Oleh Primadonna Angela
Pasupati, Kau dan Aku oleh Dadun
Kata Pasupati sendiri sudah cukup memberikan gambaran, terutama bagi yang familier dengan Bandung. Dan cerpen yang satu ini memilih menjadikan jembatan layang ini sebagai latar berkembangnya hubungan dua orang manusia.
Read more (404 words)
Sebagai awal, saya pikir sudah cukup menarik, menunjukkan kontras dari kedua tokoh utama. Meskipun tidak terlalu jelas bulan seperti apa yang ditunjuk karakter pertama (purnamakah?), namun ini sudah menunjukkan kedua tokoh memiliki pandangan yang berbeda. Yang pertama barangkali cenderung bersifat positif dan romantis sementara yang kedua terkesan negatif dan kelam.
Sayangnya begitu cerita bergulir, saya merasa semua terlalu datar, biasa saja, hanya merupakan perpanjangan dua karakter yang berbeda itu. Gaya bertutur yang terkesan nyastra sayangnya tidak diimbangi dengan narasi yang lugas. Beberapa dialog terkesan bertele-tele, seperti ini:
"Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain," meski kutahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku waktu itu, "percayalah," ya, aku percaya, bersamamu segalanya akan baik-baik saja.
Kecenderungan penulis untuk memanjang-manjangkan dialog dapat membahayakan inti cerita, karena pembaca mungkin akan bingung mencerna naskahnya. Lebih baik menulis dalam kalimat yang sederhana dan pendek untuk tetap memikat minat pembaca. Kalimat panjang di atas kalau dirombak menjadi beberapa kalimat tetap dapat terasa indah dan tidak mengganggu keseluruhan narasi:
“Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain,” katamu saat itu. Aku tahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku. Kutatap dirimu, khawatir, dan saat kau berkata, “Percayalah!” kecemasan dan ketakutanku menghilang, karena aku yakin bersamamu segalanya akan baik-baik saja.
Akhir yang seharusnya mengejutkan, bagi saya malah terasa terlalu biasa. Homoseksualitas sebagai shock factor sudah terlalu sering dilakukan sehingga tidak terasa mencengangkan lagi. Sekadar saran, barangkali akan lebih mengagetkan kalau ternyata dua karakter itu sebenarnya hanyalah satu orang, dan satunya lagi adalah imaginary friend . Atau, bahwa semua kejadian itu tidak pernah terjadi, dan menjelang akhir pembaca dikejutkan dengan fakta yang sangat berlawanan.
=======================================
Seorang penulis yang lahir di Rumbai pada tanggal 7 Oktober 1976. Menamatkan kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dengan predikat cum laude, ia baru menerbitkan buku pertamanya setelah menikah pada tahun 2004 dengan Isman H. Suryaman, seorang penulis humor.
Karya-karyanya termasuk dalam kategori fiksi populer, mengarah pada pembaca remaja (13-20 tahun) dan dewasa (20-40 tahun). Beberapa karyanya yang sudah terbit: Quarter Life Fear (2005), Belanglicious (2006), Love at First Fall (2006), Quarter Life Dilemma (2006), Jangan Berkedip! (2006) - flash fiction, ditulis bersama Isman H. Suryaman, Big Brother Complex (2007), Resep Cinta (2007), Kintaholic (2007), DJ & JD (2007) - ditulis bersama Syafrina Siregar, Query Pita (2007), Ratu Jeruk Nipis (2008), Resep Cherry (2008), Meramal Yuuuk! (2008), serta Dunia Aradia (2009). Semuanya diterbitkan oleh GPU.
Rating Views: 334 reads
Comments: 2
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Report this You have to login to access this feature
click here
Be the first person to continue this post
waaaaaaaaaah makasih banyak, Mbak Primadonna Angela atas masukan bagaimanaseharusnya itu. yah yah... you right, right.
iya yak, kenapa endingnya gak dibikin kek gitu ajah? Hum... :-?
karena saya tipe pembaca cepat yang agak ngadat kalo disuruh komen jadi saya bilang bagus deh hehe