Read more (1819 words)
Setahuku, sudah tidak ada lagi ayam jantan di kampung ini dan kampung-kampung lainnya yang berdekatan. Seminggu yang lalu semua ayam telah dibakar habis di sebuah lubang yang dibuat jauh dari rumah-rumah penduduk gara-gara positif terjangkit flu burung. Orang-orang tidak lagi berani memelihara ayam. Orang-orang tidak mau ambil resiko penyakit itu akan menjangkiti penduduk-penduduk desa. Tetapi, tengah malam tadi menjelang dini hari, aku mendengar suara kokok ayam jantan yang berkokok sendirian. Suara kokok ayam jantan itu terus terdengar hingga subuh tiba.
Pagi harinya aku mulai menanyai orang-orang di sekitar rumahku apakah mereka juga mendengar suara kokok ayam itu. Pak Karmin, tetangga sebelah rumah membenarkan apa yang aku dengar. Ia juga merasa heran. Pak Pardi mengaku tidak mendengar apa-apa, ia tertidur lelap semalam, sedang Mas Mudji, mengaku hanya mendengarnya samar-samar. Kami menjadi heran sekaligus khawatir. Suara itu yang pertama kalinya terdengar dalam sebulan semenjak pembakaran. Kami berempat akhirnya mendatangi Pak Karjo selaku ketua dan tetua kampung untuk menanyakan tentang suara kokok ayam itu. Anehnya, Pak Karjo juga mendengarnya, bahkan, orang-orang yang berdatangan setelah kami pun meresahkan hal yang sama. Mereka khawatir masih tersisa ayam di kampung yang dikhawatirkan terjangkit flu burung.
Pak Karjo mulai mengumpulkan orang-orang yang dulunya mempunyai peliharaan ayam untuk dimintai tanya apakah masih ada ayam yang luput dari pembakaran. Semuanya geleng-geleng kepala. Lalu, masing-masing berencana pada malam harinya akan benar-benar memasang telinga untuk mengetahui keberadaan ayam jantan yang berkokok di tengah malam itu.
Kampungku cukup jauh dari pusat kota. Kabar tentang flu burung datang beberapa minggu setelah banyak ayam peliharaan warga kampung yang mendadak mati tanpa diketahui sebab musababnya. Mulanya warga kampung menyangkanya sebagai penyakit ayam biasa saja. Setelah datang pentugas penyuluhan dari kecamatan, dan diadakan serangkaian tes, diketahui positif bahwa sebabnya adalah penyakit flu burung. Tidak diketahui wabah itu mulai menular dari mana. Saat itu juga pemeriksaan kepada ayam-ayam lain dilakukan. Hasilnya, semua ayam di kampung kami dikhawatirkan terkena wabah itu. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti menular ke manusia, semua ayam terpaksa dieksekusi.
Malam-malam hari setelah eksekusi dilakukan, tidak ada satu pun suara kokok ayam di dini hari menjelang fajar. Suasana berubah menjadi hening. Suara-suara jangkrik dan serangga malam menjadi lebih keras terdengar. Jika biasanya orang-orang dibangunkan oleh suara kokok ayam jantan untuk bersiap bangun melakukan ibadah sholat subuh, maka sejak itu, orang dikagetkan oleh suara adzan yang begitu tiba-tiba memecah kesunyian dari speaker masjid.
”Mungkin saja itu suara ayam jadi-jadian, jelmaan malaikat jibril,” celetuk salah seorang warga di sebuah obrolan sore di warung kopi dekat rumah. Aku kebetulan ada di sana.
”Huss! Ngawur kamu. Moso’ malaikat jibril menyamar jadi ayam. Ndak lucu.” Salah seorang yang lain menimpali.
”Lho, bisa saja, Mas. Pak Kyai pernah ngomong sama saya kalau semenjak tidak ada satu pun kokok ayam di kampung kita, jamaah sholat subuh semakin berkurang. Ayam itu jelmaan malaikat Jibril, mas. Saya yakin itu.”
”Apapun itu, nanti malam kita buktikan. Apa benar ayam yang semalam kita dengar kokoknya itu ayam jadi-jadian atau ayam beneran.” Semuanya mengangguk mengiyakan.
Sambil melangkah pulang ke rumah, aku memikirkan pembicaraan orang-orang itu. Aku tidak ingin mempercayai kalau suara kokok ayam yang aku dengar semalam adalah suara ayam jelmaan malaikat Jibril. Tetapi aku juga tidak mau menyangkalnya. Memang masuk akal juga. Aku sendiri merasakan kalau ketiadaan suara kokok ayam menjelang fajar membuatku bangun kesiangan hingga tidak bisa ikut berjamaah sholat subuh di masjid. Bahkan, terkadang untuk beribadah sendiri di rumah pun aku kesiangan.
Malamnya, orang-orang lebih memilih untuk begadang dan menunggu di pos ronda dari pada menunggu di rumah masing-masing. Pos ronda yang biasanya sepi kini ramai oleh orang-orang yang ingin tahu dan mendengar sendiri suara kokok ayam yang dipermasalahkan. Obrolan-obrolan pun mengalir, dari yang ringan dan akrab, seperti anak siapa yang tengah mendekati anak siapa di kampung sampai yang berat dan serius seperti berapa besar kerugian yang diderita karena flu burung, pengaduan kekesalan kepada aparat desa dan pemerintah yang lambat menangani wabah flu burung di kampung dan perkiraan-perkiraan tentang siapa saja warga kampung yang dikhawatirkan telah terjangkit penyakit itu.
”Ibu saya dari kemarin batuk-batuk, sesak nafas dan muncul keringat dingin. Saya khawatir ia sudah terkena flu burung,” kata salah seorang.
”Wah, gawat itu, Mas. Harus segera diperiksakan ke dokter.”
”Tetangga saya mendadak bersin-bersin dan demam. Sudah seminggu belum sembuh juga.” Salah seorang yang lain berkata.
”Pantas saja tidak sembuh-sembuh. Lha wong tiap malam juga narik becak kena angin. Masuk angin itu, Kang, bukan Flu burung. Dikerok saja, pasti cepet sembuh,” timpal yang lain.
Malam semakin larut. Beberapa orang terlihat sudah tak kuasa menahan kantuk. Salah seorang sengaja membawa sekantong kopi bubuk dan gula untuk diseduh bersama-sama. Seseorang yang lain membawa singkong rebus dan gorengan sekedar untuk camilan. Pak Karjo kepala kampung tampak tenang mengambil sepotong singkong rebus dan memasukkannya ke mulut. Pak Karmin tampak tengah mengaduk segelas kopi hitam. Aku duduk berdekatan dengan Mas Mudji yang tengah mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dan segera menyelipkannya di mulutnya untuk disulut dan diisap. Ia menawarkan sebatang rokok kepadaku, yang segera saja aku sambut untuk sedikit mengusir hawa dingin.
”Bagaimana, pak, kalau seandainya ayam yang berkokok semalam benar-benar ada dan kita temukan. Apa akan langsung dibakar saja?” tanyaku kepada Pak Karjo.
”Aku sudah berpikir, kalau ayam itu bisa kita tangkap, jangan di bakar dulu. Kita bawa saja dulu ke balai kesehatan di kecamatan untuk dites, apakah positif terkena flu burung atau tidak. Jangan asal main bakar saja,” jawab Pak Karjo.
”Lho, pak. Bisa jadi justru ayam itulah yang membawa penyakit itu ke kampung kita ini. Tidak ada seorangpun di kampung kita yang merasa memiliki ayam itu, karena ayam-ayam mereka sudah dibakar semua. Mending langsung dibakar saja, pak,” jawab pak Pardi.
”Hus. Jangan. Kita tangkap dan besoknya kita tes saja dulu. Siapa tahu ayam itu sama sekali tidak terkena flu burung. Setelah itu kalau mau dibakar, ’kan bisa kita makan bareng-bareng,” timpal Pak Karjo bercanda. ”Bukan-bukan. Bukan itu maksudku.” Ia mulai terlihat serius. ”Maksudku, kalau ayam yang satu ini masih sehat dan tidak terjangkit flu burung, bisa kita jadikan pejantan untuk ayam-ayam lainnya nantinya. Kita beli ayam-ayam betina yang benar-benar sehat, terus kita kawinkan, agar di kampung kita ini ada peliharaan ayam lagi.”
”Betul. Ide bagus, Pak Karjo. Wah, kalau di kampung kita ini sama sekali tidak ada ayam, bakal gawat lebaran nanti. Tidak ada ayam yang bisa disembelih untuk opor.” Mas Mudji menyambung obrolan.
”Memang sebaiknya dites dulu, ya pak. Jangan asal bakar kaya kemarin. Kemarin itu saya rasa warga kita terlalu panik dan takut penyakit itu akan menular kepada manusia, jadi mereka asal bakar semuanya,” kataku.
”Betul, Pak. Karena kurang komunikasi dan informasi.” Mas Mudji menyambung perkataanku.
Malam semakin dingin. Pak Karjo melirik jam tangannya, sudah hampir pukul empat pagi. Di antara semua yang ada di pos ronda, belum satu pun yang mendengar suara kokok ayam yang ditunggu-tunggu. Tiba-tiba, tepat pukul empat pagi di arloji Pak Karjo, suara kokok ayam itu muncul. Semuanya sontak pasang telinga tajam dan mengira-kira darimana datangnya.
”Di sebelah sana, Pak, dekat rumpun bambu.” Pak Pardi berseru. Orang-orang bergegas ke arah rumpun bambu yang ditunjuk.
”Ssst.. diam dan jangan berisik,” bisik Pak Karjo. Orang-orang mengendap-endap di dekat rumpun bambu dan menunggu suara ayam itu terdengar lagi, memastikan bahwa ayam itu benar-benar ada di sana. Namun suara itu mendadak terdengar dari arah yang berlainan.
”Di sebelah sana, Pak, dekat rumah Pak Haji.” Mas Mudji berseru. Orang-orang bergegas ke arah rumah Pak Haji yang berjarak agak jauh dari rumpun bambu tempat mereka semula. Suara kokok ayam itu terdengar lagi saat orang-orang masih setengah jalan ke rumah Pak Haji.
Kembali mereka mengendap-endap. Menunggu ayam itu berkokok lagi. Hawa dingin dan gelap tidak mereka pedulikan. Namun ayam itu tidak bersuara lagi. Mereka hanya mendengar suara jangkerik yang mengerik lebih keras dari biasanya.
”Di sebelah sana, Pak, dekat masjid.” Tiba-tiba Pak Karmin berseru seiring suara ayam terdengar lagi. Kembali orang-orang bergegas menuju masjid. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Pak Kyai yang tengah berjalan menuju masjid juga. Pak Karjo pun menanyainya apakah ia mendengar suara kokok ayam dari dekat masjid. Pak Kyai hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kami bersama-sama menuju masjid dan duduk-duduk waspada di terasnya sambil menunggu suara kokok ayam itu terdengar lagi.
Hening. Hanya suara Pak Kyai mengaji lamat-lamat terdengar dari dalam masjid. Perlahan keheningan saat itu mulai pecah oleh sayup suara adzan yang aku tidak tahu terdengar dari masjid mana. Pelan dan merdu. Disusul dengan suara-suara adzan dari masjid-masjid lainnya. Dini hari itu menjadi semarak oleh suara adzan yang bersahutan. Yang paling keras tentu saja suara yang terdengar dari masjid tempat kami duduk di terasnya. Seusai adzan Pak Kyai mengampiri orang-orang dan mengajaknya untuk berjamaah subuh. Kami pun menurut.
Dilanda kantuk dan lelah yang sangat, satu persatu langsung pulang ke rumahnya masing-masing seusai sholat. Tentang ayam, tidak lagi dipedulikan. Masih ada hari berikutnya, mungkin pikir mereka.
Malam-malam berikutnya, kembali peristiwa pencarian itu berlanjut lagi. Tetapi selalu saja berakhir di halaman masjid tanpa diketahui darimana suara kokok ayam itu berasal. Asal suara itu selalu saja berpindah-pindah saat didekati. Kadang terdengar dari rumpun bambu, kadang terdengar dari arah kuburan, kadang terdengar dari sebelah warung kopi, kadang terdengar dari rumah pak Kyai. Dan yang lebih membuat penasaran lagi, hari-hari berikutnya, bermunculan anak-anak ayam tanpa diketahui di mana induknya berkeliaran di pekarangan-pekarang sekitar rumah dan di kebun-kebun. Semua warga hanya bisa geleng-geleng kepala saat ditanya siapa pemiliknya.
Beberapa warga menjadi panik. Namun Pak Karjo segera memerintahkan untuk menangkap anak-anak ayam itu untuk dites. Hasilnya ternyata anak-anak ayam itu bebas dari penyakit flu burung. Anak-anak ayam itu sangat sehat. Sejak itu, orang-orang mulai menangkapi anak-anak ayam liar itu untuk dipelihara. Sebagian orang menyangkutpautkan keberadaan anak-anak ayam itu dengan suara kokok ayam di dini hari menjelang fajar yang misterius.
Suara kokok ayam di dini hari menjelang fajar itu masih berlanjut hingga kini, tanpa diketahui ayam milik siapa sebenarnya yang berkokok itu. Setahuku, di kampung ini hanya ada anak-anak ayam yang masih belum bisa berkokok. Orang-orang tidak lagi mempermasalahkan suara kokok ayam itu., dari mana ia berasal, ayam milik siapa yang berkokok di tengah malam itu. Aku jadi teringat perkataan Pak Kyai sewaktu di teras masjid pagi itu saat mengajak kami untuk berjamaah subuh. ”Ah, lupakanlah. Mungkin saja itu suara malaikat.”
Ya. Dulu sewaktu masih banyak ayam jantan yang berkokok pun, tidak diketahui dengan pasti ayam milik siapa sebenarnya yang mulai berkokok saat dini hari menjelang fajar. Seperti halnya suara adzan subuh yang aku dengar waktu itu, tidak diketahui dengan pasti masjid mana yang mulai mengumandangkannya. Mungkin saja itu adalah suara-suara malaikat.***
jadi inget waktu sd, banyak cerita kayak gini di buku pelajaran bahasa indonesia hahaha.............
ho oh, di buku pelajaran jaman SD :yawn: pas masi tolol-tololnya. dah gitu kudu paham dan menghapalkan isi buku cetak lagih. capek deeeh :D
NB : mas di, mangap yak. maklum lah, emosiong jiwa neh =))
suka dengan cerita spiritualnya mas
menarik untuk di ikuti..jadi teringat
kalau sudah lama meninggalkan sholat hiks
thx sudah mengingatkan kembali
suka dengan cerita spiritualnya mas
menarik untuk di ikuti..jadi teringat
kalau sudah lama meninggalkan sholat hiks
thx sudah mengingatkan kembali
berbeda dengan panah hujan, yang mempermasalhkan judul, aku malah enggak peduli dengan judul tulisan. aku lebih peduli dengan isi tulisan (hahahahha, aku kok ngomongnya sok teubangeut yah..hahahahha).
ceritanya memang mengalir sih, cuma bagian akhirnya lemah menurutku (menurutku loh..) hehehehhehe
di balik semua kesokkritisanku, tentu saja aku selalu mengagumi Gurundaku ini, Bob :)
=)) jiaaah, gurunda :D
sejak kapan? :D ---> i) i) i) siul-siul aaah, biar gak diusir O:-)
Ceritanya mengalir, jadi aku tak terganggu dengan panjangnya. Lagipula aku suka dengan gaya bercerita surealis begini, santai dan ga ngejelimet. Kadang-kadang klimaks tak dibutuhkan dalam sebuah cerita. Hehe, sotoy deh aku. But it's fine for me.
Mas, saya lebih suka yang ini. Tapi kalimat akhir yang mengaitkan "tebak-tebak buah manggis itu suara ayam siapa" dengan tebak-tebakan masjid entah kenapa terasa tiba-tiba.
great. PEGASUS
uhm, terlalu panjang kali ya? but, overall si ok :) keep on writing yaa.
Sedikit kritis,
kupikir seharusnya judulnya bukan itu, Gurunda..
Bagaimana kalau diganti jadi? "Malaikat Ayam"? =))
Dari awal aku berniat penasaran dengan si ending, tapi kenapa ngga nemu-nemu klimaksnya? :D hehehe. seharusnya, endingnya ada sedikit kejutan, Gurunda...
cerpenmu yang ini simpel dan sederhana, tapi suasananya lucu . . . cukup mengimbangi kesederhanaan itu.. :P