Aku lupa rasanya jatuh cinta.
Jadi, jangan tanya perasaan apa yang tengah berkelana di antara remah-remah rasa lainnya yang kunamakan hampa. Meskipun di dalamnya ada kamu dan aku. Dan kata “kita” yang sungguh menggoda untuk lantas diterjemahkan ke dalam bahasa kebersamaan yang nyata. Entahlah...
Read more (930 words)
“Lo nggak apa-apa, kan, kalo kita nyari lagi ke tempat lain?” pertanyaanmu membuatku gusar. Bukan karena aku sudah mulai lelah dan pegal setelah berjam-jam menemanimu mencari barang—yang kurang ajarnya tak mau kamu sebutkan. Seandainya kamu tahu, melewati waktu berlama-lama denganmu membuatku merasa asing pada diriku sendiri. Entah apa alasannya...
Setelah mendapat anggukanku, tanganmu kemudian menyentuh pundakku dan kurasakan semacam dorongan untuk berjalan dalam komandomu. Meninggalkan toko asesoris kesekian yang kita singgahi hari itu, aku merasa seperti baru saja meninggalkan perasaanku pada kamu sebelumnya. Perasaan wajar dan biasa, yang tergantikan perasaan luar biasa. Entah seluar biasa apa...
“Dari tadi diem aja. Lo capek, ya, jalan sama gue?”
“Iya!” tapi entah kenapa hatiku memungkirinya, bahkan berbisik bahwa aku sangat menikmati petualangan kecil ini. Sialan kan? “Sebenernya lo nyari apaan, sih, sampe harus keluar masuk banyak toko gini?”
“Ya nyari sesuatu yang nggak ada lah. Yang ada, kan, nggak usah gue cari.”
“Sakit, lo! Sampe Miyabi jadi perawan lagi juga sesuatu-yang-nggak-ada itu nggak bakalan pernah lo temui. Namanya juga nggak ada, bego aja lo cari-cari.” Membuang muka, aku kemudian berjalan lebih cepat darimu.
Siapa pun akan berpikiran sama denganku: kamu pasti mengejarku. Hell, itu artinya aku bodoh, sebab telah memikirkan sesuatu yang keliru. Bahkan sebenarnya aku enggan memaksa diriku menjadi senorak itu, menjadi seseorang yang sentimentil, yang mendambakan drama picisan di mana seorang pangeran mengejar puteri yang sedang marah untuk meminta maaf. Entahlah, ada apa dengan diriku.
Tetapi, kemudian kurasakan kekesalanku masih dalam kawasan layak ketika kuputuskan melihat ke belakang, kamu sudah tak berada di tempat.
***
Aku lupa kapan tepatnya kita bertemu dan berkenalan.
Jadi, jika suatu saat nanti kita punya banyak waktu untuk membahas segala hal, perbincangan mengenai hari dan tanggal yang bagiku tidak terlalu penting itu menjadi pilihan terakhir. Sekalipun kita tak punya bahan pembicaraan lagi. Tetapi entah kenapa, belakangan aku mulai tertarik untuk menyelidiki segala hal mengenai diriku sendiri. Dan tentang kita berdua.
Tak ada yang spesial dari pertemuan kita, kecuali mungkin satu kenyataan bahwa akhirnya aku bersahabat (dekat) dengan sahabat mantan kekasihku.
Memang bukan hal yang ganjil, tetapi bisa kamu bayangkan, di saat-saat awal kita berteman, bayangan dia selalu menyertai keberadaan kamu. Itu menjadi semacam dua pertentangan yang tak masuk akal, di mana masa lalu dan masa kini-ku meruang dalam satu wujud yaitu kamu. Sampai akhirnya kamu berhasil meyakinkanku bahwa kalian bukanlah dua sosok yang layak dibandingkan antara satu dengan yang lain.
Dan kamu berhasil memberiku perasaan yang lebih aman dengan siratan indah persahabatan.
Tak ada yang berlebihan dalam hubungan kita. Meskipun kamu kerap menjemputku pulang dan sesekali mengantarku pergi bekerja atau ke mana saja. Meskipun kita menjadi partner ber-SMS dan bertelepon ria hingga larut malam. Meskipun untuk momen-momen agak spesial kita saling mengandalkan diri untuk menjadi pendamping satu sama lain. Meskipun terkadang ada bayang-bayang perasaan aneh (namun indah) menghantui setiap kebersamaan kita.
Dan, meskipun kebanyakan orang yang mengenal kita (atau bahkan yang baru pertama kali melihat kita bersama) berpendapat bahwa kita berdua serasi dan lebih cocok menjadi sepasang kekasih.
Namun, selalu ada sesuatu yang memaksa kita untuk menyangkal segala rasa di luar persahabatan itu.
Oh, maaf, mungkin harus kuralat. Mungkin tepatnya bukan memaksa KITA, melainkan memaksa DIRIKU SENDIRI. Ya, diriku yang selalu dihantui bayangan kehilangan.
Bayangan kehilangan.
Ke-hi-lang-an.
***
Aku berusaha bersikap biasa saja saat kehilangan sosokmu di belakangku. Memang mengesalkan, tetapi aku tak mau perasaan itu justru menjerumuskanku pada tingkah laku dungu yang akan mempermalukan diriku di hadapanmu. Jadi, kuputuskan untuk menunggu sampai kamu datang mencariku.
Hei, apa gunanya telepon genggamku? Tapi, ah, tentu saja menanyakan keberadaanmu atau bahkan menyuruhmu cepat datang padaku hanya akan membuatku kelihatan begitu membutuhkanmu.
Apa benar aku membutuhkanmu?
Kurasa, iya.
Ah, tidak. Tentu saja. Kamu lah yang lebih membutuhkanku. Buktinya, kamu memintaku menemanimu mencari sesuatu.
Astaga, apakah mempertanyakan ‘siapa yang lebih membutuhkan siapa’ menjadi sesuatu yang penting dalam hubungan persahabatan? Dan apakah menanyakan di mana keberadaan sahabat kita merupakan sesuatu yang berlebihan? Ya Tuhan, terima kasih telah memberkahiku kegundahan.
Tetapi aku berhak merasa wajar untuk mengomel saat akhirnya kamu muncul setelah kira-kira lima menit menghilang dan membuatku menikmati sindrom pasaran merasa-sendirian-di-tengah-keramaian-sebuah-mall.
“Sorry, tadi gue ngeliat sesuatu di etalase. Gue bisa mati penasaran kalau cuma harus menebak-nebak. Lagian gue tahu kok, lo nggak akan ninggalin gue. Hehe...” sial, omelanku yang siap meledak-ledak harus kembali kutelan bulat-bulat hanya karena kalimat terakhir sebelum ‘hehe’ yang kamu ucapkan.
Dan entah kenapa, kalimat ‘lo nggak akan ninggalin gue’ itu menjadi racun yang mempengaruhi perasaanku. Pada kamu, dan persahabatan kita.
***
Aku lupa rasanya jatuh cinta.
Jadi, jangan tanya perasaan apa yang tengah bergelenyar di dalam dadaku saat jemarimu mengisi sela-sela jemariku dan menghangatkannya. Langit sore yang jingga, ungu, merah jambu dan abu-abu menjadi saksi gagu atas sepasang sahabat yang seakan sedang mengukur jarak dengan tangan terjabat erat. Ah, entahlah, aku berusaha menetralisir diri dengan cara meyakini kewajaran sepasang sahabat yang saling berpegangan tangan di sepanjang jalan.
“Sebenernya lo nyari apa sih? Dari tadi siang sampe sore gini, pulang nggak ada hasil!”
“Nyari sesuatu yang nggak ada.”
Aku tak tahu apa maksudnya, tapi rasanya sudah terlalu lelah untuk mempertanyakan dan memperdebatkannya. Baiklah, terserah kamu saja. Aku cuma bisa bilang, “Nyesel aja gue nemenin lo kalo cuma pulang dengan tangan kosong begini.”
“Siapa bilang?” pertanyaanmu menjadi pernyataan dalam bentuk yang lain. Genggaman tanganmu semakin erat. “Ini,” katamu singkat saat kedua tangan kita terangkat.
Dan sepertinya aku baru saja ingat, semacam inilah rasanya jatuh cinta.***
--------------------
Bandung
24/07/2009 21:38:25
ini luar biasa sekali...brmain kata2 yang punya sejuta makna nya sendiri...suka...
bagus...
yang ini lebih bagus
keeeeereeennnnnn
selalu sepuluh untukmu dadun sayang.. heu
makasih vie sayangs
kwkwkwkwk (berasa pasangan lesbi) hahahaha
kereeeeeeeennn...
^_^
yuk mari mari kita bersahabat ^^
nice...
ijin praktekin...huehhehehe
ahh .
bajuss . lucu banget .
bikin ketawa2 sendiri tengah malem .
hhi
iya, aku juga ketawa baca komenmu hihi
astaga... tolong yakinkan saya bahwa saya tidak sedang salah membaca komentar :O
benar2 tidak...kok dun..alih alih ilusi sebuah jarak (nyambung di cerpen lovamorfosa)
masa iya disamain jokes...
but soo sweet...
saya praktekin aaahh :P
cinta dan hanya ada cinta..
tidak ada cinta selain cinta
hehehe :)
adeuh dadun pemilihan diksinya keren euy
Indah, mas ;)
not bad
romantis..
ai c dadun nulis naun ieu nyak teu ngarti kieu uing:-(( :-?
sweet. kayak air putih di blender ama jeruk.
Td aku pas bc awal kirain cowok yg sdg menemani teman ceweknya b'belanja. Soalny cm cewek yg sk2 muter2 di mall n mencr sesuatu yg sbnrny tak penting.Tp pas baca selanjutnya koq aku ngerasa ini pikiran cewek deh.Soalny mellow bgt. Tnyt boyslove toh. Hihi..
Aku suka kalimat t'akhr. Manis bgt. Keep writting.
di fesbuk komengnyah lebih seru dan rame
q, itu gambarnya cowok sama cowok kah?
q?
hahaha... kayaknya si iya, mbak? cowok jaman sekarang kan kalo dari belakang bisa keliatan saru.. ni cowok apa cewek...?
wkwkwk... boyslove syndrom nih c mbak^^
Maksudku, kalau emang itu cowok sama cowok, aku ga berasa kayak baca kisah anatara dua orang cowok. Kupikir karakternya cowok sama cewek. Tapi emang susah sih bikinnya. aku juga belum bisa ^^ Melow seperti biasa.....hehehehe. Pisss.
jahahaha.... lha memang bukan tentang dua orang cowok :p
ah.... keren!!!!
ah... masasih :)
bener! ini boyslove kah?????????
q kira ce dan co..
hmmmm... KEREN!
hihihi,, terserah lah,, mau boyslove,, mau girlslove,, yg penting kau bilang KEREN!
hehehe...
gini deh kalo bikin cerita anonim,, teman saya bilang,,tokohnya terlalu samar
haha..
ahay,, miyabi is my fave porn star movie (astaga... ckckck)
hihi,, diriku memang manis pun :">
Astaga, dadun? dandut men hehehehehe
yoi jek... nyok kita jodet... tarik maaaaaaank
wew, romantisnyaaa...
tak diragukan lagi caramu menulis memang hebat, dun... per paragraf berasa mengalir dan enak dinikmati :)