Resensi Prosa "Cerita Pendek Tentang Sepasang Mata"

Oleh Ika Natassa

Cerita Pendek Tentang Sepasang Mata oleh Dadun

Buat saya, sebuah tulisan - apakah itu buku, cerita pendek, puisi, atau artikel – merupakan jendela yang membawa kita ke dunia privat milik si penulis. Di tingkat yang lebih tinggi lagi, sebuah tulisan merupakan penggambaran parallel universe yang membawa kita masuk ke dalam setiap sense yang dialami oleh sang karakter. The sense itself doesn’t have to make sense to the readers, karena membaca dengan sepenuh hati berarti membebaskan pikiran kita dan membiarkan diri kita masuk ke dalam dunia sang karakter tanpa pretensi apapun. Karena itulah seorang penulis seperti Chuck Palahniuk1 mampu mengobrak abrik logika dan toleransi perasaan yang dimiliki pembacanya, atau penulis seperti Daniel Keyes2 berhasil meletakkan kaki saya di sepatu seorang intellectually challenged yang harus mempersepsikan dunia sekelilingnya menjadi sesuatu yang baru saat kecerdasannya tiba-tiba meningkat. Dan karena itulah pula, saya personally lebih menggemari cerita dengan first point of view.

Di antara tiga karya yang ditawarkan kepada saya untuk mereview, pilihan saya jatuh kepada Cerita Pendek Tentang Sepasang Mata, sebuah cerita yang mengutilisasi first of point of view secara cukup efektif. Pemilihan kata yang brilian (frasa “beludak adrenalin” atau “pelabuhan ekspedisi visual”), pembangunan mood yang terjaga sejak awal, hingga detail-detail kecil yang semakin menenggelamkan pembacanya pada raung yang tengah didiami oleh sang karakter. Namun demikian di sisi lain, saya tidak antusias dengan adanya beberapa pengulangan pendeskripsian yang menurut saya terlalu sering untuk sebuah cerita pendek, seperti penekanan faktor rupiah sebagai penghambat potensial dalam situasi yang digambarkan oleh penulis.

Untuk seorang aspiring writer, cerita ini sedikit banyak telah berhasil menggelitik emosi pembacanya, dan membuat saya ikut tertegun saat membaca kalimat terakhir yang menjadi kalimat favorit saya: “saya akan berpura-pura menutup mata dari kenyataan bahwa hanya dalam beberapa menit saja, saya telah patah hati.”

=======================================

Ika Natassa, seorang business banker, lahir di Medan dan memulai karirnya dengan menjalani apprenticeship di Department of Primary Industry di Darwin dan ACTEW Corporation Limited di Canberra, sebelum akhirnya berprofesi sebagai commercial banking relationship manager di salah satu bank terbesar di Indonesia hingga saat ini.

Sejak dulu selalu ingin mencoba hal baru, mulai dari melukis untuk sebuah restoran bisbol saat ia masih bersekolah di Stanton High School di Amerika Serikat, bushwalking mengelilingi Ayers Rock, mengambil sampel darah sapi hidup di Darwin, sampai mengajar anak-anak di pedalaman Kalimantan.

Setelah beberapa kali menulis tentang leadership dan banking services untuk banknya, finalis Cosmopolitan Fun Fearless Female 2004 ini juga pernah menulis artikel tentang finance dan golf di majalah lifestyle Soap, meraih Top 6 Most Popular Blog in Indonesia versi Blog Awards 2006, dan kini telah menerbitkan dua novel yang diterbitkan oleh GPU; A Very Yuppy Wedding dan Divortiare.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

ingin sekali menjadi seorang penulis

90

hum... singkat padat sekali resensinya. sesingkatpadat cerpennya. kurang puas!!!!! hahahaha... but, wew... Ika Natassa... A Very Yuppy Wedding.... sama satu lagi judul novelnya yang... er....apa ya judulnya... sulit diingat... oh, itu dia ada diatas DIVORTIARE
wah... terimakasih banyak terimakasih banyak....

sukaaaa :)

:)