Read more (3038 words)
Kota Merrka adalah kota yang mendapatkan julukan kota impian dari siapa pun yang sempat atau memang tinggal di kota tersebut. Apapun bisa ditemukan di sana kecuali budaya masa lalu. “Siapa yang membutuhkan masa lalu. Jika kita hidup di masa depan?” ungkap Petinggi Kota Merrka saat acara pelantikannya di alun - alun kota. Semua penduduk kota bersorak karena mereka sudah lama merindukan perubahan karena hidup mereka selama ini sungguh menderita.
Kota Merrka dulunya merupakan sebuah desa, namun juga kerap disebut desa miskin. Karena begitu banyak sumber daya alam tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Semenjak penemuan hal yang berharga di dekat pemakaman, penduduk keseluruhnya belajar mengubah hal berharga itu menjadi pemenuh kebutuhan sehari – hari.
“Dasar manusia yang selalu lari dari masalah!” guman seorang laki – laki yang sedang berdiri di belakang Petinggi Kota Merrka dengan mengenakan pakaian biasa saja. Dia adalah Renmato Ako yang tidak lain adalah anak Mr. Madra (Petinggi Kota Merrka).
Petinggi Kota tugasnya hampir sama seperti penasehat. Kepala Kotanya sendiri adalah Juka Munira yang seorang bangsawan yang dipercaya mereka melihat dengan hati. Karena Nona Juka benar – benar tidak bisa melihat secara normal. Umurnya saat ini tidak lebih dari 14 tahun.
Kini Kota Merrka mengalami kemajuan yang sungguh pesat. Tidak kalah dengan Ibu kota Hunira. Malah, Kota Merrka termasuk kota terpadat kependudukannya. Semenjak Mr. Madra menemukan tambang berlian dan emas di dekat pemakaman, maka sebagaian pengangguran menjadi penggali tambang. Dan dari sana Anggaran Kota meningkat dan mampu membangun tempat yang layak untuk seluruh penduduk.
Namun setiap bulan ada sesuatu yang aneh terjadi dan masih ditutupi sampai saat ini oleh Mr. Marda dari penduduk Kota Merrka. Nona Juka sebenarnya mengetahui hal tersebut, tapi ia tidak mampu untuk membuat kota kacau karena ketakutan. Ia juga tidak mampu mengambil keputusan jika tidak berunding bersama Mr. Madra. Dan jika Nona Juka menceritakan bahwa ia melihat hal yang aneh itu setiap bulan purnama. Pasti penduduk akan bertanya – tanya. Bagaimana caranya Paduka melihat semua itu? Bukan ‘kah Paduka Juka tidak pernah, jika sudah malam?
“Selamat pagi penduduk Kota Merrka, Paduka Juka ingin mengumumkan sesuatu,” berdiri seorang komandan di alun – alun kota.
Lalu komandan tersebut memberikan jalan untuk Nona Juka. Sambil berkata, “Silahkan Paduka!”
Kemudian Nona Juka memberitahukan suatu hal yang mengejutkan seluruh penduduk. Yaitu, ia memberitahukan bahwa dirinya akan pergi ke Ibukota Hunira selama sebulan. Hal tersebut termasuk hal yang tabu karena seorang pemimpin tidak boleh meninggalkan daerah kekuasaannya. Lalu Nona Juka memberikan kepercayaan kepada Mr. Madra untuk menggantikan posisinya sementara.
“Dia pergi atau tetap tinggal sama saja!” ujar Ako yang senantiasa mengikuti Mr. Madra. Ucapan lancangnya tadi tentu didengar oleh Nona Juka. Ia berjalan ke arahnya. Membuat Ako menjadi terkejut dan gelisah. Jantungnya pun berdegub kencang. Karena Nona Juka jarang berjalan ke arah yang salah.
“Ako-meta, lebih banyak latihan ya? Jadi’lah Level A!” bisik Nona Juka sambil memeluk Ako.
Mr. Madra merasa terkejut apa yang telah dilakukan Nona Juka terhadap Ako. Dengan segera ia menundukan kepala dan mengucapkan terima kasih dan diikuti oleh penduduk kota.
___-______-______-______-______-______-______-______-______-______-___
“Lihat!!! Paduka Juka telah kembali!!!!” teriak seorang nenek yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Kakak!! Apa kakak tidak salah lihat!!” kata kakek di sebelahnya. Beberapa penduduk Merrka yang mendengar teriakan nenek tersebut kemudian berlari ke arah nenek tersebut. Mereka pun melihat sebuah tandu dan beberapa pengawal. Dari tandu dan pengawalnya sama seperti saat Nona Juka pergi.
“Bukankah Paduka Juka semestinya kembali dua minggu lagi?” tanya Ako saat berada dalam lift menuju lantai paling atas bersama Mr. Madra
“Jaga bicaramu!” perintah Mr. Madra dengan seketika Ako menundukan kepala.
“Ayah, maaf!”
Mereka pun keluar dari lift lalu segera menuju ruang pertemuan yang terletak di ujung lorong gedung ini. Acara ini sungguh mendadak karena Nona Juka kembali lebih awal.
Tiba – tiba ada yang bergejolak dari diri Ako saat ruang pertemuan sudah dekat. Rasa ini biasanya ia rasakan saat ada monster atau mahluk tidak dikenal yang berbahaya sedang berada di dekatnya saat berada di hutan. Matanya pun berubah menjadi hitam keseluruhan dan terbelalak lebar.
Mr. Madra menyadari apa yang terjadi kepada Ako. Segera ia menamparkan pipi Ako. “Ingat ini di kota, bukan hutan tempat kamu latihan bodoh!” beberapa saat mata Ako pun kembali seperti semula.
Beberapa Komandan, Kepala Agen Rahasia, Petinggi Kota, beberapa polisi berkumpul di ruangan tersebut, dan untuk Ako adalah pengecualian.
“Ako-meta!!” panggil seseorang yang sedang berdiri di salah sudut ruangan, Ako pun segera berjalan ke arah orang yang memanggilnya.
“Ada apa Mr. Ona?” Ia bertanya kepada seorang pria botak menggunakan dasi, pakaiannya ala matrix. Karena Mr. Ona tidak lain adalah salah satu dari Lima Komandan yang hadir. Tapi ada juga Komandan yang berpakaian seperti seorang panglima perang.
“Ako-meta, kami butuh pendapatmu!” kata laki – laki yang berdiri di sebelah Mr. Ona. Tapi kali ini Ako sepertinya tidak sedang ingin beragumen. Ia cuma menggelengkan kepala untuk menjawab pernyataan tersebut. Karena sikapnya yang tidak seperti biasanya menimbulkan keheranan.
“Maaf membuat kalian semuanya menunggu.”
Tiba – tiba Nona Juka sudah duduk di kursinya. Ditengah pembicaraan Mr. Ona dan Ako. Membuat semuanya bertanya – tanya dari mana Nona Juka datang. Tapi tak seorang pun yang berani bertanya perihal tersebut. Semuanya langsung duduk di kursi masing – masing kecuali Ako yang berdiri belakang Mr. Madra.
Kaki Ako bergetar, dan kepalanya terasa berat. “Ako? Apa kamu tidak sarapan pagi ini?” tanya Nona Juka secara tiba-tiba membuat semua memandang dirinya. Sedangkan Ako sendiri terkejut dan pura-pura menundukkan kepala. Padahal dalam hatinya curiga dan tidak mempercayai bahwa yang duduk di kursi pemimpin itu adalah Nona Juka apalagi dalam benaknya bertanya, “Apa Paduka Juka bisa melihat kedua kakiku bergetar?”.
Apalagi tidak ada yang memanggil dengan panggilan “Ako”, biasanya siapapun yang memanggilnya pasti dengan panggilan “Ako-meta” karena “meta” itu artinya anak Petinggi Kota. Dan bisa dipastikan kalau yang memanggil Ako ialah orang luar Kota Merrka.
“Maafkan saya!” Ako berlari keluar dari ruangan tersebut. Lalu berlari menuju lantai dasar. Karena gedung juga menggunakan fasilitas lift maka dengan cepat ia menekan tombol lift tidak sempat ia meniti tangga yang begitu banyak, karena ruang pertemuan tersebut ada di lantai atas.
Saat beberapa saat sebelum di lantai bawah, ia sudah memindahkan tubuhnya ke tengah hutan. Ia mampu melakukan itu, jika memang terdesak.
“Untung permata ini masih tertanam di mataku,” ucapnya saat sampai di hutan. Dengan bersimpuh ia mencoba mengendalikan kekuatannya. Ako jelas heran apa yang baru saja terjadi dengannya. Ako mencoba bangkit tapi kakinya masih gemetar, Lalu ia menyandarkan tubuhnya di salah satu sisi pohon di dekatnya.
“Nak, ikut dengan kakek sini!” tiba – tiba ada seorang kakek mengagetkannya. Ako yang sudah tidak bisa berdiri lalu pingsan. Lalu kakek tua yang mengenakan pakaian compang – camping tersebut mengendongnya sampai ke sebuah gubuk tua.
___-______-______-______-______-______-______-______-______-______-___
Ruang pertemuan kini memiliki suasana baru. Banyak dari antara mereka menemukan kejanggalan dari Nona Juka setelah datang dari Ibukota Hunira. Nona Juka dulunya tidak pernah menentang pendapat Petinggi Kota, kini menentang dan menggunakan usulnya. Walau itu bukan hal yang tabu tetapi sebelumnya tidak pernah terjadi selama Nona Juka menjadi pemimpin Kota Merrka.
Setelah pertemuan selesai, semuanya pun bubar kecuali Mr. Madra masih betah duduk di kursinya. Dan di ruangan tersebut cuma tinggal dia sendiri. Sedangkan Nona Juka seperti halnya dia datang, dia pergi dengan meninggalkan kepulan asap.
“Ayah, maafkan aku!” tiba – tiba ada suara yang mengagetkannya. Mr. Madra menyebarkan pandangannya. Tapi tidak ada siapapun di ruangan tersebut. “Ako?”
Setelah suara itu, Mr. Madra seperti memiliki telepati bersama Ako, mereka pun bertukar pikiran. Ako memberitahukan kepada Mr. Madra bahwa dirinya tidak akan kembali selama seminggu karena ada suatu hal yang tidak bisa ia katakan sekarang. Kekhawatiran pun tiba – tiba muncul di benak Mr. Madra.
Masih dalam keadaan bingung, Mr. Madra kemudian keluar dari ruangan tersebut. Dan menuju pemakaman ( tempat tambang berlian).
“Onto!” Seorang yang memegang papan kecil di tangannya pun menoleh.
“Ada apa Mr. Madra?”
“Onto? Bagaimana data para pekerja? Ada yang berkurang?” kali ini Mr. Madra sedikit menurunkan nada suaranya. Sedangkan Onto menggelengkan kepalanya. Dan sebuah senyum mengembang di bibir Onto.
Karena hal ini Mr. Madra semakin bingung. Fakta – fakta yang mustahil terjadi. Dan sungguh di luar dugaan. Mungkin ia harus menunggu Ako kembali. Lalu Petinggi Kota menemui Nona Juka di kediamannya.
Namun kali ini tidak ada pelayan di rumahnya. Biasanya ada beberapa pelayan yang berserakan di setiap sudut rumah. Walau meraka cuma berdiri. Nona Juka sedang duduk santai di ruang tamu.
“Paduka? Bagaimana bisa paduka sesantai seperti ini?” tanya Mr. Madra yang mencoba menasehati. Atau mungkin mengingatkan. Biasanya Nona Juka akan menyendiri di sebuah ruangan dan tidak ada yang bisa masuk ke ruangan tersebut.
Krek! Nona Juka mengigit apel yang tadi ada di tangannya. Lalu mengunyahnya dengan cepat.
“Siapa kamu?” tanya Mr. Madra tiba – tiba, serasa yang dihadapannya bukanlah Nona Juka. Sedangkan Nona Juka terlihat cuma tersenyum sinis. Mr. Madra semakin yakin akan kecurigaannya. “Kau apakan Paduka Juka, hah?” Mr. Madra memasang kuda – kuda walau ia sadar bahwa dia sama sekali tidak bisa bertarung.
“Cih! Ternyata kamu sudah menyadarinya Pak Tua!!” itu bukan lagi suara Nona Juka. Tapi seorang laki – laki. Mr. Madra sudah siap meninju pipinya, tapi tiba - tiba tubuh Mr. Madra berubah menjadi patung perlahan dari arah kaki.
“Apa yang kau lakukan?” Mr. Madra panik apa yang terjadi pada tubuhnya. Kini bagian badannya sudah tidak bisa bergerak. Mr. Madra cuma bisa berteriak tak berdaya dan berubah menjadi patung. Lalu patung tersebut lenyap dari hadapan Nona Juka yang paslu.
“Maaf, kau mesti lenyap!”
___-______-______-______-______-______-______-______-______-______-___
Di tengah hutan penuh dengan binatang buas, dan Ako yang terluka sedang tidur di bawah pohon. Dalam mimpi ia sedang berlari di sebuah tanah lapang yang gersang. Cuma satu hal yang membuatnya bingung, kenapa tanah lapang ini penuh dengan patung?
Hanya ada dua wajah yang menghiasi patung – patung tersebut. Dan wajah – wajah tersebut sungguh dikenal oleh Ako. Nona Juka yang tertawa dan Mr. Madra yang marah. Dan kaki Ako sepertinya ingin berlari.
“A Y A H !!” teriak Ako tiba – tiba ia terbangun dari tidurnya. Dengan gerakan cepat, ia berdiri. Di hadapannya sudah ada beberapa singa siap menerjangannya. Karena dalam keadaan terdesak, jadi Ako mesti melawan semua singa tersebut.
Ukuran singa tersebut bisa dibilang cukup besar. “Permata bersinarlah!” teriaknya sambil mengubah matanya menjadi hitam. Tapi tidak ada yang bersinar ataupun keluar dari matanya.
“Kami tidak mau melawan mereka! Mereka teman kami.”
Karena mendengar ucapan tersebut, Ako kemudian menundukan kepalanya ke arah singa – singa di hadapannya. Luka yang ada di tubuh Ako, yang sebenarnya belum sembuh, terutama di bagian bahu yang cukup parah. Kini luka tersebut terbuka lagi dan darah pun mengalir dari bajunya. Tidak ada perban yang menutupi lukanya tersebut.
“Memang seharusnya kau menundukan kepala begitu kepada pemilikku sebelumnya!” suara itu lagi muncul dari arah permata yang ada di kedua mata Ako yang kini bersinar. Permata tersebut memaksa keluar dari mata Ako, membuat darah mengucur dari pinggiran bola matanya.
“Keka, kau tidak perlu melakukan itu!” suara tersebut berasal dari singa yang perlahan berubah menjadi manusia, dan jubah berwarna putih menyelimuti tubuhnya. Pria tersebut lalu duduk di punggung salah satu singa yang berada di belakangnya.
Permata yang berada di luar tersebut, bentuknya hampir menyerupai bola mata tersebut dan berwarna hitam. Bersinar cukup terang dari sebelumnya dan muncul seekor peri dari sinar tersebut.
Sedangkan Ako menjatuhkan tubuhnya ke tanah karena sudah tidak tahan lagi menahan sakit yang ada di bahu dan termasuk matanya yang tidak bisa digunakan.
“Ako-meta!” tiba – tiba ada yang memeluk tubuh Ako yang terluka. Sedangkan Ako yang setengah sadar melihat siapa yang memeluknya.
“Paduka Juka?” suaranya nyaris putus.
Di sisi lain, Pria singa tersebut berdiri dan menundukan kepalanya. Sedangkan Peri Keka mendekat ke bahu Ako dan melakukan sebuah penyembuhan. Seketika ia menyembuhkan luka yang terparah di bahu Ako selanjutnya menyembuhkan luka Ako yang lainnya.
“Kenapa Paduka Juka bisa berada di tempat seperti ini? mana para pengawal?” tanya pria singa tersebut. Nona Juka kemudian membuat sebuah ruang dimensi di tempat mereka berada. Ia menulis sesuatu di atas tanah. “Angin, Tanah, Waktu, Bintang, dan Mati.” Lalu sebuah pintu kaca muncul dari tanah. Pintu tersebut kemudian terbuka, Nona Juka lalu masuk ke dalamnya, sedangkan tubuh Ako melayang mengikuti, dengan agak kebingungan pria singa berserta singa dan Peri Keka akhirnya mengikuti langkah Nona Juka. Sesaat setelah semuanya masuk, pintu itu tenggelam dalam tanah.
Nona Juka, Ako, dan yang tadi masuk ke dalam pintu, sudah berada di dalam ruangan yang dipenuhi dengan bau lavender. Ada sebuah tempat tidur dan beberapa tempat duduk di sudut ruangan. Ako diletakan di tempat tidur tersebut.
“Akan saya ceritakan apa yang terjadi tiga minggu lalu,” kata Nona Juka sambil duduk di salah satu kursi di dekat tempat tidur. Lalu pria singa tersebut duduk di kursi dekat Nona Juka. Sedangkan Peri Keka melanjutkan pekerjaannya
Lalu Nona Juka menceritakan apa yang terjadi tiga minggu bahwa, seseorang menyerang tandu yang menuju Ibukota Hunira. Saat itu, tubuh Nona Juka sedang berada dalam dunia dimensi bersama pikiran Konna ( saudara se-ayah ). Karena raganya tidak ada dalam tandu, maka tandu tersebut disabotase oleh orang yang menyerang tersebut. Dan mengubah dirinya seperti Nona Juka dan kembali ke Kota Merrka.
“Paduka, Tuan, silahkan!” kata seorang pengawal membawa minuman ke hadapan mereka. Lalu pengawal yang membawa minuman tersebut membelalakkan matanya saat melihat siapa yang berbaring di tempat tidur. “Paduka?”
“Tenang pengawal Tuki, Ako-meta tidak apa – apa.” Peri Keka kembali merubah tubuhnya menjadi permata dan masuk ke kedua mata Ako. Ako pun akhirnya tersadar. Tidak ada luka lagi dalam tubuhnya dan tenaganya pun sudah dikembalikan. Cuma pikirannya yang kalut.
“Paduka Juka?!” gerakan yang sigap dan memasang kuda – kuda, Ako terlihat bersiap menyerang Nona Juka.
“Tenang Ako-meta,” Nona Juka berdiri dan tidak terlihat ada emosi di wajahnya. Ako pun kembali menundukan kepalanya dan kini kepada Nona Juka. Ia meminta maaf telah lancang.
Ako lalu memberitahu apa yang terjadi di Kota Merrka, setelah ia mendengar cerita Nona Juka apa yang terjadi seminggu lalu. Tapi ternyata Nona Juka telah mengetahui keadaan Kota Merrka, termasuk apa yang terjadi pada Mr. Madra.
“Sayangnya, Mr. Madra mesti meninggal!” Nona Juka memberitahu hal yang menjawab semua penat pikiran Ako. Ako menahan dirinya untuk menangis.
Nona Juka berlutut di lantai dan menulis beberapa kata sandi, “Marta, Anoko, Maya, Shin, Boah, Roah, Memory.” Sebuah gerbang besar muncul di tembok. Ako terkejut apa yang ada di hadapannya.
“Paduka mengetahui siapa sesungguhnya yang menyamar menjadi Paduka Juka dan apa yang ia inginkan?” Nona Juka cuma menggelengkan kepala, Nona Juka masuk ke dalam gerbang tersebut. Ako pun bergegas mengikuti.
“Paduka, apa itu tadi?” tanya Ako sambil menunjuk ke belakang. Nona Juka tidak membalas pertanyaan Ako. Ako memedarkan pandangannya. Ia sungguh tidak mengenal tempat ini. Ruangan yang penuh dengan lilin dan bunga mawar tersebar di lantai. Nona Juka duduk di salah satu kursi tersebut. Ako kemudian keluar dari ruangan tersebut.
“Hati – hati saat kau membuka pintu tersebut.” Sambil menunjuk pintu satu – satunya di ruangan tersebut, Ako langsung menuruti.
Saat membuka pintu tersebut, Ako melihat pemandangan yang dikenal. Yaitu Rumah Nona Juka. Dia berdiri di lantai dua, bisa melihat apa yang ada di lantai dasar. Ako terkejut siapa yang dilihatnya. Seorang Nona Juka Palsu. Sedang duduk dengan santainya di ruang tamu. Salah satu kakinya berada di meja kopi.
“Dari mana kau datang?” tanya Nona Juka Palsu tanpa melihat Ako sedikit pun. Ako langsung meloncat dari tempat ia berdiri ke lantai dasar, tanpa basa – basi lagi, Ako langsung menerjangnya dengan kekuatannya.
Tangan kirinya sudah berubah warna menjadi merah dan terlihat seperti tangan monster. Tapi lawannya mampu mengelak serangan tersebut. “Aku akan membunuhmu yang berani menyamar menjadi Paduka Juka.”
“Hehehe, bagaimana kau akan mengalahkan seorang Level A?” teriaknya sombong. Perlahan wajah seorang pria muncul dan wajah Nona Juka perlahan mengelupaskan. Pria dengan memiliki mata biru, ada beberapa jerawat di pipinya. Rambut Nona Juka yang putih dan panjang perlahan jatuh dan muncul rambut pendek yang dan berwarna hitam.
Lalu Ako menyerang pria tersebut. dengan kekuatan penuh. “Permata, bersinarlah!!” Kedua mata Ako berubah menjadi hitam dan sebuah pola menyebar di tubuh Ako. Garis – garis yang berwarna merah,
“K-A-U!!!” Lawannya terlihat terkejut. Melihat apa yang terjadi pada mata Ako. Dan senyum pria tersebut mengembang. Seperti mendapatkan benda langka yang tidak mudah didapatkan.
Semua tubuh Ako bersinar dan menghilang. “Kau terlalu sombong karena seorang level A. Mana kekuatan tanpa batas itu?” dengan sinis, Ako mengejek pria yang ada di dalam perangkapnya.
Ako mengubah tempat mereka berada menjadi terang benderang. Sehingga lawannya tida mampu melihatnya. Sedangkan pria tersebut tidak panik sama sekali. Malah ia mengubah dirinya menjadi petir dan menyerang ke segala arah.
“AArrghh!!!” teriak Ako karena seluruh tubuhnya tersengat petir. Keadaan kembali seperti semula. Terlihat tubuh Ako sedang terbujur di lantai, menahan serangan petir tersebut.
Karena serangan petir yang mampu melumpuhkan Ako, tiba – tiba tubuh Ako berubah merah dan sedangkan Ako mengerang kesakitan. Lawannya kini sudah kembali merubah dirinya seperti semula dan tertawa melihat apa yang terjadi kepada Ako.
Sepasang sayap muncul di punggung Ako dan tubuhnya berubah menjadi ular besar, Ular yang bersayap. Taringnya keluar dan kakinya sudah masuk ke dalam tubuhnya. Ia siap menerjang lawannya.
“Jadi kau juga seorang level A?” Ular tersebut cuma menjulurkan lidahnya. Dan siap mengigit lawannya. “Sial! Kalau tahu ia ini juga seorang Level A, seharusnya tadi tidak menghabiskan seluruh tenaga!” kata lawannya yang tampak menyesal.
Lawannya kini sudah ia lilit dengan tubuhnya. Dan siap meremukkan tubuh lawannya. “Ini untuk Ayah!!” ia mempererat lilitan dan terasa retak seluruh tulang lawannya. Dan kini ekornya mengibas dan menampar wajahnya dan memenggal kepalanya.
Kepalanya kemudian terjatuh di lantai. “Sial, kau memang bisa membunuhku, tapi aku ini abadi! Aku akan mendapatkan binatang abadi itu!!” sempat juga ia menyombongkan diri. Sesaat kemudian Ako kembali merubah tubuhnya. Lalu menginjak kepala lawannya hingga remuk.
“Itu untuk Paduka Juka dan Kota Merrka!!!”
Ako tersenyum puas karena tidak menyangka ia mampu mengendalikan monster yang ada dalam tubuhnya. Monster tersebut sebenarnya adalah Ular Merrka yang menyebabkan penderitaan dan membuat penduduk banyak yang tidak kuat hidup di Kota Merrka.
“Jadi Merrka ada dalam tubuhmu, Ako-meta?!”
Nona Juka berdiri di tangga berjalan mendekati Ako yang perlahan pingsan karena tenaganya habis.
cerpen yang mempermainkan imaji adalah sebuah cerita yang paling aku gemari....
bagus dech...!!!!
tidak menarik
kok cuman bikin cerpen...??
di kembangin aja yang ini...kan byk tuh...bisa tt permata di mata...ato sejarah ular merrka-nya...
Tuntutan sama sekali...memang di suruh dalam bentuk cerpen. ..ini masih akan di revisi...
woaaaaaaaaaaaaaaaaaah
ajarin caranya nulis deskripsi plisssss T_T
Kak adang ini bisa aja...padahal aq suka ma tulisan kk...
kamu punya imajinasi yang kuat...di kembangin aja terus..
aku suka...itu saja commentnya :)
bisa gak ya aku menulis fantasi, nandi hebat ih. aku salut a, gk bisa komen banyak, lagi pengen nikmatin ajah
Pasti bagian awal ya, hehehe, ini cerpen, buset, susah amat bikin cerita fantasi yg cuma dalam bentuk cerpen gini*menurut aq...sebelumnya beberapa karyaq yg serupa paling sedikit 4 chapter...wah judul, yg gimana donk...cuma terlintas mana itu...judulnya mw Juka dan Ako ah malah jadi teenlit..hahaha gimana?
Siap bos
De, Fantasy Fiesta itu apa? Kok sepertinya banyak cerita diberi tag dengan istilah itu?
Bob komentarnya kereeennn :)
Aku juga sering mengalami hal yang serupa seperti kamu kok, gpp kita emang masih perlu belajar...
.
Setidaknya sekarang menjadi lebih enak dibaca kan? Salut ma kamu bisa bikin cerita fantasy seperti ini (aku belum sampai ilmunya ke fantasy :D)
.
btw kenapa friend ku dihapus huwaaaaaaaa waaaaaaaa hiks :(
Dear Nandi,
Aku merasa ada bagian yang menurutku bisa diperbaiki misal berikut :
Bukankah lebih baik jika dibuat misalkan begini:
Kota Merrka dulunya merupakan sebuah desa. Bukan hanya sekedar desa kecil, tapi juga kerap disebut sebagai desa paling miskin di kawasan itu. Bahkan tak sedikit orang yang menyebutnya sebagai kawasan neraka. Sekarang, semua hanya tahu kota Merrka sebagai kota impian
saran :
Kepala Kotanya sendiri adalah Juka Munira yang seorang bangsawan yang dipercaya oleh mereka karena dianggap bisa (selalu) melihat dengan mata hati segala permasalahan.
Nona Juka sebenarnya mengetahui masalah tersebut, tapi ia diam saja karena merasa tidak mampu menyelesaikannya. lagi pula dia tidak ingin membuat kota kacau karena ketakutan
-----
Aku masih mendapat beberapa kesalahn lagi. Aku tidak bisa mengatakan apakah bisa menikmati cerita ini, karena aku agak terantuk dengan beberapa logika kalimatnya. Mungkin bisa diambil waktu sebentar membetulkan beberapa hal.
Kkku baik...ya, baru ketemu pencerahan...ternyata banyak juga...pingin memperbaiki...jujur, belum ada pengeditan setelah aq bikinnya 2 hari lalu
cerpen fantasi memang sangat panjang ya.........
dan keliatannya susah banget buatnya wkwkwkwkwk
Ceritanya menarik ^^ Btw, ini masih satu serial dengan hero's come back?
------------------
Fantasy Fiesta 2009: Götterdämmerung
ternyata fantasay memang susah dibuat dalam bentuk cerpen ya,,,
soalnya awal2 harus pengenalan dunia terlebih dahulu
dan tengah2 harus ada konflik dan akhir klimaks
jadi terkesannya terlalu cepat
tp yang diriku juga demikian,,,
so,,,
semangad
:P
Bagus. Rapih dan apik.
bagus kakk .
bdw makasi uda d add yah .