Resensi Prosa 'Bermimpi dan Terjaga'

Oleh Andya Primanda

Bermimpi dan Terjaga oleh someonefromthesky

Singkat tapi lucu. Ringan tapi dalam. Sudahkah Anda selesai bermimpi? Apakah kita hidup dalam dunia nyata atau ilusi? 'Bermimpi' bermain-main sudut pandang, dari manusia ke kucing ke entah sosok berkesadaran apa lagi. Dalam filosofi ada gagasan solipsisme yang menyatakan bahwa satu-satunya hal yang bisa diketahui pasti keberadaannya adalah akalbudi diri sendiri. Bisa saja segala hal di luar kita, seluruh dunia, seluruh benda, semua orang di sekitar kita, bahkan persepsi kita akan wujud kita sendiri hanyalah ilusi ciptaan akalbudi kita. Mungkin penulis 'Bermimpi' terinspirasi gagasan solipsisme ketika menulis... di dalam 'Bermimpi' tokoh utama bahkan sempat mati dalam mimpi, namun hidup kembali ketika sadar bahwa dia hanya bermimpi. Ataukah dia masih bermimpi? Dalam solipsisme, tidak ada yang bisa dipastikan kebenarannya selain keberadaan akalbudi diri sendiri.

Mari kita andaikan solipsisme memang berlaku di dunia kita. Apa yang terjadi? Seluruh hidup Anda adalah mimpi. Cerpen 'Bermimpi', resensi saya, acara yang membuat saya meresensi cerpen tersebut, semuanya hanya mimpi. Lebih jauh lagi, Anda sebenarnya tidak sedang membaca huruf-huruf di layar monitor. Monitor Anda tidak benar-benar ada di depan Anda. Anda bukan sedang duduk menghadapinya. Anda sebenarnya sedang tidur bermimpi melihat resensi monitor. Mari kita tarik lebih jauh lagi. Anda punya pekerjaan atau rumah? Sebenarnya Anda cuma bermimpi punya pekerjaan atau rumah. Anda punya pasangan yang sangat Anda sayangi? Ah, dalam solipsisme, apa bedanya dia dengan artis terkenal yang menjadi obsesi penggemarnya. Anda merasa Anda mencintai dia dan dia mencintai Anda, padahal itu hanya impian belaka. Anda punya pegangan hidup, suatu hal yang Anda anggap kebenaran mutlak, suatu sosok yang Anda puja? Pernahkah terpikir bahwa semua itu hanya ilusi belaka? Bahwa hal-hal yang Anda anggap kebenaran mutlak ternyata bohong belaka?

Itulah solipsisme, yang disampaikan secara tak langsung lewat 'Bermimpi'. Gagasan yang sungguh mengerikan andai ia memang benar terjadi. Bisa runtuh dan jungkir-balik tatanan dunia kita dibuatnya.

Bagaimana? Sudahkah Anda bangun? Masih percayakah Anda bahwa Anda benar-benar manusia? Ataukah kita sama seperti Niko dan Cipu yang akhirnya tidak yakin mereka itu benar-benar kucing? Selamat menikmati kebingungan :)

8/10

==================

Lahir di Jakarta tahun 1981. Sekarang bekerja sebagai staf redaksi di penerbit Kepustakaan Populer Gramedia walaupun sempat kuliah biologi dua kali. Jalan masuknya ke dunia penerbitan adalah sebagai penerjemah buku-buku sains. Masih lebih senang dianggap penerjemah daripada editor; sampai sekarang namanya belum pernah ada di sampul buku, walau sudah sering ada di halaman kolofon. Percaya bahwa dosa terbesar penerjemah adalah mengubah makna apa yang diterjemahkannya. Juga percaya bahwa yang paling penting dalam tulisan, apapun, adalah kejernihan makna; sisanya cuma embel-embel.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ndyw
ndyw at Resensi Prosa 'Bermimpi dan Terjaga' (5 years 27 weeks ago)

duh katanya kemaren nikah ya?
selamad ya
hehehe

ndyw wrote:
duh katanya kemaren nikah ya?
selamad ya
hehehe

neng asep ;) hauhauhau,,, iraha-iraha abdi amengan ah ka andir :D

Writer Onik
Onik at Resensi Prosa 'Bermimpi dan Terjaga' (5 years 28 weeks ago)
100

maaf nih, kalo boleh minta tolong :)
bisa nggak mengomentari karya saya, yang berjudul:
eps 1: Beside The Door, episode: Problem with My Fiancee

eps. 2: Beside The Door, episode: The Guy Nextdoor

Ingin tahu layak atau tidak untuk saya kririmkan ke PH, di Trans TV, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih :)

80

wew... 8/10... itu rate dari peresensi lho, bukan dari seorang user k.com... ckckckckck

Sejujurnya saya merasa ada banyak kelemahan dalam cerpen saya ini, hanya saja saya sulit mendefinisikannya. Sayangnya peresensi tidak memberi masukan tentang hal tersebut. Entahlah, tapi saya sudah cukup senang.BTW ini kan salah satu cerpen dalam kumcer yang secara nekat pernah saya kirimkan ke Gramedia, dan ditolak. hehe. Itu artinya masih ada kelemahan kan?

someonefromthesky wrote:
Sejujurnya saya merasa ada banyak kelemahan dalam cerpen saya ini, hanya saja saya sulit mendefinisikannya. Sayangnya peresensi tidak memberi masukan tentang hal tersebut. Entahlah, tapi saya sudah cukup senang.BTW ini kan salah satu cerpen dalam kumcer yang secara nekat pernah saya kirimkan ke Gramedia, dan ditolak. hehe. Itu artinya masih ada kelemahan kan?

iya yah... baca resensinya malah... zzzzzzzzttttt.... hummmmm.... errrrrrr....
ujung2nya, selamat bingung weh... :D
mungkin ada maksud lain.entahlah, gak nyampe kali ya, saya.

80

Wah akhirnya cerpen saya ada yang diresensi... terima kasih banyak. :)

Soal 'solipsisme', sebenarnya baru sekarang ini saya membaca istilah itu, walau mungkin intisarinya udah lama ada dalam pikiran. Seperti yang dibilang oleh peresensi, cerita ini pada dasarnya tentang pemahaman (atau keraguan) terhadap realitas: jangan terlalu percaya terhadap apa yang Anda lihat, dengar, atau rasakan.

hehehe seperti melihat cewe telanjang dengan separuh mata; mendengar ada suara
becek, dan merasakan
ada suaranya 'crek..crek' keluar masuk. setelah di dobrak.
ehhhh....rupanya lagi cebok. :))
yaa yaa yaa, ic vai.

70

jadi saat ini saya sedang bermimpi mengetikkan kata2 ini ke dalam komen box ini? sungguh mimpi yg indah

:)