Read more (1245 words) Kemudian dia berdiri. Kembali mengamati rumah besar di hadapannya. Rumah besar yang sederhana, menurutnya. Karena warna cat yang dipakai didominasi oleh warna hijau dan putih. Atapnya yang menyapa langit, kusen jendela dan pintu, serta pagarnya berwarna hijau. Sedangkan warna putih menyelimuti dinding-dindingnya. Kemudian bagaimana dengan halaman dan gapuranya? Sama. Warna hijau dan putih tetap mendominasi. Dia tak mengerti, mengapa di tempat ini didominasi oleh warna hijau dan putih. Tapi bukan itu yang membuatnya berdiri berlama-lama memperhatikan rumah besar di depannya. Adalah apa yang ada di dalamnya. Para penghuninya serta apa yang mereka lakukan di dalam sana.
Dia masih berada di sana, di depan rumah dengan dominasi warna hijau dan putih – yang kemudian disebutnya Rumah Hijau. Matanya menyapu setiap ruas halaman. Tanaman perdu berdaun hijau segar dengan bunga-bunga putih menyembul diantaranya. Kemudian dia menutup matanya. Memusatkan seluruh pikirannya pada apa yang dicium hidungnya yang tak mancung itu. Wangi semangat para penghuni rumah saat mereka menguapkan apa yang tersembunyi dalam pikiran, hati dan imajinasi mereka. Kemudian mengolahnya menjadi rangkaian kata-kata. Setiap kata akan berdendang, memenjakan pendengaran. Masih menutup mata, dia tersenyum menikmati.
Dia yang kemudian masih disana. Dia yang bukan siapa-siapa disana. Dia hanyalah seorang yang kebetulan lewat hingga kemudian mamppir dan menjadi tamu. Dia menikmati setiap sajian para penghuni rumah. Sajian yang membuatnya telah jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Pada setiap sudut rumah, setiap sajian para penghuninya, serta pada setiap komentar yang muncul dari penghuni satu ke penghuni yang lainnya. Dia benar-benar telah jatuh cinta dan ingin berada diantara mereka. Tapi kemudian ragu berkunjung di hatinya. Membawa pertanyaan-pertanyaan yang bergelombang. Dia tak yakin bisa seperti mereka. Memberikan sajian yang begitu luar biasa. Sajian-sajian yang telah membuatnya jatuh cinta. Yang membuatnya enggan beranjak dari rumah besar dengan dominasi warna hijau dan putih, Rumah Hijau.
Akhirnya dia tak tahan hanya berdiri di sana. Dia ingin bergabung dengan mereka. Dia ingin memiliki apa yang mereka miliki. Dia ingin seperti mereka. Membuat orang jatuh cinta pada apa yang disajikannya. Tapi apakah mereka akan menerimaku? Bagaimana kalau mereka menertawakanku? Dia bertanya pada dirinya sendiri. Tidak! Aku tidak berpikir buruk. Aku tak mau hanya jadi tamu, hanya menonton dan menikmati apa yang mereka lakukan. Begitu hatinya bertekad. Dia kini melangkah, masuk ke ruang pendaftaran. Jantungnya berdegup kencang saat menghadapi form pendaftaran. Senyumnya terus mengembang seiring debar jantungnya. Ada sebuah harapan muncul dalam benaknya. Harapan untuk memupuk kembali sesuatu yang tersimpan dalam dirinya.
Dia sudah ada di sana, di Rumah Hijau. Rumah besar yang didominasi oleh warna hijau dan putih, interior maupun eksterior. Dia melangkah perlahan. Setelah menerima sebuah kunci kamar di ruang pendaftaran tadi. Gratis. Langkahnya sempat terhenti di sebuah ruangan. Ada banyak orang di sana. Tentunya mereka adalah penghuni rumah hijau juga. Dia pun bertegur sapa. Wow! Mereka ramah-ramah, pekiknya dalam hati. Hatinya kian mantap melangkah menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar yang juga didominasi warna hijau dan putih. Penuh semangat dia mengolah otak dan imajinasinya. Kemudian menerjemahkannya dalam susunan huruf. Merangkainya menjadi kata. Dikait-kaitkan menjadi kalimat. Dan ketika semuanya terungkap, berkait menjadi satu maka dia memberanikan diri untuk mendendangkan sajian pertamanya itu di depan penghuni rumah yang lain. Tak banyak yang menikmati namun itu cukup untuk membuatnya yakin bahwa besok akan membuat sajian baru lagi. Dari satu karya itu dia mendapatkan teman. Kemudian berteman dengan yang lainnya. Semakin bersemangatlah dia untuk terus membuat karya-karya untuk disajikan.
Semakin hari semakin banyak yang datang berkunjung ke Rumah Hijau yang didominasi oleh warna hijau dan putih. Semakin banyak pula yang mendaftar menjadi penghuninya. Dia pun bertambah temannya. Bertambah rasa cintanya pada rumah itu. Hari-harinya menjadi lebih berwarna. Semua tentu tahu bagaimana rasanya berhasil mengungkapkan apa yang selama ini tertahan, batinnya. Dia selalu memperhatikan setiap komentar yang masuk pada karya-karyanya. Menjadikannya sebagai pupuk penyemangat untuk sajian berikutnya. Yang dia sajikan memang bukan karya yang luar biasa tapi cukup untuk membuatnya percaya bahwa dirinya bisa melakukannya. Di rumah itu, bukan hanya komentar dan teman yang dia dapatkan. Melainkan juga sahabat dan pelajaran. Dia belajar memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang. Melihat sisi lain kehidupan yang selama ini tak tersapu oleh matanya.
Di rumah besar dengan dominasi warna hijau dan putih, baik interior maupun eksterior. Dia saling berkunjung kamar dengan teman-temannya. Saling bertukar cerita dan berkunjung ke kamar mereka yang lain di rumah yang lain. Dan ketika dia sedang sendiri di kamarnya, dia akan berkali-kali mengucap syukur karena telah menemukan rumah itu.
Hari itu di Rumah Hijau, di dalam kamarnya, dia sedang mengepaki beberapa barang. Tidak, dia bukan tidak betah lagi di rumah itu. Dia hanya akan pergi menyelesaikan urusannya di luar sana. Itu berarti dia akan jarang datang ke rumah itu. Akan jarang membuat sajian-sajian untuk teman-temannya. Untuk kesenangannya sendiri. Dia bilang pada teman-temannya akan tetap bertegur sapa dengan mereka. Bukan di rumah itu melainkan di kamar pribadi mereka di rumah yang lain yang lebih mudah dijangkau. Dan hanya sesekali dia bisa berkunjung ke rumah mereka.
”Sekedar melihat sajian kalian mungkin bisa tapi kalau untuk membuat sajian mungkin agak sulit.” begitu dia berucap saat pamitan.
”Nanti jika urusanku sudah selesai, aku akan kemari lagi,” lanjutnya.
Waktu berjalan begitu cepat. Selama waktu itu melakukan perjalanan, dia terus menyimpan rindu dan cintanya untuk Rumah Hijaunya. Rumah besar dimana warna hijau dan putih mendominasi. Bukan dalam waktu yang lama sebenarnya dia memendam kerinduan itu. Namun rindu itu sungguh telah menggunung dan gunung itu sudah ingin meletus. Tuhan memang Maha Tahu. Akhirnya di tengah kesibukannya dia mendapat kesempatan kembali berkunjung ke Rumah Hijau. Beberapa perubahan telah terjadi. Meski masih didominasi oleh warna hijau dan putih namun berbagai fasilitas baru muncul. Rumah itu bertambah luas. Ruang-ruang baru disediakan. Sungguh kemajuan yang pesat. Rumah besar dimana warna hijau dan putih itu mendominasi itu tidak lagi sesederhana dulu. Menjadi lebih mewah. Kamarnya juga menjadi lebih luas dan berfasilitas lebih banyak. Mungkin pemilik rumah melakukan berbagai renovasi itu demi memenuhi kebutuhan para penghuninya. Agar keluarga besar rumah itu menjadi betah berada di sana.
Dia datang kembali ke Rumah Hijau. Rumah yang warna hijau dan putih mendominasi namun dengan tampilan yang membuatnya asing. Ya, dia merasa asing bahkan di kamarnya sendiri. Mungkinkah karena pemikirannya yang sudah basi? Entahlah.
”Aku marasa asing dengan tampilan baru rumah kita,” ungkapnya suatu hari pada salah seorang teman lamanya.
”Aku pun merasakan hal yang sama. Seperti salah rumah padahal itu rumah sendiri.” tambah teman lamanya.
Selain itu, teman-temannya yang dulu juga sekarang jarang terlihat. Mungkin mereka sedang sibuk dengan urusan pribadi mereka, pikirnya. Banyak penghuni baru dan menghuni kamar-kamar baru. Dia justru bisa menemukan teman-teman lamanya di rumah-rumah besar yang lain. Rumah-rumah yang dulu menjadi persinggahan mereka.
Dia yang kini bisa kembali lagi ke rumah itu. Kini sedang berkunjung ke rumah singgah milik teman lamanya, menemukan beberapa teman-teman lamanya di beberapa rumah baru. Yang dia tahu bahwa rumah-rumah baru itu seperti cabang dari rumah mereka dulu, Rumah Hijau. ”Aaah, seperti pohon saja memiliki cabang.” gumamnya. Apa mereka sudah tidak nyaman lagi? Atau sekedar ingin memperluas jaringan? Pikirnya.
Hidup selalu berubah. Begitu pula dirinya dan rumah yang warna hijau dan putih mendominasi. Pun akan mengalami perubahan. Perubahan yang diharapkan akan membawa kemajuan. Meski tak sedikit pihak yang tak siap mengikuti perubahan. Seperti dia terhadap rumah itu. Satu hal yang tahu Rumah Hijau inilah salah satu tempat pertamanya mengerti apa yang harus dia lakukan terhadap apa yang selama ini hanya disimpannya. Mengerti bagaimana belajar membaca, menulis, dan mengapresiasi.
Rating Views: 292 reads
Comments: 17
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
Be the first person to continue this post
eh alah, ternyata eh ternyata ... sip ...
visit me to & need your great comments
hehe, dari awal rasanya memang bukan sekedar rumah biasa yang diceritakan secara lebay, namun di akhir cerita, kalau saja aku tidak membaca komentar, aku ga tahu kalau analoginya ke arah web ini. wkwkwk
usaha yang bagus dew, walaupun banyak repetisi terhadap rumah hijau yang didominasi hijau dan putih ini. kelihatan banget kamu sudah berusaha. wkwkwk.
kutunggu karyamu yang lian yak ^ ^
huuufth...
kau tahu bagaimana ini semua... ;)
Wow! Simbolisasi Kemudian yang tepat dan bagus banget ^^
-------------------
Let’s show our teeth together! =))
hehehehe, tengkyuuu... tapi masih perlu banyak belajar.
hohooo.. Hijauhijau.. Reboisasi nii yeee..
gitu deh bang, kalo rumah deket hutan... :))
thank's
Aku suka, Sist!
Nampak sekal betapa cintanya dirimu pada kemudian.com :)
plok,plok,plok.. welcome home :)
hehhehehe, ini cinta kita semua kan?? ;))
pasti belom ngikuti training utk unjuk gigi nih he he
yaah, begitulah
aku malah baru tahu kalau ada trainingnya. sepertinya aku memang sudah banyak tertinggal tentang k.com :D
iya nih, ajarin dunk gimana nulis yang nggak berantakan??? baru belajar buat cerpen neh..
merasa cerita simbolisasi k.com,
"Dia bilang pada teman-temannya akan tetap bertegur sapa dengan mereka. Bukan di rumah itu melainkan di kamar pribadi mereka di rumah yang lain yang lebih mudah dijangkau. Dan hanya sesekali dia bisa berkunjung ke rumah mereka."
klo kamar pribadinya ituuu... kamar YM ya?
hehehhehehe...