PRIMORDIALISME

Primordialisme adalah sebuah istilah yang menunjuk pada sikap kesukuan yang berlebihan. Terlalu membanggakan suku atau rasnya sehingga sering terkesan meremehkan suku atau ras lainnya. Contoh orang yang memiliki sikap seperti ini—malah bisa dikategorikan ‘mengidap’ primordialisme akut—adalah Adolf Hitler, dan sekarang dihadapanku adalah salah saorang pengidap lainnya.

Laki-laki itu duduk dihadapanku sambil mengumbar senyumnya, yang sebenarnya tidak manis, tapi cukup lucu—jika tidak mau dikategorikan imut. Untung senyumnya lucu, jika tidak, mungkin kepalan tanganku sudah mendarat di jidatnya. Alasannya sederhana, seperti yang barusan kukatakan, dia adalah salah seorang pengidap promordialisme. Sepanjang obrolan kami sore ini yang dia tanyakan dan yang dia nyatakan terlalu gamblang untuk diidentifikasikan sebagai pre chauvinisme, bagaimana tidak, pertanyaannya selalu menjurus ke arah yang sama.

“Gue selalu berpikir kalau orang Sunda itu di depan orang aja baik, tapi di belakang orangnya sikapnya berbeda.” Katanya sengaja tanpa memikirkan perasaanku sebagai orang sunda.

“Ah, nggak semua orang sunda begitu, kok!” Seruku, “sikap itu tidak ditentukan dari mana dia berasal, tapi itu tergantung pribadi masing-masing.” Kataku sambil menahan sebal.

“Iya, gue tahu, tapi rata-rata orang Sunda yang gue kenal gitu semua, contohnya Ibu kost gue. Terus, bener nggak kalau orang Sunda itu malas-malas? lihat aja Bapak kost gue, Cuma duduk-duduk aja di rumah nggak cari kerja, Cuma menggantungkan hidupnya sama duit kost-kostan.”

“Jangan berpikir terlalu sempit, nggak semua orang Sunda begitu. Itukan kebetulan saja orang-orang Sunda di sekitar kamu yang begitu, tapi di luar lebih beragam, banyak kok orang Sunda yang rajin.” Sebenarnya aku jengah dengan pembicaraan seperti ini. Entah apa maksud Tomi menghampiriku lalu mengajakku mengobrolkan masalah suku ini.

“Ah, dipikiran gue orang Sunda itu nggak baik semua.”

So what?! ini orang memang keterlaluan, kalau tak ingat bahwa dia teman baruku, mungkin sudah kuhajar dia. Tapi ya, lagi-lagi yang kutampakan padanya hanya senyuman. Sebenarnya senyum itu cara yang ampuh untuk mengakhiri pembicaraan yang menyebalkan tanpa harus menyakiti orang yang mengajak bicara.

“Lo orang Sunda, kan? Lo kayak gitu nggak?”

Mungkin senyuman bukan cara yang ampuh saat ini.

“Aku sih nggak berani menilai diri, biar orang saja yang menilai.” Aku benar-benar mengakhiri pembicaraan kami. Sebal juga rasanya mendengar penilaian buruk dari orang lain mengenai sesuatu yang menyangku dirimu—meski pun tidak langsung tertuju padaku—tapi membicarakan hal-hal yang berbau kesukuan sebaiknya dihindari.

Sepanjang perjalanan pulang, aku merenungi obrolan tadi. Jika ditilik kembali, rasa-rasanya apa yang diungkapkan Tomi memang ada benarnya, tapi toh aku masih tidak suka dengan sikapnya yang mengeneralisasi. Mentang-mentang dia dari suku perantau tidak berarti suku lain yang bukan perantau berkualitas lebih rendah. Yang rendah itu yang menilai berdasarkan sukunya, bukan pribadi, toh Tuhan pun menilai kita sendiri-sendiri, tidak secara komunal berdasarkan daerah asal apalagi suku.

Lamunanku terhenti saat sebuah sms masuk ke ponselku dan menimbulkan bunyi nyaring. Ugh, aku harus segera mengganti nada sms ini, telingaku sakit mendengarnya. Saat kubaca, aku langsung meringis ngeri. Mataku nanar membayangkan kembali kata-kata Tomi. Dia ada benarnya juga, ada lelaki sunda yang berpangku tangan dan lebih suka bermalas-malasan dari pada berusaha.

Sms yang kubaca, datang dari seniorku sewaktu SMA dulu. Dia meminta tolong padaku menghubungi temanku yang bekerja di radio. Dia butuh bantuan, berupa data-data, untuk tugas akhirnya. Aku mengernyitkan dahi, padahal tiga bulan yang lalu aku sudah mengirimkan nomor ponsel temanku padanya, kupikir dia sudah menghubunginya, setelah ku cek kembali, ternyata selama ini dia berleha-leha, hingga terancam Drop Out. Parah.

Dan aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Semoga dia orang Sunda terakhir yang suka berleha-leha.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Anu
Anu at PRIMORDIALISME (5 years 20 weeks ago)
20

halah

Writer takiyo_an-nabhani
takiyo_an-nabhani at PRIMORDIALISME (5 years 22 weeks ago)
80

Assalamu'alaikum.
Lingkungan bergaul sangat berpotensi untuk mempengaruhi karakter seseorang.

Writer cassle
cassle at PRIMORDIALISME (5 years 22 weeks ago)
70

hi kenary! Hmm.. dari judulnya, cukup menarik sih, tapi yang benar primordialisme atau primordial aja? karena menurutku ini bukan ke arah pahamnya, tapi ke arah personal yang berpikir demikian, atau bahkan lebih mengarah ke sifat.

Semua itu bukan permasalahan suku, tapi permasalahan dogma. Itu saja menurutku. :) Lagi pula, apa berhak kita menghakimi seseorang itu malas atau tidak? Bisa saja dia malas dan berleha-leha di suatu bidang tapi sedang rajin di bidang lain.. :)

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at PRIMORDIALISME (5 years 22 weeks ago)
80

Lha, bukannya orang betawi yang biasanya pemalas dan suka bersantai-santai, kaya raya karena menjual tanah Jakarta pada orang-orang perantau, akhirnya terbiasa hidup santai, namun saat tanah Jakarta habis dijual semua, mereka pun terpinggirkan. Saya juga sebagai orang betawi senangnya bersantai-santai daripada bersibuk-sibuk ria. Kalau duduk-duduk di rumah bisa dapet duit, ngapain kerja di kantor? hehehe. Tapi saya sebodo amat kalau ada orang yang menghina suku saya, toh saya ga pernah ada rasa fanatik. Tapi tokoh utama di cerita ini kayanya punya potensi untuk terkena primordialisme deh, melihat keadaan emosinya saat orang sunda disinggung-singgung.