Semusim Dua Cinta

bahkan hujan pun tak pernah cukup untuk mengenangnya....

Aku berdiri menatap hujan dari atas balkon kamar suamiku. Kamar yang ia tempati sendiri selama hampir dua tahun. Dari balkon inilah aku bisa menatapi hujan atau senja yang tak pernah berubah indahnya.

“Arin....”

Aku menoleh dan mendapati sosoknya yang lelah dan sedikit basah karena hujan. Aku hanya tersenyum kecut dan tak pernah menyambutnya sepulang dari kantor. Dia selalu dengan sendirinya menemukanku sedang duduk menghadap ke barat di balkon kamarnya tiap dia pulang di sore hari.

Ia memegangi kedua pundakku dan ikut menatap hujan dari belakang tubuhku yang hanya setinggi bahunya.

“Kau boleh tidur di kamar ini kalau kau mau. Aku akan tidur di kamarmu.”
Kamar kami berhadap-hadapan di dekat tangga. Dan tidak ada balkon di kamarku yang lebih luas dari kamarnya. Sudah berulang kali aku menolak tidur bersamanya di kamarnya, maka kali ini ia menawariku bertukar kamar saja.

Aku tidak menjawab. Ia berujar lagi, “Apa menurutmu aku belum bisa menepati janjiku padamu?”

Aku menggeleng, memindahkan tangannya yang lebar dari pundakku.

Ia menarik nafas panjang lalu meninggalkanku. Hujan sudah reda.
***

Musim hujan selalu menjadi musim menulis bagiku. Karena saat hujan turun, aku akan sangat antusias menatapinya kemudian menumpahkan inspirasi yang kudapati di layar komputer. Puisi dan berlembar-lembar cerpen, yang tak pernah berisi perasaanku kepada suamiku. Karena memang aku tidak merasakan apapun dalam perkawinan kami. Tidak cinta, tidak juga bahagia.

Kami menikah duapuluh bulan lalu. Dia dipilih ayahku untuk menikahiku yang waktu itu baru lulus SMU. Seorang pemuda dua puluh enam tahun yang mewarisi perusahaan ayahnya. Dia mengatakan sangat mencintaiku dan terdiam begitu aku mengatakan aku tidak mencintanya. Aku tidak pernah suka pada perjodohan, sekaligus tidak pernah bisa menolaknya. Maka kami menikah diiringi tangis pemberontakanku. Dan ia berjanji, “Aku akan membuatmu mencintaiku, Arin. Suatu saat nanti.”

“Bagaimana kalau aku tidak akan pernah mencintamu?”

Ia tidak pernah menjawabku.
***

Hujan turun saat aku menghambur memasuki kamar Putra hari itu. Dadaku sesak oleh rasa sakit dan ketakutan yang hebat.

“Putra... aku ha...”

Kalimatku terpangkas saat kulihat Putra tidak sendirian di kamarnya. Seorang gadis yang sangat kukenal, duduk di samping Putra, masih mengenakan rok biru SMU-nya yang sama dengan milikku.

“A-apa yang kalian lakukan?” tanyaku terbata, seiring dengan ambruknya tubuhku ke lantai yang dingin. Aku bersimpuh memandangi kekasihku dan teman sebangkuku melakukan entah apa.

“A-Arin... aku cuma... aku...” Liana menatapku sayu, kemudian pergi meninggalkan Putra dan mendekatiku. “Aku cuma menemani Putra karena dia sedang sakit.”

Alasan yang menjijikkan. Aku menatap wajah Putra lekat-lekat, mencari alasan yang sama. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“Bilang sama Putra,” ujarku sambil pura-pura tidak menangis, menatap mata Liana yang berkaca-kaca, “Aku hamil.”

Aku meninggalkan kamar itu dengan beban yang semakin menumpuk. Aku tahu Putra tidak akan menikahiku. Aku tahu, mungkin sebentar lagi Liana yang akan hamil. Aku melintasi hujan. Hujan yang tidak pernah cukup untuk mengenang rasa sakit yang kurasakan karena aku memilih membunuh anakku.
***

“Kau pasti tidak percaya kalau aku pernah mengarang nama untuk anakku, dulu sekali.” Kami duduk berhadapan di meja makan yang luas, bercakap-cakap dengan sengaja untuk pertama kalinya. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin mengajaknya bicara hari ini.

“Oh, ya?” ia menanggapi seraya memasukkan sekerat daging ke mulutnya. “Siapa namanya? Apa kau ingin itu yang akan menjadi nama anak kita nanti?”

Aku tersenyum masam. Anak kita? Anak macam apa yang akan menjadi ‘anak kita’, sementara kita tidak pernah tidur bersama? Tidak pernah sama sekali. Kau pasti bahkan tidak tahu aku sudah tidak perawan, batinku.

“Namanya Wangi Tirta,” ujarku, dan dia terkejut, aku tahu dia memang akan terkejut karena aku telah menyebut namanya.

“Apakah... aku telah menepati janjiku, Arin?”

“Tidak. Aku memang benar-benar pernah punya seorang anak, yang entah laki-laki entah perempuan, yang kubunuh sebelum terlahir,” Aku hanya ingin jujur tentang diriku, hanya ingin membuatnya membenciku dan menceraikanku.

Ia hanya tersenyum dan memandangiku. “Kau pasti juga tidak percaya kalau aku pernah menghamili teman sekelasmu waktu SMU.”

Ia meletakkan sendoknya kemudian meninggalkanku.
***

apakah kau percaya, Tuhan selalu ada dimanapun kau ada?
menatapmu dengan mataNya yang agung tanpa kau merasa berdosa
dan kau tidak pernah menatap kepadaNya, tetap membuat dosa-dosa.
apakah kau sadar, Tuhan telah membagi penderitaan dan kebahagiaan sama besarnya?
maka kau tidak perlu mencemaskan luka yang kau berikan pada orang yang mencintaimu
karena Tuhan akan memberimu luka yang sama besarnya.
sebuah luka kehilangan.

Musim hujan hampir berakhir saat aku berdiri di balkon kamarnya dengan sebuah agenda yang kutemukan di samping bantalnya. Dan tiba-tiba aku ingin membaca seluruh yang ditulisnya, menyelesaikannya sebelum ia pulang dan mengejutkanku dari belakang.

Ia menulis tentang cintanya padaku saat kami pertama bertemu, yang disebutnya sebagai ‘pembalasan dosa’. Aku baru tahu maksudnya saat kubuka halaman awal, dan menemukan nama Liana.

Liana yang dihamilinya, lalu ia lari dari tanggung jawab dan menolak cinta Liana setelahnya. Liana yang menangis mengiba ingin dicintai, ingin diterima dan diselamatkan. Liana yang sekarang telah meninggal karena aborsi dua tahun yang lalu, Liana yang datang kepada Putra, meminta bantuan untuk mencairkan hatinya, Putra yang ternyata adalah adiknya dari ayah yang berbeda. Liana yang mengatakan padanya, bahwa suatu saat ia akan menerima penolakan yang serupa. Aku. Akulah yang membalaskan perasaan hancur Liana. Aku yang terus-menerus menolaknya dan mengenang Putra bersama hujan dan senja di atas balkon.

Hujan reda saat aku selesai membaca semua yang ditulisnya. Tiba-tiba saja aku merasa harus menunggunya. Menunggunya memegang pundakku dari belakang dan menatap hujan bersama. Kurasa, aku telah berhasil membagi dua cintaku di musim hujan ini. Bukan hanya pada Putra yang telah pergi, tapi juga dia yang mencintaiku sejak lama.

Tapi setelahnya ia tidak pernah pulang untuk sekedar mengingatkan padaku bahwa aku telah merasakan sebuah luka kehilangan. []

Senin, 06 April 2009
11 : 21 am.

P.S: Semusim Dua Cinta adalah judul lagu pada album kedua Shati Band (yang sampai sekarang album pertamanya juga belum keluar). Inspirasi atas sebuah kehilangan di masa lalu, ‘merasa kehilangan sesuatu yang tak pernah termiliki.’

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer megaaisyah
megaaisyah at Semusim Dua Cinta (10 years 17 weeks ago)
90

hm...
alurnya sedikit membingungkan...
tapi mungkin di situ uniknya...
aku suka mbak...
hehehe...

Writer angel16
angel16 at Semusim Dua Cinta (10 years 19 weeks ago)
80

setuju, sinetron banget. tapi sejauh ini bagus kok ;D

Writer nadhnadh
nadhnadh at Semusim Dua Cinta (10 years 19 weeks ago)
80

rok biru-SMA? kelihatannya agak aneh, karena rok biru biasanya dikaitkan dengan siswa smp. Walaupun pada praktiknya, rok siswa2 sma juga berwarna biru, tapi biru muda (lebih sering yg melihat biru muda kehijauan) bingung juga sebenarnya warna rok sma itu apa. tapi kalau menggunakan biru, kesannya rok smp.
kalau dari segi penceritaannya, ide ceritanya sendiri menurutku udah bagus, tp agak sinetron(idenya aja, krn cerita mba nggak lebay). mampir ke tempatku juga ya.. ^^ salam kenal. ayo belajar bersama...