Resensi Prosa ‘Anak Perempuanku Belum Pulang’

Oleh Andya Primanda

Anak Perempuanku Belum Pulang oleh ophelia

Setelah selesai membaca, kata-kata pertama yang muncul di kepala saya adalah “Kok cuma sampai situ?”

Awal cerpen yang beralur lambat seolah menjanjikan pembahasan yang lebih panjang soal kisah si anak perempuan yang pergi ke kota. Tapi di pertengahan sampai akhir, tiba-tiba alurnya berubah jadi sangat cepat. Padahal saya sudah penasaran mengenai bagaimana nasib si anak perempuan. Sayang penulis malah mempercepat dan menyingkat cerita sehingga kesannya cerpen ini terburu-buru diakhiri.

Gagasan yang diangkat di paragraf terakhir, ketika si bapak berandai-andai bahwa anak perempuannya tak perlu merantau ke kota karena kampungnya, sebenarnya menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Saya sendiri tinggal di pinggir kota pada sebagian besar hidup saya (sejauh ini), dan menyaksikan sendiri bagaimana kota besar menyebar dan merambah daerah-daerah di pinggirnya, mengubah desa menjadi kota. Dari berubahnya kehidupan masyarakat di sana, tentunya banyak cerita yang bisa disampaikan.

7/10

===========================

Lahir di Jakarta tahun 1981. Sekarang bekerja sebagai staf redaksi di penerbit Kepustakaan Populer Gramedia walaupun sempat kuliah biologi dua kali. Jalan masuknya ke dunia penerbitan adalah sebagai penerjemah buku-buku sains. Masih lebih senang dianggap penerjemah daripada editor; sampai sekarang namanya belum pernah ada di sampul buku, walau sudah sering ada di halaman kolofon. Percaya bahwa dosa terbesar penerjemah adalah mengubah makna apa yang diterjemahkannya. Juga percaya bahwa yang paling penting dalam tulisan, apapun, adalah kejernihan makna; sisanya cuma embel-embel.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

begitu ya? tenkyu..

mmhmm...