"Kamu cuman kelelahan, mungkin karena kamu belakangan ini kebanyakan main basket dan juga karena kamu sibuk belajar untuk UNAS kemaren," potong papa. Aku tidak percaya.
"Tentu saja surat diagnosa itu tidak dikirim ke rumah, Mama dan Papa mengambil sendiri ke rumah sakit. Karena cuman kelelahan Mama sama Papa kira tidak perlu memberitahu ini ke kamu." Mama menambahi ucapan papa, aku hanya mengangguk pelan sambil melanjutkan makanku.
Read more (842 words)
Semuanya terasa aneh bagiku. Aku dapat merasakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan, hanyas aja aku tidak tahu itu. Wajah panik Mama berubah ceria ketika Papa memotong pembicaraannya, aneh.
"Jadi... Menurut Papa itu bukan hadiah, jadi untuk yang satu itu dibatalkan, karena seharusnya Papa dan Mama memberi tahu itu ke Rendi." Papa memulai pembicaraan lagi, setelah sekian menit kami semua terdiam.
Aku mengangkat kepala. Mengernyitkan dahi."Kalau Rendi bilang gak mau apa-apa, biar Mama dan Papa aja yang mutusin ya?" Mama tersenyum manis, memamerkan gigi putihnya. Aku hanya mengangguk malas, tidak berminat.
"Hahahah, bagus dong! Kalau gitu gue bisa ngasih kado semau gue." Kak Aldo mengacak-acak rambutku, Aku menoleh cepat, membuatnya sediki tersentak.
"Lo juga ikutan?"
"Ikutan apaan?" tanyanya heran, seakan tak ada yang salah.
"Ikutan ngasih kado?" tanyaku tak percaya, sekarang aku yakin entah aku atau mereka pasti ada yang salah.
Kak Aldo tertawa riang sambil mengangguk."Yup, siap-siap loncat ke atas sofa aja lo."
Aku menatapnya tak percaya. Kak Aldo, kakak super cuek yang seakan-akan hidup sendirian di dunia ini ngasih kado? Kesambet apa dia semalem? Bahkan ceweknya ulang tahun dia gak ngasih ucapan selamat apapun ke ceweknya sampe akhirnya tuh cewek mutusin dia.
Malam telah cukup larut ketika kami sampai dirumah. Aku segera masuk ke kamar dan tidur.
Sinar matahari menyinari punggungku. Membuatku terbangun dari tidur tanpa mimpiku. Hari terakhir. Ya, hari terkahir aku di sekolah. Hari perpisahan.
Aku menatap deretan tiga pasangan baju putih abu-abu yang sekarang tergantung rapi di depaku. Dapat kupastikan aku akan pulang berlumur cat pilox dan coretan pulpen. Aku memutuskan mengenakan baju putih abu-abu yang paling bersih warnanya. Kukenakan dengan cepat dan segera keluar dari kamar.
Semuanya seperti yang ku perkirakan. Kak Aldo pasti akan menawarkan dirinya untuk mengantarku atau sebagainya. Dengan berat hati kuturuti maunya sebelum ia mulai mengacamku dengan berbagai hal aneh agar aku mau dia mengantar-jemputku, kelewat berlebihan.
Deni sudah menunggu di depan gerbang. Dengan cengiran khasnya dan tangannya memegang cat pilox bewarna merah, siap menyemprotku.
"Den, gak pake pilox ah." Aku berusaha menghindari Deni yang sudah penuh oleh cat pilox.
Deni hanya menatapku tidak suka, lalu mengeluarkan spidol dari sakunya dan mengacungkannya padaku. Tanpa banyak tanya dia langsung membalikkan badanku, dapat kurasakan goresan spidol di bagian atas punggungku.
"Tenang aja Ren, lo gak bakal bisa lepas dari yang satu ini, " cengir Deni dengan wajah senang aku mendengus kesal.
Aku tidak menyukai pilox. Jujur saja, bau menyengatnya membuatku pusing tidak karuan. Bahkan mencium bau pilox yang membekas pada baju Deni saja sudah membuatku pusing, apalagi jika menempel pada tubuh sendiri.
Berbagai tanda tangan digoreskan di bajuku. Bahkan dari orang-orang yang tak ku kenal sekalipun. Nyaris semua anak cowok di sekolahku membawa satu botol semprotan pilox di tangannya. Rambut mereka sudah berubah warna, dari warna hitam menjadi warna-warni seperti pelangi.
Nyaris tak ada lagi tempat bewarna putih di bajuku, hanya disela-sela jarak antara tanda tangan yang ada di bajuku. Aku juga ikut mengkontribusikan tanda tanganku baju teman-temanku. Aku merogoh handphoneku yang bergetar di sakuku. Sebuah pesan singkat dari Kak Aldo tertera di layar handphone.
Dah selesai?
Gak usah jemput, entar gue pulang sendiri aja
Gak! pokoknya gue yang jemput, lo pulang jam berapa?!
Setengah jam lagi
Akhirnya aku mengalah. Memang sudah biasa mengalah pada kakak egois seperti dia, tapi mengalah dalam hal seperti ini?! Baru pertama kali. Aku mencoba menyimpulkan apa yang terjadi, mengutip setiap perubahan yang sangat kentara pada orangtua dan kakak-ku. Berbagai asumsi mulai bermunculan, dan hanya ada satu asumsi yang dapat menjelaskan ini semua.
Mereka berbohong! Ya, mereka pasti berbohong. Aku yakin bahwa kelelahan bukanlah hasil diagnosaku yang sebenarnya. Wajah pucat Mama ketika aku menanyakan hasil diagnosaku, wajah panik Kak Aldo ketika aku menanyakan apakah hasil diagnosaku telah keluar. Aku tidak ingin memikirkannya, tapi tak ada lagi teori yang bisa menjelaskan hal itu selain... Aku mengidap penyakit yang cukup parah sehingga mereka bertingkah seperti itu.
Tidak! Kutepiskan pikiran itu jauh-jauh. Keadaanku memburuk baru sekitar beberapa minggu ini, sebuah penyakit tentunya tidak akan menerjang seseorang dalam waktu sesingkat itu. Aku dapat mencium bau pilox dengan sangat dekat. Lamunanku buyar seketika. AKu dapat mendengar suara semprotan di atas kepalaku. Sebuah cairan aneh disemprotkan ke rambutku. Cat Pilox.
Kepalaku serasa pusing. Mataku kembali terasa kabur, seperi saat sebelum aku pingsan di depan pintu. Aku mencoba menggerakkan tanganku, tapi tidak bisa.
"Rendi?" panggil Roni, terselip nada cemas di suaranya. Setidaknya aku tahu Roni yang melakukannya, akan kubalas nanti.
"Rendi?" Roni memanggilku sekali lagi, aku mengerjapkan mataku beberapa kali, memalukan jika pingsan.
"Gak, gue gak papa."
"Masa gara-gara pilox gue?"
"Ya, gara-gara pilox lo." Aku bersungut-sungut, kuraih botol pilox ditangannya dan menyemprotkan cat pilox ke rambutnya.
Deni yang baru saja datang ikut menyemprotkan pilox ke rambutku. Rambutku telah berubah warna menjadi kuning-merah sekarang, dan bau pilox tercium jelas di hidungku. Tapi entah mengapa itu tidak menggangguku. Otakku terus berkutat akan apa yang kualami tadi. Karena bau pilox? Tidak sepenuhnya kurasa, tapi saat ini aku sangat yakin bahwa ada yang salah dengan diriku.
***(bersambung)
Tuhan Itu Adil - 3
Be the first person to continue this post
hahah
keep write
Setauku ini menarik, komentnya ikut aja deh
wah, ditunggu lanjutannya dulu... ^^