Boneka-boneka itu menumpuk di balik kaca sebuah toko. Tangan-tangan mungil berusaha menggapai. Ada tangis dan tawa riang menyertainya. Di antara tumpukan itu, ada boneka beruang putih berpita merah muda menyembul. Menampakkan mata penuh rindu.
Seperti mataku.
Read more (1431 words)
Sudah lama dia meminta boneka beruang itu. Dengan rengeknya dia menarik-narik bajuku, tapi tak pernah kukabulkan permintaannya. Saat itu, tak pernah ada waktu yang tepat untuk memandangi sekilas saja matanya yang bening. Selalu basah. Indah. Seperti mata ibunya.
Gerimis mulai turun. Kututupi kepalaku dengan sebuah topi. Selalu saja aku lupa membawa payung. Tak ada lagi yang mengingatkanku untuk membawanya. Di kota ini aku hanya ditemani rinai langkah-langkah basah dan jiwa yang runtuh.
Mataku masih menatap boneka beruang itu saat kudengar ada seseorang mendekatiku. Sekilas aku menoleh dan hanya bisa tersenyum pilu. Tak perlu bersuara untuk menebak siapa dia. Cukup dari harum tubuhnya. Tangannya membawa payung yang kemudian memayungiku. Sepasang mata pekat miliknya begitu tabah.
"Pulanglah, Nak."
Bendungan di kelopak mataku tumpah begitu saja. Aku menunduk, menyembunyikan isakanku.
***
Siapa yang paling terluka?
Suasana seperti yang tidak kusukai. Begitu hening. Begitu dingin. Sebuah koper besar berada di depanku. Ekor mataku mengikuti gerakan-gerakan cepat di sekelilingku yang tampak begitu sibuk. Emosi meluap-luap. Membumbung tinggi memenuhi langit-langit rumah yang beku oleh teriakan, raungan dan jeritan. Aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
"Kenapa dari tadi diam saja? Kenapa tidak memberi alasan?" Mata itu menatapku nanar. Penuh amarah.
Aku mengambil napas dalam-dalam. Berharap kalau ini adalah sebuah mimpi.
"Kenapa tidak jawab pertanyaanku?" Ia sudah berada di depanku. Ibu si kecil.
"Apa yang harus aku katakan?"
"Tentang isi sms itu!"
"Kamu mau aku mengatakan apa?"
Ibu si kecil bertambah geram. "Tentu saja alasan kenapa sms itu ada di ponselmu!"
"Ya Allah..." desahku pelan. Kutatap matanya dan berusaha mengendalikan diri. "Apa masih perlu alasan? Sepertinya tidak ada alasan untuk menjelaskan kenapa sms dari seorang bernama Yuni ada di ponselku. Dia temanku. Hanya menanyakan kabarku, lalu aku membalas smsnya. Ada yang salah menurutmu?"
"Salah!" Air matanya bercucuran. Ia memelototiku. "Salah karena kamu membalasnya! Salah karena kalian berkata mesra! Salah karena kamu memperhatikan dia! Salah karena.. oh Tuhan, aku hampir gila!"
"Istighfar, Ma.."
Ibu si kecil mengusap pipinya. "Aku tidak tahan lagi! Aku mau pulang ke rumah Ibu!"
Aku kembali mendesah. Ibu si kecil kembali ke kamar, mengambil baju-bajunya, melemparnya di ruang tengah, lalu memasukkan ke dalam koper dengan lipatan seadanya. Aku hanya bisa memandanginya.
"Papa..."
Suara itu membuat jantungku berdegup kencang. Senyum manisnya menyapaku. Namanya Puspa. Aku yang memilihkannya nama dan ia secantik namanya. Ia datang menghampiriku. Memelukku. Kucium rambutnya. Rasa kasih memenuhi rongga dadaku.
"Papa, Mama kenapa?"
Aku tidak menjawab. Bukan karena aku yang tidak tahu bagaimana menjawabnya, tetapi karena aku takut menangis. Aku takut Puspa melihatku sedih. Biarlah aku dan Ibu si kecil saja yang terluka. Karena memang kami yang paling terluka.
"Mama lagi sakit ya?"
Aku tersenyum mendengarnya. Ya, kalau Ibu si kecil sedang sakit, ia lebih suka marah-marah. Lucu melihat ekspresi Puspa yang lugu dan polos. Lagi-lagi tidak kujawab dan mencium rambutnya.
"Puspa, kita mau ke rumah nenek. Ayo ganti baju!" Ibu si kecil menarik Puspa dari pelukanku.
"Papa ikut, Ma?" Si kecil menatap mata ibunya.
Ibu si kecil tidak menjawab. Ruangan itu hening.
"Papa mau kerja, Sayang." Aku mengusap rambutnya.
"Nanti beliin Puspa boneka beruang ya, Pa?"
Aku mengangguk pelan.
"Papa nyusul ke rumah nenek?"
"Nanti."
"Kalau pulang kerja?"
"Ya."
"Bawa boneka beruang juga?"
"Iya, Sayang."
Aku terus memerhatikannya. Tidak bisa kupindahkan mataku dari wajahnya. Satu detik saja. Wajah Puspa begitu manis, begitu menggemaskan. Wajah yang selalu membangkitkan semangatku untuk menjalani hari-hari. Wajah yang selalu menghangatkan perasaanku.
Ibu si kecil membiarkan Puspa berada di dekatku. Ia berbalik ke kamar. Emosinya sepertinya sudah reda. Tinggal mengatur napas saja. Dalam hati aku berharap dia membatalkan keputusannya.
"Papa lama ya kerjanya? Aku mau main boneka beruang."
Aku diam. Sebuah senyum kupaksakan mengembang.
"Pa.."
"Ya?"
"Papa kapan beli boneka beruangnya?"
Kemuaraman tiba-tiba hadir di pikiranku. Kapan? Aku juga tidak tahu. Mataku tergenang air. Kubuka lenganku, lalu Puspa masuk ke dalam pelukanku. Bukan uang yang aku tidak punya, tetapi keteduhan untuk menikmati kehidupan. Kupeluk Puspa erat. Rasanya ingin menangis. Ya Allah, kenapa selalu ada kesalahpahaman? Kenapa tidak pernah ada kepercayaan pada dirinya?
Aku menarik napas. Berusaha menahan air mataku yang hampir meleleh. Ini sudah kesekian kalinya. Kucium dalam-dalam rambut Puspa.
"Papa kenapa? Nangis ya?"
Aku melonggarkan pelukanku. Segera kuusap mataku.
"Papa kelilipan, Sayang." Kebohongan klise.
"Mana? Puspa tiupin ya?" Ia menyentuh bahuku. Meniup-niup mataku.
Suara Ibu si kecil yang memanggilnya untuk segera naik ke mobil menyentakku. Ternyata ia tidak mengubah keputusannya. Puspa masih menatapku sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Papa pulang kerja kapan?"
"Hmmm.. sampai selesai kerjaannya."
"Lama nggak?"
"Papa nggak tahu, Sayang."
"Tapi jadi beli boneka beruang?"
"Pasti."
"Janji?"
"Janji."
Senyumnya mengembang dengan manis. Aku suka menatap senyumnya itu. Ibu si kecil menarik tangannya, kemudian membawanya ke dalam mobil. Aku duduk sendirian. Menangis.
***
Malam ini aku tidur sendirian. Selimut dan kasurku terasa dingin. Tempay tidur ini terlalu besar untuk kutiduri sendiri. Mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air. Membasahi bantal. Aku tahu tak ada gunanya menangis. Tapi mungkin ini adalah ujian untuk keteguhan hati seorang laki-laki.
Gila memang membayangkan rumah tangga ini berakhir hanya karena sebuah sms dari seorang teman yang sudah mempunyai suami dan hanya sekadar menanyakan kabar. Aku pun membalasnya seadanya. Ikut menanyakan kabar seraya berbasa-basi. Tidak ada salahnya bukan berbasa-basi pada teman sendiri? Atau itu justru letak kesalahanku? Selalu berbasa-basi kepada seorang teman sehingga bisa disebut sebuah perhatian?
Mataku tidak dapat terpejam. Perih dan sakit yang mendera dada menelan rasa kantukku. Biasanya jam segini Puspa belum bisa tidur. Ia akan minta aku mengusap-ngusap punggungnya hingga ia tertidur. Tidurnya juga lucu. Tidak mau dengan bantal satu, tapi dua, dan sisi kanan kirinya harus dijaga dengan guling. Karena itu di kamarku banyak sekali bantal dan guling sampai-sampai Ibuku bertanya untuk apa bantal dan guling seabanyak itu.
Sudah jam dua malam. Aku belum juga memejamkan mata. Rindu suara Puspa memanggil-manggil namaku.
Diantara kesunyian, ponselku bergetar. Aku terdiam. Bimbang dalam hati ingin menjawab telepon itu. Dari Ibu si kecil. Dengan ragu-ragu aku mengangkatnya dan menunggu dia menyapa di ujung telepon.
"Kalau bukan Puspa yang minta, aku tidak akan telepon!" Lalu diberikannya telepon itu pada Puspa. Suara si kecil terdengar riang. Permintaanku terkabul malam ini.
"Papa masih kerja ya? Puspa kangen Papa."
"Papa juga kangen Puspa. Kamu nakal ya di sana?"
"Nggak dong, Pa. Tadi Puspa main sama nenek."
Aku tersenyum. Bersyukur Puspa baik-baik saja.
"Papa udah beli boneka beruang?"
Kenapa pertanyaan itu terasa menusuk hatiku. Tentang boneka beruang. Hanya sebuah boneka, tapi menikamku. Seharian aku duduk dan sholat. Lupa untuk membeli boneka itu.
"Belum, Sayang. Besok ya?"
"Asyiiik, jadi besok Papa ke sini? Bener ya, Pa."
Percakapan berakhir dan aku merasa kosong, bimbang dan khawatir. Perlukah aku bertanya pada malam, kapan semua ini akan berakhir?
***
Aku melipat sajadah usai sholat shubuh. Kuraih ponselku di atas meja yang kehabisan baterai karena semalam aku tidak mengisinya. Kucolokkan charger , lalu kuaktifkan. Menunggu kalau saja ada pesan atau panggilan yang terlewat karena mati semalam.
Boneka beruang.
Tiba-tiba aku tertegun mengingatnya. Hari ini aku akan ke toko boneka untuk membelinya dan menyerahkannya pada Puspa. Akan kucoba jelaskan pada Ibu si kecil agar ia mau pulang dan memperbaiki semuanya. Aku tidak ingin keadaan seperti ini. Bukan untukku, bukan juga untuk Ibu si kecil, tetapi untuk Puspa.
Aku hampir saja terlonjak karena terkejut ketika ponsel bergetar. Nomor yang tidak kukenal. Tapi dari awal nomor, aku bisa menduga-duga kalau itu adalah nomor wilayah mertuaku. Mungkinkah Ibu si kecil? Kenapa dia tidak menelepon dengan ponselnya? Aku menjawabnya. Bibirku sedikit bergetar.
"Hafiz... Ini Ibu." Suaranya serak seperti habis menangis.
"Ada apa, Bu?" Jantungku berdebar keras.
"Istri dan anakmu... mereka terbawa air."
Mataku terbelalak. Hampir saja genggamanku terlepas. Kata-kata panjang berikutnya membuat tubuhku luruh. Jatuh di lantai. Kata-kataku habis tak tersisa. Aku bersimpuh di sana.
"Semua orang di rumah tidur. Ibu baru selesai ambil wudhu pas ada yang ngetuk pintu. Seperti gemuruh. Ternyata air. Ibu coba bangunkan anak dan istrimu, tapi terlambat."
Begitu kelu. Pilu. Aku tidak tahu ke mana harus membawa akhir rasa ini. Pagi mulai menampakkan diri sementara hari-hariku terasa kelabu.
"Papa udah beli boneka beruang?"
***
Semuanya porak poranda. Menyatu dengan tanah. Air di mana-mana. Tak kutemukan tubuh istri dan anakku. Orang-orang di sekilingku sibuk mencari sanak saudara dan keluarganya. Terdengar tangis dan jeritan. Lebih keras dari jeritan Ibu si kecil. Hatiku pecah. Kepingannya jatuh satu per satu.
Boneka beruang sudah ada di tanganku. Seandainya saja Puspa tahu.
"Papa sudah belikan boneka beruang, Sayang." Air mataku jatuh lagi.
Ibu yang berdiri di sampingku menyentuh bahuku. "Puspa anak yang manis. Dia pasti senang."
Aku tidak menjawab. Harapanku pupus.
"Ya, dia hal termanis yang pernah ada."
***
Jakarta, 10 April 2009
ada yang lupa.....
hikssssssssssssss....
numpang nangis.....
setuju ama koment2 sebelumnnya,
heheeh bagus ceritanya....
aaaaaaaaaa you are the best deh kak :)
sampe lebay sendiri bacanya hahaha
um, mau bilang apa lagi ya? ud dibilang semua tuh ama temen2. emang masih terasa 'perempuan'. :D aku juga belum bisa2 tuh. belajar ama siapa ya? tapi masih asiklah dibacanya.
Bagus... setuju sama miss worm, aku sempet ngira itu perempuan, ibu dari anak yang merengek minya boneka beruang
hai, Sefry... hum...yah, akhirnya baca lagi tulisanmu.
wah komennya udah diwakilkan yg lain nih.
tetep memikat kok.sefry gitu loh^^
AssWrWb...
Ya Allah... tragis sekali di saat dah beli boneka beruang, anaknya malah kebawa arus...
ceritamu membawaku hanyut. naudzubillahimindzalik kalau kejadian ama anak dan keluargaku :(
hiks hhiks
sefry... pilihan diksi-diksinya indah sekali ^^
hanya saja aku merasa gaya tuturannya masih terlalu feminim untuk point of view seorang laki-laki.
Hihi.. iya, Win. Temenku juga bilang gitu terlalu cewek banget. Sedang berusaha lebih maskulin untuk cowok. :D
bagus sekali. benar kata teman-teman yang lain, tulisannya memikat. hemm, jadi iri neh..hehehehe
wew. keren euy. no comment deh. idenya sederhana, tapi tulisannya memikat. ck..ck..ck..
wajar sih. :D
sepuluh deh buat sefry, endingnya bener2 gak terduga sef. gilaaaa.. aku bener2 berkaca-kaca en tersentak membaca endingnya. Shock hahahahaha.. keren keren
bagus sef...sedih...mataku sampai berkaca2...cuma ada beberapa salah ketik say...
nulis lagi donggg...^^
@ On3thing: makasih, wan. kangen aku nulis di kemudian. hehe..
@ nonix: makasih ya. ^^
ceritanya menyentuh sekali, kak
waw!!....ini tentang gintung itu yah..
top dah, secara dirimu sudah ahlinya bikin beginian :D