Read more (3475 words) Matahari menggantung tepat di tengah-tengah langit biru hutan Shiberani. Cahayanya menyorot ganas, menusuk dan memanggang para penghuni hutan. Melangkah terhuyung-huyung melewati gugusan bambu seorang pemuda. Langkahnya tertatih, nafasnya memburu dan ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya dengan bantuan pedang di tangan kanannya. Segenap tenaga ia mencoba untuk terus melangkah dan mengabaikan rasa sakit yang menusuk dari lengan kirinya yang robek dan mulai menghitam bagai habis terpanggang api. Pandangan pemuda itu mulai buram, kabut putih serasa semakin tebal menutupi pandangannya. Ia berhenti sesaat, berlutut sambil mencoba mengatur nafas.
Tersentak ia saat suara gemerisik menyembur di arah utara.
Pria itu mencabut pedangnya. Benda di tangan kanannya itu berkilat diterpa cahaya. Ia siap untuk hal terburuk.
Samar matanya menangkap sesosok lelaki melangkah perlahan ke arahnya. Ia menunggu. Saat sosok itu telah sangat dekat, sang pemuda menebaskan pedangnya. Namun pedang itu hanya menghantam angin. Ia limbung. Pandangannya semakin buram, lalu gelap. Ia merasa dunia berputar semakin kencang, tubuhnya bagai melayang ke dasar jurang.
Sang pemuda roboh, namun belum sempat tubuhnya menyentuh tanah, sosok asing itu telah menangkapnya.
-o0o-
Pria itu terbangun saat benderang mentari menusuk matanya. Ia membuka matanya namun tidak bergerak. Sesaat dipandanginya langit-langit ruangan itu lalu dicobanya untuk mengangkat tangannya. Ia meringis, rasa sakit menusuk menyebar di tangan kirinya. Ia melihat balutan di tangan kirinya.
Dimana aku? pikirnya sambil mencoba bangkit dan duduk di pinggiran tempat tidur.
Lelaki itu memutar kepalanya dan memandang ke arah pintu saat mendengar pintu kamar terbuka.
“Ah, kau sudah bangun rupanya Anakmuda? Bagaimana perasaanmu?” sapa laki-laki tua yang baru masuk.
Pak tua itu membawa baki berisi makanan.
“Masih agak sakit dan pusing. Maaf Paman, dimanakah aku?”
“Kutemukan kau terluka dan tidak sadarkan diri di pinggir hutan Shiberani dua hari yang lalu. Siapakah namamu Anakmuda?”
“Aku...namaku...,”pria muda itu mencoba menjawab. Seharusnya itu pertanyaan yang sangat mudah. “Aku...aku tak tahu Paman?”
Aneh. Ia telah mencoba untuk mengingat namanya namun tidak menemukan apa pun di dalam kepalanya. Ia tidak ingat apa-apa, bagaimana mungkin?
Orang tua itu berdesah sambil menggeleng. “Racun katak pelangi memang luar biasa. Begitu masuk aliran darah, racunnya akan menyerang otak, jantung sekaligus saraf. Orang biasa akan mati dalam tempo kurang dari dua menit. Kau pasti punya tenaga dalam yang hebat hingga mampu lolos dari maut racun itu. Tapi tampaknya otakmu sempat menyerapnya.”
“Aku? Racun katak pelangi? Tenaga dalam? Apa maksudnya Paman?” sang pemuda menggelengkan kepala, mencoba mencerna semua penjelasan orang tua itu.
“Kau tidak ingat sedikit pun? Bagaimana dengan luka di tangan kirimu, apa kau ingat siapa yang melakukannya?”
Sekali lagi ia menggeleng perlahan.
“Mungkin kau ingat ini...” kata pria tua itu sambil menggerakkan tangannya.
Sebutir kacang melesat dari tangan kanannya. Benda itu melesat kencang—dahi pria muda itu sasarannya. Saat kacang itu hampir menghantamnya, tangan sang pemuda bergerak. Ia membuka jari telunjuk dan jari tengahnya. Di detik berikutnya, benda berwarna coklat itu telah terselip di antara jari tengah dan telunjuknya. Sang pemuda menatap kacang di tangannya dengan pandangan aneh. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya? Apa ia pernah mempelajarinya?
“Sudah kuduga, kemampuan kanuragamu tidak hilang,” kata pria tua itu sambil tersenyum; sementara sang pemuda kebingungan dengan hal yang baru dilakukannya.”
Dengan pandangan bingung pemuda itu menatap kakek tua itu. Sorot matanya menuntut penjelasan.
”Sepengetahuanku, semua yang terkena racun itu langsung mati. Hanya sedikit pendekar yang mempunyai tenaga dalam tinggi mampu lolos dari ganasnya racun itu. Tapi sehebat-hebatnya tenaga dalam mereka, racun itu pasti berhasil merusak jalur ke enam saraf mereka.”
”Jalur keenam?” gumam pemuda itu.
”Ah, penjelasan ilmu pengobatan pasti akan sangat membosankan. Jalur keenam adalah jalur saraf yang bertanggung jawab agar kita bisa mengingat masa lalu kita.”
”Maksud paman aku kehilangan ingatan masa laluku?”
Si orang tua menghela nafas, lalu bangkit dan berjalan ke arah jendela.
”Ya. Bukankah sudah jelas kau tidak bisa mengingatnya?”
”Apa jalur keenam itu bisa disembuhkan paman?”
Si orang tua mengelengkan kepala, ”Sayangnya tidak. Jalur itu sangat rapuh dan sekali rusak ia tidak bisa dikembalikan,” jelas orang tua itu dengan nada prihatin.
Si pemuda tertunduk lesu. Beragam perasaan berkecamuk. Tanpa masa lalu ia adalah orang tanpa masa depan.
Tanpa disadarinya, orangtua itu telah berada di sampingnya dan menepuk bahu kanannya.
”Jangan khawatir anakmuda, kau lihat, kemampuan kanuragamu tidak hilang. Itu pasti karena kau telah mempelajarinya di usia yang sangat muda. Ilmu itu sudah menjadi bagian dari refleksmu. Ilmu itu yang melindungimu dari maut racun katak pelangi dan aku yakin, ilmu itu juga bisa membantumu untuk mengingat masa lalumu.”
”Tapi paman bilang jalur keenamku telah rusak, bagaimana bisa aku mengingat masa laluku tanpa syaraf itu.”
”Betul, jalur keenam, jembatan pikiranmu untuk mengingat masa lalu memang telah rusak, tapi bukan berarti pikiranmu tidak bisa membangun kembali jembatan yang lain.”
”Membangun kembali, bagaimana mungkin?”
“Menurut ilmu pengobatan, pikiranmu akan membuat jembatan baru dengan ingatan masa lalumu jika kau bisa menemukan sesuatu yang kuat dari masa lalumu, mungkin tentang orangtuamu, istri, anak, atau benda-benda maupun kejadian yang mempunyai arti sangat penting buat hidupmu. Aku ingat satu kejadian yang diceritakan guruku tentang racun katak pelangi. Racun itu pernah menyerang panglima kerajaan Shitarewa sembilan puluh tahun yang lalu. Sang Panglima kehilangan ingatan akan masa lalunya, tapi ilmu kanuraga serta strategi perangnya tidak hilang. Demikian juga kemampuan memainkan sulingnya, tidak hilang. Berpuluh-puluh guru pengobatan mencoba untuk memulihkan ingatan masa lalu panglima, tapi tidak ada yang berhasil. Sampai suatu hari panglima sedang menikmati pertunjukan suling di kediamannya. Saat lagu Mintu Dio sedang dimainkan, sebuah panah melesat. Beruntung panah itu hanya menembus bahu kanan panglima. Lebih beruntung lagi, panah itu tidak beracun. Sepertinya tembakan pembunuh bayaran meleset dari jantung panglima,” orang tua itu berhenti sesaat.
“Lalu?” tanya sang Pemuda.
“Panglima selamat, karena para pengawalnya langsung melindunginya.”
“Maksudku ingatan masa lalunya?”
Orang tua itu kembali tersenyum,”Kejadian itu mengembalikan ingatan masa lalu panglima. Rupanya saat panglima terkena racun katak pelangi dari panah di bahu kanannya, ia juga sedang mendengar lagu Mintu Dio.”
-o0o-
Empat hari berlalu. Luka-luka lelaki tak bernama itu mulai sembuh. Ia beruntung pak tua yang menemukannya sangat lihai dalam pengobatan. Orang tua itu—Tanabhi adalah pimpinan perguruan Bambu Emas, salah satu ahli racun terbaik di negeri Shitarewa. Pemuda tanpa nama itu beruntung, takdir belum menuliskan kematiannya. Ia roboh tepat saat Tanabhi sedang mencari tanaman di hutan Shiberani.
Kini ia duduk di atas bangku batu yang dikelilingi tanaman obat-obatan. Taman itu berada di utara komplek perguruan Bambu Emas. Lokasi itu tampaknya sengaja dipilih karena letaknya yang lebih tinggi dari bagian lain komplek untuk melindungi tanaman-tanaman itu dari genangan air saat hujan lebat turun. Karena tempatnya yang agak tinggi, taman itu dijadikan semacam menara pengawas oleh para pimpinan perguruan. Dari taman tampak jelas balai besar yang dipenuhi para penduduk desa di arah timur. Murid-murid perguruan tampak sedang memberikan layanan pengobatan. Balai itu tanpa dinding penutup, sehingga dapat terlihat jelas segala aktivitas yang terjadi pada balai.
Di barat, puluhan murid-murid sedang bergerak mengikuti komando seseorang yang ada di barisan paling depan. Sesaat mereka tampak melangkah ke depan, di saat yang lain mereka melangkah ke belakang. Gerakan mereka tampak seperti tarian, meski jika diperhatikan lebih lanjut itu bukan tarian. Murid-murid itu sedang mempelajari jurus-jurus perguruan Bambu Emas.
Pemuda tanpa nama itu menghunuskan pedangnya. Benda itu berkilat bagai cermin. Ia mengamati benda di tangannya itu dengan seksama. Permukaan logam itu memantulkan bayangan wajahnya; wajah persegi dengan alis tebal.
Siapa aku? pikirnya.
Detik berikutnya, ujung matanya menangkap bayangan lain pada permukaan pedang. Sosok itu mula-mula kecil lalu dengan cepat membesar. Dalam sekejap permukaan pedang menampilkan sosok lelaki dengan rambut putih panjang yang diikat.
“Pedang yang bagus,” kata Tanabhi yang kini telah berada di belakang sang pemuda. Ia mengusap-usap jenggot panjangnya. “Apa kau bisa mengingatnya?”
Pemuda itu membalikkan badannya lalu menundukkan kepala sesaat untuk memberi hormat.
“Aku tidak ingat pedang ini, Paman yakin ini milikku?”
“Pedang itu ada di tanganmu saat kau pingsan. Pedang yang hebat, kau lihat tanda di pangkal pedang itu?”
Pemuda itu melihatnya. Sebuah gambar telapak kaki macan dalam ukuran mini. Sebuah gambar melintas di kepalanya. Gambar orang tua yang lain. Tapi dia tidak ingat tentang orang tua yang ada dalam pikirannya itu. Gambar lain melintas, orang tua itu membuka baju seorang bocah dan ...
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya, lalu menarik lengan bajunya jauh ke atas. Ia melihat pada bagian dalam lengannya terdapat sebuah gambar berwarna hitam—gambar sebuah telapak macan.
“Lima Sigi,” pemuda itu bergumam tanpa mengerti apa yang diucapkannya. Lima Sigi?
Tanabhi tersenyum. “Nah, kau bisa mengingatnya sekarang?”
Pemuda itu menggeleng pelan.
“Ah, aku yakin pedang itu milikmu, atau mungkin pedang itu milik gurumu karena kau memiliki tato Lima Sigi. Apa kau mengenal Yudha Zensei?”
“Yudha Zensei,” pemuda itu kembali bergumam.
Kembali gambaran orang tua memenuhi kepalanya. Kali ini orang tua itu sedang berdiri di depan dua orang bocah. Kedua bocah itu saling melepaskan pukulan dan tendangan. Dan “Ah...,” pemuda itu meringis sambil memegangi kepalanya.
“Jangan dipaksakan Anakmuda, biarkan ingatanmu muncul perlahan.”
“Apa Paman mengenal Yudha Zensei?”
Tanabhi tersenyum. “Siapa yang tidak kenal pendekar yang menjadi legenda kerajaan Shitarewa itu,” jawabnya.
“Ceritakanlah Paman.”
Tanabhi diam sesaat.
“Enam puluh tahun yang lalu, Yudha Zensei, seorang pendekar yang tidak pernah terdengar, tiba-tiba saja muncul di istana. Sendirian ia menyusup istana, menerobos barikade para pemberontak yang mengepung istana, lalu membawa keluar kaisar. Berkat aksi heroiknya itulah kaisar bisa selamat, lalu menyusun kembali kekuatannya sebelum kemudian memberangus para pemberontak. Namun Yudha Zensei, secepat dia muncul, secepat itu pula dia menghilang. Kabar beritanya tidak pernah terdengar setelah kejadian itu. Meski ia menghilang, legendanya dan gambar Lima Sigi tak pernah hilang dari sejarah. Hanya ada satu pedang di dunia ini dengan gambar Lima Sigi. Pedang itu milik Yudha Zensei, pedang yang sekarang ada di tanganmu.”
-o0o-
Istana kerajaan Shitarewa terletak di kota Pandatera, sebelah timur hutan Shiberani. Di tengah-tengah istana terdapat kolam yang berisi bunga lotus berwarna ungu dan jingga. Sebentuk bangunan terbuat dari marmer berwarna krem berdiri di tepian kolan yang menghadap ke barat. Di dalamnya, seorang pria berpakaian sutra berwarna biru dengan mahkota emas bermotif lotus berdiri di pinggir bangunan. Pria itu tampak sedang memperhatikan gerak-gerik ikan loki ungu di dalam kolam dengan pandangan kosong—pikirannya mengembara.
“Shansalamun*, selamat pagi Yang Mulia,” sapa seorang gadis yang tiba-tiba muncul di pintu masuk. ”Mohon ampun jika hamba lancang mengganggu.”
Gadis itu berpakaian putih, seputih kulit dan wajahnya. Dengan rambutnya yang berwarna keemasan ia tampak sangat cantik. Mata bulat berwarna hijau serta hidungnya yang mancung membuat para pangeran tak akan sanggup untuk mengalihkan pandangan. Gadis itu Putri Sephia, putri kedua Kaisar Theria.
Lelaki di dalam bangunan taman menoleh,
“Rampieza**, kau rupanya Sephia,” jawab pria itu.
“Maafkan aku Kakak, apa aku mengganggumu?”
Lelaki itu, Kaisar Theria II, putra pertama Kaisar Theria menghembuskan nafas—seolah mencoba melepaskan beban berat di dadanya.
“Masuklah Sephia.”
Putri Sephia melangkah masuk.
“Kau terlihat sangat gundah Kakak, bolehkah aku menghiburmu. Siapa tahu permainan harpaku yang tidak seberapa ini bisa menghilangkan gundahmu.”
Kaisar tersenyum, meski tampak dipaksakan. Ia mengangguk, memberi isyarat kepada Sephia untuk memainkan harpa yang ada di pojok bangunan itu. Beberapa saat kemudian dentingan harpa telah mengalun lembut, mengalir bagai aliran air. Kaisar terhanyut dalam alunan melodi itu.
Adikku memang luar biasa. Kemampuan musiknya sungguh jenius. Mendengar dentingan harpanya, membuat para pemusik istana terlihat bagai pemusik jalanan, puji Kaisar dalam hati.
Ia sungguh punya segalanya, kecantikan, otak yang cemerlang serta ilmu kanuraga yang sempurna. Andai saja dia seorang lelaki, tentulah ia yang menjadi kaisar.
Musik berhenti.
“Apakah musikku sumbang Kakak? Air mukamu tampak berubah,” tanya Sephia.
Kaisar tersenyum kecut, “Tidak Sephia, musikmu sungguh sempurna.”
“Belakangan ini Yang Mulia tampak sangat gelisah. Bisakah hamba membantu?” nada suara Sephia kembali terdengar sangat santun.
Kaisar memalingkan wajahnya. “Sudah terlalu banyak yang berbasa-basi padaku Sephia. Janganlah kau perlakukan aku seperti itu Adikku,” nada suara kaisar meninggi.
Sephia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata kakaknya. “Maafkan aku Kakak.”
Kaisar sadar akan perubahan itu, “Ahh, maafkan aku Sephia. Bukan maksudku. Hanya saja beberapa bulan belakangan ini aku tak dapat lagi membedakan mana penghormatan yang tulus dan mana yang tidak. Mana kawan dan mana penghianat.”
“Apa ada penghianat di istana Kakak?”
“Entahlah Sephia, belakangan ini para pemberontak Angin Selatan tampak semakin kuat. Mereka selalu saja mengetahui kekuatan serta stategi pasukan yang kukirimkan untuk menghancurkan mereka. Serangan pasukanku selalu berhasil mereka patahkan.”
“Apa kau mencurigai Paman Patih dan Paman Panglima Kakak?”
“Entahlah,” Kaisar diam sesaat. ”Tapi memang hanya Paman Patih dan Paman Panglima yang ku ajak berdiskusi tentang segala strategiku. Juga tentang strategi penyerangan terakhir yang kau usulkan itu. Hanya mereka yang ku ajak berdiskusi.”
“Paman Patih dan Paman Panglima orang-orang yang setia Kakak. Mereka sangat mencintai Ayahanda dan kau. Tidak mungkin mereka berhianat.”
“Entahlah Sephia, entahlah,” jawab Kaisar.
Ia kembali larut dalam lamunan. Terjebak dalam labirin politik istana. Ia harus bisa memisahkan golongan yang setia dan mereka yang berhianat. Ia tidak ingin sejarah pengepungan yang terjadi pada ayahnya berulang.
Shanditera, di mana kau!
-o0o-
Dua minggu sudah pemuda tanpa nama itu berada di perguruan Bambu Emas. Kini ia dipanggil Amida, yang berarti pemuda asing dalam bahasa pedalaman Shiberani. Pemuda itu masih belum dapat mengingat asal usulnya. Tapi satu yang telah diketahuinya pasti, ia mempunyai ilmu kanuraga yang tinggi.
Dalam waktu singkat, Tanabhi—ketua perguruan itu—berhasil menuntunnya. Tanabhi terkagum-kagum saat mereka berlatih tarung. Gairah mudanya kembali memenuhi tubuh tuanya. Telah lama dia tidak merasakan sensasi pertarungan. Pemuda itu menjadi lawan tanding yang hebat. Ilmu ringan tubuh Amida terasa setingkat di atasnya, atau mungkin karena usianya yang telah menua membuatnya selalu kalah cepat?
Ilmu pedang Amida juga tanpa ampun. Jelas sekali itu ilmu yang dimiliki oleh Yudha Zensei, karena Amida mampu memainkan jurus Pedang Lima, yang membuat pedangnya terlihat seperti lima buah dan menyerang lima titik mematikan dalam waktu bersamaan. Tak ada yang pernah mempertontonkan ilmu itu selain Yudha Zensei. Jurus itu dipakai oleh Yudha saat membunuh Thitan Selatan—kepala pemberontak Angin Selatan yang terkenal dengan Golok Anginnya.
Amida dan Tanabhi sedang bermain catur di taman obat saat kegaduhan itu terjadi. Amida tidak bisa mengerti, ia bisa sangat cepat memahami langkah-langkah catur, bahkan saat kegaduhan itu terjadi, ia sedang membuat langkah mematikan.
Mereka melihat ke arah gerbang komplek. Sekitar lima puluh orang lelaki berbaju hitam dengan gambar daun berwarna merah dan bersenjatakan golok memasuki halaman perguruan Bambu Emas. Lima orang yang berdiri di depan terlihat seperti pimpinan gerombolan itu. Tanpa basa-basi mereka melangkah ke arah balai pengobatan. Para penduduk yang sedari tadi menanti giliran untuk mendapatkan pengobatan, lari berpencar melihat kehadiran gerombolan itu. Tiga orang murid perguruan Bambu Emas tampak berusaha menenangkan para penduduk, namun itu hanya sesaat; karena di saat berikutnya tiga orang itu ikut mundur setelah dihajar seorang lelaki dari gerombolan itu.
Tanabhi langsung bangkit dan berlari ke arah gerombolan itu. Dengan ilmu ringan tubuhnya, hanya butuh beberapa langkah saja untuk sampai ke sana.
“Salam tuan-tuan,” sapa Tanabhi sesampainya di depan gerombolan itu. Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada—memberi hormat.
”Gerangan apa yang membuat tuan-tuan mampir ke tempat kami?” lanjutnya.
Seorang lelaki berbadan besar dengan alis serta kumis tebal menempel di wajahnya yang penuh bekas luka akibat pertempuran meludah ke samping kanan. Tanabhi mengenalinya. Lonthar Surobo, panglima gerombolan pemberontak Angin Selatan wilayah utara. Lelaki itu sangat ditakuti di daerah pinggiran hutan Shiberani; jenis perampok yang tak kenal perikemanusian. Sebulan sekali ia dan pasukannya datang ke kota dan desa sekitar hutan Shiberani untuk meminta perbekalan makanan. Siapa pun yang berani menolak akan dihabisi. Beberapa bulan belakangan ini aksi mereka semakin brutal. Pasukan kerajaan yang dikirim dari ibukota beberapa kali berhasil mereka hancurkan.
“Tanabhi, aku kesini bukan untuk berbasi-basi, kami mencari seseorang,” kata Lonthar.
Belum lagi Tanabhi menjawab, derap langkah terdengar. Ia melihat sepuluh orang muridnya, kelompok penjaga perguruan telah tiba. Datang bersama mereka Amida—si pemuda hilang ingatan itu. Raut wajah Lonthar langsung berubah begitu melihat Amida.
“Sepertinya kami telah menemukan orang yang kami cari,” katanya.
“Serahkan pemuda itu dan kita bisa melupakan kejadian hari ini,” teriak Lonthar sambil menunjuk Amida.
Semua mata memandang Amida.
“Kenapa kau menginginkannya?” tanya Tanabhi.
“Bukan urusanmu, serahkan dia. Atau kau lebih suka kami mengambilnya secara paksa!” nada suara Lonthar meninggi.
Anggota gerombolan itu langsung menghunuskan golok dan bersiap menunggu perintah selanjutnya.
“Habisi mereka!” teriak Lonthar.
Gerombolan itu sontak bergerak. Murid-murid perguruan Bambu Emas memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi serangan. Pertarungan masal segera terjadi kalau saja tidak ada teriakan itu,
“Tunggu!” teriak Amida.
Gerombolan itu membatalkan serangan, mereka menunggu perintah Lonthar.
“Kau menginginkanku? Kalau begitu ini urusan kita berdua” tantang Amida.
Lonthar tersenyum licik. Kedua tangannya menarik dua golok di pinggang kiri dan kanannya.
“Kau menginginkan tanding ulang rupanya!” cibir Lonthar.
“Golok kembar,” gumam Amida.
Golok dan lelaki di depannya seperti pernah dikenalnya. Kilasan kejadian kembali diputar di kepalanya. Lelaki dengan golok kembar berdiri di depan seorang gadis cantik. Tanding ulang? Apa maksudnya?
“Kali ini kau tak mungkin kabur,” teriak Lontar lalu melompat ke arah Amida dan menebaskan golok kanannya.
Golok itu mengincar leher Amida.
Amida mundur dua langkah, lalu mencabut pedangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya melemparkan sarung pedangnya ke arah Lontar. Sarung itu melesat bak anak panah; Lonthar miring ke kiri saat sarung pedang Amida hampir menghantam kepalanya. Ia tahu sarung itu dilempar dengan tenaga dalam. Benar saja, sarung pedang Amida menancap pada pilar kayu balai pengobatan yang berdiri enam meter di belakang mereka.
Lemparan sarung pedang itu cuma pengalih perhatian, Amida telah menebas pedangnya ke arah perut Lonthar sebelum sarung pedangnya menancap di pilar. Namun Lonthar bukan anak kemarin sore yang baru mengenal duel, ia melompat dan bersalto ke depan hingga tubuhnya melayang melewati Amida. Saat ia melewati Amida, Lonthar menebas kedua goloknya ke arah bahu kiri dan kanan Amida.
Amida memutar pedangnya hingga dua golok Lonthar beradu dengan pedangnya—menimbulkan bunga api dan denting logam yang mengerikan. Lonthar mendarat dua meter di belakang Amida.
“Rupanya racun itu tidak menghilangkan kemampuanmu,” kata Lonthar sambil mengatur nafas.
Ia bersiap membuka jurus kedua.
“Tapi kali ini kau akan mampus Shanditera!” teriaknya sambil melangkah ke depan.
Langkahnya tidak beraturan, seirama dengan gerakan dua goloknya yang menebas silang menyilang menuju Amida.
“Shandhitera,” ucap Amida.
Setelah mengucapkannya, tiba-tiba pikirannya terang benderang seperti sedang disorot mentari siang. Kabut yang menyelimuti pikirannya seakan hilang. Ia ingat lelaki di depannya itu menyerangnya saat dia berusaha menyelamatkan seorang gadis cantik. Gadis itu sedang berjalan beriringan dengan Lonthar. Lonthar menculiknya? Bukan, itu bukan gadis biasa, gadis itu...
“Putri Sephia. Argh!” teriak Amida.
Memori yang kembali membuat Amida lengah. Saat ia tersadar, golok kanan Lonthar telah menyambar tangan kirinya. Darah menyembur. Lukanya yang baru saja sembuh, kini robek kembali. Kalau saja dia tidak mundur selangkah, pasti tangannya telah buntung.
Melihat lawannya terluka, naluri buas Lonthar meraung. Ia mengejar Amida yang melangkah mundur. Jurus pamungkas dikeluarkannya. Lonthar membabat zig zag ke arah leher dan perut Amida.
“Mampus kau Shanditera!” teriaknya.
Tiba-tiba pedang Amida bergerak ke arah Lonthar diiringi suara dengung ribuan lebah. Dalam penglihatan Lonthar pedang itu berubah menjadi lima dan menyerang lima titik mematikan. Dentingan logam beradu kembali terdengar diikuti jerit kesakitan. Lalu hening.
Lonthar berdiri terdiam, matanya membesar—memperlihatkan dendamnya yang membara. Ia berhasil menangkis kelima tusukan pedang Amida.
Sementara itu, Amida berdiri setengah lengan di depan Lonthar dengan kedua mata tertutup. Darah mengalir deras di tangan kirinya, namun telapak kirinya menempel di dada kiri Lonthar.
Lonthar jatuh berdebum dengan mata melotot. Ia terlalu berkonsentrasi menangkis semua serangan pedang Amida hingga tak sadar telapak tangan kiri Amida menghantam jantungnya.
“Shanditera,” gumamnya lagi.
Gambaran yang terputus tadi kembali memenuhi kepalanya. Ia ingat bertarung dengan Lonthar saat berusaha menyelamatkan Putri Sephia yang tiba-tiba muncul di markas pemberontak Angin Selatan. Ia tidak lagi memperdulikan misi pengintaiannya. Ia harus segera bertindak, adik Kaisar Theria II dalam bahaya. Saat telah berhasil memisahkan Putri Sephia dari Lonthar, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menusuk di tangan kirinya. Hampir-hampir ia tidak mempercayai penglihatannya. Dari segala hal yang mungkin terjadi di dunia, hal ini yang paling mustahil—sang Putri membenamkan belati beracun di tangannya. Beruntung naluri bertahan hidup segera menguasai pikirannya. Ia kabur dan berhasil meloloskan diri ke hutan Shiberani.
“Shanditera,” ia ingat nama itu miliknya. Shanditera Prapanca, murid pertama Yudha Zensei, pewaris Pedang Lima Sigi. Kaisar Theria II adalah adik seperguruannya—murid kedua dan terakhir Yudha Zensei.
Shanditera ingat misi pengintaiannya. Hanya dia yang dipercaya kaisar.
Bukan mahapatih, bukan pula panglima yang jadi penghianat di istana, tapi Putri Sephia.
Keserakahan dan keangkuhan bercampur iri hati meracuni Sephia. Putri cantik itu menginginkan tahta kerajaan dan berkomplot dengan pemberontak Angin Selatan untuk menggulingkan kaisar. Ia harus segera memperingatkan adik seperguruannya itu.
[]
Catatan:
* : ucapan salam dalam bahasa kerajaan Shitarewa yang digunakan oleh para bangsawan.
** : jawaban salam dalam bahasa kerajaan Shitarewa yang digunakan oleh para bangsawan.
Iseng-iseng lagi ngintip para peserta fiesta taun lalu.
Wow, ini bagus...
Cuma agak nanggung karena sepertinya banyak detil yang terpaksa dipangkas agar bisa memenuhi kuota 3000 kata.
He..he.. ini aslinya nyaris 5000 kata, perlu kerja keras untuk memangkasnya :)
Terus terang cerita ini terlalu klise, terlalu umum. Pantas untuk kalah, bahkan ngga lewat babak kedua tahun kemarin :).
Aniwei, thanks udah mampir, Bung.
5000? Pantes. Tega nian dipangkas nyaris separo.
Tapi terlalu klise dan umum bukan berarti jelek, bung.
Karena toh endingnya manteb.
Taun ini mari dicoba lagi, hehe. (lagak sok Villam)
Wah..wah, bergabung dengan seksi promosi si Villam ya kayaknya :).
Kita liat deh, kalau ada ide bagus dan yang ikut rame, aku mungkin nimbrung meramaikan.
Waduh, maaf ya mas kalo gx di baca ampe akhir. Ceritanya padat banget aku mulai pusing sama detilnya.
Tapi konsepnya bagus lho. Cuma ngetiknya buru2 yah? Ada yg nempel, hilang, yah.. Maaf lagi kalo komen gx penting. Pada setiap postingan baik di sini maupun di tempat lain pengetikan emang banyak terjadi kesalahan. Apalagi bahasa inggris, yg dr kecil pake bahasa inggris aja banyak salahnya.
Moga setiap penulis memperhatikan hal kecil seperti ini.
Hmm... klo ini bab 1 dari novel berarti ceritanya dibawa thriller ya tentang si Shanditera yg mungkin menemui kesulitan untuk sampai kerajaan dan memperingati Kaisar.
Atau walaupun udah diperingatin pun si Kaisar tidak akan percaya adiknya pengkhianat
Tapi klo ini cerpen, kecurigaan-kecurigaan (pada orang lain) yg lalu mengarahkan ke ending bahwa si Sephia sang pengkhianat kurang terasa Ron!
Dan ingat2
Mengapa novel2 Indonesia selalu diawali dengan sesuatu yg menggantung di angkasa :)
Tapi ya bagus seh..
Ini salah satu ide yang belum sanggup aku tulis
jadi novel. Mungkin kalo proyek yang sekarang
selesai, aku akan buat nih cerita jadi novel silat :)
seru!
lanjut mas...lanjut...
sekalian minta komen mas mailindra di cerita saya..:)
hi...salam kenal dari rockerarium!!!
salam kenal juga
Kereen! Saya suka emosi yang ditunjukkan kaisar ketika Putri Sephia memainkan harpa jika dibandingkan dengan saat ending bahwa Shanditera ingat dia harus memberitahukan Kaisar tentang Putri Sephia yang memiliki rencana untuk merebut tahta kerajaan. Betapa menyakitkannya perasaan dikhianati oleh orang yang kita percayai sungguh-sungguh, apalagi dengan adegan dialog antara Sephia dengan Kaisar, saya jadi semakin larut di ending ketika mengetahui kenyataan sebenarnya.
Oh ya, saya juga suka perasaan kehilangan Kaisar terhadap orang kepercayaannya, Shanditera. Betapa seolah ada keterikatan yang kuat antara dia dan Shanditera.
Saya suka detilnya. Yang saya herankan, jika otak Shanditera telah terserang oleh racun katak pelangi, mengapa dia masih memiliki kekuatan? Apakah sudah diperhatikan lagi logika kesamaan fungsi otak dari ingatan jangka panjang dengan gerak kinestetiknya? Tidakkah akan berpengaruh?
Kerajaan Shitarewa, Hutan Shiberani? Sepertinya ini bukan cerpen fantasi biasa. Menurut saya, ini novel fantasi yang keren.. :D
Terima kasih banyak buat komentarnya.
Aku suka dengan komentar yang detail begini.
Mengenai hal ini:
Dicerita ini, aku mencoba membuat Shanditera mengalami Retrograde Amnesia (Ya ada namanya :) ), salah satu jenis amnesia yang membuat penderitanya kesulitan mengingat masa lalunya.
Secara ilmiah jenis amnesia ini biasanya disebabkan oleh luka atau benturan yang menyebabkan kerusakan pada otak. Nah disini saya belokkan, kerusakan pada otaknya disebabkan oleh racun katak pelangi.
Ide ini sebenarnya terinspirasi oleh novel Ludlum yang judulnya Bourne Identity, dimana protagonisnya adalah seorang spy yang mengalami Retrograde Amnesia. Meski lupa masa lalunya, kemampuan beladiri, senjata dan lain-lain tentang spy masih dikuasainya.
Kupikir secara ilmiah kemampuan beladiri akan susah hilang dan akan cepat sekali kembali dipelajari kalo mengalami jenis amnesia ini. Coba tanyakan pada yang jago beladiri, apakah mereka sempat berfikir tentang jurus yang akan dikeluarkan ketika duel? pasti tidak. Jurus-jurus itu sudah menjadi refleks mereka.
Aniwei terima kasih dah mampir.
gut
Seru bro! Akhirnya itu gw suka. Awalnya Shanditera roboh dulu, setelah sembuh dari luka di tangannya dia pergi ke istana? Gw ngembayangin Shanditera nyembuhin lukanya dengan tenaga dalam terus langsung terbang ke istana. Kereeen.
------------------
Fantasy Fiesta 2009: Götterdämmerung
keren dah kak!!! mailindra emang jago bikin cerita beginian euy!!eh, komentari punyaku juga Disini
dtunggu lanjutannyaa .
wah baru tau tho aku kalau ada tjerita silat juga disini..
bagus banget, walaupun agak aneh
gabungan pilihan kata jepang dan jawa seakan-akan tidak ada batas negara,,,
lanjutannya donk bang!
sama kayak aq ya,,,
keganjal sama batas maximal kata ya??
:P
alurnya ngalir banged...
aq suka (soalnya aq ga suka alur yg berbelit hehehe)
-------------------------
oia cuma mw ngasih saran ajah
mendingan di revisi lagi supaya ga melebihi 3000 kata
soalnya kemarin juga aq di revisi juga setelah di kasih saran oleh mbak dian
:D
He..he.. tau aja. Nanggung ya ceritanya? :)
Iya nih 100 kata kurang, 3000 kata juga kurang :)
Makasih sarannya dan juga udah mampir.
mw kasih inpo lagi,,,
kata om villam di suruh kirim karyanya yg berformat word(doc/docx) ke email dia,,,
soalnya kalau gag di kirim nantinya cerita "shanditera" jadi gag sah ikutan fiesta
:P
ceped kirim ya
Oke thx. Udah aku layangkan ke yang punya hajatan he..he
Haiiyaa...makasih udah di do'ain. amin..amin semoga beneran jadi pro :D.
Ajarin? bukannya disini emang sama-sama belajar :)
yahuuuuud :)