merapikannya lalu mengikatnya kembali. Dengan perasaan murung dia melanjutkan perjalanan.

++++

Nartes—sebutan bagi guru besar- Eva mengamati beberapa perkamen tua yang bertumpuk di atas meja, sejak dari pagi dia berkutat di dalam ruang kerjanya dengan puluhan perkamen-perkamen yang seakan tidak habis dibaca dalam hitungan hari. Menghembuskan nafas dengan berat, Nartes Eva memejamkan kedua matanya yang lelah. Perlahan dia menyandarkan punggung dan bagian belakang kepala ke kursi yang terbuat dari kayu jati dengan alas duduk kapuk yang diselimuti dengan kain wol merah.

Nartes Eva melepaskan kacamata, benda ringan itu sekarang terasa sangat berat. Entah karena penat yang dia rasakan, atau karena permasalahan yang dia pikir tidak akan pernah bisa dia selesaikan dalam waktu dekat. Padahal dia sangat membutuhkan penyelesaian ini nanti siang. Tapi semakin dia memfokuskan diri semakin dia merasa jauh dari jawaban yang dia inginkan. Tangannya yang memegang kacamata dia biarkan terjuntai, namun tetap memegang kacamata agar tidak terjatuh.

Hampir setengah putaran pasir Nartes Eva memejamkan mata. Pikirannya berkecamuk dengan hebat, waktu yang terus berjalan seakan mengejar dirinya dimanapun dia berada, tanpa henti, bagaikan sang waktu adalah seorang pemburu yang mengejar hewan buruannya.

Nartes Eva membuka mata, berkali-kali dia mengejapkan mata untuk menghilangkan sedikit buram dan kunang-kunang pada penglihatannya.

”Akos Awi!” Nartes Eva mengucapkan mantra sambil menunjuk mangkuk kecil keramik yang berisi air. Segumpal air terangkat dari mangkuk, melayang dan mendekat ke arah Nartes Eva.

Nartes Eva menggerakkan tangan mengarahkan air menuju wajahnya.

”Massiya!”

Air bergerak perlahan dan menempel ke wajah Nartes Eva, seperti sapuan tangan air berputar-putar membersihkan tiap jengkal wajah tua itu.

”Appa!” kata Nartes Eva saat merasa sudah cukup untuk membersihkan dan menyegarkan wajah. Air itu kembali ke tempatnya.

Nartes Eva meregangkan tangan ke atas kepala dan menatap ke sekeliling ruang kerjanya. Sebuah ruangan yang bagus, dengan sebuah perapian yang terbuat dari batu pualam. Sementara di samping kirinya jendela-jendela berbingkai besar tertutup dengan rapat untuk menahan dinginnya serangan angin.

Nartes Eva memasang kacamatanya dan berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya yang berada di sisi timur. Nartes Eva menatap ke kabut tipis yang memaksa untuk mendorong kaca jendela. Nartes Eva membuka jendela dengan perlahan, rasa dingin menjalar saat angin berhembus menerpa Nartes Eva, pun saat dia memegang dinding batu dekat di dekat jendela rasa dingin itu bertambah.

Nartes Eva menatap dinding ruang tempat dia berada, perlahan dia menurunkan pandangan menatap gedung besar ini, Gedung Utama Akademi Sihir yang tepat berada di tengah-tengah kota Zahaifé. Nartes Eva mengagumi pembuat bangunan ini, meski sudah berumur lebih dari seribu tahun bangunan ini masih berdiri dengan kokoh. Nartes Eva melayangkan pandangannya ke luar Akademi Sihir, memandangi kota kecil yang membuat pelajar Akademi Sihir tidak merasa bosan, ada rumah, toko, penginapan dan lain layaknya sebuah kota kecil biasa. Kali ini bahkan keadaan lebih ramai dari biasanya, perayaan kelulusan pelajar Akademi Sihir akan segera dimulai.

Nartes Eve membalikkan wajah, menatap tumpukan perkamen di atas meja kerjanya.

”Replane Puna Awi!”

Semua tumpukan perkamen yang ada di atas meja perlahan melayang mendekat ke arah Nartes Eva. Nartes Eva mengamati satu persatu perkamen yang jumlahnya hampir mencapai seratus. Saat tidak menemukan perkamen yang dia inginkan, dia kembali mengucapkan mantra untuk mengembalikan perkamen-perkamen itu ke rak-rak tempat perkamen di ruang kerjanya.

Nartes Eva tertarik pada satu perkamen, meskipun bukan perkamen yang dia cari, dia tetap ingin membaca kembali perkamen itu. Perkamen yang berisi tentang sejarah Akademi Sihir, kota Zahaifé ini, dan kerajaan Avalon yang menguasai daerah ini.

Sebuah peta kecil terpampar begitu perkamen dibuka. Nartes Eva menatap gambar pulau Sheratan, perlahan gambar itu terapung ke atas, timbul seakan-akan menjadi miniatur dari bentuk nyata pulau Sheratan.

Nartes Eva mengamati peta wilayah kekuasan kerajaan Avalon, salah satu kerajaan yang berada di pulau Sheratan. Selain kerajaan Avalon, di bagian timur terdapat sebuah kerajaan lain, kerajaan Helas. Meskipun berada dalam satu pulau, tidak hanya Nartes Eva, tapi semua penduduk Hyrnanderh sudah mengetahui kalau kedua kerajaan ini saling bertentangan. Beruntung kedua kerajaan ini dipisahkan oleh pegunungan yang sangat tinggi dan terjal sehingga peperangan tidak terjadi.

Nartes Eva mengalihkan padangan ke gambar pegunungan, Pegunungan Regumunian adalah pegunungan tertinggi di seluruh Hyrnanderh membentang dari ujung selatan sampai ujung utara pulau Sheratan hingga memisahkan jalur darat antara kerajaan Avalon dan Helas.

”Wall of the world...” Nartes Eva menggumamkan julukan pegunungan itu. Beberapa menjuluki pegunungan Regumunian sebagai wall of the world karena pegunungan ini seakan menjadi dinding pemisah antara bagian barat dengan bagian timur.

Nartes Eva sering mendengar cerita dibalik pegunungan Regumunian, cerita tentang hutan belantara yang tidak pernah dijamah inland ataupun iexian, menjadikan pegunungan Regumunian ini bagaikan misteri bagi penduduk Hyrnanderh. Selain karena memang pegunungan yang sangat sulit untuk dilalui dengan berjalan kaki menjadikan pegunungan Regumunian tidak tersentuh oleh tangan inland atau iexian atau lebih tepat tidak ada yang mau menyentuh pegunungan ini.

Nartes Eva ingat betul saat dia masih muda dulu, beberapa petualang mencoba menjelajahi pegunungan itu, namun tidak ada satupun dari mereka yang kembali untuk menceritakan petualangan mereka saat berada di pegunungan, tidak ada satupun yang kembali. Sejak kejadian itu, pegunungan Regumunian-pun menjadi sebuah tempat yang dikeramatkan, terlarang meskipun tidak ada yang melarang untuk memasuki pegunungan itu. Seakan-akan cerita tentang keseraman pegunungan Regumunian mendarah daging.
Banyak yang mengatakan di dalam Pegunungan Regumunian hidup berbagai makhluk yang belum pernah dijumpai atau dilihat oleh inland ataupun iexian. Cerita-cerita pun menjadi bertambah, ada yang mengatakan adanya setan penunggu gunung, wild beast yang senang memangsa makhluk hidup atau cerita menakutkan lainnya yang tidak ada seorangpun yang tahu tentang kebenaran cerita-cerita itu bahkan Nartes Eva sekalipun. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, tidak bisa memikirkan dengan pasti apa yang sebenarnya berada dibalik pegunungan itu.

Nartes mengalihkan pandangan sedikit ke kiri dari letak pegunungan Regumunian. Sebuah bangunan tanpa atap dan dinding, hanya lantai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari batu berwarna biru pucat dan empat pasang tiang di tiap sudut yang juga terbuat dari batu yang sama dengan bagian puncak sedikit melengkung ke dalam. Bangunan ini berada tepat di bawah dan di tengah-tengah pulau. Di bagian tengah lantai, cahaya keemasan seperti sebuah pilar yang berdiri tegak menuju Zahaifé yang berada di langit. Itu adalah pintu masuk menuju pulau Zahaifé, pulau yang melayang di angkasa. Pilar itu adalah sebuah teleporter raksasa.

Nartes Eva tidak tahu dengan pasti siapa yang memberi nama teleporter itu sebagai pilar pelangi, yang jelas jauh sebelum dia memasuki Akademi Sihir penduduk Avalon sudah menyebut bangunan itu sebagai pilar pelangi. Karena pilar keemasan itu terlihat seperti pilar berwarna pelangi yang menyangga Zahaifé. Pilar itu memang terlihat seperti sebuah pelangi karena perubahan warna cahayanya, selalu bercahaya setiap saat, tidak pernah berhenti.

Nartes Eva menyentuh gambar muncul pilar pelangi, gambar muncul itu menjadi buram seperti riak yang muncul dari air. Nartes Eva menyentuh gambar yang tepat berada di samping pilar pelangi, gambar sebuah kota kecil yang bertugas sebagai penjaga pilar pelangi, hal yang serupa dengan gambar muncul pilar pelangi terjadi. Kota yang diberi nama Patronomia, kota pelindung pilar pelangi. Meski pilar pelangi mempunyai pertahanan sendiri, namun bangunan pilar pelangi tidak mempunyai pertahanan. Bangunan ini hanya bangunan biasa yang diberi mantera sihir untuk membangkitkan pilar pelangi. Karena itulah kota Patronomia ditugaskan untuk menjaga pilar pelangi.

Nartes Eva mengambil perkamen lain yang menujukkan denah gedung Akademi Sihir. Tidak jauh berbeda dengan peta kerajaan Avalon, perkamen kali ini pun memunculkan bayangan kecil bangunan-bangunan yang ada di Akademi Sihir, bahkan bisa menunjukkan denah dari waktu ke waktu. Lama Nartes Eva tenggelam dalam peta itu.

”Aku sudah terlalu tua untuk ini. Aku tidak bisa melakukannya. Harus ada yang menggantikan tubuh uzur ini.” gumam Nartes Eva.

Nartes Eva menggulung perkamen dengan perlahan. Menghembus nafas dia kembali menatap jendela. Tanpa sengaja matanya tertuju pada seorang pemuda yang sudah dia kenal cukup baik, seorang pelajar Akademi Sihir yang sekarang berada dalam bimbingannya. Nartes Eva tersenyum, menemukan sesuatu yang dari tadi sempat membuat dia pusing tujuh keliling.

”Dewa memang memberkatiku. Azura anakku, semoga kamu pilihanku yang tepat.” Nartes Eva menggumam.

++++

Cukup jauh Azura berjalan, memutar mencari jalan yang sepi hingga akhirnya tiba di depan perpustakaan. Selain itu karena Gedung Utama Akademi Sihir mempunyai ruang pertemuan yang merupakan ruang terbesar. Setelah itu ada ruang belajar yang berjumlah puluhan dan tidak ketinggalan pula ruang kerja untuk para pengajar. Azura tidak peduli dengan berapa besar gedung itu asal dia tidak bertemu dengan orang banyak.

Azura mendorong salah satu pintu perpustakaan yang besar, meskipun besar pintu itu sangat ringan. Puluhan rak buku besar dan tinggi berjajar di semua penjuru perpustakaan, seorang pelajar perempuan sedang sibuk mencari- cari buku di bagian paling atas salah satu rak buku, agak sempoyongan dia berdiri di cawan terbang. Azura mengenalnya, gadis itu pernah menyatakan suka pada dirinya. Namun Azura menolaknya.

Menghela nafas, Azura menaiki salah satu cawan terbang yang ada di dekatnya, meskipun fungsi utamanya sebagai alat pengganti tangga, Azura memaksa menggunakannya sebagai sebuah alat untuk berjalan. Sudah sering dia ditegur oleh penjaga perpustakaan karena perbuatannya itu, tapi Azura tidak mempedulikannya. Setelah menaiki cawan terbang, Azura langsung menuju bagian yang sering dia datangi, buku-buku sihir elemen air, terutama tentang es, sihir yang sekarang sedang dia kembangkan. Setelah mengambil beberapa buku yang ada hubungan dengan yang dia inginkan, Azura meminjam buku-buku itu dan membawanya menuju asrama Vasanta, kali ini asramanya sendiri.

++++

Aruna meletakkan kembali buku-buku yang dia baca, sedikit kikuk dia menaiki cawan terbang. Dia sangat takut dengan benda satu ini, keseimbangannya dia yakini paling payah dibandingkan dengan gadis lain seusianya. Saat cawan terbang bergerak naik, Aruna merasa kakinya gemetaran, sambil memegang amulet pelindung yang diberikan oleh nenek buyutnya, Aruna menghela nafas menahan agar kakinya berhenti gemetaran seperti yang sering dia lakukan tiap kali menaiki cawan terbang.

Aruna mengelap keningnya yang mengeluarkan keringat dingin. Bukan karena dia sudah tidak perlu menaiki cawan terbang lagi, namun karena seorang pemuda yang melintas beberapa waktu lalu. Pemuda yang dia sukai, dan pernah dia menyatakan cinta pada pemuda itu. Tapi dirinya kurang beruntung, pemuda itu tidak bisa membalas cintanya. Aruna ditolak karena pemuda itu tidak bisa melupakan mantan kekasihnya.

Aruna merapikan pakaiannya, dia tidak menyesal telah mengungkapkan isi hatinya meskipun akhirnya bertepuk sebelah tangan. Tapi semenjak saat itu, Aruna menjadi serba salah sendiri jika berpapasan dengan pemuda itu, seperti sekarang Aruna malah dengan sembunyi-sembunyi keluar dari perpustakaan menghindar dari ketidaksengajaan bertemu dengan pemuda itu.

Begitu keluar dari perpustakaan, Aruna menjadi bingung, dia tidak mempunyai rencana apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tadi dia berencana untuk menghabiskan waktu sampai sore diperpustakaan, sekarang tengah haripun belum menyapa dan dia sudah tidak diperpustakaan lagi. Aruna mengacak-acak rambutnya kebingungan.

Meski langkah kakinya terasa lemas, Aruna memaksakan untuk berjalan. Memutari gedung utama Akademi tanpa tujuan yang jelas. Berjalan, dan terus berjalan untuk menghilangkan perasaan yang berkecamuk dalam hati. Aruna tidak sedikitpun memperhatikan apa yang dia lewati, siapa yang berpapasan dengannya.

Aruna menghentikan langkah, berhenti di dekat salah satu taman di dalam gedung utama. Dia menoleh, menatap dengan sendu kolam air mancur di taman. Perlahan dia mendekat, dia tidak mengerti mengapa dia mendekat, tubuhnya bergerak sendiri. Aruna menatap air yang mengalir dari atas, air yang mengalir tiada henti membentuk sebuah kubah dinding air.

Aruna bisa melihat bayangan dirinya pada dinding air yang mengalir tenang. Dalam, dia menatap bayangan dirinya. Aruna membelai rambutnya perlahan, rambutnya yang hitam terasa lembut di tangan. Dia merasakan kedua bola matanya menjadi sedikit berkaca, setitik air mata menggumpal hendak menerobos keluar. Aruna tidak tahan lagi, dia menumpahkan kesedihannya dalam tangisan tanpa suara itu. Beruntung pantulan dirinya di dinding air tidak menampakkan dengan jelas wajahnya. Dia yakin kalau sekarang wajahnya terlihat sangat jelek, dan dia tidak ingin siapapun melihatnya.

Azura membuka pintu kamarnya dengan sedikit memaksa, dia tergesa-gesa ingin menghilang dari pandangan orang. Bunyi mendesak terdengar bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka. Azura menatap kamar kecilnya yang sedikit berantakan, beberapa buku dan pakaian yang belum di cuci berserakan di lantai. Azura mengembus nafas, dia melepaskan jubah dan melemparkannya ke sembarang tempat. Berbaur dengan serakan yang lain.

Azura duduk di meja belajar yang berada di dekat jendela. Dia membuka jendela yang tepat menghadap ke jalan utama kota Zahaifé. Dari jendela kamar dia bisa melihat beberapa jalan di kota yang mulai dipenuhi penduduk yang bersenang-senang. Tenda-tenda yang tadi hanya beberapa kini semakin banyak. Hari ini adalah hari pertama karnaval dimulai. Pagi ini karnaval sudah dimulai dan tidak perlu waktu lama hingga tempat itu dipenuhi dengan penduduk yang jarang mendapat hiburan. Azura mulai membuka buku-buku yang dia pinjam dan mulai larut dalam tulisan-tulisan. Semoga rasa mengantuk semakin cepat datang harap Azura.

++++

Azura terkaget begitu mendengar lonceng berbunyi, lonceng yang berasal dari menara dengan benda lingkaran besar yang berada depan masing-masing gedung asrama. Azura mengangkat wajahnya dari buku-buku yang tak sengaja menjadi bantal, Azura tidak menyadari sudah berapa lama dia tertidur. Azura menatap ke luar jendela, menatap benda yang tadi mengagetkannya, penunjuk waktu di kota ini, berbeda dengan penunjuk waktu matahari yang biasa digunakan oleh penduduk Hyrnanderh, penunjuk waktu berbentuk sebuah cincin yang mengelilingi lingkaran yang sedikit lebih kecil. Pada badan cincin terdapat 10 lingkaran kecil untuk menunjukkan waktu, sehingga bisa dikenali tanpa harus menunggu putaran pasir. Bangsa Angin yang mendirikan kota ini menggunakan arah matahari sebagai patokan.

Azura mengagumi bangsa Angin yang menemukan teknologi ini, mereka membagi satu hari siang menjadi 10 bagian waktu dan malam juga menjadi 10 bagian waktu. Satu bagian waktu, disebut jam, di Akademi Sihir setara dengan dua putaran pasir. Bagian lingkaran ini akan menampilkan gambar matahari untuk rentang waktu dari awal waktu Pagi sampai akhir waktu Sore. Sedangkan untuk rentang waktu awal Malam sampai akhir Fajar, lingkaran akan menampilkan gambar bulan sabit. Lingkaran-lingkaran kecil akan mengeluarkan cahaya untuk menunjukkan waktu pada saat itu. Azura sempat kesusahan untuk beradaptasi dengan sistem perhitungan waktu di Akademi Sihir, namun setelah terbiasa, Azura merasa lebih nyaman dengan perhitungan waktu seperti ini.

Namun yang tidak bisa dimengerti Azura adalah masing-masing menara penunjuk waktu hanya mempunyai satu lingkaran penunjuk waktu, tidak empat sesuai dengan empat sisi menara yang berbentuk balok. Meskipun begitu, semua orang bisa melihat jam dari sisi manapun, seakan-akan lingkaran penunjuk waktu tersebut ada di masing-masing sisi menara. Bahkan para déxa tidak ada yang bisa meniru sihir ini hingga sekarang. Azura menggeleng, sampai sekarangpun dia masih terkagum dengan menara penunjuk waktu tersebut.

Tapi satu hal yang mengganggu Azura adalah lonceng yang sangat besar yang berada di bagian bawah lingkaran penunjuk waktu. Lonceng itu digunakan sebagai alat ’pemberitahuan’. Variasi bunyi lonceng menjadi semacam kode bagi penduduk Zahaifé. Seperti jika akan ada pertemuan maka lonceng dibunyikan pendek sebanyak lima kali. Atau akan dibunyikan dengan cepat jika sedang ada ancaman atau bahaya. Yang mengganggu bagi Azura adalah, tiap menunjukkan waktu awal pagi, tengah hari, dan waktu awal malam lonceng itu akan berbunyi, dan itu berarti ke empat lonceng yang berada di empat menara berbunyi bersamaan. Azura sangat membenci jika itu terjadi, kadang ingin rasanya dia melepaskan semua lonceng-lonceng itu. Beruntung pada saat tengah malam lonceng tidak berbunyi.

Azura menutup buku, tidak terasa sudah tengah hari, dia merasakan wajahnya berbekas-bekas karena berbantalkan buku-buku. Azura membereskan buku-buku di meja, tidak sengaja dia menatap sebuah kalung yang bermatakan sebuah cincin yang tergeletak di meja. Azura mengambil kalung itu, mengenang, melamun cerita di balik cincin tersebut.

”Maafkan aku” sebuah suara perempuan terdengar di pikiran Azura. Suara yang sangat dia kenal, suara seseorang yang dulu pernah dia sayangi. Bukan, bukan pernah. Tapi sampai sekarang dia tetap menyayangi pemilik suara itu.

Di dalam lamunan Azura, sesosok gadis yang berumur sebaya muncul menyeruak dari balik meja. Meskipun sudah beberapa tahun tidak pernah berjumpa, Azura masih bisa membayangkan dengan jelas gadis itu. Mulai dari rambut, pakaian, sampai gerakan-gerakan kecil tubuh sang gadis masih terekam dengan jelas di otaknya.

”Tidak. Kamu tidak seharusnya minta maaf. Akulah yang seharusnya meminta maaf kepadamu.” Azura menggumam dengan lirih semakin hanyut dalam lamunan. Kenangan-kenangan indah dan sedih bergantian terlintas dengan cepat di dalam kepala Azura . Tangan kanannya menggenggam erat cincin yang penuh dengan kenangan.

Sebenarnya dia sudah lama berusaha menutup kenangan itu, namun entah kenapa cincin yang seharusnya sudah hilang itu muncul kembali. Saat dia membereskan beberapa pakaian yang sudah tidak bisa dia pakai lagi, cincin itu terjatuh bergulir ke lantai dari salah satu pakaian yang lama terkurung di lemari pakaian Azura. Kini cincin itu dia jadikan sebagai mata kalung dan terkadang dia pakai saat sedang terkenang dengan kekasihnya yang telah berpisah.

Sementara Azura larut dalam kenangan yang sedih, di luar sana permainan anak-anak, remaja dan tidak ketinggalan untuk orang yang agak tua dalam bentuk wahana sudah ramai peminatnya dari tadi. Tenda-tenda penjual makanan dan minuman juga tidak kalah ramai. Padahal acara baru dimulai empat putaran pasir sejak pesta karnaval ini dimulai. Warna-warna yang cerah dan ceria bisa ditemukan dimana-mana, bahkan pagar pembatas Akademi Sihir sengaja dihiasi dengan bunga-bunga yang berwarna ceria.
###

Next

Read previous post:  
18
points
(1912 words) posted by makkie 8 years 48 weeks ago
60
Tags: Cerita | fanfic
Read next post:  
90

wow, panjang. bab ini nyeritain tentang azura ya :)
membaca tentang akademi sihir, pikiran saya langsung nyambung ke harpot :D *ditabok*
narasimu tetap enak, makkie. cuma ada sedikit yg mengganggu. ada banyak pengulangan nama dalam 1 paragraf.
contoh:

Quote:
Nartes Eva memasang kacamatanya dan berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya yang berada di sisi timur. Nartes Eva menatap ke kabut tipis yang memaksa untuk mendorong kaca jendela. Nartes Eva membuka jendela dengan perlahan, rasa dingin menjalar saat angin berhembus menerpa Nartes Eva, pun saat dia memegang dinding batu dekat di dekat jendela rasa dingin itu bertambah.

ada banyak Nartes Eva di situ. menurut saya lebih baik Nartes Eva #2 diganti 'Ia/Dia' sedangkan Nartes Eva #4 diganti '-nya'. pembaca tetep ngerti kok kalau yg dimaksud itu Nartes Eva.
dicek juga ya di paragraf2 lainnya.
.
terus kalimat yg ini kayaknya dobel2, makkie.
Nartes Eva ingat betul saat dia masih muda dulu, beberapa petualang mencoba menjelajahi pegunungan itu, namun tidak ada satupun dari mereka yang kembali untuk menceritakan petualangan mereka saat berada di pegunungan, tidak ada satupun yang kembali.
.
itu dulu deh komennya. oh ya, dari semua tokoh yg udah dikeluarin, kayaknya saya paling ngefans ama azura. request profilnya doi donk di Sensus Karakter Kerajaan Phantasm ^^ *ngarep*

iya...yang ini belum pernah aku revisi...susah mw nyari mood biar sesuai dengan Azura.. :p
*menghindar biar ga dilempar sendal*

kalo sempat nanti ta revisi...XD *sambil ngintip dari balik dinding,siapa tahu masih dilempar sendal*

ooo..yg sensus karakter itu y..siap Ka..!!!

asyiiiik, ditunggu profilnya :D
*balikin sendal*

uda tu..moga2 sesuai dengan imajinasi kamu... :D

90

baru bisa ol sekarang... soriii baru baca lagii

panjang amat yak???? sumpehh.. gila.. gaya penceritaanmu keren yak... berharap bisa menulis sepertimu suatu hari nanti..

yang agak gak sreg itu soal istilah putaran pasir dkk... sumpah sampe sekarang kudu bolak-balik buka catetan yang pernah kukopi dulu buat istilah2nya... belum bisa langsung apal :D... hih lanjut dulu dah...

ga cuman kamu..aku aja kadang bingun sendiri ma istilah2ku..:D
abiz kebanyakan diganti jadi lupa sendiri..

Lanjutan kumpul kemudianers Jogjakarta:
http://id.kemudian.com/node/228654

tokoh utama di - Scroll ke2 bukan Reid lagi, tp Azura, umurnya kira2 sedikit lebih tua dari Reid..
nanti ada hubungannya dengan bab2 berikutnya..
the strories always connected..(hmm bener ga tulisannya :D)