Namaku adalah Putri Indra Ramadhani, seorang mahasiswi psikologi tingkat akhir yang sedang melakukan penelitian di sebuah desa kecil bernama Sirna Maya. Sirna Maya adalah sebuah desa yang telah lama diteror oleh seorang pembunuh berantai berkekuatan mistis yang diberi nama Wa Merah. Tidak kurang dari sepuluh orang dibunuhnya secara sadis melalui mutilasi dan tindakan kanibal, sementara satu orang baru saja meninggal empat hari yang lalu saat Wa Merah membakar beberapa rumah penduduk.
Read more (1905 words)
Demi menangkal kedatangan Wa Merah, warga setempat melakukan sebuah ritual yang disebut ngijo, yaitu meletakkan bubur kacang ijo di depan rumah masing-masing ketika matahari terbenam. Mereka percaya bahwa Wa Merah takut terhadap bubur kacang ijo. Namun tidak semua orang percaya pada ritual tersebut, seorang janda tua pemilik rumah yang aku tumpangi bernama Bu Halima adalah salah satu warga yang menolak melakukan ritual ngijo.
Kira-kira beberapa jam yang lalu, aku terbangun dari tidurku dan dalam keadaan setengah sadar melihat di sampingku Wa Merah sedang menusuk-nusuk mata Bu Halima dengan garpu. Bu Halima terlentang di atas tempat tidur di sebelahku, sementara Wa Merah menindihnya, dengan gerakan brutal dan cepat ia tampak tak mengalami kesulitan menahan tubuh Bu Halima yang meronta-ronta. Wa Merah rambutnya panjang keriting sebahu, mantelnya berwarna hitam panjang dan lebar, di wajahnya ada bekas luka bakar dan warna kemerahan yang mungkin merupakan asal mula dari nama Wa Merah—Wajah Merah. Cipratan darah dari mata Bu Halima mengenai mantel hitamnya, wajahnya, dan seprei bermotif batik yang juga sedang aku tiduri. Aku ingin berpura-pura tidur, tapi aku tahu aku tak bisa berpura-pura tidur dengan tubuh yang gemetar. Aku ingin menolong Bu Halima, tapi nyaliku terlalu kecil untuk menggerakkan tubuh sendiri. Akhirnya aku hanya diam menyaksikan kejadian itu sampai Bu Halima menghembuskan nafas terkahirnya sambil mengucapkan kalimat tahlil. Saat itu aku ingat, sore harinya Bu Halima memarahiku ketika aku meletakkan semangkuk bubur kacang ijo di depan rumah, lalu ia membuangnya.
Tentu saja Wa Mera tak berhenti sampai di situ. Ia juga mengincarku, ia mengarahkan garpu berlumuran darah itu ke arah mataku, dan aku bangkit berlari. Aku berusaha keluar dari rumah, dan ia terus mengejarku dengan gerakan yang sangat cepat. Saat aku hampir sampai di pintu keluar rumah, aku melihat cahaya aneh dari luar jendela. Aku sempat menegok ke luar jendela sesaat sebelum Wa Merah menangkapku, aku melihat sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya telah terjadi saat aku sedang tertidur: kobaran api menari-nari sejauh mata memandang, seluruh desa telah terbakar, seperti sebuah azab yang diturunkan kepada kaum yang durhaka.
Wa Merah menyeret tubuhku dengan menarik rambut panjangku, ia membawaku sampai ke dapur, lalu membenturkan kepalaku ke pinggir wastafel. Dengan pandangan mata yang berkunang-kunang, aku dapat melihat ia mengambil sebuah ulekan—benda dari batu berat yang biasa digunakan untuk melumat bawang, cabai, atau bumbu dapur lainnya—dan kemudian menggunakannya untuk menghantam kepalaku. Hantaman pertama mengenai pelipisku, membuat kepalaku terasa sakit seperti akan pecah. Aku jatuh tersungkur ke lantai dan berusaha memegangi kakinya, berharap bisa membuatnya terjatuh, tapi tak bisa. Hantaman kedua tepat mengenai hidungku. Darah segar mengucur deras dari kedua lubang hidungku disertai kesulitan bernafas, sehingga aku harus membuka mulutku lebar-lebar. Wa Merah mengambil garpunya lagi, lalu berusaha menusuk wajahku, namun aku berhasil menghindar. Dengan sekuat tenaga aku bangkit berdiri, beberapa kali menabrak rak piring dan mengakibatkan piring dan gelas berjatuhan, lalu pecah.
Aku sempat berpikir kalau saat itu aku pasti akan mati, dibunuh Wa Merah, lalu mayatku akan terbakar bersama seisi desa Sirna Maya yang sebentar lagi akan lenyap dari peta. Ibu tiriku yang kubenci mungkin akan mencariku dan mulai merasa menyesal karena selama ini selalu bertengkar denganku, atau mungkin ia akan tertawa senang karena telah kehilangan musuhnya, tapi yang jelas adikku pasti akan merasa sedih. Namun rupanya keberuntunganku, atau doa-doa yang selama ini kupanjatkan bersama Bu Halima, memberikanku kesempatan untuk selamat. Di atas kompor, ada sebuah panci yang kupakai untuk memasak bubur kacang ijo saat berniat melakukan ritual ngijo, di dalam panci itu ternyata masih ada sisa bubur kacang ijo yang belum dibuang Bu Halima. Kuambil panci itu dan kusiramkan isinya ke kepala Wa Merah. Ia berhenti mengejarku, lalu mengendus-ngendus, butiran-butiran kacang ijo menetes di permukaan wajahnya. Matanya melotot, tiba-tiba pipinya menjadi kembung dan wajahnya semakin merah. Ia menunduk dan muntah, mengeluarkan cairan putih encer yang cukup banyak. Setelah itu ia berteriak-teriak dan bergumam dalam bahasa yang tidak kukenal.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sekuat tenaga aku mendorong sebuah lemari besar tempat Bu Halima menyimpan barang-barang peninggalan almarhum suaminya. Lemari itu jatuh dan menimpa Wa Merah yang masih terus bergumam tak jelas, suara berdebam terdengar nyaring, aku berharap itu dapat meremukkan tulang-tulangnya sehingga ia tak bisa mengejarku lagi. Beberapa saat kemudian aku sadar, rumor bahwa Wa Mera memiliki ilmu menghilang dan kebal senjata ternyata tidak benar, namun rumor bahwa ia takut terhadap bubur kacang ijo baru saja kubuktikan sendiri.
Saat itu, sebenarnya aku memiliki sebuah kesempatan untuk menyelamatkan diri, keluar rumah ini, keluar dari desa ini sebelum ikut terbakar bersamanya. Wa Merah tertindih lemari, yang tampak hanya kepalanya hingga leher, sementara bagian tubuhnya yang lain berada di balik lemari besar itu. Ia masih sadar, namun aku yakin ia tak mampu mengejarku lagi. Sayangnya, saat aku hendak pergi, aku mendengar gumaman tak jelasnya berubah menjadi kata-kata yang kukenal.
“Bapak…,” ucapnya dengan suara yang gemetar, “Ibu…, Ibu, bacakan dongeng…, Bapak, apa aku… akan masuk surga….”
Kata-kata itulah yang membawaku pada pilihan yang tak bisa kupercaya. Sekarang, detik ini, aku sedang duduk di depan sosok pembunuh yang tertindih lemari itu, membelai-belai rambut gondrongnya sambil mendengarkan gumamannya yang lama-kelamaan semakin terdengar seperti sebuah curahan hati. Aku bukan seorang perfeksionis, jadi kurasa aku bukan terobsesi dengan wawancara untuk penelitianku, tapi lebih seperti dialog dari ke hati ke hati dari dua orang yang sama-sama merindukan orangtuanya.
“Bapakmu siapa?” tanyaku pelan.
“Bapakku, adalah nabi,” jawabnya, wajahnya tanpa ekspresi menatap langit-langit.
“Nabi? Utusan Tuhan?” aku merasa heran dengan jawaban yang tak terduga itu.
“Utusan Tuhan…. Orang-orang membenci dia, orang-orang bilang Bapak nabi palsu, orang-orang desa membunuh Bapak dan Ibu, durhaka… Malaikat, tolong aku ,” bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir sambil berbisik.
“Kamu… marah?”
“Marah? Aku…, sedih. Malaikat, tolong aku. Aku sendirian. Orang-orang membunuh Bapak dan Ibu. Orang-orang juga mengusir aku, juga ingin membunuhku. Aku anak nabi palsu, tapi aku tahu mereka salah…. Malaikat, tolong aku ,” ia menelan ludah.
“Iya, mungkin mereka salah.”
“Rindu…, aku rindu Bapak dan Ibu. Ibu suka membuat bubur kacang ijo, Bapak membuatkan aku kursi merah yang bagus. Sekarang semuanya hilang. Malaikat, tolong aku . Aku sendirian,” kedua matanya tampak berkaca-kaca. Ia menangis.
“Jadi karena itu, kamu takut dengan bubur kacang ijo?” tanyaku penasaran.
Ia diam, tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menangis.
Sempat terlintas dalam pikiranku untuk mengangkat lemari itu dan membebaskannya, mungkin juga menyelamatkannya dari sini, tapi aku berusaha bersikap realistis. Kalau aku membebaskannya, ia pasti akan menyerangku lagi, dan saat itu aku tak akan punya kesempatan lagi untuk selamat.
“Saya juga nggak punya ayah atau ibu lagi—saya memanggil mereka Papa dan Mama, mereka udah meninggal,” ucapku sambil menghela nafas.
Wa Merah tak menanggapi, ia terus menatap langit-langit.
“Tapi saya punya ibu tiri. Perempuan yang cerewet dan menikahi Papa cuma karena harta. Saat Papa meninggal dan ia tahu kekayaan Papa nggak sebanyak yang ia kira, ia jadi sinting, seperti nenek sihir.”
“Nenek sihir…? Dongeng Ibu, juga tentang nenek sihir. Nenek sihir tak suka anak-anak, ia menculik, memakan mereka,” ia bersuara, pelan, tapi jelas.
Aku tertunduk lesu, lalu mengelap darah yang masih menetes dari lubang hidungku. Papa ingin agar aku menjadi seorang psikolog handal seperti dirinya, dan aku berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginannya itu. Namun saat Mama meninggal, Papa malah menikah dengan seorang perempuan yang sifatnya bertolak belakang dengan Mama. Setelah Papa meninggal terkena serangan jantung—yang sampai saat ini aku masih curiga bahwa ibu tirikulah yang membunuhnya—nenek sihir itu semakin sering bertindak seenaknya. Saat aku memutuskan untuk tinggal di desa ini dan tinggal bersama Bu Halima, aku merasa menemukan sosok Mama lagi di dalam diri Bu Halima. Sekarang tak ada satupun.
“Perempuan yang kamu bunuh tadi, adalah orang yang saya pikir sangat mirip dengan Mama. Sekarang, dia udah nggak ada. Satu-satunya ibu yang saya punya adalah nenek sihir itu, yang suka menculik dan memakan anak-anak,” ujarku.
“Ibu…, berikan ibu kamu untukku. Aku ingin punya ibu lagi…, walaupun nenek sihir yang makan anak-anak. Aku ingin. Malaikat, tolong aku. Aku sendirian,” ia menarik nafas dalam.
“Nama kamu siapa?” tanyaku.
Ia tak menjawab.
“Bagaimana Bapak kamu memanggil kamu?” aku mengganti pertanyaannya.
“Bapak…? Bapak bilang, Sahid, semalam Bapak didatangi oleh malaikat, Bapak menjadi nabi . Bapak juga bilang, Bapak dan Ibu mencintai kamu, Sahid. Kita akan membuat dunia ini jadi tempat yang lebih baik. Kalau kamu sayang sama Bapak, kita semua akan masuk surga. Di surga ada semua yang kamu mau. Di surga, Bapak nggak perlu kerja, kita bertiga bisa terus bersama .”
“Jadi sekarang, bapakmu sudah ada di surga?”
“Bapak sebenarnya ingin bangkit lagi ke dunia, untuk membimbing umat manusia. Malaikat, tolong aku. Tapi bukan itu, aku cuma ingin ketemu Bapak dan Ibu lagi. Cuma itu. Ingin selesaikan…, sarapan pagi yang belum selesai…. Malaikat, tolong aku .”
Tiba-tiba aku merasa sangat iba padanya, pada pembunuh sinting yang telah membunuh dua belas orang—mungkin lebih—dan telah membakar satu desa. Aku bangkit berdiri dan berusaha mengangkat lemari besar yang menindih tubuhnya itu. Ternyata lemari itu sangat berat, sehingga aku hanya bisa menggesernya saja. Saat aku berhasil membuat celah antara tubuhnya dan lemari itu, ia berusaha menggeser tubuhnya, menjauh dari lemari. Ia merangkak dan berdiri tergopoh-gopoh, mungkin saja tulangnya ada yang patah.
Sebenarnya aku berharap ia tidak akan menyerangku lagi, tapi keputusan yang diambil dalam keadaan emosional seringkali adalah keputusan yang bodoh. Ia langsung menyerudukku, membuatku tersandar pada dinding. Betapa bodohnya aku, berpikir bisa merubah orang yang mungkin sudah gila selama puluhan tahun hanya dengan percakapan beberapa menit. Wa Merah mengambil garpu yang tergeletak di dekat wastafel, lalu ia menghujamkan ujung garpu itu ke bahu sebelah kiriku. Garpu itu menembus kulit dan dagingku, menusuk begitu dalam, rasanya begitu perih hingga membuat aku berteriak. Wa Merah masih tetap tanpa ekspresi, hembusan nafasnya menyentuh keningku.
“Api…, merah, desa ini merah! Merah seperti kursi yang dibuat Bapak! Bapak…, aku telah menjalankan tugasku!” ucapnya sambil menatap keluar jendela yang ada di sebelahku, ke arah kobaran api yang mulai ikut melahap rumah ini.
Pandangan mataku semakin kabur, mungkin karena rasa sakit yang tak sanggup kutahan. Aku tak lagi dapat merasakan apa-apa, kecuali bau asap dan api yang semakin pekat. Namun samar-samar aku dapat melihat Wa Merah tersenyum, untuk pertama kalinya ia menunjukkan ekspresi seperti itu di wajahnya. Lalu dalam perubahan yang sangat cepat, ia menangis, menangis tersedu-sedu. Suara tangisannya seperti suara anak kucing yang baru lahir.
“Bapak, aku telah selesai. Aku sendirian. Kapan engkau bangkit? Atau, jemput saja aku…, jemput aku. Aku sendirian…,” ucapnya di antara suara tangisan.
Hal yang selanjutnya kulihat adalah darah segar yang meluber keluar dari dalam mulutnya, mengalir di antara dua bagian bibir yang kelabu, menetes sampai ke lehernya. Tampaknya ia menggigit lidahnya sendiri. Wa Merah melepaskan aku, mundur beberapa langkah, lalu merebahkan tubuhnya sendiri di atas lantai. Aku terduduk lemas dengan garpu yang masih menancap di bahuku. Pandangan mataku semakin redup, semuanya perlahan-lahan menjadi gelap. Hal yang terakhir yang bisa kulihat adalah tubuh Wa Merah dan mantel hitamnya. Dari dalam seorang manusia itu, aku dapat melihat kesepian tak berujung yang tak mungkin lagi terobati. Dari dalam seorang manusia itu, aku melihat sesosok monster yang pada akhirnya harus menyerah pada takdir, bahwa setiap dendam dan amarah akan berakhir dengan kehancuran.
Mataku terpejam. Di luar, api masih berkobar dan berusaha meraih tempat ini. Indra penciuman, pendengaran, dan perabaku satu demi satu berhenti berfungsi. Dari dalam seorang manusia ini, diriku, aku merasakan keheningan.///
ini yang 5000kata tea?
"sesempurna apa karya yang kamu....?" :D
vai, timingnya agak pabaliut. satu waktu kamu bilang "saat itu", tapi dalam momen yang kurang lebih berlalu beberapa saat tepat setelahnya kamu bilang "saat ini.sekarang".
tauk sih y, mungkin agak kurang nangkep saya. hehehe...
oiya, malaikat tolong aku. itu ada maksud lain? kenapa cetak miring, kenapa diucapkan sering2.
hum... saya rasa, rumah2 di desa sedikit yg punya wastafel.atau, ya, bu halima termasuk orang yg berumah dg wastafel. hehehehe.
hayoh vai, terburuburu.mau ke mana toh?
deadline? huh... takiyo udah kirim emangnya? [-(
:)
perfecto.
hebat vai.
i like this!!!
great!
harus dibaca tiga-tgana.
ku print yah!
hosh..hosh..hosh...capek :D
aku menikmatinya vai...endingnya kusuka, benar2 pas..
AssWrWb... pendeskripsianmu bagus vai.. tapi ga tau kenapa kali ini yang aku rasakan cerita ini terlalu buru-buru ingin cepat ending vai... jadi si pembaca di buat ngebut dan ngos-ngosan bacanya. kalau bisa ada jeda dikit. apalagi ini tentang misteri dan kengerian. barangkali itu saja :D
tentu. akan saya revisi kok. ini emang belum selesai, makanya saya post supaya dapet feed back.(kalo udah selesai sih langsung saya terbitin aja. hehe).
roller coaster banget...
buset dah cepetnyaaa...
ada missing link??
hem...
aq ngerasa ada space yang hilang antara 1 dan 2
dan tau2 ada konflik dan terkesan terburu-buru
:(
sejujurnya ada perasaan kecewa sih pas baca yg 2 ini
sori ya
:(
Gapapa, emang cerita ini masih prototipe kok. Saya bikinnya buru-buru (terlalu percaya pada "ilusi" deadline yang dibuat Takiyo). Nanti pasti saya revisi lagi.