Zheik, The One With Power - 2nd Scroll Chapter 2

Anak-anak dan remaja beramai-ramai mendatangi wahana-wahana. Di jalan utama yang mengelilingi Akademi sihir, parade sudah dimulai. Beberapa penari menarikan tarian-tarian dari beberapa daerah yang ada di Hyrnandher. Kereta-kereta yang penuh dengan hiasan juga tidak mau ketinggalan mengiringi semarak para penari.

Tapi keceriaan itu menjadi terganggu, kota ini bergoncang hebat di iringi dengan suara gemuruh. Penduduk Zahaifé yang tidak pernah merasakan kejadian seperti ini sebelumnya menjadi tercengang, berarak dalam kebingungan. Getaran yang hebat membuat beberapa wahana hampir roboh sementara tenda-tenda kecil yang hanya didirikan seadanya berjatuhan, beruntung tidak menimpa siapa-siapa.

Penduduk yang berada di dalam gedung berlarian keluar, tidak ketinggalan Azura yang sedang melamun menjadi tersentak dan menatap dari balik jendela. Terkesima dan kaget bercampur menjadi satu saat dia melihat fenomena alam ini. Matahari yang bersinar cerah tiba-tiba tertutup awan hitam besar yang berputar bagaikan sebuah badai. Petir dan kilat tidak ketinggalan menghiasi awan hitam tersebut. Beberapa peralatan di meja berjatuhan, Azura membiarkannya. Dia mengambil jubah hitam keunguan kesukaannya dan bergegas untuk menuju keluar.

Getaran hebat kembali terasa, gempakah pikir Nartes Eva yang sedang duduk di meja kerja. Tapi bagaimana mungkin pulau yang ’berdiri sendiri’ ini terkena gempa, ini adalah Zahaifé, pulau yang tidak menyentuh tanah, kota yang melayang di angkasa, Nartes Eva meyakinkan diri sendiri. Pikiran Nartes Eva sama dengan apa yang dipikirkan para penduduk Zahaifé, bagaimana mungkin bisa terjadi gempa. Tetapi para penduduk yang panik menjadi semakin bingung bertambah saat langit yang tadinya terang dengan cepat menjadi gelap.

Sang Mata Tertinggi elemen Api, Naster Eva keluar dari kantor dan menuju salah satu beranda untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar. Nartes Eva menatap ke langit, mengamati tabir pelindung tak kasat mata yang menyelubungi kota Zahaifé. Di antara gelapnya awan hitam, Nartes Eva melihat cahaya-cahaya berwarna merah memercik bersamaan dengan gempa yang terjadi. Dia yakin kedua hal ini berhubungan, merasakan gelagat yang aneh Nartes Eva memerintahkan kepada penduduk untuk bersiaga. Dengan membaca mantera, Nartes Eva membunyikan empat lonceng yang berada di menara jam dengan cepat.

Belum hilang kekagetan penduduk Zahaifé karena suara lonceng peringatan dari menara penunjuk waktu, sebuah ledakan keras menghantam tabir pelindung. Suara menggelegar melebihi suara guntur. Beruntung tabir itu masih utuh. Tapi tidak lama kemudian benturan itu kembali terjadi, kekuatan yang semakin besar. Bahkan kali ini semua penduduk Zahaifé bisa merasakan getarannya terasa sampai ke kulit.

Semua bangunan yang terbuat dari batu bergemeretak, bergetar menjatuhkan debu dan pasir. Beberapa bahkan mulai retak dan menjatuhkan pecahan-pecahan kecil bebatuan dari bangunan. Azura mengurungkan niatnya keluar dari pintu, dia melompat ke atas meja belajarnya dan mengamati dari balik jendela adar bisa melihat dengan jelas.

Benturan berikutnya kembali terjadi, semuanya terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dan dibenturan kelima sesuatu yang sangat tidak diduga terjadi. Tabir pelindung yang selama ini dianggap sebagai pertahanan Zahaifé yang paling kokoh, terpotong bagaikan buah kelapa yang dipotong dengan pedang. Tabir yang menyelimuti Zahaifé seperti topi perang, berlubang di salah satu bagian. Seakan-akan dipotong dengan benda tajam. Tapi benda tajam sebesar apa yang bisa memotong tabir yang terkuat di Hyrnandher. Benda atau sihir? Apakah masih ada sihir yang melebihi sihir warisan bangsa Angin? pikir Azura.

Awan hitam perlahan bergelayut turun menuju permukaan tanah Zahaifé hingga setinggi orang dewasa, penduduk Zahaifé yang masih berada di jalan-jalan hanya saling berpandangan, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dengan cepat awan itu hampir menyelimuti seluruh dari permukaan Zahaifé hingga melebihi tinggi kubah gedung utama Akademi sihir. Pandangan semua penduduk Zahaifé menjadi terbatas. Azura yang berada di lantai tujuh asrama mengalami hal yang sama.

Beberapa yang menguasai sihir tinggi merapal mantera sihir untuk menghilangkan awan hitam, beberapa bola-bola sihir cahaya di lepaskan untuk membuat terang. Namun pekatnya awan membuat bola-bola sihir cahaya itu bagaikan kunang-kunang di tanah lapang yang sangat luas. Azura memasang penutup kepala, kali ini dengan membaca mantera, dalam sesaat dia menghilang, menjadi tak kasat mata.

Dugaan Nartes Eva benar, perlahan awan hitam menghilang dan berganti dengan sosok-sosok yang sejak awal datang dengan niat jahat. lizathon, iexian dari ras kadal, jumlahnya mungkin ribuan.

”Héné Sénai Manda” Nartes Eva membaca sebuah mantera, dalam sesaat bola matanya menjadi berwarna biru terang, lebih terang dari cahaya biru pada menara penunjuk waktu.

Dengan mantera yang baru saja di bacanya, Nartes Eva bisa melihat seribu kali lebih jauh daripada mata inland biasa. Dia melihat ribuan lizathon memakai pakaian perang yang terbuat dari logam berwarna hitam gelap bagaikan prajurit dari kegelapan, utusan dari kegelapan. Wajah mereka tertutup dengan helm perang, mirip jika seekor kuda dipakaikan pakaian perang karena bentuk kepala mereka yang serupa. Mata yang tajam terpancar dari balik sepasang lubang yang berada di kedua bagian helm perang. Tidak hanya memakai jirah perang yang lengkap, tetapi juga dengan bersenjatakan tongkat pendek yang mereka pegang dengan kedua belah tangan. Begitu yang dilihat Nartes Eva.

Tidak hanya di luar Akademi awan hitam juga menggelayut masuk ke dalam gedung-gedung Akademi sihir, menipis akhirnya menghilang memunculkan beberapa pasukan kadal yang jumlahnya ratusan. Nartes Eva mengamati, bentuk dan pakaian pasukan kadal yang masuk ke dalam Akademi sihir berbeda dengan yang berada di luar. Badan mereka lebih besar, besar di bagian atas namun kakinya ramping. Sehingga memberi kesan kuat dan cepat.

Tanpa peringatan, pertempuran dimulai tanpa aba-aba, serangan demi serangan brutal membuat penduduk Zahaifé melakukan perlawanan.

Nartes Eva mengernyitkan dahi saat pasukan lizathon membagi menjadi dua kelompok besar, yang bersenjatakan tongkat dengan cairan hijau dan yang bersenjatakan tongkat pelontar api. Mereka yang bersenjatakan tongkat pelontar api inilah yang membuat ledakan di mana-mana. Dalam sekejap pasukan lizathon yang membawa senjata tongkat pelontar api memporak-porandakan pesta karnaval dan semua yang ada di sana. Beberapa bangunan, tenda penjual makanan, bahkan beberapa wahana yang masih ada inland di dalamnya tidak terkecuali. Semuanya menjadi luluh lantak, terbakar dengan cepat seakan-akan bangunan-bangunan yang terkena api dari tongkat pelontar api milik lizathon hanyalah terbuat dari kertas.

Nartes Eva menatap pelontar api milik pasukan lizathon, pelontar itu memang tidak bisa dianggap remeh. Bukan seperti pelontar api biasa, Nartes Eva mengetahui kalau pelontar api itu menggunakan minyak bumi mentah yang telah dicampur dengan suatu ramuan sehingga mudah menyebar dan terbakar lebih lama. Ini adalah pengetahuan yang Nartes Eva dapat saat berkunjung ke dunia tengah, hanya saja orang-orang dunia tengah menggunakan pelontar batu besar. Sedangkan pelontar batu kecil diciptakan orang-orang dari dunia timur. Akhirnya, era penggabungan teknologi dari dunia-dunia telah sampai. Dan demi keserakahan, digunakan untuk melakukan kejahatan. Nartes Eva menggelengkan kepala.

”Héné Sénai Manda” Azura membaca mantra yang sama dengan yang digunakan Nartes Eva, kedua bola matanya juga memancarkan cahaya biru terang.

Pertarungan yang tidak adil terjadi, ledakan-ledakan api menghiasi tiap sudut kota. Kota sudah terkepung, terkurung oleh pasukan kadal. Azura melihat pasukan kadal yang mengeluarkan cairan hijau dari tongkat mereka. Tongkat yang bisa melemparkan semacam cairan berwarna hijau, seperti lendir. Beberapa penduduk Zahaifé yang terkena cairan itu seketika teperangkap, terjerat, bagaikan terbungkus cairan perekat dan akhirnya jatuh ke tanah, terdiam tidak bisa bergerak sama sekali.

++++
”Sanduir Ésa!”

Nartes Eva berpindah tempat menuju gedung utama menggunakan sihir. Berdiri dengan cemas, dia menatap pasukan kadal yang menyerang masuk ke dalam gedung utama Akademi sihir. Pasukan kadal yang berbeda, lebih kuat, selain itu mereka tidak menggunakan tongkat pelontar api ataupun pelontar cairan, melainkan sebuah tongkat pemukul yang terlihat seperti kayu. Namun jika mengenai sesuatu tongkat ini akan mengeluarkan kilat yang cukup dahsyat untuk membuat pingsan makhluk hidup. Beberapa pelajar Akademi sihir langsung pingsan begitu terkena pukulan tongkat itu.

Para déxa berhasil mengimbangi serangan makhluk-makhluk itu. Yang menakutkan dari pihak penyerang adalah lima orang yang memakai jubah kerudung, kekuatan mereka sangat besar. Tidak ada satupun yang berhasil mengalahkan mereka. Bahkan tidak ada yang berhasil menggoreskan sedikit luka pada kelima sosok berjubah kerudung itu. Baik itu para déxa atau yang mempunyai kemampuan sihir yang tinggi. Hanya Nartes Eva yang berhasil mengimbangi mereka, namun jumlah yang tidak sebanding membuat Nartes Eva kewalahan saat di keroyok lima orang yang tiga diantaranya juga bisa menggunakan sihir yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Azura masih mengawasi keadaan di luar akademi, belum cukup menyerang dengan pasukan lizathon, dari langit berjatuhan kotak-kotak besar yang terbuat dari kayu tebal. Kotak itu berjumlah belasan. Begitu jatuh dan berbenturan dengan permukaan tanah, kotak-kotak itu pecah dan terbuka. Dari masing-masing kotak bermunculan creeper, makhluk setengah kadal setengah srigala. Badan mereka seperti seekor serigala tetapi kulit mereka tidak berbulu melainkan seperti kulit kadal. Ekor mereka panjang khas ekor kadal. Kepala mereka tidak berbeda dengan seekor serigala tetapi lidah mereka bagaikan lidah ular yang menjulur-julur tiada henti. Gigi-gigi yang tajam dan besar bagaikan taring serigala. Begitu pula dengan ke empat cakar mereka yang menghiasi ke empat kaki creeper. Azura merinding meilhat deretan gigi-gigi Creeper.

Azura pernah bertemu dengan creeper sebelumnya, makhluk piaraan lizathon ini biasanya digunakan untuk berburu layaknya anjing pemburu. Dan kali ini mangsanya adalah penduduk kota Zahaifé. Beberapa creeper telah dengan cepat mendapatkan mangsa begitu terbebas dari kotak-kotak kayu besar. Tetapi tidak ada satupun yang dibunuh. Atau tepatnya tidak sampai dibunuh, mereka hanya dilukai dan dilumpuhkan, masih dalam keadaan bernyawa. Meskipun begitu, penduduk Zahaifé yang menderita luka yang sangat parah juga tidak sedikit.

Tidak lama setelah para creeper berburu, di langit Zahaifé puluhan bayangan gelap menyelimuti. Bayangan itu melemparkan beberapa bola api. Beberapa bangunan dan penduduk terkena serangan bola api yang muncul dari bayangan yang sedang terbang itu. Naga? Tidak mungkin, bangsa Naga sudah punah sejak perang Afras berakhir. Tapi selain Naga, hewan terbang apa lagi yang bisa melemparkan bola api pikir Azura.

Azura dengan cepat melompat keluar jendela. Dengan cepat dan lincah pemuda itu melompat-lompat ke atas dengan menggunakan atap-atap kecil yang berada di bagian atas jendela. Tidak lama berlompatan, dia telah berada hampir di puncak gedung asrama pelajar Akademi sihir. Azura membuka kerudung kepala, agar bisa leluasa memandang ke segala arah. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas makhluk apa yang menyerang dari atas saat beberapa bayangan terbang itu melintas di dekatnya. Rupanya makhluk itu adalah dragonfly, kadal besar bersayap, hewan tunggangan yang mirip seperti Naga bersayap tapi berukuran lebih kecil dari Naga. Azura pernah membaca buku tentang mereka, dragonfly sebenarnya termasuk bangsa kadal, kadal besar bersayap. Ukuran rentang sayap dragonfly bisa mencapai 60 kaki. Dragonfly bukan hewan yang kuat, mereka tidak mempunyai daya tahan dan daya serang yang mematikan, meskipun begitu dragonfly sangat berguna untuk pertarungan di udara karena kehebatan manuver mereka saat di udara. Garuda (elang raksasa--red) yang dijuluki sebagai raja udara-pun kalah gesit dengan dragonfly, hanya saja Garuda mempunyai daya serang yang sangat hebat. Tapi sepengetahuan Azura, dragonfly tidak bisa menyemburkan api seperti Naga.

Azura mengamati bayangan-bayangan para dragonfly dengan jelas untuk mencari tahu. Dragonfly-dragonfly sedang melemparkan kotak-kotak yang berisi para creeper ke Zahaifé, empat atau lima dragonfly membawa satu kotak. Entah sudah berapa puluh kotak yang dijatuhkan, yang jelas langit sudah penuh dengan dragonfly. Pada saat sedang menatap apa yang sedang terjadi, seekor dragonfly mendekat ke arah Azura. Bersiap untuk menerima serangan, Azura mempersiapkan tangan kirinya dengan ilmu sihir, tapi bukan dragonfly yang menyerang, melainkan dua orang lizathon yang berada di atas dragonfly. Yang seorang mengendalikan dragonfly, sementara yang satu lagi menyerang dengan dengan pelontar bola yang dilumuri minyak mentah dan dinyalakan dengan api. Pelontar itu berbentuk tidak jauh berbeda dengan tongkat pendek yang digunakan lizathon di bawah sana. Hanya saja tongkat pelontar api itu mempunyai bentuk lebih besar.

Azura sekarang mengetahui bagaimana serangan bola api. Belum sempat dia bertindak sebuah bola api meluncur ke arahnya. Dalam hitungan detik, bola api meledakkan tempat Azura berdiri. Azura melompat sesaat sebelum bola api mengenai tempat dia berdiri. Namun sebagian jubah bagian bawah sobek terbakar.

Melompat tinggi melebihi dragonfly, tubuh Azura bagaikan tidak tersentuh gravitasi. Kecepatan dan kelincahan yang luar biasa. Dengan cepat pula, Azura melemparkan tiga bola sihir api ke arah lizathon-lizathon yang berada di atas dragonfly. Bola api kedua dan ketiga berhasil menjatuhkan kedua lizathon, terjatuh dengan kencang menuju Zahaifé. Setelah melompat melintasi dragonfly, pemuda itu mendarat di atas atap menara jam yang berada di depan dan kembali melompat ke atas dragonfly. Kali ini sasarannya adalah dragonfly yang telah kehilangan pengendali. Empat bola sihir api dengan telak menjatuhkan dragonfly. Azura kembali mendarat di puncak asrama. Dalam hitungan sesaat, dragonfly dengan keras menghantam tanah.

Tapi kemenangan kecil Azura tidak berlangsung lama, penduduk kota telah berhasil dilumpuhkan dan ditawan. Penduduk Zahaifé dan pelajar Akademi sihir yang tidak pernah diajarkan berperang tidak bisa mengimbangi serangan bangsa kadal. Meskipun mereka diajarkan cara untuk membela diri, kemampuan itu tidak cukup untuk dipraktikan pada kenyataan sekarang. Berbeda dengan Azura yang sebelumnya pernah bertempur meskipun tidak menggunakan sihir.

Azura menatap ke arah kota. Tidak sedikit bangunan di kota rusak, terbakar bahkan ada yang luluh lantak. Akademi sihir-pun mengalami kerusakan yang berat. Sementara itu para penduduk kewalahan karena kalah jumlah, dan setelah lama bertarung mereka menyerah. Kekuatan mereka seakan-akan lumpuh saat terkena cairan hijau dari senjata lizathon. Penduduk Zahaifé digiring memasuki gedung Akademi sihir. Entah kenapa para lizathon menawan mereka.

Azura hanya bisa menatap keadaan di bawah dan berusaha untuk mencari cara agar bisa mengalahkan makhluk-makhluk jahat itu. Tidak mungkin dia bisa mengalahkan mereka yang berjumlah ribuan. Dia membalikan badan sambil memasang penutup kepala dan membaca mantera. Sekali lagi tubuh Azura menjadi tidak terlihat. Dengan ringan Azura yang sekarang tak kasat mata melompat turun dengan cara yang sama saat dia naik ke atas, menggunakan atap kecil jendela-jendela kamar. Berpikir langkah apa yang harus dia lakukan.

++++
Sesosok makhluk muncul dari balik asap, berada di barisan belakang lizathon dengan memakai jubah berkerudung menatap kejadian itu sambil tersenyum penuh kemenangan.

”Jadi inikah Zahaifé, pulau melayang yang dibuat oleh bangsa Angin sebagai penghubung antara Hyrnandher dengan Celestine, tempat para dewa berkumpul?” sosok itu seakan berbicara sendiri. Namun dari belakang muncul sesosok lain yang memakai jubah berkerudung yang sama. Sosok itu mengangguk, tanpa mengeluarkan suara.

Sosok pertama menatap ke arah pusat kota, menatap gedung Akademi sihir yang terdiri dari beberapa bangunan selain bangunan utama. Gedung Utama yang berada tepat di tengah, yang dikelilingi empat bangunan yang masing-masing berada di empat penjuru angin dengan empat menara penunjuk waktu. Di luar pagar pembatas Akademi Sihir terdapat beberapa rumah, toko, penginapan dan lain layaknya sebuah kota kecil. Kota kecil yang menurut penduduk Hyrnandher penuh kedamaian, tanpa mempunyai pertahanan terhadap serangan dari luar.

”Cih, makhluk-makhluk tak berakal, hanya dengan menggunakan tabir pelindung tak kasat mata mereka pikir bisa hidup dalam kedamaian. Benar-benar bodoh.”

Sosok itu mengatupkan rahangnya dengan keras.

”Jadi, setelah beberapa ratus tahun sejak perang Afras berlalu, mereka membuat tempat ini menjadi tempat yang sesuka mereka? Mendirikan sebuah sekolah khusus untuk mereka yang berbakat dalam sihir. Akademi sihir, begitukah orang-orang menyebutnya? Sebagai pusat dari semua ilmu sihir yang ada di Hyrnandher, untuk menghormati bangsa Angin yang dianggap sebagai pencipta ilmu sihir di Hyrnandher? Dasar makhluk-makhluk kotor, mereka memang tidak tahu apapun.” sosok pertama menggeram. Ketidaktahuan penduduk Hyrnandher membuat dirinya ingin secepatnya melumat habis siapapun yang dia anggap bodoh.

”Siapakah yang menguasai kota ini?” sosok pertama kembali bertanya.

Sosok kedua menjawab dengan suara yang parau, kadang terdengar geraman saat dia berbicara.

”Pulau ini dipimpin oleh empat orang penyihir besar yang dipanggil Mata Tertinggi. Grrrhh. Masing-masing Highest Eye itu mempunyai grrrh keahlian sihir yang berbeda yaitu sihir yang berelemen api, air, tanah, dan angin. Grrrh keempat orang yang menjabat sebagai Mata Tertinggi bertanggung jawab grrrh terhadap pulau Zahaifé itu. Mereka jugalah yang kadang melakukan pencarian terhadap grrrh orang-orang yang berbakat di Hyrnandher untuk mempelajari ilmu sihir di Akademi sihir. Jadi, tidak selamanya mereka berempat berada di kota ini. Grrrrh.”

”Dan bagaimanakah kekuatan Mata Tertinggi ini?”

”Mata Tertinggi diangkat atau dipilih grrrh berdasarkan kemampuan sangat menguasai dengansempurna kelebihan pada salah satu unsur dan berhasil lulus dalam ujian khusus. Satu orang Mata Tertinggi hanya bisa menguasai grrrrh satu sihir elemen tingkat sempurna namun bukan berarti berarti mereka hanya bisa melakukan sihir elemen saja. Grrrh Mata Tertinggi adalah penyihir tingkat tinggi yang memiliki pemahaman yang lebih terhadap kemampuan unsur-unsur alam grrrrh karena itu adalah syarat utama untuk menjadi Mata Tertinggi atau Pengawas Tertinggi. Grrrh.”

”Komandan Perang, ada berapa kekuatankah yang nanti akan memberikan perlawanan?” sosok pertama bertanya dengan tegas.

”Grrrh. Karena Zahaifé berada di dalam wilayah kekuasan Avalon, grrrhh saya yakin semua anggota Kerajaan Serikat yaitu Kerajaan Avalon, Virotia, tiga kerajaan besar dari pulau Aisland: Baja, Forina dan Tertius akan menggabungkan diri untuk menghentikan kita. Grrrrh.”

”Bagaimana pasukan kita?” kali ini sosok pertama bertanya pada sesosok lain yang berada di belakang Komandan Perang.

”Seperti rencana kita sebelumnya, begitu penduduk kota ini telah terkumpul. Pasukan kita akan selalu ada, tidak akan ada habisnya, Tuanku.” sosok itu menjawab dengan nada bersemangat.

”Kita? Apa maksudmu dengan kita?” nada suara sosok pertama meninggi. Kharismanya sebagai pemimpin mulai muncul.

”Maafkan hamba, Tuanku. Maksud hamba, rencana Tuanku. Pasukan Tuanku.” sosok itu tergagap.

Sosok sang pemimpin tersenyum menyeringai. Tangannya terangkat ke atas, memberi aba-aba agar pasukannya segera menjalanan rencana berikutnya.
####

Next

Read previous post:  
27
points
(3922 words) posted by makkie 10 years 25 weeks ago
67.5
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
80

panjaaaang...

di bagian depan (goncangan dkk itu) sepertinya gak terlalu seperti tulisan deskripsi kejadian... kurasa lebih mirip seperti dongeng atau legenda atau sejarah yang ditulis di buku... dan dibacakan oleh orang tua pada anaknya...
(alias kurang idup)
kalo ditambahi dialog2 mungkin lebih baguss... (sori sotoy)

ok..ok..ku pertimbangkan..