Zheik, The One With Power - 2nd Scroll Chapter 3

Nartes Eva menyobek lengan baju kiri, beberapa luka sayat membuat darah mengucur. Dengan tangan kanannya, Nartes Eva menghentikan pendarahan pada tangan kirinya. Dia memaksa untuk tidak mempedulikan bagian tubuh lainnya yang juga terasa sakit. Tenaganya sudah habis untuk mempertahankan diri, lagipula penduduk Zahaifé lebih memerlukan dirinya sekarang. Tidak ada satu penduduk pun yang tidak terluka.

Segera Nartes Eva mengambil tindakan, dengan tenaga tersisa dia memerintahkan bagi mereka yang terluka ringan membantu merawat yang luka berat. Baik dengan ilmu sihir ataupun dengan cara biasa yaitu dengan kain dan obat-obatan. Semangat untuk melindungi sesama masih tersirat di mata mereka, paling tidak itulah yang dirasakan Nartes Eva.

Nartes Eva mengamati sekeling bagian dalam ruang pertemuan Akademi sihir, ruang terbesar di Akademi sihir ini kini di penuhi beberapa prajurit lizathon, semuanya mengelilingi mereka. Dengan persenjataan lengkap, prajurit-prajurit lizathon mengepung penduduk Zahaifé dari segala arah. Baju perang milik bangsa kadal yang khas menempel di tubuh mereka. Para creeper juga berada di sana, bagaikan anjing piaraan leher mereka dipasang tali kekang berwarna merah dan dipegang oleh seorang lizathon. Seorang lizathon memegang seekor creeper. Sementara di atas podium depan terlihat pimpinan para lizathon itu didampingi empat sosok misterius yang memakai jubah berkerudung berwarna coklat tua. Nartes Eva tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka yang tertutup oleh bayangan gelap kerudung, tidak bisa dilihat selain bagian mulut.

“Sekali lagi aku katakan, cepat beritahukan di mana tempat penyimpanan mantera Mata Alam atau aku akan membumi hanguskan pulau ini beserta isinya!” pimpinan lizathon itu mengancam pada penduduk Zahaifé. Wajah yang terkesan bengis sekaligus cerdas. Sorot mata yang tajam khas bangsa kadal. Di pipi terdapat sirip kecil seperti insang ikan tetapi di bagian ujung terdapat semacam duri yang tajam. Nartes Eva pernah mendengar tentang pimpinan lizathon ini, dia yang bernama Lazsanahon.

Nartes Eva mengamati Lazsanahon, makhluk ini tidak mempunyai hidung, berbeda dengan pasukan lizathon yang mempunyai moncong panjang ke depan seperti kuda. Bahkan kulit Lazsanahon berbeda dengan para lizathon, kulit Lazsanahon lebih tebal dan kasar. Ada yang aneh dengan diri Lazsanahon di mata Nartes Eva dan penduduk Zahaifé yang berada di depan. Apakah karena Lazsanahon lebih tua atau ada sesuatu yang lain yang harusnya mereka ketahui. Tentang siapa Lazsanahon, tentang sejarah hidupnya.

Namun tidak ada jawaban dari penduduk Zahaifé, begitu pula Nartes Eva. Hening. Penduduk Zahaifé memang tidak mengetahui apapun tentang mantera Mata Alam. Mereka benar-benar tidak mengetahui sediktipun tentang sihir yang dimaksud Lazsanahon. Mendengarpun mereka tidak pernah. Nartes Eva diam mengunci mulut, berbeda dengan penduduk Zahaifé, para Mata Tertinggi mengetahui tentang sihir itu. Mereka tahu tentang mantera Mata Alam dari para Mata Tertinggi sebelum generasi dia. Nartes Eva juga sangat mengetahui seberapa besar kekuatan Mata Alam itu walau hanya sekedar cerita dari pendahulu dan akan sangat berakibat fatal jika jatuh ke tangan orang-orang jahat.

Azura tersentak mendengar tujuan para lizathon ini, hampir saja dia membuat kehadiran dirinya tercium oleh seekor creeper yang berada beberapa kaki di sampingnya. Azura meraba penutup kepalanya untuk memastikan dirinya masih dalam keadaan tak kasat mata, setelah yakin dia menjauh dari creeper itu dan berusaha untuk ke arah podium tanpa tercium oleh semuanya.

Pikiran Azura sekarang menjadi jelas mengapa para lizathon menyerang dengan kekuatan sebesar ini. Azura sempat mengetahui tentang sihir Mata Alam, ilmu sihir yang bisa dengan mudah mengendalikan alam. Azura tidak bisa mengingat dari siapa dia pernah mendengar tentang cerita sihir Mata Alam, yang jelas jauh sebelum dia masuk Akademi Sihir. Yang Azura ketahui Mata Alam tidak seperti sihir elemen yang hanya juga menggunakan kekuatan alam, Mata Alam lebih kepada sihir yang benar-benar mengendalikan alam.

Nartes Eva teringat saat pendahulunya bercerita, dulu Mata Alam digunakan bangsa Angin untuk melawan kelompok Penggerak Langit, kelompok yang ingin melahirkan kembali bumi.

Kekuatan Mata Alam sangat dahsyat yang bisa membuat alam menjadi kacau jika tidak digunakan dengan bijak. Dengan pemikiran agar tidak disalah-gunakan, akhirnya bangsa Angin menyegel sihir itu. Semua hal-hal berhubungan dengan mantera Catatrophe dihancurkan. Hanya sebuah tablet batu yang berisi mantera asli Mata Alam yang disisakan. Tablet itu disembunyikan di salah satu ruangan yang berada di Akademi sihir. Hanya para Pengawas Tertinggi yang mengetahui keberadaan tablet itu untuk menjaga kerahasiaan sihir ini.

“Lazsanahon! Hentikan semua ini sebelum ketiga Mata Tertinggi lainnya datang. Mereka pasti tidak akan tinggal diam. Sekarang aku memang tidak bisa berbuat banyak karena aku mengkhawatirkan keadaan penduduk kota ini. Tapi jika kami para Mata Tertinggi terkumpul lengkap, tak satupun dari kalian yang bisa menyakiti kami.” jawab satu-satunya Mata Tertinggi yang sekarang berada di pulau itu. Memang sudah beberapa hari yang lalu ketiga Mata Tertinggi yang lain pergi. Dan sekarang belum memberikan kabar.

“Nartes Eva, sang Mata Tertinggi elemen Api. Aku tidaklah sebodoh yang kamu pikirkan. Memang hal itu sudah ku rencanakan. Aku tahu sekarang di sini hanya ada dirimu. Sehingga tidak ada orang yang berkekuatan besar lagi untuk melindungi Akademi sihir. Makanya aku berani menyerang tempat ini. ” jelas pimpinan lizathon yang bernama Lazsanahon itu. Dengan mata yang mirip seperti mata ular, dia menatap para penghuni Zahaifé yang ada di ruangan itu. Suara yang datar namun tegas menunjukkan kalau pimpinan lizathon ini seseorang yang bisa dengan mudah mempengaruhi mental orang lain.

“Beberapa kabar mengatakan, jika hanya seorang diri maka Mata Tertinggi itu tidak ada bedanya dengan mereka yang belajar disini. Hanya pelajar biasa yang mempunyai sedikit ilmu sihir.” Lazsanahon melecehkan kekuatan Nartes Eva.

”Dan sepertinya aku tidak salah. Kamu tidak punya kekuatan untuk menghentikan aku. Tidak juga murid-murid Akademi sihir yang tersohor ini. Semua orang pasti sudah mendengar cerita tentang segel dilarang membunuh.” Lazsanahon memicingkan mata, semakin melecehkan Nartes Eva.

Nartes Eva melawan ancaman Lazsanahon sambil mengepalkan tangan kanan bersiap untuk menyerang.

”Kami tidak mengetahui apapun tentang Mata Alam! Sudahi saja kegilaanmu ini, atau seluruh Kerajaan Serikat akan menghabisi kamu dan pasukanmu!”

“Huahahhahahahha….Kamu pikir aku mengetahui tentang hal yang sebenarnya? Kalian belum tahu seberapa hebat kekuatan penyihir-penyihirku ini?” Lazsanahon tertawa seperti sangat yakin bahwa dia akan berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Matanya melirik ke salah satu dari empat sosok misterius berkerudung yang dari tadi berada di belakang, seperti memberikan aba-aba. Sosok berkerudung yang diperintahkan itu maju mengerti dengan arti lirikan mata Lazsanahon.

Nartes Eva mengernyitkan dahi. Para sosok berkerudung itu mengarahkan tangan mereka ke arah para penduduk. Seketika itu juga beberapa gadis dari kerumunan penduduk itu melayang ke udara dan dengan cepat ditarik dengan kekuatan sihir ke arah podium depan, tidak jauh di antara Nartes Eva dan Lazsanahon. Beberapa penduduk Zahaifé terkejut. Para gadis yang terkena sihir meronta dan mengerang, seperti merasakan kesakitan yang amat sangat. Dengan cepat muncul memar-memar di tangan, kaki dan leher mereka, seperti dijerat dengan tali yang sangat kencang.

“Bagaimana Nartes Eva? Apakah kamu tega melihat para gadis muda yang tidak bersalah itu menderita? Sudah saatnya kamu berbagi pada semua tentang keberadaan Mata Alam!” desak Lazsanahon.

Nartes Eva hanya bisa mendesah, hatinya bimbang. Keringat membasahi kening. Sementara genggaman kedua tangannya bergetar. Dia bisa saja berkata berani mengorbankan nyawa, tapi pada kenyataan, hati menjadi ragu saat melihat gadis-gadis yang meronta kesakitan di hadapan.

Saat Nartes Eva berada dalam kebingungan, tiba-tiba dengan lantang seorang dari penduduk kota Zahaifé berteriak.

“Kurang ajar kamu! Meskipun Mata Alam benar-benar ada, bagaimanapun kamu berusaha, KAMI tidak akan pernah memberitahukan di mana tempat itu. Meskipun kamu menghancurkan pulau ini, KAMI rela berkorban agar Mata Alam itu tidak bisa dipergunakan oleh orang-orang biadab seperti kalian! SALAH SATU DARI GADIS ITU ADALAH ANAKKU, NAMUN DEMI KESELAMATAN HYRNANDHER AKU RELAKAN NYAWANYA. DAN AKU JUGA MERELAKAN NYAWAKU INI! SERANG!” teriak seorang laki-laki tua sambil melemparkan beberapa bola sihir ke salah satu sosok yang memakai jubah berkerudung. Tidak siap dengan serangan mendadak, sosok berkerudung itu menangkis serangan bola sihir dan melepaskan sihir yang mengekang para gadis.

Seketika itu juga penduduk yang tadi ketakutan menjadi berani, dengan spontan seperti tersadar dari mimpi dan langsung mengeluarkan sihir melawan para penjahat itu. Kaget dengan situasi yang tidak diinginkan itu Lazsanahon dan pasukan kadalnya terdesak. Nartes Eva sendiri terkejut dengan reaksi warga kota Zahaifé. Padahal beberapa waktu yang lalu mereka kalah bertempur melawan pasukan kadal yang tidak kenal ampun ini. Namun dengan tekad baja mereka menyerang Lazsanahon dan pasukannya.

Sesuatu yang tidak Nartes Eva duga sebelumnya. Tekad penduduk Zahaifé bulat menjadi satu, hanya satu, untuk menjaga agar Mata Alam tidak direbut makhluk-makhluk penyerang ini.

Keadaan menjadi sangat kacau. Di tempat yang sempit itu pertempuran besar terjadi. Pertempuran berlangsung lama. Keadaan tidak berimbang, pasukan kadal yang tidak mempunyai belas kasihan menyerang membabi buta sementara penduduk Zahaifé tidak bisa menggunakan sihir untuk membunuh. Lazsanahon terdesak karena sihir Nartes Eva lebih tinggi dibanding dirinya. Nartes Eva merasa di atas angin, dia menjadi berambisi untuk mengalahkan Lazsanahon.

Tiga dari empat orang yang berkerudung tidak tinggal diam. Dengan sihir yang mengerikan, mereka memporak porandakan beberapa bagian gedung hingga hancur. Para penduduk terperangah melihat kekuatan sihir yang besar itu. Merasa tidak mungkin menang, penduduk Zahaifé berlarian menuju keluar gedung. Namun tiga orang berkerudung itu tidak berhenti mengeluarkan sihir.

Setelah gedung pertemuan hancur, mereka memporak porandakan beberapa bangunan Akademi sihir. Para penduduk kalah telak, apalagi kekuatan mereka jauh berbeda. Nartes Eva terkejut, tak menduga, ternyata selain para Mata Tertinggi masih ada orang yang mempunyai kekuatan sihir yang hebat. Keempat orang berkerudung itu mendekati Nartes Eva. Nartes Eva melindungi diri dengan perisai api.

“Jangan senang dulu Lazsanahon, meskipun kamu sudah menguasai Zahaifé, kamu takkan bisa membuka segel Mata Alam tanpa keempat Mata Tertinggi!” Nartes Eva.
“HA HA HA HA HA….” Lazsanahon tertawa.

“Bagaimana kalau ternyata para Mata Tertinggi yang lain sudah ada di sini?” seringai Lazsanahon sambil menatap ke arah anak buahnya yang memakai penutup kepala.
Nartes Eva tidak mengerti apa yang diucapkan Lazsanahon. Keempat orang berkerudung membuka kerudung yang menutupi wajah mereka. Dan alangkah terkejutnya Nartes Eva ternyata tiga dari sosok berkerudung adalah para Mata Tertinggi. Raut wajah ketiga Mata Tertinggi terlihat tanpa ekspresi sama sekali. Terlihat sebuah simbol aneh di dahi mereka. Nartes Eva mengenali tanda itu. Itu adalah sihir hipnotis milik bangsa Naga Tua yang sudah punah. Sekarang mereka tak ubahnya seperti ‘boneka’ Lazsanahon. Apapun yang Lazsanahon perintahkan, ketiga Mata Tertinggi itu akan mematuhi. Apakah Lazsanahon keturunan bangsa Naga Tua? pikir Nartes Eva.

Nartes Eva pernah mendalami tentang bangsa Naga Tua, bangsa Naga yang mempelajari ilmu sihir, seiring dengan bangsa Angin. Bahkan kedua bangsa ini pernah melakukan pembelajaran ilmu sihir bersama. Bangsa Naga Tua merupakan keturunan tertua dari bangsa Naga Murni, bangsa Naga yang pertama kali ada di Hyrnandher. Bahkan sebelum inland atau iexian dilahirkan pertama kali, bangsa Naga Murni sudah menetap di Hyrnandher.

Dalam mempelajari tentang bangsa Naga Tua, Nartes Eva mendapati bahwa Hyrnandher pada awalnya hanya dihuni oleh bangsa Naga. Hanya bangsa Naga, tidak ada makhluk hidup lain selain tumbuh-tumbuhan. Setelah inland dan iexian diciptakan, bangsa Naga Murni perlahan menyembunyikan diri. Menyembunyikan bentuk asli mereka untuk berbagi tempat di Hyrnandher. Kebanyakan dari mereka mengubah diri menjadi iexian, tak sedikit juga ada yang berhasil meniru inland dengan sempurna. Sementara yang lain bersembunyi di beberapa belahan Hyrnandher, di dalam gua, di dalam gunung besar, di bawah laut, di perut bumi, di mana saja asalkan keberadaan mereka tidak diketahui bangsa selain mereka. Karena semua bagian tubuh mereka bisa membuat kemampuan inland atau iexian bertambah dahsyat. Mulai dari darah, kulit, tanduk bahkan sampai air keringat dan air mata Naga Murni mempunyai khasiat yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Bangsa Naga Murni yang berbaur dengan penduduk Hyrnandher lain lama kelamaan menjadi terbiasa. Cinta pun tidak bisa dihindarkan, dengan bentuk yang menyerupa menjadi sosok inland atau iexian beberapa dari mereka melahirkan anak. Walaupun begitu, para ras Naga Murni tetap menyembunyikan jati diri mereka. Mereka berdiam di tempat-tempat yang sepi, tidak terlalu ramai penduduk atau yang jauhd ari perkampungan penduduk Hyrnandher lain.

Anak-anak hasil perkawinan campuran inilah yang disebut sebagai bangsa Naga Tua. Meskipun bisa mengubah diri menjadi bentuk Naga, tapi kesaktian dari tubuh mereka menghilang. Bangsa Naga Tua hanya mempunyai kekuatan untuk mereka sendiri, tidak untuk inland atau iexian. Kehilangan ini membuat mereka menjadi lebih aman daripada nenek moyang mereka yang diburu bagaikan ”obat kuat berjalan”. Rasa aman ini membuat mereka menjadi mudah berbaur karena tidak akan ada ketakutan jika jati diri mereka diketahui.

Untuk menambah kemampuan mereka saat berbentuk inland atau iexian, bangsa Naga Tua mempelajari sihir karena sihir tidak terlalu berbeda dengan penggunaan kekuatan mereka saat berbentuk Naga. Mereka hanya perlu merapal mantera. Bangsa Naga Tua dan Bangsa Angin pernah bersama-sama mempelajari ilmu sihir selama beberapa waktu. Namun karena beberapa dari bangsa Naga Tua lebih senang mempelajari ilmu yang dianggap ”terlarang” oleh bangsa Angin, hubungan kedua bangsa ini menjadi renggang dan akhirnya memisahkan diri menuju jalan masing-masing. Inilah yang diketahui Nartes Eva.

Tanpa banyak bicara ketiga Mata Tertinggi itu menyerang Nartes Eva dengan kekuatan penuh. Walau sudah melindungi tubuhnya dengan perisai dari api, tapi Nartes Eva tidak bisa bertahan lama. Nartes Eva berteriak kesakitan. Ketiga Mata Tertinggi berdiri mengepung Nartes Eva dengan membetuk formasi segitiga. Mereka mencoba melemahkan pertahanan Nartes Eva. Lazsanahon mendekat, berusaha untuk menghipnotis Nartes Eva. Telapak tangan ketiga Mata Tertinggi saling berhadapan. Cahaya merah keluar dari telapak tangan mereka, membentuk garis dari telapak tangan ke tangan ke telapak tangan. Sementara mulut Lazsanahon tak henti-henti membaca mantera untuk menghipnotis Nartes Eva.

Mantera-mantera itu terdengar asing bagi beberapa orang, tapi Nartes Eva yakin kalau itu adalah bahasa Naga Tua, mantera yang tidak terdengar kabarnya lagi sejak sekian lama. Mata Tertinggi ke dua puluh pernah mengajarkan sedikit tentang bahasa Naga Tua. Tapi lafal itu diajarkan hanya sebagai mengenali bahasa bukan mantera.

Nartes Eva menguatkan diri. Pikirannya kini menjadi terbagi, antara menguatkan tenaga perisai tubuh dan menjaga agar pikirannya tidak sampai terpengaruh oleh mantera hipnotis. Dua hal berbeda yang sama-sama membutuhkan konsentrasi penuh. Entah sampai kapan dia bisa bertahan, Nartes Eva hanya bisa berharap ada satu keajaiban.

Azura berlari dari kerumunan pertempuran dan dengan berani menerobos sihir tiga Mata Tertinggi dan menabrak Nartes Eva hingga terpental jauh dari segitiga sihir para Mata Tertinggi. Tudung kepalanya terbuka terkena angin, tubuhnya tak lagi tak kasat mata. Sambil berlari menuju ke arah Nartes Eva yang terjatuh ke lantai, Azura melemparkan beberapa bola sihir ke arah Mata Tertinggi yang berkhianat. Tidak ada yang bisa melihat sosok itu dengan jelas, hanya sekelebat warna hitam dari jubah sang penyelamat.

“Roja Pirro Orénda !” teriak Azura. Setelah membaca mantera, dari telapak tangan kanan yang dihadapkan ke arah para Mata Tertinggi, bermunculan lima sihir bola api berturut-turut dan melesat ke arah para Mata Tertinggi.

Para Mata Tertinggi tersentak namun masih menangkis serangan dari pemuda itu. Dengan cepat pemuda itu menggendong tubuh Nartes Eva yang kehabisan tenaga. Salah satu Mata Tertinggi dengan cepat membalas serangan Azura dengan melemparkan beberapa bola sihir. Azura berkelit menghindar sambil membawa lari Nartes Eva. Kedua Mata Tertinggi tidak tinggal diam dan ikut melemparkan beberapa bola sihir. Namun tidak ada satupun yang berhasil mengenai Azura. Lazsanahon menduga pemuda itu bukan pemuda sembarangan, karena ia berhasil mengelak dari serangan bola-bola sihir para Mata Tertinggi. Entah sihir apa yang digunakan pemuda itu, ia berhasil melarikan Nartes Eva dan dirinya dengan cepat.

Azura berlari menjauh dari arena pertempuran, melompat dengan lincah di antara reruntuhan. Dengan menggunakan jubahnya, Azura menghilangkan dirinya dan Nartes Eva. Berusaha menghindari kejaran para Mata Tertinggi, Azura menyelinapkan diri dan berhasil menjauh dari tempat pertempuran. Meskipun begitu misi penyelamatannya belum berhasil. Di luar masih terdapat beberapa prajurit lizathon dan creeper, jumlahnya puluhan. Andai saja Nartes Eva tidak kelelahan akibat mempertahankan diri, mungkin puluhan prajurit lizathon dan creeper ini tidak ada artinya. Dengan hati-hati Azura menyusuri jalan-jalan yang aman, memilih jalan mana yang aman, dan semoga semua pilihannya aman pikir Azura. Meski tubuhnya dan Nartes Eva tidak terlihat oleh mata, para creeper pasti bisa merasakan jika keberadaan dia dan Nartes Eva jika terlalu dekat. Sekarang hanya ada satu tujuan bagi Azura, menyelamatkan diri, melarikan diri, berusaha untuk menuju salah satu gerbang sihir untuk berpindah ke gerbang sihir lain yang terhubung.

Nartes Eva masih belum sadarkan diri. Serangan dari ketiga Mata Tertinggi dan Lazsanahon sangat kuat dan menguras tenaganya. Sesaat setelah menjauh dari gedung pertemuan, Nartes Eva jatuh pingsan. Azura terpaksa menggotong Nartes Eva di bahu, beruntung tubuh Nartes Eva tidak lebih besar dari tubuhnya.

Azura mencoba mengingat denah kota Zahaifé, mengingat-ingat lokasi gerbang sihir berada, gerbang yang tersambung dengan pilar pelangi. Di dekat ke empat pintu keluar masuk dari Gedung Utama Akademi sihir terdapat masing-masing sebuah gerbang sihir. Sementara dibagian tengah Gedung Utama juga terdapat sebuah gerbang sihir yang lebih besar dibanding ke empat gerbang sihir yang lain. Gerbang sihir besar ini memang dikhususkan untuk mereka yang mempunyai jabatan tinggi, berbeda dengan empat gerbang sihir lain yang hanya untuk mereka yang berstatus sebagai pelajar, pekerja dan jabatan biasa. Selain ke lima gerbang sihir yang berada di dalam Akademi sihir, terdapat dua gerbang sihir lain yang digunakan untuk penduduk Zahaifé yaitu gerbang sihir yang berada di bagian paling timur dan paling barat kota ini.

Satu-satunya jalan bagi Azura dan Nartes Eva adalah gerbang sihir yang berada di luar Akademi sihir, yang terdekat adalah gerbang sihir timur. Tidak mungkin untuk kembali memasuki Akademi sihir yang di sekarang dipenuhi dengan creeper yang dilepaskan, meski jaraknya lebih dekat daripada harus menuju gerbang sihir timur.

Azura mengitari para prajurit lizathon dan creeper yang sedang berjaga di seluruh jalan pulau Zahaifé. Beruntung Azura mengetahui sedikit tentang jalan-jalan kecil. Sedikit menyusahkan dengan membawa Nartes Eva yang sedang pingsan sementara dia harus melewati jalan-jalan sempit yang berada diantara dua bangunan. Tapi tidak ada cara lain, jalan ini atau tidak akan ada jalan lagi.

Sebuah kesialan terjadi saat Azura melewati lorong-lorong sempit, tanpa dia sadari kerudung jubahnya tersangkut kayu dari bangunan di sebelah kirinya. Terlepas kerudung maka hilanglah kekuatan sihir kerudung. Tubuhnya yang sedang memanggul Nartes Eva menjadi terlihat. Padahal tepat di depan lorong empat-lima pasukan kadal dengan creepernya sedang berjaga-jaga. Beruntung beberapa saat sebelum keluar dari lorong, Azura sempat dengan sekilas melihat pantulan dirinya dan Nartes Eva di genangan air. Akhirnya dia sadar kalau kerudung jubahnya terlepas, dia menghentikan larinya dan memasang kembali kerudung ke kepala dan kembali menjadi tidak terlihat.

Azura tidak mengerti sudah seberapa jauh dia berlari sambil menggotong Nartes Eva, sampai akhirnya Azura sampai bagian tepi dari pulau melayang. Jalan buntu, yang ada di depan hanyalah tembok tinggi yang mengelilingi pulau Zahaifé bukan gerbang sihir timur yang dia cari. Azura berpikir betapa bodohnya dia tidak bisa mengingat jalan-jalan kecil di kota ini. Sekarang tidak ada jalan lain, dia harus mundur beberapa kaki untuk ke kembali ke persimpangan yang ada sebelum jalan buntu ini.

Sesaat sebelum berputar, Azura tersentak, ada sesuatu yang aneh. Tubuhnya menjadi tidak bisa digerakkan, ada sebuah sihir yang menahan tubuhnya untuk bergerak. Sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun. Ternyata, tidak jauh di belakang, ketiga Mata Tertinggi datang mendekat.

Bagaimana mungkin pikir Azura, bukankah dia sudah memakai jubah penghilang. Meskipun tidak bisa melihat ke arah belakang, Azura bisa merasakan kehadiran ketiga Mata Tertinggi, dia merasakan keringat dingin mengucur deras di tengkuknya.

”Bingung kenapa bisa ketahuan meskipun sudah memakai jubah pelindung?” suara salah seorang Mata Tertinggi terdengar. Pertanyaan itu seakan-akan bisa membaca pikiran Azura.

”Nartes Southstorm!” Azura masih bisa berbicara. Dia mengenali siapa pemilik suara itu. Mata Tertinggi yang pernah menjadi pembimbing perempuan yang dulu dicintainya. Satu-satunya wanita yang berhasil menjadi Mata Tertinggi di generasi sekarang ini.

Azura mengumpulkan kekuatan tenaga untuk merapal sihir. Berhasil, dia berhasil melepaskan diri dari sihir yang membuat seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak. Namun dia masih berpura-pura tidak bisa bergerak, seakan-akan masih dalam pengaruh sihir, menunggu saat yang tepat untuk melakukan serangan balik atau hal lain untuk menyelamatkan diri.

”Lain kali, jangan meremehkan kekuatan Mata Tertinggi!” Para Mata Tertinggi menggabungkan kekuatan mereka, menciptakan sebuah bola sihir yang sangat besar. Azura merasakan ada tekanan udara yang sangat besar di belakangnya. Dengan cekatan dia berlari ke arah samping sambil meledakan dinding bangunan di samping kiri dengan sihir. Para Mata Tertinggi tersentak, mamun malang, sihir bola energi gabungan tiga Mata Tertinggi lebih cepat dari kecepatan lari si pemuda, belum lagi karena si pemuda harus berlari sambil menggendong Nartes Eva. Sihir gabungan berhasil mementalkan tubuh mereka menabrak dinding yang mengelilingi Zahaifé. Azura merasakan nyeri dan perih hampir di seluruh bagian tubuhnya.

Ketiga Mata Tertinggi tidak memberi kesempatan dan langsung menyerang si pemuda. Meskipun tidak mengeluarkan bola sihir yang digabungkan lagi, tapi bola-bola sihir masing-masing para Mata Tertinggi sudah cukup kiranya untuk membuat Azura tidak lagi bisa bertemu dengan hari esok. Azura menatap dengan pasrah saat tiga bola sihir mendekat ke arahnya dengan sangat cepat.

Tiba-tiba, sebuah energi pelindung mematahkan serangan ketiga Mata Tertinggi. Energi pelindung yang berbentuk perisai api. Api, berarti? Benar apa yang diduga pemuda itu, Nartes Eva telah sadarkan diri dan tenaganya sudah cukup kuat untuk melakukan sedikit perlawanan, dia berdiri tepat di depan si pemuda. Perlahan perisi api itu semakin membesar hingga cukup besar untuk melindungi mereka berdua.

”Kamu masih bisa berdiri?” tanya Nartes Eva pada Azura sementara kedua tangannya terarah ke depan menjaga agar perisai api tetap melindungi mereka berdua dari serangan ketiga Mata Tertinggi. Azura mengangguk dan mencoba berdiri dengan sisa-sisa kekuatan yang ada dalam diri. Azura bisa merasakan kalau Nartes Eva sudah sangat kewalahan, dia tidak mampu menjaga kestabilan perisai api sementara di seberang sana ketiga Mata Tertinggi tidak henti-hentinya melepaskan bola-bola sihir.

”Seharusnya pertanyaan itu ditujukan pada dirimu sendiri Penguasa Api!” salah seorang Mata Tertinggi rupanya sempat mendengar perkataan Nartes Eva.

”Lemah! Itulah dirimu Nartes Eva. Seorang Mata Tertinggi malah dibantu pemuda yang bahkan belum mempunyai kemampuan untuk setara dengan déxa. Sungguh menyedihkan. Tidak pantas kamu menyadang gelar Mata Tertinggi.” Mata Tertinggi yang lain ikut menimpali.

”Aku mungkin lemah. Tapi hatiku kuat, sedangkan kalian? Kalian sama rendahnya dengan makhluk-makhluk kadal itu! Kalianlah yang tidak pantas menyandang gelar Mata Tertinggi!” balas Nartes Eva.

”Mendekatlah!” perintah Nartes Eva. Si pemuda mendekat sambil tertatih-tatih, perih di kakinya tidak tertahan, meski begitu melihat Nartes Eva yang berjuang dengan sisa-sisa tenaga, pemuda itu tidak menghiraukan sakit di kakinya itu.

”Ada apa Eva? Sudah kehabisan mana (tenaga supranatural untuk menggunakan sihir—red)?” Nartes Southstorm mulai menyadari Nartes Eva yang mulai melemah.

“Aku sudah tidak bisa bertahan lagi.” kata Mata Tertinggi api pada Azura. Azura sudah tahu akan hal itu, dia hanya bisa berdiam diri.

“Hanya satu yang bisa kulakukan sekarang.” kata Nartes Eva lagi sambil memegang dada Azura dengan tangan kanan sementara tangan kirinya masih mengendalikan perisai api. Perlahan Azura merasakan dadanya terasa hangat.

“Nartes, apa yang kau lakukan?” tanya Azura kebingungan. Tubuhnya menjadi tidak bisa digerakkan lagi, tetapi berbeda dengan sebelumnya tubuhnya tidak merasakan sakit.

“Tenang! Dengarkan aku baik-baik! Sekarang aku sedang memindahkan semua pengetahuanku padamu. Kamulah satu-satunya harapanku untuk mengalahkan Lazsanahon dan membebaskan Mata Tertinggi lainnya dari pengaruh sihir Lazsanahon!” jelas Nartes Eva.

Kilatan-kilatan pengetahuan berlintasan di kepala Azura, dengan cepat, sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kedipan mata. Pengetahuan-pengetahuan yang Azura sama sekali tidak atau belum mengetahuinya, tentang sihir, tentang Zahaifé, akademi dan bermacam-macam. Tidak ada satupun yang bisa dia cerna dengan jelas. Perlahan kepalanya mulai terasa berat dan panas akibat pengetahuan-pengetahuan yang dengan cepat memasuki otaknya itu. Sedikit darah mulai menguncur dari salah satu lubang hidungnya.

”Pelajarilah apa yang kau perlukan. Pelajarilah dengan cepat. Kemudian bebaskan Akademi kita dari tangan kotor mereka. Bebaskan teman-teman kita!” Nartes Eva terhenti sebentar, perisai api sedikit demi sedikit kehilangan kekuatannya dan perlahan-lahan mengecil.

”Jangan sampai siapapun mendapatkan Mata Alam, meskipun untuk menghentikannya harus dengan cara menghancurkan Akademi. Sekarang pergilah, dan carilah bantuan!” Nartes Eva melepaskan tangan yang mengendalikan perisai api, dengan kedua tangannya dia mendorong tubuh Azura hingga menembus dinding, dengan ajaib dinding itu tidak hancur melainkan berubah menjadi semacam cairan begitu bersentuhan dengan tubuh Azura.

Azura terlempar jauh, menjauh pulau Zahaifé. Matanya masih bisa melihat pulau yang melayang di atas kerajaan Avalon itu. Cakrawala menjadi terlihat luas, tubuhnya melesat menjauh. hingga akhirnya jatuh entah di bagian belahan Hyrnandher mana.

End Of 2nd Scroll

Read previous post:  
8
points
(2816 words) posted by makkie 10 years 24 weeks ago
80
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  

mmm aku sengaja pake "kamu" biar karakternya banyak...he he he...
nanti ku coba pake "kau"...thx bwt sarannya...
novel?? wah...semoga aja...ada si niatan...tapi mood bwt nulis kadang kembang kempis he he he

hi hi hi...aku aja kadang lupa sm nama2nya..

80

bener... aku masih merasa deskripsinya agak menggurui...
kesannya jadi seperti penceritaan kembali...

seolah kamu membaca sebuah cerita dan menceritakannya lagi kepada kami(pembaca)

ehem yah saran yang sama dengan sebelumnya itu saja...
jujur saja sepertinya bagian reid lebih menarik

promosiin gih ke orang2... kulihat kok baru 10 reads??
bukannya udah lama postnya??
:D peace... sippp!!!

ho oh...aku oph berbulan-bulan...tuntutan kerja...
ni baru mulai bersantai-santai dikit...
selamat berjumpa kembali...

70

kasih point sendiri..