Read more (3080 words)
---Yuwaka Kamessen, Kepala Dewan Sekolah Sihir, Kerajaan Ladslian---
---o0o---
Angin kencang memainkan rambut seorang anak yang duduk di sebelah timbunan tanah. Tali tambang dalam genggamannya menjulur ke dalam sebuah lubang di dekatnya. Matahari semakin condong ke barat, seakan-akan tidak mau membantunya menyingkap kegelapan yang menyelimuti dasar lubang. Ia mengawasi kejauhan, mencari sesuatu yang menarik baginya. Tapi, sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah bukit-bukit pasir dan deretan batu besar dengan permukaan tergosok oleh angin selama ratusan tahun. Nyaris tidak ada tanaman sama sekali kecuali rumput kering dan tanaman berduri di sana-sini.
Harapannya melihat iring-iringan orang melintas tidak terkabul karena saat ini adalah saat-saat dimana gurun Fasha -pemisah alami Kerajaan Ladslian dengan Konfederasi Rustlun- sedang panas-panasnya. Hanya orang gila, atau nekat, yang berani melintasinya sekarang.
Terdengar suara menggema dari dalam lubang. “Yuwaka!”
“Ya?” Rasa jemu menguap dari wajah anak bernama Yuwaka tersebut.
“Tarik!”
Begitu mendengar itu si bocah sigap menarik talinya. Tak lama kemudian sebuah timba kayu dengan gagang cangkul mencuat dari dalamnya muncul.
“Cepat masukkan kembali talinya! Aku ingin keluar dari sini!”
Yuwaka segera mengeluarkan cangkul dari dalam timba. Tergesa-gesa ia melemparkan timba ke dalam lubang dan mengulurkan tali dengan kasar.
“Hei! Hati-hati!”
“Maaf kak!”
Yuwaka mengulurkan tali lebih lambat.
“Sudah sampai?”
“Ya!”
Yuwaka mengikatkan tali tersebut ke batu besar terdekat. Setelah yakin kalau ikatannya cukup erat, ia berteriak, “Sudah kak!”
Tali tambang segera menegang. Selang beberapa lama, seorang pemuda dengan baju kotor muncul dari dalam lubang. Perawakannya mirip Yuwaka, hanya lebih tua beberapa tahun.
“Kak Erde?”
Erde tidak menjawab. Ia memanggul cangkulnya dan berjalan. Yuwaka mengikuti dengan heran. Kenapa pindah?
Setelah berjalan agak lama, Erde berhenti dan mengamati sekitar. Setelah sesaat ia mengayunkan cangkulnya. “Mungkin di sini,” katanya pelan.
“Percuma!” seru Yuwaka. Jelas sudah kalau lubang sebelumnya tidak berair, dan Erde langsung menggali di tempat lain. Walaupun Yuwaka masih berumur sepuluh tahun, ia sudah dapat mengira-ngira di mana tempat yang air tanah dekat dengan permukaan tanah atau malah sebaliknya. Tempat Erde menggali merupakan tempat jenis kedua.
Erde terus menggali.
“Kak!” protes sang adik. Yuwaka tahu kalau desanya membutuhkan sumber air baru. Tapi sama saja dengan membuang tenaga sia-sia kalau terus menggali di sini.
Erde berhenti bekerja. Ia menatap adiknya dengan mata penuh determinasi. “Kita takkan tahu kalau tidak mencoba.”
Yuwaka menggigit ujung bibir. “Aku pulang,” katanya, langsung meninggalkan Erde sendirian. Ia menggerutu. Percuma meyakinkannya! Sama saja dengan mengharapkan air menyembur dari lubangnya!
Dengan lesu Yuwaka menatap langit. tak ada tanda-tanda adanya awan. Kemanakah awan pembawa hujan yang seharusnya muncul sejak tiga bulan lalu? Yuwaka merasa tak berdaya. Apa yang dapat ia lakukan? Ia hanyalah anak orang miskin dari Madrigas. Desa di ujung paling barat dari wilayah Ladslian. Desa yang sekarat akibat kekeringan dan ekspansi gurun Fasha.
Yuwaka berjalan menelusuri jalan setapak yang berada di sisi sebuah jalur bekas kanal. Kanal itu kini tinggal cekungan permukaan bumi tempat debu dan pasir yang terbawa angin menumpuk. Terdapat puing-puing rumah besar di sekitar kanal yang menjadi bukti kalau tempat ini dulu merupakan pemukiman yang makmur.
Dulu, menurut cerita kakek Yuwaka, kawasan ini merupakan wilayah kerajaan Kolugo yang terkenal subur. Dengan kanal-kanal dan danau-danau buatan, air tidak pernah menjadi barang langka walau musim kemarau berlangsung lama. Apapun yang kamu tanam pasti tumbuh sempurna tanpa takut kekurangan air.
Semenjak Ladslian menguasai Kolugo, segalanya berubah. Tidak ada lagi yang merawat kanal-kanal. Akibatnya danau-danau buatan menghilang satu persatu. Apalagi batas gurun Fasha sedikit demi sedikit merayap ke timur, menyelimuti wilayah tersubur dengan bukit-bukit pasir.
Keturunan dari orang-orang Kolugo yang masih tinggal di sini bertahan hidup dengan bantuan air hujan. Hujan yang semakin lama semakin tak dapat diharapkan lagi, membuat jumlah orang yang bertahan semakin berkurang. Kebanyakan dari mereka sudah pindah ke timur, ke tempat dimana air mudah ditemukan dan dicari.
“Daerah ini merupakan tempat semua leluhur kita tinggal. Kenapa kita harus meninggalkannya? Toh mereka semua buktinya dapat bertahan hidup di sini,” kata kakeknya di saat ayah Yuwaka mengusulkan untuk pindah. Menurut ibu Yuwaka, hanya neneknya yang dapat menaklukkan sifat keras kepala kakek. Sayang, nenek sudah meninggal ketika Yuwaka masih terlalu kecil untuk bisa mengingat wajahnya. Pada akhirnya orangtua Yuwaka terus menetap karena tidak tega meninggalkan kakek sendirian.
“Yuwaka! Kemana saja kamu!”
Yuwaka memandang ke asal suara tersebut dan mendapati ibunya berlari tergopoh-gopoh mendekat.
“Kenapa mencariku?” tanyanya cemas. Pasti sesuatu telah terjadi. Hanya ada dua macam peristiwa penting di Madrigas. Tetangga yang meninggalkan desa, atau tetangga yang meninggalkan dunia.
“Kepala desa menyuruh semua anak berkumpul di rumahnya segera.”
“Untuk apa?”
“Ibu tak tahu. Mungkin karena utusan dari ibukota ada di rumahnya sekarang.”
Akhirnya Yuwaka mengikuti ibunya menuju ke rumah kepala desa. Rumah yang tak lama kemudian ia lihat penuh sesak, seperti seluruh penduduk desa memutuskan untuk tinggal bersama di rumah sempit dan rapuh tersebut.
Sang ibu menarik Yuwaka merangsek masuk ke dalam rumah menembus kerumunan orang yang, menurut Yuwaka, mengawasinya dengan tatapan ganjil. Tapi tak lebih ganjil jika dibandingkan dengan tatapan pria yang berdiri di samping kepala desa. Pria itu memandangnya dengan gembira, walaupun pakaian resmi berkain tebal -jelas tidak cocok dengan iklim panas kawasan ini- membuatnya berulangkali menyapu keringat di dahi.
Ibu Yuwaka mengangguk kepada kepala desa dan pria tersebut.
Tangan kanan kepala desa menyapu barisan kursi di dalam ruangan yang telah ditempati oleh anak-anak kecuali kursi paling kanan. “Tuan Fendou, semuanya telah berkumpul.”
Pria bernama Fendou tersebut mendekati Yuwaka. “Duduklah nak,” katanya sembari menunjuk ke kursi yang kosong.
Yuwaka menurut.
Fendou berdehem, memberi isyarat kepada semuanya untuk diam. Setelah orang terakhir menutup mulutnya rapat-rapat, Fendou berdiri di tengah ruangan dan membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian. Dengan lantang iapun mengatakan maksud kedatangannya ke Madrigas. Kedatangannya kemari adalah adalah untuk mencari anak-anak yang memiliki bakat sihir, yang akan ia ajak kembali ke ibukota untuk memasuki sekolah sihir Ladslian.
Setelah puas berbicara, Fendou mengeluarkan sebuah bola kristal kecil yang lalu ia angkat tinggi-tinggi, memamerkannya ke seluruh warga.
“Dengan ini kita akan tahu siapa yang berbakat!”
Yuwaka heran. Bagaimana sebuah bola kristal kecil dapat menentukan siapa yang berbakat dan siapa yang tidak?
Fendou lalu meletakkannya ke tangan anak di barisan satu-persatu mulai dari kiri. Ia selalu menyuruh mereka untuk berkonsentrasi. Sekali, dua kali, beberapa kali. Semuanya mencoba dan tidak terjadi apa-apa, kecuali gelengan kecewa Fendou.
Apa yang ia nantikan? batin Yuwaka saat tiba gilirannya.
“Konsentrasi. Pikirkanlah apa yang ingin kamu lakukan,” kata Fendou. Di matanya masih terpancar harapan yang tersisa.
Yuwaka memegang bola kristal dengan kedua tangan. Ia memejamkan mata. Apa yang ingin ia lakukan? Bagi Yuwaka hal yang paling ia ingin lakukan adalah mencari air untuk dirinya, keluarganya, dan desanya. Dengan begitu maka segalanya akan membaik. Tidak perlu lagi Erde membuang tenaga sia-sia menggali tanpa hasil. Tidak perlu lagi melihat kerutan di dahi ayahnya saat kembali dari ladang. Tidak perlu lagi mendengar suara isakan tangis ibunya jika beliau merasa tidak ada orang lain di dekatnya.
Aku ingin mendapatkan air sebanyak mungkin! Mengejar hujan dan menangkap awan! Bisakah aku melakukannya?
Beberapa lama kemudian ia mendengar suara takjub orang-orang di sekelilingnya. Perlahan-lahan ia membuka mata dan yang ia lihat pertama kali adalah pancaran sinar biru redup dari bola kristal.
Tangan Yuwaka bergetar. Ia tak mengerti dan takut kenapa ini bisa terjadi. Ia menoleh ke ibunya yang nampak gelisah.
Sementara itu senyum Fendou mengembang. Ia mengambil bola kristal, mematikan pancaran sinar birunya. Seisi ruangan tak berani bersuara saat sang utusan memasukkan bola kristalnya ke dalam tas.
Fendou lalu memegang kedua pundak Yuwaka. “Nak, maukah kau ikut denganku ke ibukota? Di sana kau akan belajar menggunakan kemampuanmu untuk mengabdi kepada kerajaan-” Fendou tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia melirik ke ibu Yuwaka. “Tapi itu juga tergantung apakah keluargamu setuju atau tidak.”
Yuwaka terperangah. Ia sendiri tidak percaya kalau ialah yang terpilih. Maka saat-saat ia mengikuti Fendou dan ibunya pulang ke rumah di mana ayah, kakek dan Erde berada terasa sekejap. Begitu juga dengan diskusi antara orangtua dan kakeknya setelah mendengarkan tawaran Fendou. Ayah dan Ibu tidak menginginkannya pergi. Alasannya adalah kehidupan di luar cukup keras. Kakek berlainan pendapat.
“Apa kalian mau anak kalian hidup di tempat menyedihkan ini untuk selamanya!?”
Perkataan sang kakek membuat orangtua Yuwaka terdiam.
Yuwaka tidak ingin lagi mendengarkan pertengkaran antara orang-orang yang ia sayangi. Ia segera keluar dari rumah dan mendapati Fendou berdiri di halaman, menikmati saat-saat terakhir matahari terbenam ke dalam bukit pasir gurun Fasha jauh di barat sana.
“Bagaimana?” tanya Fendou.
Yuwaka menggelengkan kepala, membuat Fendou menghela napas dalam-dalam.
Menjadi ahli sihir bukanlah hal yang mudah Yuwaka bayangkan. Apakah ia bisa mendatangkan air kemari kalau ia menjadi ahli sihir? Yuwaka ingin tahu.
“Apa aku dapat melakukan apapun yang kuinginkan?”
Fendou tertawa sebentar. “Tergantung seberapa besar kemampuan dan kemauanmu dalam mempelajari sihir.”
“Apakah sihir dapat mewujudkan segalanya?”
“Asalkan kau berkemauan keras untuk belajar. Apapun dapat kamu wujudkan.”
Tekad Yuwaka bangkit setelah mendengar perkataan Fendou. Ia telah memutuskan pendiriannya.
Yuwaka kembali masuk ke dalam rumah. “Aku akan pergi!” serunya, menggemparkan seisi rumah.
Pada akhirnya Yuwaka mendapatkan persetujuan berkat sifat keras kepala turunan dari sang kakek. Ia dan Fendou segera berangkat keesokan hari karena masih ada tempat lain yang harus Fendou kunjungi.
Hampir seluruh penduduk desa melepas kepergian kepergian Yuwaka. Ibunya menangis karena ia tidak mau berpisah dengan anaknya. Ayahnya berusaha untuk nampak tabah, walau Yuwaka tahu ia juga tak rela akan kepergiannya. Hanya Erde dan kakek yang nampak gembira. Semalam Yuwaka memberitahukan tujuannya kepada kakaknya yang langsung mendukung. Sedangkan kakek jelas-jelas ingin tahu seperti apakah Yuwaka saat ia kembali dari perantauan.
Yuwaka melihat desa kelahirannya untuk kali terakhir.
“Tunggu saja,” bisiknya pelan. “Aku akan kembali dan kita takkan pernah kekurangan air lagi.”
---o0o---
Di halaman depan sekolah sihir, Yuwaka berbaring di atas rumput yang membelai kulit dengan lembut. Naungan sebuah pohon besar melindunginya dari panas matahari. Yuwaka tengah mengamati langit. Sinar matahari yang menyilaukan tidak membuatnya mengalihkan pandangan dari gumpalan awan. Di sini segalanya berbeda dengan yang ada di Madrigas. Hanya langit dan matahari saja yang tetap sama, dimanapun kita berada.
Yuwaka mengangkat tangan kanannya, tangan yang jelas lebih besar dan kuat bila dibandingkan dengan tangannya enam tahun lalu, berpura-pura meraih salah satu awan. Lalu tangannya menggenggam erat, seakan-akan dapat menangkap dan memeras awan tersebut.
Selama enam tahun ia telah berusaha mencari sihir yang berhubungan dengan hujan. Ia sudah menemukan beberapa mantra. Sayangnya mantra yang didapat selain mantra gagal, kebanyakan mantra itu adalah mantra yang membutuhkan aura sangat besar. Di dunia, orang yang bisa memakai mantra tersebut bisa dihitung dengan jari, dan bocah yang hanya bisa menimbulkan sinar biru redup jelas tidak termasuk. Untuk memperkuat kemampuan auranya membutuhkan latihan puluhan tahun. Madrigas tidak akan bertahan menunggu selama itu.
“Dasar tukang tidur! Tidak di kelas tidak di sini, tidur terus!”
Yuwaka menoleh dan mengenali asal suara merdu tersebut. Timma Talisantia, nama gadis manis yang tanpa basa-basi langsung berbaring di sebelahnya, ikut mengawasi gerakan lamban awan di atas sana.
“Aku tidak tidur.”
Dalam hati Yuwaka mengakui kalau membaca buku semalaman mencari mantra sihir yang tepat membuatnya mengantuk di siang hari.
“Masih mencari cara yang tepat untuk mendatangkan hujan?” tanya Timma, mengetahui obsesi Yuwaka. Berkeinginan besar tapi beraura lemah bukanlah kombinasi yang bagus dalam bidang sihir. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah kerja keras.
“Ya.”
“Pagi pasti akan datang. Sampai sekarang aku sendiri tak tahu kenapa aku bersekolah kemari. Mungkin karena aku ingin menyelesaikan sesuatu. Walaupun banyak hal yang sulit dilupakan, dan juga banyak yang menyedihkan, pagi tetap akan datang kan? Jadi, jangan terlalu memaksakan diri untuk menanggung segalanya.”
Yuwaka menatap gadis di sebelahnya tanpa berkedip. Sebagai keturunan salah satu keluarga ahli sihir tertua, Timma selalu nampak optimis. Ia seperti tidak pernah terbebani oleh nama besar Talisantia. Padahal leluhurnya adalah ahli sihir yang membantu Finisir mendirikan kerajaan Ladslian yang luas.
“…Fatima!” seru Timma tiba-tiba. “Apa kamu sudah memikirkan cara tersebut?”
“Timma? Namamu kan?”
“Fatima, Yuwaka! Fatima!” protes sang gadis. ”Obyek tertentu yang telah dibentuk sedemikian rupa oleh sihir. Sudah tahu kan? Pasti sudah, mengingat apa saja yang telah kamu baca. Kalau saja kamu membuat Fatima yang dapat digunakan untuk menimbulkan hujan…”
Yuwaka memang mengetahuinya.
“Jadi, kamu menyuruhku membuat Fatima?”
“Benar.”
“Fatima yang dapat melakukan apa yang tidak dapat kulakukan?” kata Yuwaka sinis.
Timma tidak mengindahkan perasaan rekannya. “Itulah hebatnya Fatima. Hanya saja semakin hebat sebuah Fatima semakin besar waktu dan aura yang dibutuhkan. Misalnya Fatima pedang api milik ratu Lilira di jaman dulu. Konon membutuhkan waktu ratusan tahun dalam pembuatannya-”
Suara Timma semakin lirih dalam pendengaran Yuwaka. Mungkinkah bagiku membuat sebuah Fatima? Dalam waktu singkat?
“-membuat Fatima adalah suatu seni. Ah, jangan lupa akan kesabaran. Terkadang kau harus gagal sembilan kali supaya berhasil untuk kesepuluh kalinya. Itupun tergantung akan keberuntunganmu. Tapi siapa tahu kamu dapat membuatnya dalam waktu singkat. Hei! Kamu mendengarkan tidak?... Cobalah, jangan pantang menyerah. Siapa tahu kan?”
Yuwaka mendengus sebagai tanda setuju. Apa salahnya? Toh tidak ada jalan yang lebih baik.
Timma memandangnya dengan mata berkilat-kilat kocak. “Nah, kira-kira Fatima seperti apa yang ingin kamu buat?”
Yuwaka tanpa sungkan-sungkan lagi tersenyum lebar. Tanjakan curam muncul di hadapannya. Sangat susah dilalui tapi bukan berarti mustahil. Ia jadi ingat perkataan Erde dulu. “Kita takkan tahu kalau tidak mencoba.”
---o0o---
Dengan hati-hati sang ibu berkata, “Kakek sudah meninggal dua tahun yang lalu.”
Yuwaka merasa langit runtuh dan menghujaninya dengan serpihan-serpihan tajam. Kepulangannya setelah sembilan tahun tinggal di ibukota seakan-akan hanya untuk merasakan kepedihan yang mendalam.
Erde nampak lebih tua dari umur sebenarnya. Dengan kecut ia menceritakan kondisi Madrigas dua tahun berselang, peristiwa kekeringan terparah yang ia ingat dimana hampir setahun tidak turun hujan.
Hati Yuwaka terasa hampa. Ia terlambat. Kakeknya, orang yang paling menantikan kepulangannya dan melihat perubahan dirinya malah menjadi orang yang tidak akan pernah melihatnya.
“Aku tak tahu… Aku tak diberitahu…” Yuwaka berusaha untuk tidak meneteskan air mata.
“Kami sengaja,” jawab sang ayah. “Tidak ada gunanya mengabarimu. Malahan hanya akan membuatmu tidak tenang tinggal di sana.”
Terus bersedih tidak akan menghidupkan kembali kakek. Ia tahu itu. Yuwaka bangkit dari kursinya dan berjalan keluar rumah tanpa mengatakan apa-apa.
“Yuwaka! Tunggu!” seru Erde.
Beberapa saat kemudian Erde menemukan Yuwaka berdiri di tengah lapangan di pinggir kanal kuno tak jauh dari desa.
“Kak Erde,” kata Yuwaka, membelakangi sang kakak. “Akan kutunjukkan sesuatu.”
Yuwaka mengeluarkan sebuah tabung hijau dengan permukaan berukiran khas.
“Aku menamakannya penangkap awan.”
Yuwaka menggenggam erat-erat tabung itu dan memejamkan mata. Ia langsung memusatkan pikiran untuk mengalirkan auranya menuju ke penangkap awan. Yuwaka mengerahkan seluruh auranya. Ia tidak perduli jika ia takkan pernah dapat menyihir lagi akibat terlalu memaksakan aliran auranya keluar.
Penangkap awan berputar, semakin lama semakin kencang, menimbulkan suara mirip bisikan.
Yuwaka melepaskan tangannya, membiarkan penangkap awan mengambang di depannya. Sesaat kemudian penangkap awan bersinar terang dan membumbung ke atas, semakin lama semakin cepat, meninggalkan Yuwaka limbung.
Dengan sigap Erde menyokong adiknya agar tetap berdiri.
Nun jauh di atas sana terdengar suara ledakan yang sangat nyaring.
Keduanya menunggu sesaat.
“Tidak terjadi apa-apa,” kata Erde.
“Aneh... Padahal tidak pernah gagal sewaktu kucoba di ibukota…”
Yuwaka berpikir keras. “Sebelum badai, petir haruslah terdengar. Setelah itu udara dingin akan terasa,” ucapnya, tanpa sadar mengulang kembali teori yang ia hapal. “Ketika di atas sana, penangkap awan memancarkan sihir dingin yang membuat uap air di udara mengalami kondensasi sehingga awanpun terbentuk.”
Kemudian, seakan-akan ucapan Yuwaka menjadi kenyataan, Keduanya menyadari kalau udara mulai terasa dingin. Langitpun mulai menggelap. Awan satu-persatu bermunculan seperti hantu. Semakin lama semakin banyak, besar dan pekat. Terdengar gemuruh dan kilatan petir mulai berloncatan. Angin berhembus kencang tanpa arah.
“Apa yang terjadi!?” seru Erde memandang sekelilingnya dengan liar.
“Sudah dimulai…”
Setetes dua tetes air menerpa wajah Erde. Ia meraba wajahnya dan merasakan ujung jemarinya basah. Ia menengadah dan melihat ribuan tetes air jatuh ke bawah, membuatnya menyadari sesuatu. Hujan. Yuwaka berhasil menangkap awan dan menurunkan hujan!
“Kau berhasil Yuwaka!”
“Ya… Kau benar…”
Erde merasakan keanehan dalam suara Yuwaka. “Kau… menangis…”
Yuwaka mengusap mukanya. Ia berusaha tersenyum. “Tidak. Ini bukan air mata kak. Ini air hujan…”
Yuwaka mendongak keatas dan membuka mulutnya. Ia membiarkan air hujan masuk ke dalam mulut. Membiarkan hasil jerih payahnya selama ini membasahi kerongkongan.
Yuwaka melihat penangkap awan turun perlahan-lahan dari langit. Putarannya semakin lambat. Yuwaka melepaskan diri dari bantuan kakaknya dan dengan terhuyung-huyung menanti di bawah. Hanya saja sebelum penangkap awan mendarat di tangan Yuwaka, timbul retakan di permukaannya. Sebelum Yuwaka sadar, penangkap awan telah berubah menjadi awan debu yang dicabik-cabik oleh guyuran air hujan.
“Hujan! Hujan!”
Teriakan para warga desa Madrigas yang bermunculan dari dalam rumah dan menari-nari di bawah siraman hujan membuat Yuwaka bahagia. Impiannya telah terwujud. Setelah berpuluh-puluh kali gagal, ia akhirnya berhasil menciptakan penangkap awan. Sayang, buatannya hanya bisa digunakan sekali. Tapi, sekali saja sudah cukup.
Erde nampak kurang gembira ketika melihat reaksi penduduk Madrigas. “Yuwaka. Kamu memang kembali membawa keajaiban. Tapi seharusnya kamu tahu bagaimana dunia ini bekerja. Tunjukkan kalau kamu bisa berjalan di atas permukaan air tenang, lain kali mereka akan menyuruhmu berjalan di atas permukaan air yang bergolak.”
Yuwaka mengerti. Menangkap awan dan menurunkan hujan sekali saja tidak akan cukup. Para penduduk desa tentu akan meminta Yuwaka melakukannya berulangkali, sampai Madrigas menjadi kubangan air tanpa batas.
“Aku akan melakukan apa yang harus kuperlihatkan, dan setelah itu pikiran akan bekerja untuk mengisi hal lainnya.”
“Aku kurang mengerti maksudmu.”
“Kak… Apa yang dibutuhkan oleh Madrigas bukanlah hujan. Tahun-tahunku di sekolah membuatku mendapatkan penerangan dalam hal ini. Sama seperti ketika dulu kakak terus menggali walau kemungkinan mendapat air sangat tipis… Sebenarnya, yang dibutuhkan oleh Madrigas adalah semangat dan kemauan yang kokoh tak tergoyahkan melawan Fasha. Dengan begitu air akan datang sendiri.”
Yuwaka menyapu rambutnya yang basah memakai kedua tangan. Pandangannya ditujukan pada cekungan permukaan tanah yang membujur dari timur ke barat di depannya.
“Aku akan membuat kanal kuno ini berfungsi kembali. Pengetahuan yang kudapat selama ini akan sangat berguna. Tapi, tanpa tenaga dan kemauan warga Madrigas, tujuan ini tidak akan tercapai.”
Wajah Erde berubah cerah. Kakak Yuwaka yang dulu telah kembali. “Andai saja kakek masih hidup.”
Yuwaka tersenyum lebar.
“Tentu beliau langsung masuk ke dalam rumah setelah mendengarkanku. Tak lama kemudian kakek akan kembali dan bertanya, Kita mulai dari mana? Tanganku sudah gatal untuk mengayunkan cangkul ini! ”
hi...salam kenal dari rockerarium!!!!
Salam kenal juga
aku suka pesan cerita ini
tentang penangkap awannya walo sihir sebenarnya bisa ditarik ke sebab-akibat yg biasa seperti perbedaan suhu yang menyebabkan udara berpindah, pengumpulan panas yg ekstreem dsbg...
heuheu
salam
Masalahnya, saya orang pemalas :D
Iya, ya, bisa direvisi lagi soal itu.
terharu aku bah
Hwehehehe... itu tujuannya!
Okeh... kita mulai darimana nih Ubur?... BTW gimana kabar pacarmu, Aiyu...??? hak hak...
---------------------------------------------------------------------
Komen yang negatif aja dulu yak? Hihihi... (terpaksa mencari-cari sela niy. Karena ceritana da bagus banget ^^)
.
### Ga suka nama tokoh yang berbau Jepang ^^ Kenapa ga pake nama berbau Indonesia aja hehehe. Yuwiah Kemissenen, misal.
.
### Nah... yang ini masuk ke dalam LOGIKA:
Jika di gurun itu tak pernah terjadi hujan selama bertahun-tahun... bukankah berarti tidak ada awan yang melintas di sana? Kalo ada awan melintas... Yach... kemungkinan hujan pasti ada. Walau hitungan waktunya tergolong lama.
--------- masalahnya: Yuwaka mengumpulkan awan di tempat itu. Kalo ga ada awan melintas, gimana bisa ditangkap? ^^ Kecuali kalo Yuwaka menangkap awan di tempat lain dan kemudian di lepas di desanta. Hehe...
---------------------------------------------------------------------
Komen positif:
### Alur cenderung datar. Tapi genre ini emang cenderung Fantasy Dongeng, dimana konflik nilai moral lebih penting. Keren deh pokoke. Ada nilai keijaksanaan yang bisa diambil.
### Bait pertama yang bagus... Dimana YUWAKA pada akhirnya menjada KEPSEK sihir ^^,
---------------------------------------------------------------------
Nice story indeed.
Waduh, saya sudah dicampakkan sejak tahun baru... :))
---
Berbau kejepangan?... Hmmm, aku gak ngerasa, tapi mungkin ini pengaruh bawah sadar...
---
Lha rumah saya jauh dari gurun pasir om, jadi gak tau :D
:/ Ketika di atas sana, penangkap awan memancarkan sihir dingin sehingga uap air di udara mengalami kondensasi sehingga membentuk awan yang tampak / visible....
Hwehehehe, ya deh, ngaku kalau malas ngecek soal sistem per'awan'an jadi logikanya kedodoran :) Makasih atas Saran dan kritiknya lho!
komennya dah diborong semua nih...
yang jelas aq suka alurnya nih om...
idenya juga menarik...
sip...
heu...
maaph komen kali ini ga berbobot ya
T_T
maafkan...
mampir juga ke ceritaku ya
http://www.kemudian.com/node/234857#comment-798453
:P
dah aq bls komennya
smoga maklum
:P
dah aq bls lagi
:D
Ho ho ho, komen gw dah diborong.
Eniwey, gw suka dengan pesannya. Daripada terus berharap dan menunggu, mending usaha apa yang kita bisa. Kontras banget usaha si tokoh utama dan penduduk desa yang ga usaha apa-apa.
------------------------------
Fantasy Fiesta 2009: Gotterdammerung
Wah, banyak salah tuh, hati-hati menggunakan kata depan -di-
Tapi segi cerita keren sie, bener juga..mereka kurang ada semangat..-jadi inget anime apa gitu....bagian awal juga banyak bikin bingung...
Ugh... di- memang bukan 'sahabat'ku yang baik... makasih atas kritiknya. Soal anime, seingatku tokoh yang berjuang demi air buat desanya adalah Uub dalam DragonBall Z.
penuh motivasi, tapi agak aneh ketika tiba-tiba ibu yuwaka datang berbondong-bondong dengan segera mengangkat yuwaka ke balai desa untuk di tes keahlian sihirnya,,, kukira si ibu mengharapkan anaknya termasuk salah satu penyihirnya dan
padahal tesnya menunjukkan nilai positif, tapi kok malah ibunya tidak mendukung kepergiannya, konfliknya agak mengambang jadinya. jadi kerasa aneh... cuman di situ aja sih kekurangannya...
nilai moralnya bagus banget, cocok buat cerita motivasi
tetep berkarya... semangat!!!
Saya memang masih belajar menempatkan diri di sepatu pembaca, sehingga hal-hal seperti itu masih sering terlewatkan. Jadi saya sangat berterimakasih anda menunjukkan kejanggalan tentang sang ibu tersebut.
memang terkadang orang menentukan yang menurut mereke terbaik menurut kita...
padahal mereka tidak tahu apa yang terbaik bagi kita, karena bukan mereka yang menjalaninnya.