Resensi Puisi 'Fragmen Senja'

Oleh Epri Tsaqib

Fragmen Senja oleh Arfin Rose

Saya senang karena diberi kesempatan berinteraksi dengan kawan-kawan dari kemudian.com yang punya semangat untuk berkarya di dunia maya. Saya juga memberikan apresiasi kepada kawan-kawan panitia Perkosakata 2009 yang dengan konsisten mau menjadi fasilitator kegiatan-kegiatan pembelajaran sastra baik online maupun off-line bisa terus berlangsung.

Sesungguhnya saya merasa kurang enak, karena saya merasa ilmu masih begitu sedikit demikian juga pengalaman yang saya miliki. Apakah saya pantas? Namun melihat semangat dari rekan-rekan Perkosakata dan menyadari bahwa saat awal saya menulis, saya juga bisa merasakan bagaimana pentingnya apresiasi dari orang lain, betapa sebuah kritik yang baik [bukan hanya pujian semu] sesungguhnya bisa memacu lebih cepat penulis yang ingin serius mendalami karya sastra dan meningkatkan kreasinya sendiri dalam menciptakan karya-karya berikutnya, bila ia punya semangat yang tinggi.

Berpijak dari situlah maka dengan segala kerendahan hati saya beranikan diri ambil bagian. Tentu saja saya sendiri mengharapkan respon balik dan masukan-masukan dari kawan-kawan, karena saya sendiri juga sedang belajar. Dan begitu ingin terus belajar dari siapa saja, termasuk dari kawan-kawan di sini.

Saya dikirimi 4 puisi oleh panitia Perkosakata kemudian.com untuk diresensi. Setelah membacanya terus terang saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya jadi ingat masa-masa di mana awal di mana saya menulis. Saya kira bahkan semua penulis puisi-pun mengalami hal seperti ini. Di mana diksi yang dipilih lebih mirip ungkapan hati bak sebuah diari dengan polesan kata-kata klise [yang tentu saja dalam anggapan penulis adalah kata-kata itulah yang dalam anggapannya paling indah yang mampu menangkap kesan puitis nan romantis]. Baiklah saya akan coba salah satu sajak untuk diresensi.

Coba simak saja potongannya di bawah ini :

I

Kenapa pagi menjelang sebelum usai meniti malammu
Kenapa raut mewangi semerbak kamboja di ulu matiku
Kenapa cemas kian bergelayut dibalik culas senyummu
Kenapa puisi berdenyut di sela bunga-bunga layu

Suguhkan padaku seraut kepedihan di lain hatimu
Tawarkan padaku segenggam asa pada ranah berbeda
Lemparkan padaku kepingan paling nyiyir sudut lukamu
Dan cerucuk bahagiamu, simpanlah sendiri dalam saku!

[Judul Fragmen Senja]

Semua penulis puisi, sekali lagi saya ulang pada fase-fase awal dia menulis menurut hemat saya akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh penulis puisi Fragmen Senja ini. Di mana tendensi ingin menyajikan kata-kata yang dianggap puitis memilih kata-kata yang membuai-buai dengan tangkapan kesan romantik yang difahami banyak orang dalam anggapannya.

Pada paragraf pertama, penulis seperti ingin menunjukkan pola repetisi penulisan puisi dengan model pengulangan pertanyaan berawalan kata tanya yang sama di awal kalimat.

Sayang sekali kedua hal itu malah memperkuat kesan klise yang lebih muncul ke permukaan. Jangan lupa bahwa dalam penulisan puisi salah satu hal penting yang membedakannya dengan karya prosa adalah efektifnya pilihan kata. Kata-kata dipilih sedemikian rupa agar kata-kata yang muncul memberikan dan membangkitkan efek puitik pembaca, seorang kawan penyair pernah menyebutnya sebagai semacam ”daya tenung” yang ditangkap di hati pembaca, tusukan yang segera bisa dirasakan siapapun pembacanya tanpa menimbulkan kesan boros kata.

Dalam konteks isinya, si penulis juga seperti ingin membuat pola paradoks dengan mengatakan bahwa ”mu” lirik pada setiap kalimat itu menampilkan sosok penipu dengan banyak mengajukan silang maksud di paragraf pertama repetisi di atas dan menutupnya dengan Lemparkan padaku kepingan paling nyiyir sudut lukamu/ Dan cerucuk bahagiamu, simpanlah sendiri dalam saku!.

Kesan paradoks akan muncul dan segera ditangkap dengan baik oleh pembaca manakala sang penyair mampu membuat sebuah ”kejutan” yang tentu saja tak diduga-duga sebelumya akan berakhir seperti itu dalam pembacaan pembaca atas puisi sang penyair. Oleh karennya memang penyair membuat tema semacam ini adalah dengan menutupnya di bagian akhir sajak. Sementara dalam puisi ini, sejak awal sesungguhnya penulis sudah memberi semacam petunjuk dari caranya menunjukan pertanyaan yang sayangnya sudah bisa ditebak oleh pembaca sejak awal. Bahwa rangkaian kata itu hanya akan bernada sama, yakni maksud yang terbalik dari apa yang ditampilkan oleh si ”mu” lirik. Kalau petunjuk itu begitu jelas, lalu bagaimana mungkin kita akan merasakan keterkejutan di akhir kalimat?

Misalnya dengan mengatakan Kenapa pagi menjelang sebelum usai meniti malammu/ Kenapa raut mewangi semerbak kamboja di ulu matiku/ Kenapa cemas kian bergelayut dibalik culas senyummu/ Kenapa puisi berdenyut di sela bunga-bunga layu. Rentetan ungkapan pertanyaan yang jelas sekali kemana arah jawabannya.

Paradoks, kontras dan ironi [ketiganya boleh dibilang sama], dihadirkan oleh penyair di dalam sajak untuk mengejutkan pembaca, untuk merenggut perhatian pembaca sajaknya. Demikian kalau kita setuju kepada A Teeuw yang pernah bilang bahwa tugas penyair adalah mengejutkan si pembaca, oleh penyimpangan dari pemakaian bahasa yang sudah terbiasa, sudah familiar, usang dan luntur.

Kita bisa melihat contoh puisi lain yang ditulis Joko Pinurbo misalnya yang dalam beberapa sajaknya menunjukkan kesan paradoks yang berhasil. Coba kita simak sajak ini :

Telepon Tengah Malam

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
“Siapa ini?”, jawabnya cuma “Ini siapa?”.

Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
“Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
“Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”
“Ibu! Ibu di mana?”
“Di dalam.”
“Di dalam telepon?”
“Di dalam sakitmu.”

Ah, malam ini tidurku akan nyenyak.
Malam ini sakitku akan nyenyak tidurnya.

(2004)

Joko Pinurbo memilih ungkapan-ungkapan kata yang lazim kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, tanpa sedikitpun membuai-buai pembaca, tak ada semacam kata-kata romantis di sana, tapi bisa kita rasakan bukan kesan paradoks itu muncul dalam dialog yang akhir percakapan antara ibu dan anak itu bukan? Ketika sang ibu menjawab pertanyaan anaknya tentang di mana posisi ibunya kini, dan yang kita dapatkan adalah sebuah jawaban yang mengejutkan, ”Di dalam sakitmu.”.

Yang membedakan gaya prosais itu menjadi puitis adalah ungkapan metaforis yang muncul, makna teks yang difahami tidak lazim dalam ungkapan prosa biasa dalam percakapan. Kita butuh sedikit waktu untuk mencerna, dan bahkan kita bisa memaknainya dengan apa saja yang mungkin berbeda dengan maksud penyair, karena metafora yang dimaksud memang bukan ungkapan pasaran. Tetapi sesuatu yang baru yang ditawarkan penyair dalam sajaknya untuk pembacanya.

Saya kira itu dulu, semacam pembukaan dari saya. Kita bisa berdiskusi lebih lanjut, karena anda boleh tidak setuju dengan saya dan itu sama sekali tidak haram. Mohon maaf atas pembacaan saya yang mungkin kurang berkenan dalam ulasan sederhana ini. Semoga yang sedikit ini ada manfaatnya.

Wallohu ’alam bissawab

Al – Faqir

Epri Tsaqib

==========================================

Puisi-puisinya pernah dimuat di Antologi Empati Jogja (Pustaka Jamil, 2006) dan Jogja 5,9 SR (Pustaka Bentang, 2006 ), Kemayaan dan Kenyataan (Fordisastra, 2007), serta Ruang Lengang (Pustaka Jamil, 2008). Pernah menjadi Juara 1 dalam Lomba penulisan Cerpen Departemen Pemuda dan Olahraga Tahun 1992.

Saat ini mengelola situs apresiasi para penyair di http://apresiasipuisi.multiply.com dan menjadi salah satu pendiri Komunitas Puisi Forum Lingkar Pena [FLP]. Di samping itu ia juga pernah menjadi Juri untuk Antologi Puisi Penulis Lepas 2007-2008. Pernah mengikuti Pesta Penyair Indonesia Sampena The 1st Medan International Poetry Gathering tahun 2007.

Tulisan-tulisannya juga pernah dimuat di media massa seperti harian Media Indonesia, Tabloid Fikri, Majalah Annida, Koran Seputar Indonesia, dll. Selain itu ia juga aktif mengelola situs gerai buku sastra www.geraibuku.multiply.com. Situs pribadinya juga bisa diklik di http://epriabdurrahman.multiply.com.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Arfin Rose
Arfin Rose at Resensi Puisi 'Fragmen Senja' (5 years 13 weeks ago)
100

Terima Kasih...