Read more (2088 words) 08.00
“Kriiiiiing,” suara telepon berdering dari ruang tamu, dengan setengah berlari Riani mengangkat telepon itu.
“Ya, Halo?”
Pa kabar Yan? Sapa Yuli. Yuli adalah salah satu sahabatnya waktu duduk di bangku SMA dulu.
“Baik Yul,” jawab Riani, ada apa Yul tumben-tumbenan nelpon? Wajar Riani nanya gitu soalnya semenjak Yuli dah married hampir ngga ada komunikasi, tapi aku ngerti mungkin dia lagi sibuk sama kerjaannya dan juga sebagai ibu rumah tangga apalagi sekarang dia sudah punya anak.
“Ada waktu ngga weekend ini Yan, aku mau curhat nech?“ pasti kalo ngehubungin aku kalau ada perlunya aja kalo ga curhat tentang suaminya atau tentang mertuanya yang super perfect itu cetusnya dalam hati, ya aku usahain tapi agak sore selesai aku kuliah.
“Ok, ntar aku smsin tempat dan waktunya Yan,” Yuli memastikan.
“Duk,” bunyi gagang telepon yang ditutup Riani,
Hmmm, helaan nafas yang cukup panjang membuat pikiran riani terbang ke masa-masa waktu di SMAnya dulu, masa-masa indah sebelum memasuki tahap menjadi seorang yang dewasa. Memang benar masa sekolah itu masa-masa yang paling indah apalagi masa-masa waktu di SMA. Tepatnya ketika aku dan teman-teman duduk di kelas 3, walaupun kami berbeda kelas tetapi kami bisa dibilang sangat akrab dan kompak, maksudnya kompak, kalau ga ada guru kekantin bareng, dihukum bareng dan ngeceng kak Dennis yang super duper ganteng.
Aku dan Cici di kelas IPA, Yuli, Dina, dan Tari di Kelas IPS 1, Muni di Kelas IPS 2 sedangkan Tiwi, Irin, Lian dan Mey di Kelas IPS 3, aku benar-benar beruntung mempunyai sahabat-sahabat yang benar-benar terbaik.
Jadi ingat, waktu itu kami semua terlambat masuk sekolah, padahal kami pergi dari rumah masing-masing. Jelas, Pak Deny yang waktu itu bertugas sebagai guru piket menghukum kami, kami disuruh membersihkan lingkungan sekitar sekolah dan kami tidak diijinkan mengikuti mata pelajaran pada jam pertama, ”tak apalah toh aku bisa melihat kecenganku dari luar pikirku” dan masih banyak hal-hal indah lainnya yang kami lalui bersama yang mungkin hanya bisa menjadi cerita indah dan kenangan indah untuk kami kenang dan tak akan kami lupakan.
*
06.00
“Geblak”, terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup, ternyata riani baru keluar setelah cuci muka dan sikat gigi.
“Riani… Riani…”
Terdengar setengah berteriak, Suara yang khas seseorang yang berasal dari dapur,
“ya Bun…” jawabnya sebari menghampiri darimana suara itu berasal.
“Ada apa Bun?” pagi-pagi buta gini udah teriak-teriak
“Cepat beresin rumah, bunda ada rapat jam 7 pagi”
Seperti biasa rutinitas pagi hari seorang wanita, membereskan rumah yang meliputi menyapu, mengepel dan yang lainnya.
“Jangan lupa Sebelum kamu pergi kuliah anterin jejen sekolah jam 8”, Bunda pergi dulu.
Ya Beliaulah seorang wanita yang tegar, mandiri, dan juga ayah bagi kami. Setelah Ayah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan lalu-lintas, Bunda lah yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keluarga ini.
Kakakku Chandra Abdillah sedang berada di Jakarta, dia sedang ada sedikit kerjaan. Selain kuliah, kak Chandra juga kadang-kadang bekerja, ya freelance gitu Bantu-bantu biaya kuliahnya. Kata teman-temannya kak Chandra lumayan pintar juga, apalagi di bidang web designer dan web programmer, secara dia kan kuliah di Teknik Informatika maka dari itu suka ada kerjaan gitu dari teman-temannya. Kurang lebih sudah tiga hari kak Chandra berada di Jakarta, Aku sendiri Riani Andarini mahasiswi semester 4 Jurusan Akuntansi di salah satu universitas swasta di Bandung, dan yang terakhir adalah adik bungsuku Jenny Agustini sering dipanggil jejen masih duduk di kelas 3 SD, cukup jauh jarak antara aku dan jejen. Sebenarnya bunda dan ayah sudah merasa cukup mempunyai dua anak “seperti program pemerintah dua anak cukup”, karena sudah dikaruniai satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Tapi Tuhan memberi anugerah satu anak perempuan lagi untuk keluarga kami, kami pun menyambutnya dengan bahagia. Tapi sayang kebahagiaan kami berkurang dua tahun lalu, ketika ayah dijemput oleh sang maha kuasa.
07.30
Aku sudah bersiap dengan motor maticku untuk mengantar jejen ke sekolah dan tak lupa aku mengunci pintu, “cukuplah waktu setengah jam untuk mengantar jejen ke sekolahnya” gumamku, sebari melaju keluar dari rumah. Jalanan kota bandung yang sekarang, penuh oleh kendaraan bermotor tak terelakkan lagi, dengan sedikit keahlian mengemudiku aku menyalip mobil Honda Jazz yang didepan. Alhasil jejen tepat waktu datang ke sekolah.
Akupun meneruskan perjalananku menuju kampus, motor maticku ini selalu menemaniku kurang lebih sudah 2 tahun ini, motorku ini adalah hadiah pemberian ayah sebagai sarana transportasi untuk menunjang kuliahku. Maka dari itu akan kujaga dengan sebaik-baiknya.
08.30
Sesampainya di kampus, Aku menunggu antrian untuk memakirkan motorku ini. Akupun menelusuri lorong untuk sampai ke kelasku.
“Riani, Riani,” terdengar suara yang memanggil namanya, spontan aku pun menoleh dimana suara itu berasal. Ternyata Ines, teman satu jurusanku.
“Ada apa Nes?” tanyaku.
“Coba tebak aku kemarin jalan dengan siapa?” Dennis, jawabku lesu.
“wah kau punya telepati yah, benar tebakanmu, aku jalan sama Dennis,” ya iyalah aku tahu soalnya seminggu ini kamu curhat terus sama aku tentang Dennis. Yup, Dennis cowok kecenganku waktu di SMA, ternyata dia kuliah di kampus yang sama denganku tapi beda jurusan, Dennis kuliah di fakultas hukum. Sebenarnya aku senang dia kuliah di tempat yang sama denganku, pertama kali aku ke kampus ini untuk daftar pun dia tepat berada disampingku untuk mendaftar, tak disangka Dennis menyapaku, aku benar-benar senang waktu itu, tapi seperti yang kubayangkan. Dennis, dengan kacamata dan sedikit janggut didagunya (kalau artis Indonesia dia mirip seperti Surya Saputra), semakin membuatnya terlihat tampan dan dewasa dibanding waktu di SMA dulu. dia akan menjadi cowok idaman mahasiswi-mahasiswi yang lain. Walaupun dia terkenal playboy dan suka ganti-ganti pacar.
“Kemarin aku benar-benar senang banget, Dennis mengajakku dinner Yan candle light dinner gitu, Cuma kita berdua aja dan dia membacakan puisi indah untukku, serasa dunia ini milik kita berdua” Ines bercerita dengan mata yang berbinar-binar yang mengartikan perasaannya benar-benar sedang bahagia. “Tapi aku yakin Ines akan menjadi korban Dennis yang kesekian kalinya, dan tentang puisi itu pasti Dennis hanya meminjamnya dari anak sastra maklumlah dia kan kenal hampir semua Mahasiswa di kampus ini,” batinku dalam hati.
12.30
“Hari ini matakuliah kita selesai, minggu depan kita ujian“ ujar pak Toto, “dosen matakuliah manajemen terapan, yang cukup killer dan pelit nilai ini” sebari keluar dari kelas.
Waktunya pulang, aku pun menelusuri lorong menuju tempat parkir. Setibanya di parkiran aku melihat Dennis dengan seorang wanita, yang aku yakin wanita itu bukan Ines, memang tidak terlalu jelas sebab parkiran motorku dengan parkiran mobil Dennis cukup jauh. Sayang, sebelum benar-benar memastikan, mobil mitsubishi lancer evo x rs itu sudah melaju dengan cepatnya.
And I'd give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now
…
Lagu irishnya goo goo dolls melantun indah di handphone Riani, dilihat layar hpnya ternyata Ines menelepon,
Riani: “Kenapa Nes?”
Ines: “Riani, kamu lagi dimana ?”
Riani: “diparkiran, aku mau pulang,” suara Ines terdengar agak serak dan agak lesu, “batinku”
Ines: “aku ingin curhat tentang Dennis, kita pulang bareng yah” Ines memelas
Riani: “ya, aku tunggu diparkiran” jadi bener cewek yang aku lihat diparkiran tadi bukan Ines.
“tut, tut, tut” pembicaraan kami pun terputus.
Aku dan Ines pun menelusuri jalanan kota Bandung menuju ke salah satu mall di daerah dago, Ines pun mulai bercerita. Yan, ternyata Dennis brengsek, hardik Ines. Aku memergoki dia sedang berduaan dengan cewek lain dipojok dekat kantin dengan kartika, aku melihat Dennis dan Katika hampir bercumbu, aku menghampiri Dennis dan menamparnya, walaupun aku belum resmi pacaran dengannya tapi gak pantas dia melakukan itu, Dengan terisak Ines pun meneruskan ceritanya “Apa dia lupa apa yang terjadi kemarin malam denganku,” apa arti dari makan malam dan puisi indah yang dia bacakan untukku. “Sekarang boleh aku yang bicara, “pintaku pada Ines” (soalnya dari tadi Ines terus yang bicara)” Ambil hikmahnya aja, Nes, mungkin dia bukan cowok yang baik untuk kamu, aku juga udah pernah ngasih nasehat ke kamu kalau Dennis itu playboy, suka ganti-ganti pacar. Dennis ganti pacar kayak dia ganti baju. Padahal aku sendiri pun sangat mengaguminya semenjak aku masih di SMA,”desisku,” dia cuma mau mainin cewek doang. Udah banyak, cewek yang jadi korbannya.
*
Hari Sabtu ini adalah giliran Yuli yang menjadi pasien selanjutnya Riani yang akan menceritakan curahan hatinya. Riani melihat jam swiss arminya sudah menunjukkan pukul empat sore, waktunya dia pergi untuk bertemu Yuli. Kemarin malam Yuli sudah menghubungi Riani untuk memastikan mereka janjian dimana dan waktunya kapan. Mereka bertemu di Kafe jam lima sore.
17.05
“Sory, Aku telat soalnya agak macet ”weekend kayak gini kota Jakarta pindah ke kota Bandung dari tadi mobil yang melaju kebanyakan mobil dengan plat nomor B”. Yuli keliatannya sudah datang dari beberapa menit yang lalu, terlihat dari minumannya yang tinggal setengah gelas.
“ngga apa-apa,” jawab Yuli
“ada apa Yul?”
“Aku ingin bercerai”
“What” sontak aku kaget, tapi tidak nampak raut muka kesedihan dari wajah Yuli.
“Apa aku ngga salah denger nech,” jawabku sekenanya
“ya bener, aku udah ngga tahan lagi, kalau harus hidup kayak begini, setiap hari harus bertengkar padahal menurutku itu masalah yang sepele yang tidak harus dibesarkan dan mengapa orang lain harus ikut campur walaupun dia adalah mertuaku sendiri,” lanjut Yuli”
Pikirkan baik-baik jangan terbawa emosi, bagaimana dengan Raka anakmu, dialah yang akan menjadi korban dari keegoisan orangtuanya, jika perceraian ini terjadi. Aku sudah pikirkan ini baik-baik dan mas Andi pun sudah setuju apalagi dia tidak keberatan kalau Raka akan diasuh olehku - Jelas Yuli. Aku tidak habis pikir kalau Yuli dan suaminya akan mengambil keputusan seperti ini, “pikirku”. Apalagi Raka, aku kasihan padanya. Di umurnya yang baru menginjak usia dua tahun, dia sudah harus melihat orangtuanya berpisah.
Disela-sela curhatannya, Yuli menerangkan sebuah fakta yang benar-benar membuatku tidak percaya, fakta yang ia rahasiakan dariku, Ternyata Yuli sudah hamil ketika ia berpacaran dengan mas Andi satu tahun yang lalu, makanya ketika itu aku heran kenapa kelahiran Raka lebih cepat padahal pernikahan mereka baru menginjak beberapa bulan.
Bisa-bisanya kamu menyembunyikan fakta ini dariku Yul, bukannya kamu selalu curhat tentang apapun sama aku, aku kan sudah pernah ngasih nasehat hati-hati, jaga kehormatan kita sebagai wanita, kesalku pada Yuli
Tapi aku ngga mau ngerepotin kamu Yul, maka dari itu aku ngga mau ngasih tau kamu Karena aku tahu apa reaksi kamu nanti. Lanjut Yuli
*
21.00
Oh my God, kejadian ini benar-benar terjadi, aku kira hanya ada di cerita-cerita fiksi atau film-film, pikir Riani, apalagi kejadian ini dialami oleh Yuli, teman baikku, sahabat karibku sendiri, hamil diluar nikah.
Dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pikiran Riani bertanya-tanya apakah pacaran itu pasti ujung-ujungnya harus ngelakuin sumthing-sumthing, ih ngga deh-aku harus mikir beberapa kali deh kalau mau pacaran yang kayak gitu. Kebayang gitu, bunda tahu kalau anaknya ngga bisa menjaga kehormatannya sebagai wanita. Bisa mati berdiri kali!*
Minggu pagi, seperti hari-hari biasa Riani sudah selesai mengerjakan rutinitasnya, terdengar suara handphonenya bergetar dari atas meja, ada sms masuk dari Dina yang isinya: “anak-anak mau ngumpul bareng di rumah aku jam 2, ditunggu” langsung saja Riani membalas smsnya, toh udah lama juga kita ngga ketemu, pikirnya.
02.00
Lian, Dina, Cici, Mey dan Tari sudah sampai ketika aku tiba. Tiwi, Yuli dan Muni ngga bisa dateng soalnya ada urusan masing-masing. Ngga lupa aku cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri), dimulailah obrolan-obrolan ringan dan santai dan yang paling penting nech kalau cewek-cewek udah pada ngumpul pasti ngobrolin masalah cowok. Diantara kami yang udah punya cowok adalah Lian dan Mey. Lian pacaran sama si Endy, Endy sudah bekerja sebagai kontraktor ya walaupun masih ikut kakaknya, sedangkan Mey pacaran sama Haryo, Haryo adalah seorang guru swasta yang sekarang lagi mulai ikut daftar untuk jadi pegawai negeri sipil alias PNS. Aku, Tari, Dina, dan Cici adalah cewek jojoba-jomblo-jomblo bahagia.
Disela obrolan kami, Lian yang agak lemot nyeletuk kalo dia dan Endy kemarin malem udah ngelakuin sumthing-sumthing. Jelas, aku semakin kaget setelah kemarin juga Yuli membeberkan fakta yang selama ini dia rahasiakan. Ya Tuhan, apalagi yang terjadi dengan teman-temanku ini. Aku benar-benar ngga habis pikir, apa yang ada dipikiran mereka waktu itu. Kenyataan inilah yang menambah pikiran negatif Riani tentang pacaran, kalau pacaran itu berawal dari ngobrol, berpegangan tangan, pelukan, berciuman terus dua-duanya keburu nafsu… gituan deh, terus hamil. Belum lagi resiko penyakit kelamin yang belakangan ini semakin mungkin terjadi. Aku sech mikir beribu-ribu kali.
“PACARAN ntar dulu dech !”
duuuh..
kacau sekali penulisannya..
banyak yang gak sesuai EYD..
jadi kesannya terburu2 sekali nulis ini..
disini juga gak jelas apa yang mo diceritain..
diperbaiki tulisannya yaah..
bahkan kesalahan pemakaian huruf besar di awal percakapan pun masih banyak ditemukan.
waktunya juga aneh.
pertama 08:00, koq jadi 07:30. kalopun mau dibuat alur mundur tapi tetep aneh...
kalo ada yang gak berkenan maapkan..
barangkali aku sok tau maapkan :)
Untuk cerpen pertama bagus kok..........
Apapun koment mereka,
Aku tetep suka ma ini cerita..
he he he
Smangat ya
salam kenal juga
kalau catatan waktu sech iseng aja, maklum cerpen pertama
Thanks commentnya,,,
ditunggu commentnya,,,