Kehilangan Kartini Padamu

21/04/2009 12:23:31

dunia dengan dua sisi
Kau tatap Ia dari pikir-Mu
kadang nyata kadang maya
mendua pada Satu

dan pada-Nya
Kita bergenggaman
Kita berjalan berputar
pada Ia yang menyata Satu
pada bumi yang melingkar mentari

lihat perjalanan Kita kini
adakah Kita
mengiyakan tiada
mengenggankan nyata
seperti halnya Ia meloncatkan Satu ke dua

menjadi setan dan malaikat
Ia menjadi tanah dan langit
menjadi Aku dan Kamu
nyatakah pada-Mu
senyata pada-Ku
bahwa Kita Satu

bahwa Kita adalah Ia
seperti Ia adalah Kita
seperti Aku adalah Kamu

nyatakah pada-Mu
Kita adalah Satu

bahkan pada maya
bahkan pada tiada

karena Kita

: menyatu Alam Semesta

Rohnya berjalan di kegelapan. Gelap yang menjelaskan gelombang yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Jika dulu dia pernah mempelajari eter sebagai missing-link dari penjelasan mengenai pengantar gelombang di ruang hampa, jika dulu dia pernah diberi tahu bahwa benda padat yang berikatan kuat mampu menabrak-nabrak gas yang berpencar-pencar, kini ia baru memahami semuanya.

Dia tertabrak oleh segala benda. Oleh mobil yang melintasinya, tidak ada bunyi klakson ketika mobil itu menabrak tubuhnya. Seperti halnya tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia tertabrak segala. Bahkan oleh gas yang berpencaran.

Jika dulu ketika hidup dia tak pernah tahu di mana tempat tinggal jiwanya kelak ketika mati, maka seperti halnya kini dia juga tak pernah tahu ke mana ia akan menuju. Ia pikir bahwa mungkin banyak jiwa yang sama berjalan pada gelap. Pada gelombang yang entah apa. Namun mereka tak saling melihat, tak saling menyadari.

Ketika pun mereka harus berpapasan, mungkin tidak akan ada yang saling menatap. Mereka berjalan tanpa wujud. Kalaupun keberadaan mereka mampu dijelaskan oleh teori atom di Fisika atau di Kimia, meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian, apakah mereka sungguh perlu melihat diri masing-masing melalui mata yang berkekuatan mikroskop elektron? Sedang mereka, berjalan tanpa mata. Berjalan tanpa alat indera.

Dia tak tahu dia lepas dari tubuh siapa. Dia hanya masih mengingat bahwa dia pernah bergerak-gerak cepat pada sebuah tangan. Dia pernah berada pada ujung telunjuk seseorang. Pernah digunakan sebagai sesuatu untuk mengetik. Pernah diperintah oleh elektron-elektron pada sel saraf untuk bergerak menunjuk-nunjuk. Namun dia tak tahu ke mana bagian-bagian lain darinya. Entah bagian ibu jari, kelingking, atau jari manis. Entah bagian tangan, kaki, atau kepala.

Dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat bahwa dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Dia pernah mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Atau terserahnya.

Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus. Dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun akhirnya dia lepas.

Pada kesadarannya, dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

*

“Mama nggak mungkin mati!” seorang gadis berteriak-teriak di depan sebuah kamar, “Apa yang bisa Callista lakuin tanpa Mama? Mama jangan mati. Karena cuma Mama satu-satunya yang Callista punya!”

Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang yang ada di setiap kamar di sekitarnya keluar untuk menonton gadis itu menangis, berteriak.

Di depan gadis itu, sebuah kamar telah kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tidak ada tiang infus di sana. Kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang.

“Mama...” dia terus menangis, menelungkupkan kepalanya di lututnya. Tidak ada yang peduli. Mereka hanya menonton, iba.

“Mama janji untuk terus hidup. Mama janji untuk selamanya hidup. Kenapa Mama pergi?”

“Kakak kenapa nangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain mendekatinya.

“Mamanya Kakak ini baru saja meninggal. Ayo, Dito, jangan ganggu..” orangtuanya menarik bocah itu. Seolah pada diri seseorang yang baru saja ditinggal mati kerabatnya, masih tersisa bekas-bekas sentuhan malaikat kematian.

“Mama..” isak tangis terakhir darinya.

Awalnya dia tak percaya. Namun ketika orang-orang di sekelilingnya meyakinkan bahwa memang ada yang meninggal, bahwa orang yang meninggal itu adalah orang terpenting dalam hidupnya, dia hanya mampu terdiam. Tidak mengucap sepatah kata. Tidak menangis, tidak berteriak. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa dia yang telah meninggal.

Tanpa kesadaran penuh, dia berjalan. Seolah ada yang ingin mengantarnya pada suatu tempat, dia menerobos kerumunan yang sebelumnya menontoninya. Tanpa ditemani siapapun, dia menerobos kegelapan lorong, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan. Tanpa seorangpun yang berpapasan dengannya menyadari bahwa dia adalah seorang gadis yang baru saja kehilangan seseorang. Kehilangan sesuatu dari dirinya.

Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Ada orang-orang yang dia kenal. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat dia hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah masih ada bekas-bekas nafas malaikat kematian di sekitar orang-orang terpenting yang pernah hadir dalam hidup seseorang yang baru saja meninggal, mereka tak mendekat selangkah pun. Mereka hanya menonton.

Dia menghampiri kerumunan, semakin dekat. Untuk dipeluk, untuk ditenangkan, untuk disadarkan. Untuk dipanggil jiwanya agar berhenti mencari-cari jiwa seseorang yang baru saja mati. Agar jiwa itu kembali lagi ke tubuhnya, agar ia tak ikut mati.

“Memang sudah jalannya.” Dia dipeluk, tapi dia tak merasakan sebuah pelukan.

“Ke mana perginya Mama?” bukan pikirannya yang bertanya, tapi bagian terdalam dari dirinya, bagian yang tak digerakkan oleh kesadaran kepala.

“Beliau meninggal sejam yang lalu.”

Sejam yang lalu. Tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.

Hatinya terlalu sakit untuk harus menangis. Saraf-saraf di kepalanya bekerja semakin rumit. Membantunya agar tidak menangis, untuk menghentikan kerja saraf-saraf perasa di bagian dadanya, karena seolah ada banyak hal mendesak-desak di dalamnya.

“Kenapa?” Dia tidak menginginkan penjelasan medis.

“Kankernya.”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.

Orang di depannya memeluknya semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahunya, “Callista masih punya tante di sini.”

*

Orang-orang berbisik. Semakin ribut. Bermain kartu. Mengobrol satu sama lain, sibuk menawarkan minuman dan makanan. Beberapa sibuk membungkus peti jenazah dengan kain panjang dan menempel hiasan-hiasan keemasan rata di sekitarnya.

Dia tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Bercerita di sana.

Ketika siang, dia membawa makanan dan minuman yang dulu ketika hidup menjadi kesukaan dari jenazah itu dan meletakkannya di sisinya. Kembali bercerita.

Dalam masa-masa itu, dupa panjang terus menyala. Tidak dibiarkan berhenti. Ketika mati, dupa itu diganti dengan yang lain. Terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.

Sesungguhnya dia berharap jenazah itu akan hidup, lagi.

“Callista, jangan tidur di sini. Nanti bau formalinnya merusak kerja tubuh Callista.”

Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya jadi tidak peka lagi terhadap bau, matanya terkadang perih. Kepalanya makin sering pusing.

“Biarlah.”

*

Jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Dulu jenazah itu pernah bercerita pada Callista. Pernah bilang sesuatu di acara permandian jenazah orang lain, bahwa jenazah itu mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.

Callista ikut memandikan. Ritus yang panjang. Termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan kain beragam warna. Termasuk menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Termasuk menutupi rasa malu jenazah itu. Termasuk, ingin sekali memandikan jenazah itu secara personal, supaya tidak ada orang lain menonton jenazah itu telanjang, supaya hanya dia dan jenazah itu. Supaya hanya mereka. Seperti saat-saat mereka dulu mandi bersama. Berdua.

Orang-orang hanya menonton. Orang-orang hanya ingin menonton. Tidak ingin berakting bersamanya. Seolah dalam skenario kehidupannya, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tokoh utama hanya tinggal satu saja. Bahwa tidak ada lagi temannya untuk beradu peran.

*

Katanya, jiwa jenazah itu telah pindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Callista membawanya di atas kepala. Ibu-ibu lainnya membawa benda-benda lain sebagai simbolisme. Entah sebagai simbolisme pengantar yang telah meninggal, entah sebagai iring-iringan yang kelihatan indah.

Sebelum menuju tempat kremasi, ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan. Untuk memutus keterikatan, untuk tidak pernah memimpikan dia yang telah meninggal. Tali dan logam cina dan beras kuning dan beras putih dan mungkin kunyit dan rempah-rempah lainnya, dilempar ke langit, dibenturkan ke telapak tangan, dijatuhkan ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan pada yang telah meninggal seketika.. musnah.

Setelahnya, Callista memimpin di depan. Orang-orang berjalan di belakang. Jenazah diangkat di belakang di dalam sebuah wadah. Orang-orang lainnya memegangi kain putih panjang di atas kepala.

Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis berniat mengabadikan sebuah momen. Callista mengabadikannya dalam hatinya.

Di tempat kremasi, di tempat dulu dia dan jenazah itu pernah datang ke acara kremasi jenazah lain, dia sampai di sana. Wadah diletakkan. Jenazah dipindahkan, dia disibukkan dengan panggilan orang-orang. Beberapa orang menyibukkan diri dengan memanggil-manggil dirinya sendiri.

Beberapa orang datang untuk menghiburnya. Beberapa orang tersenyum padanya. Beberapa lagi ikut menemaninya terus di sisinya. Semua ritual khusus dilakukan. Jenazah diletakkan di dalam sebuah kotak yang dibentuk dari pelapah pisang. Selang gas dimasukkan dari celah-celah bawah. Orang-orang melempar bunga, daun, banten, uang, dan pakaian ke atas jenazah. Callista melempar sebuah buku gambar.

Di dalam buku gambar itu, ada gambar-gambar rumah. Di dalam buku gambar itu, ada kenangan-kenangan. Pernah ada seseorang yang memuji gambar-gambarnya, warna-warnanya, dan membantunya mewarnai. Dan orang itu telah mati. Dia berharap orang itu akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. Dia berharap orang itu mendapatkan tempat yang layak untuknya di alam sana.

Meski gambar-gambarnya, tidak pernah sebagus pujian orang itu. Karena dia tahu, orangtua yang baik memang selalu memuji anak-anaknya. Orangtua yang baik, selalu ingin berkorban lebih untuk anak-anaknya. Seperti jenazah itu. Yang melakukan apapun untuk Callista, untuk dia bisa mewujudkan cita-citanya.

“Hanya itu saja yang mau diberikan?”

Dianggukkannya kepalanya. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.

Dan api mulai dinyalakan. Api mulai membakar. Callista tidak ingin menjauh, tapi dia terus ditarik-tarik untuk menjauh.

Di kejauhan, dia berdoa, menyanyikan doa-doa sekeras-kerasnya. Orang-orang hanya menonton. Tidak ada yang merasa pandai berakting dan mendekatinya.

Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga yang tersisa hanya tinggal tengkorak dan tulang-tulang. Hingga akhirnya, seluruhnya menjadi abu dan tulang-tulang kecil. Selama itu, dua orang menggenggam tangannya di sisinya. Dua orang, sahabat kentalnya di bangku sekolah.

Beberapa orang pulang. Beberapa lainnya membantunya mengumpulkan abu-abu dan tulang-tulang, menyaring abu dan tulang-tulang. Memunguti tulang-tulang besar, memisahkannya dengan abu-abu, memisahkannya dengan kelam kehidupan.

“Sekarang kita ke laut,”

Sekarang ke laut. Membuang abu, membuang segala yang tersisa.

*

Di laut, semuanya hilang. Semuanya menyatu. Atom-atom pada tulang, atom-atom pada abu, menyatu dengan atom-atom pada air, atom-atom di udara.

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Ketika atom-atom mereka mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.

Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.

Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entah ada misteri besar apa yang bisa dipecahkan oleh kepala.

***

21/04/2009 15:47:02
CLX7,

: Selamat hari Kartini, Mama.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer _Sendja_
_Sendja_ at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 43 weeks ago)

window.location.href"www.google.com"

Writer TOILET_KATA
TOILET_KATA at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 44 weeks ago)
70

huff...

Writer mahar_fans
mahar_fans at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 47 weeks ago)

Wi, mana karyamu yang baru? Eh, cerpen yang itu gak jadi, kurang apah gituh...
Mau ganti.
Btw, liat2 lapakku yo. Diantos, hehe^^

Writer x_zombie
x_zombie at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 47 weeks ago)
80

ADA KOMEN YG BILANG KAU 'Wanita Bali Sejati'...

tapi kenapa bunga yg terselip di telinga sudah tak ada?

(sori komen ngawur ni..)

Writer andreas
andreas at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 47 weeks ago)

Tuhan memanggilnya karena ingin melepas penderitaannya skaligus untuk berterima kasih dengan segala kebaikannya di dunia...

Writer centaurus beserta air dan anginnya
centaurus beser... at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
100

wanita bali sejati >.<

Writer mahar_fans
mahar_fans at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

Wew, dew, nggak bisa komen apa2, hehe.
Hanya saja, saya mau tekankan: ilmu pengetahuan dan teknologi peradaban manusia manapun, entah Atlantis, Maya, Lemuria, Mesir Kuno, Majapahit, atau kapanpun, tidak akan pernah mampu menembus alam gaib. Begini ya, ini sama seperti yg prnah kita bincangkan bersama, hehe
yaitu, tentang perjalanan antardimensi. Dimensi kita dan dimensi gaib sangat berbeda. Katanya sih, ditempat kita duduk, buka kemudian.com, ngetik komentar, nah disana juga terdapat kehidupan dimensi yang berbeda yang sedang berlangsung. Teori multidimensi berlaku disini.
Pertanyaannya adalah, mengapa koq bisa ya orangorang bodoh (dukun misalnya, kata orang sih orang pinter, tapi emangnya pinter gituh?) berkomunikasi dengan dimensi lain? Mungkinkah batasan dimensi bisa dilanggar, ataukah saya yang menyalahartikan pengertian sebenarnya dari dimensi? Eh, wi. Emang dimensi apaan? Gak tau, haha.
Atau jika ada kesepakatan antar dua dimensi, maka kita akan saling berhubungan?

Nah justru inilah masalahnya mengapa td saya bilang iptek takkan pernah bisa menjelaskan scra gamblang relevansi antara iptek dan gaib. Krena masalah gaib hanya Tuhan yg tahu.

(sperti katamu, teori asal asalan saya ini takkan pernah bisa mendapatkan hadiah novel eh nobel. Hahaha. Eh, ntar di fb kt dskusi lagi yuk^^)

Writer panah hujan
panah hujan at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

Wah, nama-nama peradaban yang asing di telinga, nih ^^ apa teori mereka tentang jiwa? Ridwan tahu?

Kasihan sekali, ya, kalau dunia ini hanya terdiri dari dua dimensi ^^, berarti kita-kita ini hanya gambar-gambar saja, begitu, ya? :D sejauh kata para ilmuwan, dunia ini, sih, terdiri dari empat dimensi. tapi kalau saya pikir, belum lengkap juga, sih.. belum lagi ditambah dimensi-dimensi besaranturunan fisika yang terdiri dari gabungan [M], [L], [T] ;) jadi, mungkin maksud kamu yang "dua dimensi" itu adalah "dua dunia", ya? karena saya belum pernah melihat setan, saya ngga bisa percaya dengan hal-hal gaib itu.

mengenai "Katanya sih, ditempat kita duduk, buka kemudian.com, ngetik komentar, nah disana juga terdapat kehidupan dimensi yang berbeda yang sedang berlangsung. Teori multidimensi berlaku disini." oh, ya?

tapi kalau ridwan baca ulang karya saya, tentu ridwan tidak akan menemukan tentang multidimensi yang ada hubungannya dengan gegaiban itu. :) jiwa bagi saya, adalah atom-atom. tubuh bagi saya, adalah atom-atom. kalau ridwan menghayati puisi saya, akan kelihatan mengenai itu :) bahwa sesungguhnya, kita menyatu dengan alam semesta. penulis favorit saya, Paulo Coelho, melalu Sang Alkemis-nya, telah mempersuasi saya mengenai ini.

tapi tentu saya harus lebih banyak belajar lagi agar pemikiran-pemikiran dalam tulisan saya bisa lebih dimengerti :)

dengan ini, kasus ditutup. tidak menerima diskusi yang lebih panjang lagi, baik di k.com ataupun di fb. :)

Writer mahar_fans
mahar_fans at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

haha, koq ditutup sih.
^^v

--> tapi kalau ridwan baca ulang karya saya, tentu ridwan tidak akan menemukan tentang multidimensi yang ada hubungannya dengan gegaiban itu.

maksud saya, 'disini' dalam kalimat : Teori multidimensi berlaku disini, bukan 'disini' dalam karyamu, wi^^
tapi 'disini' dalam pernyataan sebelumnya : Katanya sih, ditempat kita duduk, buka kemudian.com, ngetik komentar, nah disana juga terdapat kehidupan dimensi yang berbeda yang sedang berlangsung.

Waduh, jiwa menurut mereka? saya kurang tahu, tuh. hehe. yang saya tahu sih, peradaban mereka canggih-canggih. hahaha
:D

Wah, siapa pula itu Paulo Coelho. Hem, kenalanmu itu ya, hebat-hebat, kelas dunia. hahaha. Kenalin dong. Tapi saya setuju, kita bersatu dengan semesta, dengan berpusat pada Tuhan yang satu. Dan semua materi di semesta, memang asalnya dari atom-atom. Eh, adakah materi yang didalamnya tak ada kandungan atom?

(Kalo gitu, kita ganti aja topik bahasan kita, gimana? hoho^^)

Writer just_hammam
just_hammam at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
80

bagus sekali...kubaca dari puisi hingga endingnya ditabur di laut...sungguh cerita yag indah.

Writer _aR_
_aR_ at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
100

gudbey, panah hujan :)
.
nice story.
i always love ur stories.

Writer panah hujan
panah hujan at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

Sampai jumpa di lain kesempatan :)

Happy Birthday ^^

Writer KD
KD at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
100

fight!

Writer panah hujan
panah hujan at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

I'll do!

Thank you :)

Writer chrischemslover93
chrischemslover93 at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
100

bagus bngt! I was left speechless! :O

(pengen kasih 15 tapi mentok) :D

Writer rey_khazama
rey_khazama at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
80

wow! calon ieuhhh..
keren, nyaris kagak ada cacat (menurut rey)
keep writing. dan selamat hari kartini.

Writer panah hujan
panah hujan at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

Allea zoeys (4/21/2009 12:06:49 PM): My Prayer for Today... Oh God, wherever I go today Help me leave heartprints! Heartprints of compassion Of understanding and love. Heartprints of kindness And genuine concern. May my heart touch a lonely friends Or a runaway sister and brother Or an anxious mother Or perhaps an aged grandfather. O God, send me out today To leave heartprints. And if someone should say, I felt your touch, May that one sense YOUR LOVE Have a blessed day!

Writer panah hujan
panah hujan at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

Allea zoeys (4/21/2009 12:00:23 PM): If tomorrow starts without me, And I m not there to see, If the sun should rise and find your eyes All filled with tears for me; I wish so much you wouldn t crythe way you did today, While thinking of the many things,We didn t get to say. I know how much you love me, As much as I love you, And each time that you think of me,I know you ll miss me too; But when tomorrow starts without me, Please try to understand, That an angel came and called my name, And took me by the hand, And said my place was ready, In heaven far above, And that I d have to leave behind All those I dearly love. But as I turned to walk away,A tear fell from my eye, For all my life, I d always thought,I didn t want to die.

Allea zoeys (4/21/2009 12:00:41 PM): I had so much to live for, So much left yet to do, It seemed almost impossible, That I was leaving you. I thought of all the yesterdays, The good ones and the bad, I thought of all that we shared, And all the fun we had. If I could relive yesterday, Just even for a while, I d say good-bye and kiss you And maybe see you smile. But then I fully realized, That this could never be, For emptiness and memories, Would take the place of me. And when I thought of worldly things, I might miss some tomorrow, I thought of you, and when I did, My heart was filled with sorrow. But when I walked through heaven s gates, I felt so much at home. When God looked down and smiled at me, From His great golden throne, He said, This is eternity, And all I ve promised you.

Allea zoeys (4/21/2009 12:03:36 PM): Today your life on earth is past, But here life starts anew. I promise no tomorrow, But today will always last, And since each day is the same way, There s no longing for the past. So when tomorrow starts without me, Don t think we re far apart, For every time you think of me, I m right here, in your heart

thanks for my new Mama :)

hahahaha..

Writer 51-374
51-374 at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
100

Callista -> :-?
hiks T_T

Writer prince-adi
prince-adi at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)
70

wes, aku udah tau kapasitasmu yg cukup di atas rata2 untuk ukuran k.com

aku menunggumu mungkin 1tahun lagi, ketika proses brainexplosionmu sudah stabil...

akan jauh lebh mtang saat itu :)

Writer KD
KD at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

menurutku stabil atau tidak stabil bukan masalah,
yang penting unik.

Writer panah hujan
panah hujan at Kehilangan Kartini Padamu (9 years 48 weeks ago)

sipppp, Prince :)

kutunggu dirimu duduk di kursi, kuberi bacaan yang bagus.