Orang bilang, Sodrun gila. Setiap hari selepas bangun tidur sampai ia tidur lagi, pekerjaannya hanya menggambar peta. Setiap rumah, setiap jalan, setiap gang, setiap belokan, jalan tembus, jalan tikus semua digambar sedetil-detilnya. Tak puas dengan peta yang ia buat di kertas ukuran folio, ia pun menggambar ulang petanya dengan lebih rinci di kertas karton besar. Dua titik dalam peta yang selalu pertama kali ia tandai adalah rumahnya dan kuburan.
Read more (1477 words)
“Drun, sebenarnya kamu itu sedang menggambar peta apa tho, Nak?” Tanya mertuanya suatu ketika, miris melihat kelakuan menantunya yang aneh. Kelakuannya ini membuat istri dan kedua anaknya terlantar, tidak keurus.
“Ssst.. diam bune, aku jangan diganggu. Aku sedang membuat peta desa kita,” jawab Sodrun singkat.
“Lho. Kamu ini kurang kerjaan atau apa. Kalau kamu mau tahu peta desa kita, mbok ya lihat saja di balai desa, di sana kan sudah ada.” Ibunya membalas.
“Peta di balai desa kurang komplit, Bune. Kurang detil. Aku sedang menggambar peta yang sangat detil. Peta yang kelak akan berguna bagi seluruh warga desa.”
“Walah walah. Benar-benar kurang kerjaan kamu ini. Itu kan bukan tugasmu. Lha wong sudah ada petugas sensus dan aparat desa. Mbok ya mendingan kamu ngurus si Sri, istrimu itu dan anak-anakmu. Kalau kamu tidak kerja, mereka mau dikasih makan apa.”
“Lha ini, Bune. Aku kan sedang kerja.”
“Kerjaanmu itu apa ada yang mbayari?”
“Ndak ada, Bune,” jawab Sodrun sembari meringis tak bersalah.
“Oalah, Drun, Drun. Bener kata orang-orang. Kamu memang sudah gila. Sinting. Gendeng.
Sodrun tidak menggubris omongan mertuanya itu. Ia tetap melanjutnya pekerjaannya menggambar peta. Lama ia berpikir, ia merasa ada yang kurang lengkap dengan petanya. Ia tidak ingin peta yang dibuatnya melewatkan satu rumah pun, atau satu jalan pun, meski itu jalan sempit bahkan jalan tikus sekalipun. Maka di lain waktu, Sodrun keliling desa dengan peta yang telah digambarnya untuk dicocoknya dengan tempat yang sebenarnya. Jika ada jalan-jalan atau rumah-rumah yang terlewat dari pengamatannya, ia kembali menambahkan jalan atau rumah itu ke dalam petanya.
Sebenarnya, Sodrun hanyalah seorang laki-laki sederhana. Ia memiliki seorang istri yang bisa dibilang masih cantik meski telah melahirkan dua anak yang semuanya masih duduk di sekolah menengah pertama. Istrinya pun setia kepadanya, meski gajinya sebagai guru sekolah dasar terbilang pas-pasan. Ia tidak pernah merengek-rengek untuk minta dibelikan perhiasan atau pun perabotan-perabotan yang mahal. Ia tahu kondisi keuangan suaminya. Istrinya percaya, jika suaminya mempunyai uang lebih, pasti akan diberikan kepadanya untuk tambahan belanja atau untuk membeli perlengkapan rumah yang lain. Keuangan keluarganya juga disokong oleh penghasilan istrinya yang membuka warung rokok kecil-kecilan di depan rumahnya. Tidak pernah terlihat dan terdengar keributan di rumah tangganya. Keluarga Sodrun adalah tipikal keluarga sederhana yang bahagia.
Namun entah, sejak Sodrun mulai mengerjakan kebiasaan barunya menggambar peta, semuanya berubah. Ia tidak lagi berangkat ke sekolah untuk mengajar. Istri dan kedua anaknya memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya. Sodrun benar-benar ditinggalkan sendirian di rumahnya. Meski demikian, ia tidak pernah merasa kesepian. Jika ia jenuh dengan peta desa yang sedang dikerjakannya, ia berjalan-jalan keliling desa untuk melakukan pengamatan kembali, melihat perubahan-perubahan yang telah terjadi di desanya.
Tempat-tempat yang selalu ia kunjungi dalam perjalanan keliling desanya adalah masjid dan sekolah tempatnya mengajar. Kebetulan letak rumahnya dengan masjid tidak begitu jauh, hanya terpaut beberapa rumah. Sedangkan sekolah, letaknya agak jauh, ia harus menyeberang jalan besar dan masuk ke sebuah gang, kemudian berbelok di sebuah jalan kecil. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, setiap kali melewati masjid, ia selalu ingin berlama-lama di dalamnya. Kadang ia tertidur sampai sore dan dibangunkan oleh adzan maghrib, kadang ia hanya berkeliling begitu saja, melihat-lihat jendela masjid, memeriksa kran air tempat wudhu, membersihkan karpet dan mengepel lantainya. Orang-orang yang melihatnya tidak berani untuk menegurnya.
Kepala sekolah, setelah mengetahui Sodrun beberapa minggu tidak masuk mengajar, menjenguk Sodrun di rumahnya, mengira ia tengah sakit. Sodrun menemui atasannya itu dan terjadilah obrolan panjang. Dari obrolan itu, kepala sekolah menyimpulkan bahwa Sodrun tidak gila. Mungkin ia hanya stress saja, butuh istirahat, begitu pikirnya. Di saat kepala sekolah hendak pamit pulang, Sodrun berpesan kepadanya bahwa ia titip murid-muridnya, ia tidak akan mengajar lagi, karena ia sedang membuat peta. Peta yang suatu saat dapat digunakan oleh murid-muridnya. Kepala sekolah mengiyakan saja, ia tidak ingin menambah permasalahan.
“Bagaimana, Drun, petanya sudah selesai?” tanya tetangganya menyindir suatu ketika.
“Belum, Kang. Sedikit lagi. Ada sebagian jalan tembus yang belum saya gambar,” jawab Sodrun enteng.
“Rumahku sudah kau kau gambar belum?” Tanya tetangganya lagi.
“Sudah. Masa aku akan melupakan rumah tetanggaku sendiri. Ya, ndak tho,” balas Sodrun.
“Ya sudah. Aku ke pasar dulu, ya.”
“Ya, Kang. Hati-hati, jangan dulu lewat kuburan.” Sodrun berpesan. Tetangganya hanya menggeleng-geleng. Ia tidak tahu maksud pesan Sodrun. Mana mungkin ia akan lewat kuburan, pasar letaknya berlawanan arah dengan kuburan dari rumahnya.
“Drun, kamu itu mbok ya sadar tho, nak. Istrimu itu kasihan. Setiap malam kerjaannya nangis terus mikirin kamu. Kamu itu kesambet setan dari mana tho, Drun?” Mertuanya kembali mengingatkan.
“Sabar, Bune. Sebentar lagi peta yang saya buat juga selesai. Saya tinggal mencocokkannya dengan tempat-tempat yang sebenarnya. Suruh Sri untuk bersabar,” jawab Sodrun enteng, sambil menghapus sebuah garis di petanya dan menggantinya dengan garis baru.
“Sabar gimana lagi, Drun. Istrimu itu kurang sabar gimana, Karena kelakuanmu itu istrimu harus membiayai sendiri sekolah anak-anakmu. Anak-anakmu itu juga kurang sabar gimana, mereka selalu diolok-olok oleh teman-temannya kalau punya bapak orang gila.” Kata mertuanya lagi.
“Gila? Aku tidak gila, Bune. Justru mereka yang mengira aku gila itu yang sebenarnya gila.” Sodrun bersikeras dengan pendiriannya.
Mertua dan orang tua Sodrun yang sudah tidak sabar melihat kelakuan Sodrun akhirnya membawanya ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa. Di rumah sakit jiwa, Sodrun diinapkan beberapa hari. Setelah dokter rumah sakit jiwa tidak menemukan indikasi kegilaan lagi dalam diri Sodrun, ia pun dipulangkan. Dokter hanya berpesan kepada mertua dan orang tuanya agar Sodrun dibiarkan istirahat, tidak boleh bekerja dan mikir yang berat-berat.
Pesan dokter dilaksanakan oleh mertua dan orang tuanya. Mereka menyuruh Sri untuk kembali serumah dengan Sodrun dan melayaninya seperti sediakala. Sodrun pun menunjukkan gejala-gejala bahwa ia telah lupa dengan pekerjaannya menggambar peta. Ia tampak seperti sediakala, meski masih sering duduk-duduk melamun sendirian di teras rumahnya.
Suatu ketika, tetangganya mengajaknya untuk ikut pengajian di masjid. Sodrun mengiyakan. Istrinya tersenyum bahagia melihat Sodrun berjalan berdua dengan tetangganya itu ke masjid. Ia berpikir suaminya telah sepenuhnya waras dan sudah bisa berkomunikasi lagi dengan orang-orang. Namun alangkah kagetnya istrinya, sepulang dari pengajian, Sodrun kembali teringat akan peta yang pernah digambarnya. Ia menanyakannya kepada Sri. Sri yang telah membuang semua peta yang pernah dikerjakan Sodrun saat ia tengah di rumah sakit jiwa, mendadak kembali dilanda ketakutan. Ia takut suaminya itu akan mengamuk jika dia tahu ia telah membuang semua petanya.
Apa yang ditakutkan Sri terjadi. Sodrun menggeledah seisi rumahnya untuk mencari petanya. Ia berpikir istrinya pasti sengaja menyembunyikannya entah di mana. Pakaian-pakaian di lemari berhamburan keluar. Piring gelas berjatuhan dan pecah. Semua tempat diperiksa. Laci-laci, kolong-kolong, langit-langit, rak-rak, dapur, bawah kasur, semua tak luput dari pencariannya, namun dia tidak menemukan barang selembar pun. Sri yang kembali kena marah dan amukan suaminya itu menghambur dengan kedua anaknya ke rumah orang tuanya. Sejak saat itu Sodrun benar-benar telah gila. Ia hanya mengurung dirinya di rumahnya untuk menggambar ulang petanya.
Penasaran dengan apa yang didengar Sodrun di pengajian sehingga dia kembali teringat dengan petanya, istrinya menanyakan kepada tetangganya. Tetangganya menjawab bahwa di pengajian, pak Kyai membahas tentang kematian. Sejauh-jauh perjalanan manusia, kematian juga lah ujungnya. Hidup adalah untuk mencari jalan terpanjang menuju kematian.
Beberapa minggu setelah Sodrun dianggap benar-benar gila, dia ditemukan di rumahnya sudah tidak bernyawa. Di tangannya, sebuah gulungan kertas kartos yang berisi gambar peta desa yang sangat detil. Rumah-rumah, jalan-jalan, gang-gang, jalan-jalan tembus dan tempat-tempat yang lain tergambar dengan lengkap. Anehnya, orang-orang yang menemukan jasadnya lebih tertarik untuk menunjuk-nunjuk lokasi rumah-rumah mereka sendiri dalam peta itu daripada segera memindahkan jasad Sodrun yang telah membujur kaku.
Masalah kembali muncul saat jasad Sodrun hendak dikebumikan. Rupanya, sebelum kematiannya Sodrun pernah menulis surat wasiat agar iring-iringan jenazahnya melewati jalur yang telah dibuatnya dalam petanya. Jika surat wasiat itu ditulis pada saat Sodrun tengah gila, mungkin tidak akan menjadi urusan. Surat wasiat itu ditulisnya beberapa hari sebelum Sodrun mulai menggambar peta untuk pertama kalinya.
Benar saja, Sodrun telah menandai sebuah jalur dari rumahnya ke kuburan dalam petanya. Jalur itu melingkar-lingkar dan berbelok-belok melewati banyak tempat: masjid, sekolah, pasar, terminal, lapangan bola, sawah-sawah, sungai dan berakhir di kuburan. Jalur itu juga melewati banyak jalan kecil dan jalan-jalan tembus. Jalur itu adalah jalur terpanjang dari rumah Sodrun ke kuburan.
Bisik-bisik terjadi. Perdebatan berlangsung. Para pengusung jenazah bersikeras tidak akan mengikuti jalur Sodrun. Mereka akan membuat jalur sendiri, jalur yang terdekat dari rumah Sodrun ke kuburan. Namun Sri, didasari oleh cintanya sebagai seorang istri, bersikeras agar wasiat Sodrun itu dilaksanakan, karena wasiat itu ditulis sebelum Sodrun menjadi gila. Tawar-menawar pun berlangsung.
Siang itu, iring-iringan jenazah Sodrun mulai berjalan dalam diam mengikuti jalur yang telah dibuat oleh Sodrun dalam petanya. Entah kapan jenazah itu akan sampai di kuburan.
mas di, sederhana dan (mending pakai kata sambung "dan" atau "atau" yah :-? ) menggigit...
secara UNJUK GIGI :D
ud ah, numpang liwad yak mas di i)
analogi yang bagus, perjalanan manusia menuju tempat terakhirnya sangat panjang, sepanjang perjalanan hidupnya sendiri. penuh liku, jalan besa yang mudah, jalan kecil yang sulit, entah pesan yang aku dapat ini salah atau benar, tapi ceirtamu benar-benar bagus. dari segi apapun, aku menyukainya.
wau.... great story!!
hidup hanya mencari jalan terpanjang menuju kematian ?
kalau aku sih, jalan terenak saja ya, meski pendek tak apalah hahahaha.............
kayanya ikut komen yg di atas semua sjlh hiks
bagus banget mas
Ga tw mw ngmg apa
ini jelas beda level..
"Entah kapan jenazah itu akan sampai di kuburan."
akhirnya emang menohok...hemm,
angkat tangan saudar saudara yeah...aku maskin favorit neh cerita..
begini kalo orang nyeleneh, labirin di kepala dijadiin peta. idenya dapat dari kepala nyeleneh juga kah? hehe
aku suka pengambilan settingnya, dunianya terasa sangat nyata. suka kegilaan Sodrun, apalagi endingnya.
waw bagus ya ide ceritanya....
tapi di tengah ketika banyak narasi yang diceritakan aku berharap ada lebih banyak adegan. misalnya saat sodrun marah dan ngamuk ke istrinya. kayaknya akan jauh lebih hidup kalo itu nggak sekedar diceritakan dengan kalimat-kalimat narasi tapi dengan adegan.
gitu deh :D hehe
salam UNJUK GIGI!
Intinya sama seperti komentar yang lain. Cuma masih bingung aja maksudnya Sodrun bikin jalur iringan untuk dirinya apa.
edun...
ceritana edun..
kereeeeen ^^
Aaah, kmatian mmg sesuatu yg pasti...
Mabuk bc cerpen nih! Ini cerita UNJUK GI2 kedlapan yg kbca. ( Jd kpn bkin cerita sendri y klo bc2 trus)
Slm knal
ha ha ha ha... idenya cemerlang, tak tertandingi. PEGASUS
wew, bagus ceritanya...... spechless:D
hahahahahaha..
awesome!
kau benar-benar Gurundaku :)