Segitiga Cinta

[Prolog]

Suatu senja di sebuah danau.

”Nay, umurmu berapa sekarang?”

Gadis kecil bernama Nay itu menoleh, memandang anak laki-laki di sampingnya lalu membuang cone eskrimnya yang sudah belepotan es dan lengket di telapak tangannya.

”Emmm, tujuh tahun... tujuh tahun lebih emmmm... lima bulan,” jawab Nay mengerutkan keningnya. ”Kalau kamu, Dhan?”

”Sama, tujuh tahun lebih.... empat bulan.” Lalu anak lelaki itu mengelap ingusnya dan menoleh ke arah gadis kecil lain di sebelah kirinya. ”Kamu, Cha?”

”Tujuh tahun setengah!” Chaiya menjawab cepat sambil meringis, memperlihatkan gigi ompongnya.

”Lho, Dhan yang paling kecil, ya?” Nay menunjuk Dhan yang sedang menyedot ingusnya.

Chaiya tertawa. ”Iya, lah... Dia kan yang paling cengeng, masih ingusan, lagi. Hahahaha....”

Nay ikut terpingkal-pingkal melihat ingus Dhan yang sekarang kembali bergelantungan di atas bibirnya.

Dhan merucutkan bibirnya, kesal. Tapi sebelum ia mengatakan apa-apa, Nay telah merebut buntalan plastik di tangannya dan berlari bersama Chaiya.

”Heiiiiiii!!!!” pekik Dhan sambil mengejar kedua sahabatnya.

Selama ini, Nay dan Chaiya selalu merebut makanannya, dan ia tidak pernah berhasil mengejar anak-anak perempuan itu.

”Kembalikaaaaannnn!!! Kembalikan saputanganku!!!!” teriak Dhan terengah-engah. ”Itu bukan makanan, itu saputangan berisi inguuuuuuusssss!!!!”
***

[Nay]

Tak akan kulupa hari-hari itu. Tiga anak kecil berlarian menyambut senja di sebuah danau tak jauh dari rumahku. Selalu, aku ingin terus menjadi sekecil itu. Aku, Chaiya, dan Dhan. Aku mungkin memiliki jiwa Peterpan dalam diriku, menolak menjadi dewasa agar aku tidak pernah jatuh cinta seperti saat ini. Chaiya, apakah dia juga sama sepertiku? Hingga persahabatan ini menjadikan Dhan sebagai satu-satunya yang baik-baik saja. Mungkin saja. Dan semakin lama, aku semakin tidak percaya pada persahabatan.

”Nay, kau di dalam?”

Aku berdiri dan membuka pintu kamar. Mendapati Dhan membawa sebuah kantong plastik di tangannya.

”Sudah kubilang, tunggu saja di ruang tamu. Kau kan tidak perlu naik ke kamarku!” aku cepat keluar dan menutup pintu di belakang punggungku.

”Hmmm, jangan marah, dong... Di bawah tidak ada orang, jadi aku langsung ke sini,” ia membela diri. ”Ngomong-ngomong, kau tidak ingin dandan dulu? Aku mau mengajakmu ke danau, nih...”

Aku menatap wajahnya yang tampak segar dan membaui aroma lemon dari kemejanya. Dhan tidak pernah tampak sekusut waktu kecil. Dia telah menjadi pemuda yang bisa dibilang sempurna. Setidaknya di mataku. Dan kebiasaannya memandang senja dari danau, masih tidak berubah sampai sekarang.

”Dengan Chaiya juga?” tanyaku, kini memandang kantong plastik di tangannya yang pasti berisi makanan ringan yang ia comot seenaknya dari supermarket papanya.

”Tentu!” Dhan menjawab ceria. ”Kita kan selalu sama-sama.”

Kita? Aku mengejanya gamang, lalu masuk kamar dan menguncinya, meneriaki Dhan agar turun dan menungguku di ruang tamu agar dia tidak melihat banyak rahasia dalam kamarku.

Kita? Sekali lagi, kita? Ah, sayangnya ’kita’ itu telah bermetamorfosa menjadi ’kita’ yang lain. Karena begitu banyak rahasia yang terlalu aneh untuk dibagi. Apakah ini namanya persahabatan?

Aku selesai menukar pakaian, mengenakan dua kalung sekaligus di balik bajuku. Kalung dari dua orang yang aku cintai. Inilah cinta pertama dan keduaku yang rumit.
***

[Dhan]

Aku tidak percaya aku masih bisa berada di sini, duduk menghadap danau dan menyaksikan matahari tertelan malam bersama mereka, sahabat kecil sekaligus kekasihku. Eum, maksudku... ya, mereka memang kekasihku. Nay dan Chaiya. Meski begitu, kami tetap saling menyebut sebagai ’sahabat’. Nay tidak tahu aku pacaran dengan Chaiya, dan Chaiya tidak tahu juga, aku mencintai Nay. Jahatkah aku? Entah... yang pasti aku bangga masih bisa meyakinkan Nay untuk menyimpan rahasia hubungan kami dari Chaiya, demikian sebaliknya Chaiya, merahasiakan pula tentang ia sebagai kekasihku, atas nama ’persahabatan.’

”Dhan! Sini, bagi wafernya!” Nay merebut kantong plastikku dan melarikan diri bersama Chaiya. Sambil berteriak-teriak aku mengejar keduanya menyusuri tepian danau. Di sebelah barat, matahari keemasan memamerkan keindahannya yang sebentar lagi purna. Dan dua orang kekasihku berlari semakin jauh meninggalkanku.

Aku menghentikan langkah dan menatap sosok keduanya yang semakin mengecil. Berlarian dan berebut makanan... seperti kami sewaktu kecil. Sewaktu persahabatan tidak berbalut kepura-puraan. Ah...

Tiba-tiba aku ingin kembali ke masa itu.
***

[Chaiya]

Nay sampai di kamarku dan aku langsung menarik tangannya menuju kasur yang kuletakkan begitu saja di lantai bawah jendela.

Malam sepulang kami dan Dhan dari danau, aku memintanya ke rumahku karena aku tidak tahan memikul beban ini sendirian.

”Kenapa, Cha?” tanya Nay sambil memegangi tanganku yang terburu-buru menghubungkan modem dengan laptop.

”Setiap hari aku ingin menangis, Nay,” ujarku, Nay mengelus rambutku penuh perasaan. Aku tahu ia juga sama sepertiku. Tertekan, takut, bingung....

Kutelusuri google dan mencari artikel-artikel tentang biseksual.

”Kau setuju kalau kita berpisah?” aku menatap Nay dalam setelah menyerahkan beberapa lembar yang sudah kucetak. Cara-cara menyembuhkan, atau paling tidak, menghadapai keadaan menyukai lelaki dan perempuan sekaligus.

”Me-memangnya... apa yang membuatmu tiba-tiba....”

”Aku menyadari satu hal,” potongku sambil menunduk. ”Aku tidak bisa hidup dengan keadaan begini. Sebentar lagi kita lulus SMU. Apapun yang kita lakukan, harusnya adalah yang terbaik. Nay...” Aku mengangkat mukaku dan menangis begitu saja. Nay cepat-cepat memelukku seperti biasa.

”Ibuku kena kanker payudara, mungkin sudah tidak lama waktu yang kumiliki untuk membahagiakannya.”

Nay menatapku bingung. ”Sejak.... kapan?”

”Baru kemarin aku tahu, setelah pulang sekolah.”

Di rumah ini aku tinggal bersama ayahku dan istri barunya. Ayah dan ibu telah lama bercerai, dan sekarang tinggal hanya bersama kakak lelakiku yang sedang sibuk melamar pekerjaan. Lima bulan sudah aku tidak mengunjungi ibu, dan kemarin berita itu mengejutkanku, sangat.

”Tapi kan ibumu masih bisa menjalani kemoterapi atau semacamnya itu, Cha...” Nay sudah hampir menangis sekarang.

”Sudah terlambat. Aku menyesal baru datang sekarang, Nay... Aku.... aku terlambat berbakti kepada ibuku. Ja-jadi... aku... ingin jadi gadis normal sekarang.”

Nay mengusap airmatanya, entah menangis karena ceritaku, atau menangis karena akan berpisah denganku.

”Tidak ada yang normal dan tidak normal, Chaiya,” ujarnya, ”Menjadi biseksual bukanlah apa yang kita rencanakan.”

Kami berpelukan dan menangis berjam-jam.
***

[Nay]

Jadi kami telah benar-benar berpisah. Bukan lagi pasangan sesama jenis seperti dua tahun belakangan. Bahkan aku telah jatuh cinta padanya sejak aku belum jatuh cinta pada Dhan. Jadi, aku menghianati Dhan. Ah, tidak.... Aku menghianati Chaiya, mungkin begitu. Karena dialah yang pertama kali bersamaku, waktu kami mengira kami lesbian. Tapi setahun yang lalu Chaiya mengaku bahwa ia ternyata juga tertarik pada laki-laki. Aku pun demikian, mulai menjalin cinta dengan Dhan diam-diam. Jadi beginilah adanya...

Hari ini aku kehilangan cinta pertamaku.
***

[Dhan]

Chaiya bilang akan pindah ke rumah ibunya agar bisa merawat beliau. Jadi kami akan pacaran jaak jauh. Hmmmm.... tadinya kupikir begitu. Tapi ternyata ia malah memutuskan untuk berpisah denganku, dengan alasan, ia merasa bersalah telah menduakanku. Astaga.... Selama ini dia mencintai orang lain juga? Kenapa aku tidak tahu? Padahal sehari-hari ia hanya bersamaku dan Nay. Yah... meskipun dia tidak mengatakan siapa orang yang dicintainya itu, aku rasa ia sudah mengambil keputusan yang terbaik. Jadi, sebenarnya, siapa yang menduakan siapa?

Pada akhirnya, hanya Nay yang setia. Aku kehilangan Chaiya tanpa mengatakan bahwa aku juga menduakannya, dengan Nay!

***

[Chaiya]

Senja itu, kami berpisah di danau yang sudah tujuhbelas tahun memberi kami kenangan manis. Mungkin, kembali sebagai tiga orang sahabat, mengingat aku telah meninggalkan keduanya sebagai kekasih. Ah, Tuhan... mengapa ada persahabatan semanis ini, rahasia tersimpan begitu sempurna berbalut penghianatan.

”Aku berangkat, ya...” aku memeluk kedua sahabatku erat-erat. Nay menangis dan Dhan tidak mengatakan apa-apa.

”Semoga ibumu baik-baik saja,” ujar Nay sambil menatap senja, menyembunyikan airmatanya.

”Sepertinya tidak akan begitu,” jawabku sambil memeluk Dhan.

Dhan tidak tampak sedih waktu aku memeluknya. Mungkin ia kesal karena aku menduakannya. Tapi toh dia tidak akan pernah tahu aku membagi cintanya dengan Nay.

Aku telah kehilangan dua cintaku sekaligus.

Biar.[]

P.S: Berantakan dan alurnya terlalu cepat, hehehe.... Ide dadakan setelah sms-an sama teman lama yang suka nama-nama Thailand.

Sabtu, May 16th, 2009

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer irwan bajang
irwan bajang at Segitiga Cinta (10 years 12 weeks ago)
90

gaya berceritamu bagus sekali mbk..
hmmm
keren

prolog pembukaanmu kayak laskar pelangi..hehehe

Writer arv claten
arv claten at Segitiga Cinta (10 years 13 weeks ago)
80

keren
hidup ini begitu sempit,sedikit tokoh dg konflik y unik bgt
ak hrs pelan2 bacanya(maklum lemot)krn ganti2 sudut pandang
sip

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Segitiga Cinta (10 years 13 weeks ago)
80

hmm........alurnya agak terburu-buru,seperti ingin cepat selesai.Nilai lebih karena aku terkesan dengan idenya.Liat juga karyaku ya........!!!