Itu argumen lama. Harusnya dia tahu itu. Tapi aku menahan diri untuk tidak secepatnya membanting gelas di hadapannya atau menamparnya keras-keras. Ini harus berjalan dengan baik, tidak harus menuai benih permusuhan tidak berguna antara aku dan dia, batinku mengingatkan lagi. Jadi aku menghela napas dan mengepalkan telapak tanganku yang gemetar keras-keras, berusaha menenangkan diri.
Read more (633 words)
Hae-Jin masih memandangku dengan tatapan memohon yang sama. Aku tahu dia menyadari adanya kemustahilan yang tersirat dalam mataku dan mematahkan usaha permohonannya dengan sekejap, tapi dia tidak ingin menyerah. Naluri lelakinya menyemangati untuk terus berusaha.
Bodoh.
“Aku ingin kau mengerti, Nan-He,” bisiknya lirih, meraih tanganku.
“Mengerti apa?” tanyaku defensif, sekeras mungkin berusaha untuk tidak membentak dan membuat seluruh orang yang duduk di café itu memperhatikan kami.
“Kumohon, jangan seperti ini...”
Air mataku merebak tak terkendali, membuat sosok Hae-Jin kabur dan tenggelam dalam bentuk kesedihanku yang nyata. Kucoba menghela napas, mengatur setiap nada yang keluar dari mulutku secara perlahan.
“Jangan memintaku untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa kulakukan,” kataku akhirnya.
“Setidaknya berusahalah,” desak Hae-Jin menekan suku katanya. “Dengar, aku tidak bisa dengan mudahnya meninggalkan dia di sana sendirian. Dia terluka, Nan-He. Ji-Hye lebih memerlukan kehadiranku sekarang ini.”
Perkataannya yang terakhir membuat kepalaku kosong. Nama itu membuat segalanya menjadi sejelas guratan awan di langit musim gugur yang kelabu. Han Ji-Hye. Dalam ingatanku muncul beberapa potong kejadian yang melibatkan sosok wanita itu. Cantik, berambut panjang sebahu dan memiliki mata sendu yang memikat.
Kalau saja wanita itu jahat, segalanya akan lebih baik. Aku akan dengan mudah mengutuk keberadaannya, melemparnya bersama sumpah serapahku atau bahkan menikam tubuhnya tanpa ampun. Sekalipun aku dibicarakan oleh orang-orang, aku tidak akan disebut sebagai si antagonis karena aku hanya ingin mempertahankan Hae-Jin-ku.
Apa salahku mempertahankan satu-satunya lelaki yang membuatku tergila-gila sampai nyaris memotong nadiku sendiri ketika dia dijodohkan oleh kedua orangtuanya? Apa salahku membuatnya tetap berada di sisiku melebihi kebutuhan Ji-Hye untuk membiarkannya merasa bersalah dan akhirnya meninggalkanku sendirian?
Tapi kau hanya seorang gadis berusia enam belas tahun, kata sebuah suara yang menyerupai suara ibu Hae-Jin. Apa yang kau punya?
Kim Nan-He tidak penah memiliki apapun. Tidak keluarga atau bahkan uang seperti tujuh belas perempuan lain di kelasnya yang lain. Dan betapa merasa beruntungnya gadis itu ketika Nan Hae-Jin mengatakan bahwa dia mencintainya. Bukankah itu terdengar seperti mimpi yang tidak akan pernah terwujud?
Aku benar-benar mengalami mimpi itu sekalipun sekarang segalanya hancur.
“Aku... juga membutuhkanmu,” ujarku terengah menahan denyut menyakitkan di dadaku.
“Nan-He...”
Air mataku meleleh, jatuh ke pipi dan mengalir deras menuju gravitasi menarik bulir-bulirnya yang ringan. Rasanya begitu panas juga menyakitkan, seperti racun yang menyeruak keluar dari tubuhku.
Dering ponsel Hae-Jin mengisi keheningan menyesakkan diantara kami berdua. Cepat-cepat dia meronggoh saku celananya. Wajahnya sekilas menegang ketika melihat layar ponsel, kemudian dia menatapku gelisah dan mulai berbicara dengannya. Wanita itu.
Mungkin satu atau dua menit mereka berbicara, aku tidak begitu ingat. Kepalaku sakit dan jantungku berdebar jutaan kali lipat lebih keras dibanding sebelumnya. Padahal tanpa tanda-tanda itupun aku mengerti seperti juga Hae-Jin mengenai kisah kami selanjutnya. Tapi pertanda-pertanda itu terus mengusik benakku, memutar ulang ucapan demi ucapan yang membuatku menangis berdarah.
“Hae-Chul akan menjemputmu. Tunggulah di sini,” Hae-Jin menutup ponselnya begitu selesai berbicara.
Aku menggelengkan kepala keras-keras.
“Nan-He...”
“Tidak mau,” kataku terisak. “Kenapa aku harus pergi bersama kakakmu? Kau berjanji padaku kau mau mengantarku setelah kita selesai berbicara.”
Hae-Jin memandangiku sendu. Kedua bola matanya yang berwarna coklat sempurna meredup. “Tapi kita sudah selesai berbicara,” sahutnya pelan.
Isak tangisku semakin keras. “Tidak mau. Belum selesai...”
Hae-Jin menghela napas keras lalu bangkit dari tempat duduknya, mendekatiku. Tangannya yang kokoh dan hangat memegang lenganku erat-erat. Dia mencium keningku. Ciuman hangat yang menjadi pelengkap pertanda itu. Kemudian dia menegakkan tubuhnya dan berjalan pergi, melewati deretan kursi dan pergi keluar dari Café.
Nan Hae-Jin melangkah mantap tanpa menoleh ke belakang. Dia membiarkanku memandang punggungnya sambil menangis tanpa bersuara. Cukup lama, hingga akhirnya aku kuat untuk berkata, “Selamat tinggal...”
Be the first person to continue this post
karena saya tak suka dengan nama itu
Hmm.. akina (can i call you akina?)
untuk cerita semua udah oke, honey.
tapi untuk latar korea, aku belum merasakannya.
coba jabarkan beberapa hal saja (bisa tergantung musim, makanan, atau budaya):D
seperti nonton film korea nih, kak
suka deh ama tulisannya =)
Mengalir.tahu tahu selese.bukan termasuk cerita yang gampang ditebak.aq suka
Mengalir.tahu tahu selese.bukan termasuk cerita yang gampang ditebak.aq suka
Bagus, neng... sangat emosional. Merangkai kata, dirimu sudah cukuplah, tidak diragukan lagi ^^
lagi suka yang berbau korea, eh ada yg nulis dengan bekgron korea...ini cerita bener2 mancing emosi, asli sukaaa...(kenapa sampai sekarang aku blm bisa percaya kaw masih 16 tahun, akina???)
ahaha ahahahah abisnya lucu org korea ntu xD tq2 dah mampir chira xD
(haiiih -_- saya msi 16 taun kok, asli... ahaha, mw liat kartu pelajar saya? ahahaha)
salut sama kamu yang bisa mengemas cerita yang biasa menjadi tak biasa dalam satu plot ^^
makasi udah mampir xD ahahahahah niatnya in dijadiin cerita horor tp hasilnya malah gini ahahahahahah
niatnya buat dramatisasi tp malah jadinya ngaco =)) mahap...
lain kali saya sampaikan lebih halus xD
yeaaah.... walaupun memang ini bukan pengalaman pribadi,
dan terima kasih atas perfect scorenya :D
mirip dengan adekan pembukaan lovely kim sam soon....
deskripsi yang mirip dan tempat yang nyaris sama, di cafe.....
adegan dan juga reaksinya juga mirip (tolong jangan tersinggung)
tapi jelas jauh lebih bagus ini!!!
hmmm... selengga gak lanjut??
saya tidak tau apa itu lovely kim sam soon atau aapapun itulah...
cm kebetulan... ah, bilang saja jelek.. gpp :))
berlanjut... cuma butuh waktu mungkin...