Petualangan Pangsit Menuju Tanah Para Dewa

Alkisah pada masa lampau, hiduplah seorang pemuda malas bernama Pangsit. Pekerjaan sehari – harinya hanya tidur – tiduran di atas atap pendopo – pendopo atau rumah – rumah rakyat di kota kecil Wedang. Ia tak pernah mengikuti pengajaran di padepokan pencak silat seperti pemuda – pemuda lainnya. Tak jarang pula ia sering mencuri makanan di warung – warung atau kedai hanya untuk membuat onar, mengusir kebosanan. Oleh karena itu orang – orang memanggilnya Pangsit si Pembuat Onar.

Suatu hari saat ia bermalas – malasan di atas gapura, ia melihat seorang gadis cantik turun dari kereta kencana. Ia adalah Ayu Sekarningrum, putri dari Raden Jatiwangsana, seorang anggota keluarga ninggrat (bangsawan). Pangsit jatuh cinta padanya meski ia tahu terdapat larangan rakyat jelata mendekati kaum ninggrat apalagi memacarinya. Pemuda itu tak mau menyerah.

Berulang kali Pangsit mencoba mendekati gadis pujaan hatinya tetapi selalu kandas oleh para pengawal pribadi keluarga Jatiwangsana dan pamong – pamong keamanan. Pangsit tetap belum menyerah. Ia terus berusaha sampai akhirnya pada suatu kesempatan, ia berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar sang putri dan bertemu dengan sang pujaan hati.

Ayu Sekarningrum pun tertarik pada pribadi Pangsit sejak ia selalu dipingit oleh keluarganya. Sang putri senang mendengar cerita seru petualangan Pangsit sehari – hari meskipun cerita itu dilebih – lebihkan. Ayu sedih ketika malam semakin larut dan pemuda itu harus meninggalkannya sebelum pengawal pribadinya datang ke kamar. Walaupun begitu Pangsit selalu datang pada malam – malam berikutnya sesuai dengan waktu aman yang diberitahukan sang putri.

Tanpa sepengetahuan Pangsit, ayah Ayu Sekarningrum ternyata mengetahui tentang adanya penyusup yang setiap malam menemui putrinya. Beberapa malam kemudian, Jatiwangsana memperketat penjagaan malam dan menutup semua kisi – kisi puri. Ayu Sekarningrum dikurung dalam kamarnya tanpa boleh keluar sama sekali dari puri. Hal ini membuat Pangsit sedih dan marah. Ia pun memberanikan diri datang menghadap sang ayahanda Raden Jatiwangsana. Ia mengultimatum pemuda itu agar tidak sekalipun menemui putrinya lagi dan tidak boleh sekalipun menginjak purinya lagi. Pangsit akhirnya pulang dengan rasa kecewa yang mendalam.

Beberapa hari berikutnya Ayu menderita demam. Menurut tabib, ia terjangkit penyakit misterius yang sama dengan yang dialami mendiang ibunya dan penyakit itu hanya dapat disembuhkan oleh serbuk bunga Kesuma. Sang ayah sedih dan bingung. Ia tidak tahu ke mana harus mencari bunga itu. Kekaluttannya semakin mendalam ketika putrinya terus memanggil nama Pangsit. Tak kuasa menahan iba, akhirnya beliau memanggil pemuda itu untuk menghadapnya.

Di hadapan pangsit, sang ninggrat mengatakan kondisi kesehatan putrinya. Ia menawarkan tantangan kepada pemuda itu untuk membawakan setangkai bunga Kesuma pada Ayu dengan iming – iming izin untuk menemuinya lagi. Tanpa pikir panjang, Pangsit menerima tawaran itu meski tidak tahu kemana ia mencarinya. Untuk itu, ia bersemedi di gua Pawon selama tiga hari tiga malam untuk mencari ilham.

Pada malam ketiga, Dewa memberikan wangsit pada Pangsit. Ia mendapat titah dari sang dewa untuk mencari bunga tersebut di Tatar Parahyangan (Tanah Para Dewa) yang ada di puncak gunung Sunda. Sang Dewa juga memperingatkan bahwa perjalanan itu tak mudah. Untuk mencapai Tanah Para Dewa, ia harus melewati tiga rintangan. Rintangan pertama ia harus melawan arus deras sungai Citarum untuk melewati Sanghyang Tikoro (Tenggorokan Dewa). Rintangan kedua adalah menyebrangi Danau Bandung, sebuah danau luas yang dihuni oleh makhluk buas yang mengerikan. Kemudian rintangan terakhir adalah melewati hutan Pandagoan di kaki gunung Sunda yang barang siapa yang sudah masuk tak akan bisa keluar lagi. Pangsit tetap akan pergi karena tekadnya telah teguh.
***

Keesokan harinya, Pangsit memulai perjalanannya seorang diri. Tak ada yang mengantar kepergiannya karena selain sebatang kara, ia dibenci masyarakat karena kegemarannya membuat onar. Dengan membawa bekal seadanya dan sebilah bedog (parang) peninggalan mendiang ayahnya, ia berjalan menyusuri lembah Cikalong menuju padang kapur (karst) Padalarang. Padang itulah yang merupakan pesisir sungai Citarum yang terdekat dengan Sanghyang Tikoro.

Padang kapur Padalarang adalah sebuah padang gersang yang dipenuhi oleh banyak batu gamping dan bukit – bukit kapur. Di sana terdapat telaga Ciburuy yang menjadi oase bagi para pengelana dan pedagang yang melintas dari Galuh menuju Pakuan. Namun saat Pangsit tiba di sana, telaga itu sepi. Para penduduk setempat pun terlihat ketakutan dan enggan beranjak keluar rumah mereka. Itu karena ancaman seekor harimau yang akhir – akhir ini menyatroni mereka. Kabar ini membuat Pangsit meningkatkan kewaspadaannya.

Benar saja, tatkala Pangsit mendekati pesisir sungai Citarum, seekor harimau putih menghadangnya. Pertarungan sengitpun tak terelakan ketika sang harimau menyerangnya. Pangsit yang belum memiliki kesaktian apapun dibuat kewalahan olehnya. Yang dapat ia lakukan adalah berlari menghindari serangan – serangan sang buas.

Pangsit semakin terdesak. Sesaat nyawanya diujung tanduk, parang peninggalan sang ayah tiba – tiba bereaksi. Seperti merasukan suatu arwah ksatria, sang parang mengambil alih tubuh pemuda itu. Pertarungan semakin sengit, pangsit melakukan serangan balik. Mereka saling menyerang, menangkis dan menghindar bagai dua badai yang saling beradu, membelah udara, menggetarkan bumi.

Pertarungan mencapai klimaksnya. Harimau yang menerima banyak luka kini kewalahan. Sang buas pun jatuh tersungkur. Tubuhnya telah mencapai batas ketahanannya. Ketika pangsit akan melancarkan serangan terakhir, seorang lelaki tegap dan kekar menahannya. Dengan kekuatannya yang mencengangkan ia mampu menahan dan menangkis parang Pangsit hingga ia jatuh terjerembab hanya dengan sebuah kujang (belati) emas miliknya. Ia meminta pemuda itu untuk tidak membunuh harimau itu sebab ia adalah peliharaannya yang lepas. Lelaki itu berterima kasih pada Pangsit yang telah menghentikan amukan sang harimau. Saat pemuda itu menanyakan siapa dirinya, lelaki itu menjawab dirinya bernama Manggala Siliwangi, seorang keturunan raja Pakuan dan pawang binatang buas (beastmaster).

Manggala memanggil para pengawalnya untuk memasukkan sang harimau ke dalam kerangkeng dan memulangkan kembali ke sangkarnya di Pakuan. Ia kemudian menghampiri Pangsit yang telah kembali pada dirinya semula dan menanyakan ke mana tujuannya. Saat pemuda itu mengatakan keinginannya untuk pergi ke Tatar Parahyangan, lelaki kekar itu menentang keras. Ia mengatakan Pangsit dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan berbahaya itu. Ia akan membunuh dirinya sendiri.

Pangsit berang. Ia bersikeras untuk tetap melakukan perjalanan tetapi lelaki itu tetap tak memperbolehkannya. Keras kepala, Pangsit menyerang Manggala dan tentu saja serangannya dapat dipatahkan dengan mudah. Pangsit pun terkapar, lelaki itu memandangnya dengan jijik. Setelah menyuruhnya pulang sambil mencemooh, ia pun berlalu bersama rombongannya meninggalkan Pangsit yang berbaring tak berdaya di tanah kapur. Pemuda itu kesal dan marah terhadap dirinya sendiri yang ternyata menyedihkan. Terlintas dalam pikirannya untuk menarik kembali tekadnya kemudian pulang menanggung malu.

[. . . .apakah Pangsit akan melanjutkan perjalanannya? Atau pulang kembali ke Wedang tanpa bisa memenuhi keinginan ayah Ayu Sekarwangi?]

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Sama kayak Alfare, nyaris kupikir ini cerita benar adanya, alias legenda di masyarakat.

Ceritanya memang berlatar zaman "Majapahit", nama tokohnya juga khas "Jawa Kerajaan". Tapi, gaya tuturannya adalah sastra modern.

Hanya satu yang bikin aku agak sedikit merasa gimanaaa, gituh. Tidak ada dialognya^^

100

he he he

70

..opini pribadiku kalo nama pangsit kayaknya aneh deh ' gak mak nyusss he he he .. and kenapa harus pake strip' di beberapa kalimat' jadi kagok. Di tunggu lanjutan ceritanya yah

90

Aneh. Aku sudah mengomentari cerita ini kan?
Sekali lagi, kalau bukan kamu sendiri yang mengatakannya, aku pasti udah menyangka ini dongeng lokal yang benar-benar ada.

100

baiklah...aku tunggu lanjutannya...

VQ, kenapa yah si tanda strip (-) selalu diiringi spasi? mengganggu, ah. dan memang tidak seharusnya begitu.

tapi saya senang bisa menemukan fantasi yang lokal hehehe... saya bete baca fantasi-fantasi yang sok mengekor Lotr, Eragon, dll.

(btw, ini miss worm :p)

80

jadi inget dongeng2 zaman dulu. :)
ceritanya asik,udah ngalir, khas dongeng banget.
ditunggu lanjutannya...

80

.... baru mw nanya knp namanya pangsit...
wkwkwkwkwkwkwk =))
aduh2..
selalu,, ceritanya baguuus ^^
dongeng2 asik khas vq
ngalir, dan namingnya juga dapet banget walaupun kebanting sama pangsit..
(ternyata pas makan mie ayam *ktawa)

plis, jangan tanya kenapa namanya pangsit soalnya aku lagi makan mie ayam waktu nulis ini