Dunia Jendela

Dan kita memang benar-benar terduduk di sana, di pinggir jendela sembari meratapi langit dengan bintangnya yang berkeredap. Aku tidak menatapmu. Kau tidak menatapku. Kemudian kita tiba-tiba merasa tak perlu bertatap-tatapan. Tak perlu melempar pandang.

“Kau tidak bicara?” tanyamu seketika.

Aku menatap wajahmu yang tak kupandang sejak sepuluh menit lalu. “Bicara untuk apa?”

“Untuk apa?”

“Untuk apa.”

“Untukmu, untukku, untuk kita.”

Aku mengunci bibir, tak menjawab. Tak menemukan kata-kata.

Dan tak jua bicara.

****

Dalam remang, dalam terang, dalam hening entah bising, aku kerap menarik tanganmu dan menempatkannya di tepi kusen jendela. Tanpa lupa menyibak kelambu biru agar tak menutup pandanganmu pada oase di bawah sana. Juga pada danau berhantu yang kudengar berisi tangisan panjang dikala malam. Tapi toh, itu tak menyurutkan niatku untuk menempatkanmu pada sudut di kanan jendela kamar kita.

Kita dapat melihat apa saja dari balik jendela ini. Kadang sekawanan angsa yang berbulu putih halus seperti salju yang membeku, berenang hingga ke tepi-tepian danau, menghampiri sekumpulan anak-anak yang sibuk berteriak kegirangan dan memamerkan elusannya pada orang tua mereka. Tak jarang jua lewat berlusin-lusin kereta warna-warni hiruk pikuk penuh sesak bersama masinisnya yang melambai ke arah jendela kita, mengharap mendapat balas lambaian jua. Sesekali aku akan menghidangkan hujan yang bercucuran padamu di luar sana. Lantas kau akan menyaksikannya sambil menikmati kopi hangat buatanku.

Tentu kita dapat melihat sebuah dunia di balik jendela, yang bergulung-gulung seperti benang-benang emas gulali. Manis dan pekat sekali.

“Seandainya tak ada dunia di balik jendela, akan jadi apa kamar kita?” aku bergelayut pada lenganmu, mencari degup yang kukasmarani itu.

“Entahlah. Barangkali setiap malam yang terdengar hanya lolongan hantu itu.”

Aku menukas sigap. “Hantu tidak melolong!”

"Lalu?”

“Barangkali menangis…”

“Teori dari mana itu?”

“Teoriku!”

Kau tergelak.

Begitulah, hanya aku dan kau, hanya kita, duduk di sudut jendela, menggeraikan kelambu biru dan menghunuskan kerdipan ke renda-renda dunia yang warna-warni kiranya. Kita hanya penikmat, dan tak perlu bertanya untuk apa warna-warna itu ada, menyembul di balik kusen jendela dengan segala keistimewaannya. Kita juga tak perlu pusing apakah di siku sebelah sana ada badai taufan ataukah kereta yang lewat berkelebat beserta masinisnya selamat sampai tujuan.

Kita hanya penikmat di hulu jendela.

Penikmat tak harus berpikir, bukan?

****

“Kau mau ke mana?”

“Pergi. Pulang. Minggat dari sini.”

Kau menarik tanganku.

“Kenapa?!”

“Aku tidak mau lagi menikmati dunia di balik jendela. Aku tidak mau bernasib sama dengan Sukab!!”

“Lelaki pengangguran itu?”

“Iya!”

Kau memegangi tepian mukaku dengan kedua jemari rikuhmu. Kau menatapku. Aku tak menatapmu.

Tak berani menatapmu.

“Bohong,” ujarmu perlahan. “Sukab bunuh diri karena memang dia gila. Tapi kau tidak gila.”

“Aku gila.”

“Kau tidak gila!”

“Aku gila! Aku melihat hantu di danau! Melihat darah memancur segar menyambar-nyambar! Aku gila!” suaraku memekik mengeras menyerupai getaran lima oktaf. Andai kau tak dapat menguasai gerak tubuh, kuyakin kau sudah menyumbat mulutku atau menutup kedua lobang telingamu.

“Danau itu berhantu!” aku kembali berkoar. Kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Tapi jendela itu tidak salah,” timpalmu.

“Jendela itu yang membawa hantu.”

“Tidak.”

“Iya!”

“Tidak!”

“Iyaaa!!! Suga, iya! Jendela itu membawa hantu!!”

Sunyi sebentar.

Kau masih menatapku. Dan aku menatap kesal pada jendela itu.

“Tidak. Ai, jendela itu tidak membawa hantu. Kau gila!”

Aku menatapmu tak percaya. Samar-samar kulihat kau berjalan menjauh. Kemudian suara pintu dikancing terdengar. Dan aku merasakan aliran hangat jatuh dari kedua ujung mataku.

****

Dan kita memang telah benar-benar terduduk di sana, di pinggir jendela sembari meratapi langit dengan bintangnya yang berkeredap. Aku memang tidak menatapmu. Kau pun memang tidak menatapku. Kemudian kita tiba-tiba merasa tak perlu bertatap-tatapan. Tak perlu melempar pandang.

Siang tadi, kau kembali mengajakku mendiami jendela. Entah bisikan mana yang kudengar dari telinga kanan hingga aku pun mengiyakan ajakanmu itu setelah lama tak kulangkahkan kakiku keluar dari gudang, mendekam seperti orang kesetanan.

“Akan kutunjukkan dunia di balik jendela.”

“Tak ada dunia di balik jendela.”

“Ada dunia di balik jendela. Kau hanya sedang gila.”

“Tak ada dunia. Hanya ada hantu, dan arwah Sukab itu.”

Kulihat kau menggeleng malas lalu diam tak menjawab ocehanku yang tak pernah bisa mengarah.

Mungkin saja aku rindu pada masinis yang kerap melambaikan tangannya pada kita. Juga pada angsa yang berenang ke tepi-tepi danau menjulurkan kepalanya pada anak-anak yang berteriak kegirangan. Aku juga rindu pada warna-warna emas yang membuntal sebagaimana gulali pekat dan kental. Kau sebut itu lelangit darah. Dan aku hanya menyimpan senyum dan menarik parasmu diam-diam dalam ingatanku, berharap tak akan lepas paras yang kucintai itu.

“Kau masih tak bicara,” kau membuka suara untuk kesekian kalinya.

Kudekatkan tubuhku padamu, berharap menggayut lengan rikuhmu.

“Aku takut arwah Sukab muncul di balik jendela.”

“Orang mati arwahnya tak mungkin kembali.”

Sejenak aku merenung.

“Kalau begitu aku gila?”

“Iya. Kau gila.”

Perlahan dapat kurasakan senyumku mengembang. Dan meski kau tak dapat melihat arwah-arwah yang kini berdansa (termasuk arwah Sukab) di bawah sana, di pinggir danau yang menyembur merah serupa darah, yang muka-mukanya tak lagi jelas: bopeng, penyok, rata, tak terkira, lambat laun kunikmati pula itu sebagaimana dunia baru di balik jendela. Yang harus sendiri kujaga sebagai rahasia.

“Boleh aku bercerita?”

“Apa?”

“Tentang romansa.”

Kau tak menjawab.

Di luar, kulihat gerimis bersahutan. Arwah-arwah itu mungkin kedinginan.

****
(2009)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sekar88
sekar88 at Dunia Jendela (4 years 45 weeks ago)
60

pusing ga gerti ga nyambung mungkin karna lagi males baca aja kali ya

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Dunia Jendela (4 years 45 weeks ago)
Writer luna arata
luna arata at Dunia Jendela (4 years 45 weeks ago)
90

Ceritamu selalu membawaku ke awang-awang tentang sesuatu yang polos tapi tak tergambarkan.
Salute

Writer ophelia
ophelia at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
70

aku tidak membacanya (lagi). aku hanya ingin membaca komentar-komentarnya saja. dan, tempo siap membuka jendela itu, Ya. bisa jadi kompas.

Writer indisa
indisa at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
100

menarik sekali

Writer arv claten
arv claten at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

kenapa aku dapat melihatmu dari jendela itu
apa aku termasuk orang2 sebelum sukab
apa kau melihatku pula dari sana
[entahlah, tulisanmu mbuatku tak bisa komen]
wow, salam

Writer bana_39
bana_39 at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

:D aku terpesona lagi untuk sekian kali.....waoww

Writer chia
chia at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

:)

Writer Akatsukileader
Akatsukileader at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

keren................ !!!! mau coba kirim ke majalah ???

Writer buayadayat
buayadayat at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

ahh straw, seperti sisi lain dari tema serupa di cerpen raga..
hanya bisa salut dengan gaya narasimu yg membuatmu sealiran dengan sga, terlebih kau mengutip nama sukab..

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

Oh! Angsty..angsty...sebuah genre yang membuatku pusing belakangan ini (karena belum berhasil menaklukannya). Dan dirimu menulisnya dengan indah? Huaa.. ngiri deh.. Bagus, Sis. Gimana sih caranya bikin angsty begitu??

Writer rey_khazama
rey_khazama at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

:) keren ai.
selalu suka dengan karyamu yang selalu berbau seno. :D
aku berhasil dapetin sepotong senja, hehehehe...

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

Rp.100 wrote:
Knpa nda nyoba Di bukuin.. buat penghasilan tambahan...
Bagus ini...

tapi mas harus beli??

hheheheh

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

Jeka Roling_dipanggil_Jek... wrote:
he eh, indah sekali...pesanya nyampe "jangan jadi orang gila" hehehe menakutkan...
kalo boleh tahu, ini sebuah cuplikan novel kah? atu cerpen?

cerpen kok,,, tinggal dipermak dikirim ke tempo,, hhahha, amin amin,,,

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

Kang Irul wrote:
oo.. jadi ini bicara soal makhluk halus yua mbak..??
:p

perhaps,,,

Writer panah hujan
panah hujan at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
80

kata-katamu indah nian :)
apa kamu Cassle yang menyamar, ya? :))
mengalir lancar seperti karya-karyanya.

:)

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

panah hujan wrote:
kata-katamu indah nian :)
apa kamu Cassle yang menyamar, ya? :))
mengalir lancar seperti karya-karyanya.

:)

bukan, aku Nihayatun Ni'mah, 15 tahun, domisili Yogyakarta tepatnya PeRum Dalem Teratai Asri F13, Sewon-Bantul. SMA Negeri 6 Yogyakarta, X3, Absen 28. dulu di SMP 5 Yogyakarta, kelas 9 che. Absen 31

Writer panah hujan
panah hujan at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

edan :))

Writer Onik
Onik at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

wew, lengkap banget tuh! Sewon ya? wuih jauh dari tempat tinggalku tuh :D
sering ke Amplaz (Ambarukmo Plaza) ga? aku sering ke sana lho :))

Writer Onik
Onik at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
100

ceritamu selalu mengalir dengan indah, aku suka deskripsi yang kau sampaikan mengenai danau dan... hantunya, tergambar banget seremnya hiiiiii.... :D

Writer adelya_minerva
adelya_minerva at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

duh! jadi ngiri gw! kapan yah gw bisa bikin kayak gini? :(
Susunan kata yang sempurna untuk ukuran sebuah cerita...

Writer echanalukman
echanalukman at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

sudah kubaca di note FBmu....
dan ini..bagus nian...sungguh.....

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

echanalukman wrote:
sudah kubaca di note FBmu....
dan ini..bagus nian...sungguh.....

makasih mbak.. atas dukungan dan senyum mbak selama ini :)

Writer panah hujan
panah hujan at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

aheum.. :P

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
100

narsis duluuu =))

Writer mailindra
mailindra at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
90

Ceritanya memang agak berat untukku :)
badewei, perasaanku saja atau tokoh wanitanya emang bisa liat arwah?

Seperti biasa, deskripsimu emang luar biasa.

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)

mailindra wrote:
Ceritanya memang agak berat untukku :)
badewei, perasaanku saja atau tokoh wanitanya emang bisa liat arwah?

Seperti biasa, deskripsimu emang luar biasa.

ceritanya emang bisa liat arwah :)

nilai seratuuus

Writer ikan biroe
ikan biroe at Dunia Jendela (4 years 46 weeks ago)
100

mengalir..selalu...:)