Kata-kata tersebut telah berulangkali terlintas dalam benak Alvis Gemaloka semenjak malam pertamanya menginap di Singgasana Kapur.
Tapi kesadaran akan arti pertanyaan tersebut baru muncul sesudah mereka berkerjasama mendobrak pintu ruang belajar yang tebal. Pada hitungan ketiga yang keempat, dalam ketegangan yang memuncak, barulah Alvis dan kawannya jatuh terhuyung melalui pintu yang dengan tiba-tiba akhirnya menjeblak.
Read more (3060 words)
Seketika ketakutan mereka terbukti: sosok gempal Tuan Groen terbujur kaku di antara rak buku—darah kering membanjiri karpet, bau amis tak sedap menaungi udara.
Kecuali jika apa yang selama ini kita pikir tidak mungkin sebenarnya adalah mungkin! Kita hanya tidak memahami bagaimana caranya!
Jika tak ada alternatif lain yang bisa membuktikan kejadian-kejadian tidak mungkin tersebut sebenarnya tidak terjadi, maka yang dianggap tidak mungkin memang benar-benar terjadi dan sesungguhnya adalah mungkin!
“Tuan... Groen!” Nyonya Carlisa Kamashir mendesis dengan suara tercekat.
“Mustahil.” Pierre Trondwulan, terbungkuk di sebelah Alvis, dengan tercengang turut bicara. “Beliau terbunuh dalam ruangan yang beliau kunci sendiri?”
Mereka berempat saling berpandangan. Jantung keempatnya berdegup teramat kencang.
“Jendela...” desis Alvis.
Namun, dengan selayang pandang semua jendela bisa dilihat terkunci rapat. Lalu, dengan separuh tak sadar, keempatnya sama-sama menoleh ke lubang kunci sisi dalam dari pintu yang baru mereka singkirkan. Anak kunci yang dibawa Tuan Groen, terikat bersama anak-anak kunci ruangan-ruangan lainnya, tergantung di sana.
Pierre, Carlisa, dan Gordon terbelalak.
Namun Alvis berseru dalam hati dengan kebanggaan aneh yang sulit dipercaya. Sebab dengan demikian, alur pemikirannya yang baru memang bisa ia terapkan. Yang tidak mungkin adalah mungkin. Persoalannya tinggal bagaimana nanti ia menjelaskannya kepada yang lain, serta mengapa ini semua terjadi...
Si tua Gordon Vleu terbungkuk. Bibirnya bergetar. Matanya membelalak. Wajahnya pucat. Menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya mengejang, sebagian roti yang tadi dengan susah payah ditelannya muntah keluar. Wajah Carlisa yang biasa beku, sesaat luluh seperti ketika suaminya baru meninggal dua hari lalu. Bahkan Pierre pun tampak ragu, tapi matanya yang dingin tetap teguh dan menusuk seperti saat Alvis pertama bertemu.
Kemudian, dengan kepala dipenuhi teka-teki, perlahan Alvis mendekati tepian rak buku demi memeriksa jasad Tuan Groen. Sebuah buku tebal bersampul merah berada dalam posisi agak merosot dari dagu beliau. Tubuhnya sendiri telentang, menengadah ke langit-langit, bercak merah hitam di kerah kemejanya menyadarkan Alvis bahwa Tuan Groen tewas karena tenggorokannya entah bagaimana meletus.
Et Vimon Rof Kordo Frei.
Demikian judul yang tertera di sampul buku itu.
Alvis mengernyit.
Terjemahan judul buku tersebut dari bahasa Girani: ‘Pentas Sang Iblis Tali’.
Buku... macam apa ini? Alvis berpikir. Apa buku ini berhubungan dengan cara kematian Tuan Groen? Ia hendak menjangkau, namun...
“Jangan sentuh apa-apa.”
Pierre, yang tanpa disadari telah berdiri dekat meja kerja, tiba-tiba memperingatkan. Tangan Alvis, yang telah separuh terentang seketika terhenti.
“Semuanya, jangan sentuh apa-apa. Kita... baru saja mendapat petunjuk.”
Dengan genting, Pierre berbalik menghadap mereka dan berucap sekali lagi. Ketiganya terhenyak, menoleh, dan mendapati bahwa Pierre kini menggenggam buku catatan tebal yang ditemukannya di meja tulis. Lalu secara singkat, dengan nafas terengah, Pierre memberi isyarat bagi yang lain untuk mengikutinya keluar dan kembali menuju ruang makan.
Alvis ragu sejenak. Tapi mengingat bahwa tidak ada lagi orang yang tersisa di rumah itu selain mereka berempat, ia merasa bahwa dirinya selalu bisa kembali ke ruangan ini kapanpun ia mau.
Pierre mengambil rangkaian kunci yang tergantung di pintu, kemudian mengulurkannya pada Carlisa yang masih terpana.
“Nyonya Kamashir. Kupercayakan kunci-kunci ini padamu.”
Carlisa tertegun. Tapi kemudian dengan anggukan kecil, perempuan muda itu menerima kunci-kunci tersebut tanpa sepatah katapun. Wajahnya kembali keras lagi. Tanpa suara, ia mengikuti Pierre keluar ruangan.
Singgasana Kapur; rumah besar milik almarhum bangsawan eksentrik Mathias Malvidas yang tersembunyi di rimbunnya pepohonan di kaki pegunungan milik Dago, sang Pemberani. Beberapa tahun setelah wafatnya Dago, hutan luas yang selama ini beliau lindungi itu ditetapkan sebagai wilayah terlarang yang tak boleh dimasuki oleh pemerintah kerajaan, sebagai bentuk penghormatan negara atas jasa-jasanya. Karenanya, hanya segelintir orang di dunia ini yang tahu tentang keberadaan rumah tersebut. Meski dinding-dinding luar rumah itu memiliki warna dan tekstur yang sama dengan kulit kasar pepohonan, permukaan tembok di dalamnya berwarna sama putihnya seperti serpihan-serpihan kapur. Sebab itu, bersama kemegahan khas yang terpancar dari bentuknya, warna tersebut menjadi asal muasal nama yang dimilikinya.
Selama berjalan menyusuri lorong, pikiran Alvis kembali ke masa beberapa hari lalu, tatkala undangan dari Wiemar Wislok, kepala urusan rumah tangga pemerintahan kerajaan yang bertanggung jawab atas kepengurusan Singgasana Kapur, tiba di losmen kediamannya di Persimpangan Jalur Kereta Sulanjana.
‘Undangan untuk pelelangan kepemilikan Singgasana Kapur?’ Alvis semula mengira ini berhubungan dengan koneksi-koneksi yang dimiliki ayahnya sebagai pedagang ternama.
Tapi Wiemar Wislok menjadi orang pertama yang tewas di antara mereka. Beliau meninggal di halaman depan akibat hantaman benda tumpul tepat di muka. Kejadian itu terjadi persis sesudah sarapan di hari kedua.
Seorang pria Gurat bernama Juniar Lopal, satu-satunya orang yang tak bisa membuktikan alibi, lalu sempat dicurigai sebagai pelaku utama. Namun tindakan lebih lanjut untuk menahannya tak dapat dilakukan karena jembatan yang melintasi Jurang Kuravan, satu-satunya jalan yang bisa membawa mereka semua kembali ke ibukota, secara misterius telah hancur akibat ledakan bubuk mesiu yang dipicu malam sebelumnya.
Ditekan ketakutan yang memuncak, istri Juniar, Imaniar, yang pada saat kejadian terbunuhnya Wiemar berada di ruang duduk bersama tamu-tamu lain, tak berdaya membela suaminya yang malang.
Tapi semua itu tak ada artinya sekarang. Juniar, Imaniar, dan semua tamu lain secara berturut tewas pula akibat sebab-sebab yang sulit dikemukakan.
Hingga kini, yang tersisa tinggal mereka berempat.
Alvis mengutuki pikirannya yang kacau kala itu; yang membuat rincian-rincian penting hari itu tak bisa ia ingat jelas. Alvis mengutuki pula hatinya yang galau oleh keputusan Ratna. Alvis mengutuki kepengecutannya karena tak memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada teman lamanya itu, sebelum semua pengalaman buruk ini terjadi, sebelum semua terlambat dan ia mencoba melarikan diri dengan menerima undangan ke Singgasana Kapur secara tergesa.
“Saya percaya bahwa segala sesuatu yang telah terjadi di dunia adalah karena rencana Yang Maha Kuasa. Karena itu, terlepas dari apa yang Tuan sekarang rasakan, saya percaya ada suatu peran tertentu yang pasti telah dipersiapkanNya dengan mendatangkan Tuan dan tamu-tamu lainnya sampai kemari.”
Demikian yang diucapkan gadis pelayan bernama Irina pada malam itu.
Suaranya saat itu terdengar begitu lembut. Terbayang kembali dalam ingatan, beserta rasa sakit...
‘Padahal, padahal gadis itu begitu baik! Kenapa orang yang rela menaruh perhatian terhadap segala sesuatu, termasuk sampah tak berguna seperti aku, gadis tak berdosa yang telah mengurusi kediaman ini entah sejak kapan itu, harus mati sebelum sempat mengenal dunia luar!
Apa... semua kematian ini juga terjadi atas kehendak Tuhan, Irina? Apa begitu cara pandang yang kau pegang terhadap kenyataan di sekelilingmu?’
Kalimat-kalimat turut berulang dalam benak Alvis.
“Buku itu, jadi, buku itu buku apa?” Dengan parau, Gordon bertanya saat mereka berderap kembali di lorong utama.
Melewati ruangan di mana jasad Ajudan Karvosti ditemukan tewas dengan pasak besi yang memaku kepalanya ke dinding, tahu-tahu nafas Alvis kembali tertahan. Gordon terang-terangan bergidik. Carlisa tak bisa sepenuhnya menyembunyikan guncangan yang kembali menderanya di dalam hati.
“Akan kujelaskan sebentar lagi.” jawab Pierre tanpa menoleh. “Ayo bergegas.”
“Karena... sebentar lagi kita juga nanti akan mati?” Dengan gemetar, Gordon bertanya lagi.
“Bukan.” Pierre terhenti, begitu mereka tiba di ambang pintu ruang makan, memandangi mereka bertiga, sebelum melanjutkan jawabannya kembali dengan tenang. “Pertama, karena malam sudah menjelang. Ada sejumlah hal yang masih harus kita persiapkan jika ingin bertahan hidup. Kedua, karena segala sesuatu di alam raya seringkali memberikan pengaruh yang tak terbayangkan bagi setiap hal yang ada di sekelilingnya. Aku merasa goyah bila berlama-lama berada di dekat mayat-mayat ini. Pasti baunya, kurasa. Semakin kucium semakin ada yang tak beres dengan diriku.”
Lalu ia menarik kursi bagi dirinya sendiri dan mengisyaratkan yang lainnya untuk duduk.
Alvis ingin menghardik Pierre. Bukan hanya karena ia mengabaikan kemungkinan adanya petunjuk, tapi juga karena sikap yang diperlihatkannya seolah kematian-kematian mereka bukanlah apa-apa. Namun Alvis kali ini menahan diri. Terlebih saat ia begitu penasaran dengan apa yang baru Pierre temukan.
“ ‘Bertahan hidup’?” Carlisa bertanya curiga.
“Benar sekali, Nyonya Kamashir. Maaf, sebab aku tak lagi setuju dengan dugaanmu bahwa pelakunya salah seorang di antara kita berempat.”
“Su... sungguh?” Gordon, nyaris memekik karena senang.
“Benar. Kalian semua pasti telah melihat sendiri bagaimana mereka semua mati. Seperti apapun kita menebak, bahkan waktu Tuan Hermus dan Tuan Ardian dari Inkuisisi masih ada, sama sekali tak ada dugaan yang bisa kita simpulkan. Maka hanya satu yang bisa dikatakan. Ada sesuatu, sesuatu yang ada di luar lingkup kekuasaan kita, yang menyebabkan kematian mereka.”
‘Sesuatu yang ada di luar lingkup kekuasaan kita’... Tiba-tiba dalam hati Alvis merasa bahwa ucapan itu mirip sekali dengan sesuatu yang dulu pernah Ratna ucapkan padanya:
‘Penyihir itu benar-benar ada’
Sihir... kekuatan magis yang konon sering terdengar dalam kabar-kabar yang dibawa dari negeri-negeri jauh. Itukah yang menyebabkan hal-hal tidak mungkin menjadi mungkin? Kerajaan Fadjagion adalah negara industri maju yang terkenal dengan teknologi batu hitamnya. Segala pengetahuan berbau ‘sihir’ dan ‘alam lain’ cenderung sulit untuk diterima. Tapi, seandainya sihir di tempat ini benar-benar ada...
“Apa yang kau maksud ‘sesuatu di luar lingkup kekuasaan’ kita?” Carlisa bertanya, menyuarakan pertanyaan yang sama dengan apa yang ingin Alvis ajukan.
Pierre memperlihatkan buku catatan yang baru ditemukannya. Dibukalah olehnya halaman yang pertama.
Hal yang seketika menarik perhatian mereka adalah sapuan tinta biru tebal yang menodai tulisan hitam bergaris tipis yang menjadi pengisi halaman pertama. Tinta tebal yang menimpa itu secara sekadarnya membentuk tulisan ‘LAGI-LAGI KAU MENGENYAHKANKU!’.
“Apa ini?” tanya Carlisa.
“Entahlah.” Pierre mengangkat bahu. “Mungkin petunjuk. Mungkin juga bukan. Ada juga tulisan ini.”
Pierre membuka halaman paling belakang buku yang masih kosong, kecuali berkat adanya sapuan tinta biru tebal berbentuk sama.
‘TALI’
Alvis terhenyak.
‘Tali’?
Kali ini, hanya itulah yang tertulis.
“Aku juga tak paham itu maksudnya apa. Tapi yang pasti, yang kumaksud sebagai petunjuk adalah buku catatan ini secara keseluruhan.” Pierre mengangkat tinggi-tinggi buku yang ada di tangannya sesudah mengamati reaksi mereka bertiga. “Buku ini adalah catatan harian Mathias Malvidas.”
“Apa katamu?” Tercengang, Gordon berbicara.
“Bacalah catatannya yang paling akhir.” Pierre meletakkan buku itu di tengah-tengah meja. “Menjelang saat beliau meninggal dunia.”
Baik Alvis, Carlisa, maupun Gordon hanya terpaku saat membaca bagaimana di halaman-halaman terakhir Mathias merasa nyawanya tengah diincar oleh seseorang dari pihak pemerintahan kerajaan. Seseorang bernama Wiemar Wislok...
“Kalian semua ingat? Bagaimana Tuan Wiemar di hari pertama menyuruh para pelayan agar kita tak mendekati ruang belajar? Aku pikir Tuan Groen mendapat gagasan untuk memeriksa ruangan itu dari sana, sesudah pelayan terakhir yang mungkin mencegahnya mati. Cuma, beliau sadar bahwa siapapun pelakunya tak mungkin bekerja sendiri! Beliau curiga sang pendosa ada di antara kita! Akhirnya, beliau melakukan kesalahan yang sama dengan yang telah suami Anda buat, Nyonya Kamashir...” Pierre memberi anggukan pertanda belasungkawa pada Carlisa.
“Tapi Tuan Wiemar sudah mati.” gumam Alvis.
“Betul. Sebagaimana yang kita semua tahu.” lanjut Pierre.
“Jadi? Cepat katakan apa kesimpulanmu!” perintah Carlisa, dengan ekspresi terluka bersama luapan emosi yang nyaris tak terbendung lagi.
“Kita semua,” ucap Pierre perlahan. “sejak awal memang sengaja dikumpulkan di sini untuk dibunuh.”
Senyap. Tak ada yang berbicara. Sementara matahari sepenuhnya tenggelam di luar. Dalam hati, keempatnya bersyukur karena sebagian lampu telah sengaja mereka nyalakan sebelum Tuan Groen tewas.
“Itu sudah jelas, bukan?” kata Carlisa angkuh.
“Bukan. Maksudku, ada suatu pihak tertentu yang bersembunyi di luar sana, di gelapnya rerimbunan hutan, menanti untuk mengincar nyawa kita! Dan ia sama sekali tidak sendirian! Serta kenapa?”
Pierre memberikan penekanan pada kalimatnya yang terakhir, memberi sedikit jeda agar maknanya meresap.
“Segala pembunuhan ‘ajaib’ yang selama ini terjadi pasti dilakukan dengan suatu trik; atau teknologi baru; entah bagaimana caranya, tapi aku yakin semua ini tak mungkin dilakukan seorang diri. Sejak hari pertama, kita pasti telah diawasi. Oleh orang-orang yang bukan tamu! Orang-orang tega yang sengaja mengawasi diam-diam, yang memerintahkan seseorang untuk mengundang kita supaya bisa mati.”
Bukan... sihir? pikir Alvis gundah. Tapi lalu bagaimana dengan fenomena-fenomena ajaib pribadi yang dialaminya semenjak pertama diundang ke sini? Mimpi itu, misalnya? Bukankah Tuan Hasym Nadier yang mengaku mengenal sihir, juga berkata bahwa ia merasakan ‘sesuatu yang ajaib’ dari bangunan ini?
“Tapi... siapa? Untuk apa?” desak Carlisa.
“Kalau siapa, kita sudah tahu.” Gordon berkata.
“Wiemar Wislok.” Alvis bergumam.
“Tapi dia sudah mati...” ulang Carlisa.
“Tapi tetap dialah yang paling mungkin ditunjuk sebagai aktor untuk memancing kita semua.” lanjut Pierre. “Orang Kerajaan. Entah bagaimana mereka membujuknya. Lalu, bumbu pelengkapnya desas-desus harta terpendam yang almarhum Tuan Samaunsa katakan itu. Pertanyaannya sekarang, apa dia sudi turut bersekongkol jika dia juga mati? Seandainya dia tahu sesuatu, apa mungkin dia mati semudah itu? Yang membawa kita pada pertanyaan lain: apa benar bahwa dia yang telah mati?”
Alvis terkesiap.
Bukankah... Wiemar Wislok tewas dengan wajah hancur?
Tak lama kemudian, mereka berempat dipimpin Pierre sudah bergegas menuju gubuk di halaman rumah, membawa lentera untuk memeriksa jasad Wiemar yang disimpan di sana. Khawatir seandainya dugaan Pierre ternyata benar, mereka sepakat untuk tetap bersama-sama. Carlisa dan Gordon beriringan. Alvis menyusul di paling belakang.
“Kalau... jumlah mereka memang lebih banyak dari kita, kenapa mereka tak langsung menghabisi kita sekaligus saja?” Carlisa bertanya dengan nafas memburu.
“Kupikir, mereka tengah menantikan sesuatu terjadi. Atau menunggu kita melakukan sesuatu. Pasti ada maksud tertentu kenapa kita yang diundang. Mungkin mereka kira harta terpendam itu benar-benar ada dan kita tahu sesuatu. Entahlah. Sebaiknya pastikan saja dulu apa yang bisa kita tahu.” jawab Pierre.
Gordon terdiam.
Alvis sendiri lagi-lagi terhenyak karena teringat kata-kata Irina.
‘...saya percaya ada suatu peran tertentu yang pasti telah dipersiapkanNya dengan mendatangkan Tuan dan tamu-tamu lainnya sampai kemari...’
Apa maksud kata-kata itu sebenarnya? Mungkinkah sebelumnya... Irina memiliki andil dalam semua ini?
Tiba di taman di tengah rumah, mendadak langkah Alvis terhenti. Ada sesuatu yang baru ia sadari. Ia heran mengapa tak disadarinya sebelumnya...
“Kenapa?” tanya Pierre.
“Patung itu.” ucap Alvis, mengacu pada patung wanita pualam yang duduk dikelilingi bunga di tengah kolam, memanggul sesuatu berbentuk kotak yang sepertinya adalah sebuah peti. “Apa... cuma aku yang merasa pernah melihatnya sebelumnya?”
Alvis mengira dirinya akan dibentak karena mempersoalkan sesuatu yang tak penting. Tapi di luar dugaan, tiga kawannya tampak serius.
“Aku tak yakin.” tutur Carlisa, ragu. “Kupikir, memang ada sesuatu. Tapi, kau juga, Alvis?”
“Tunggu, Anda juga?” timpal Pierre. Keheranan dan kewaspadaan muncul bersamaan di wajahnya.
Alvis terkesima. Wajah patung wanita itu sama persis dengan wajah perempuan yang dilihatnya dalam mimpi waktu itu, saat undangan itu pertamakali datang. Seolah merupakan pertanda....
Lalu Alvis menyadari Gordon tampak gelisah. Tunggu, bukankah Tuan Gordon pengusaha perumahan? Lalu Alvispun menyadari pula suatu keanehan yang telah lolos dari perhatiannya.
“Tunggu. Kenapa Singgasana Kapur bisa ada?”
“Apa?” Bersamaan, tiga yang lain spontan memandanginya.
“Kenapa bangunan ini bisa ada?” ulang Alvis tegas. “Padahal Hutan Dago ini untuk dimasuki saja sejak dulu terlarang! Apalagi untuk mendirikan bangunan! Bagaimana Tuan Malvidas bisa memperoleh izin untuk mendirikannya? Dan lagi, di tempat terpencil suram begini, untuk tujuan apa?”
“Untuk menyembunyikan hartanya, mungkin?” Pierre menduga.
“Kalau hanya itu, untuk apa sampai mendirikan rumah?”
Lalu Gordon, menahan tubuhnya yang gemetar, di luar dugaan berkata. “Pernahkah kalian dengar dongeng tentang Kerajaan Arraman Kuno?”
Senyap.
“Negara besar di zaman dahulu yang konon dihukum Tuhan dengan ditenggelamkan ke dasar bumi? Tahukah kalian? Hutan di pegunungan ini konon wilayah negari yang ditenggalamkan itu! Itulah alasan mengapa Dago yang barbar bersikeras melindungi hutannya! Sebab Dago tak lain satu-satunya yang selamat dari peristiwa penenggelaman negerinya itu!”
“Tunggu, kau bicara apa?” ujar Carlisa heran.
“Aku takut, Nyonya! Takut!” jerit Gordon. “Kini aku akan mengaku. Aku termasuk salah seorang bangsawan yang dahulu membuat kesepakatan untuk menggali keluar semua peninggalan yang hilang bersama Arraman dan penduduknya! Salah satunya termasuk pengetahuan mahatinggi tentang sihir, Nyonya! Sihir! Kami lalu mulai menggali sebuah lubang. Ya, lubang ke dunia setan bawah tanah! Kami perlu biaya untuk memulai. Maka berpuluh tahun lalu kami berlima melakukan sebuah kejahatan. Harta yang kami dapatkan dari kejahatan itu kami sembunyikan dalam bentuk rumah ini! Dan lubang itu kami sembunyikan di bawah bangunan ini pula!
“Tapi baru menggali sebentar, kami lalu bertemu roh-roh... Roh-roh yang berkata bahwa jika mereka bersedia diwadahi, maka mereka akan membagikan kami kekuatan. Oh, aku mau datang lagi kemari karena tak menyangka masih ada orang yang tahu. Kupikir semua... akan dilupakan...”
Tak ada yang sanggup berkata-kata. Ekspresi Gordon kini tampak seperti mayat hidup. Lalu Gordon menjentikkan tangannya, dan keluarlah percikap api yang meletus menjadi bola api besar yang segera padam dan meninggalkan jejak jelaga hitam di lantai.
“Inilah sihir! Yang bisa kita dapatkan dengan menjadi wadah!” sahut Gordon saat semuanya terpukau. “Pasti, inilah yang mereka inginkan! Ini alasan kita akan dikorbankan! Padahal aku sudah coba lari! Sebab, mereka sadar bahwa di sini bukan hanya... uh!”
Gordon tak sempat melanjutkan. Pierre mendadak condong ke depan dan menusuk dada Gordon dengan pisau, menghabisinya! Carlisa menjerit. Alvis terperanjat.
“Sudah jelas! Maka kau salah satu pelakunya! Dengan sihir, kau bisa membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin!” Pierre dengan lengan baju bersimbah darah berteriak lantang.
Alvis tersadar. Sihir dan setan, pantas pihak Inkuisisi sampai datang kemari!
“Tak mungkin cuma dia sendirian! Berarti pasti kau temannya!”
Pierre yang menggila menyerang Alvis.
Terkesiap, Alvis mengangkat tangan hendak berlindung. Tapi sesuatu terjadi. Sesuatu yang sebelumnya merasuki dirinya tiba-tiba meluap, mengambil wujud pedang sinar yang mendadak terlepas dari kedua tangannya!
Alvis kaget. Ia rasakan darah hangat bercipratan, ia sadari dirinya masih bernafas, dan darah itu bukanlah darahnya. Namun sosok yang tertebas di hadapannya bukanlah Pierre, melainkan Carlisa!
Tatapan mata perempuan itu entah mengapa terlihat begitu kosong...
Alvis terpaku.
Bagaimana bisa...?
Lalu tubuh terbelah Carlisa ambruk. Alvis dengan kalut menahannya, namun sebelum Alvis sempat berpikir, ia merasakan lehernya meletus.
“CARLISA! Hahahaha!” Pierre yang terdorong ke samping menjerit, saat Alvis merasakan kepalanya melebihi semestinya terlontar ke belakang. “Ternyata memang harus berakhir seperti inikah? Bwahahaha-buh!”
Alvis yang telah ambruk tak bisa lagi menoleh. Adakah orang lain di sana? Apa yang baru terjadi? Orang itu pasti melakukan sesuatu terhadap Pierre. Tawanya tiba-tiba terputus.
Tapi...
“Ouh... ouukh...”
...Alvis terlalu mengantuk untuk memikirkannya sekarang.
Saat pandangan matanya memburam, hal terakhir yang Alvis saksikan adalah terbukanya bagian depan kotak yang patung wanita itu pegang, memperlihatkan bentuk bundar sebuah jam, yang jarum-jarumnya terus berputar, berputar, ke arah berlawanan dari semestinya. Lalu setiap keping ingatan yang Alvis miliki akan semua yang telah terjadi mulai memudar.
Samar-samar terdengar ucapan pelan.
Siapa? Tapi Alvis terlampau lelah untuk berpikir.
Ratna, meski sebagai teman, kuharap kelak kita bertemu lagi.
Mencium aroma khas losmennya, semua lalu kembali gelap.
Irina...
Nama karakternya....
Aku bermasalah dengan nama karakternya^^
wah, di awal cerita aku jadi teringat kisah cerita detective kindaichi mengenai pembunuhna berantai.
aku pikir akan ada solusi dan si alvis sebagai pemecah masalah.
tak disangka endingnya seperti itu. kabur. tapi membuat imajinasi meliar.
good job.
wah... kalo udan bung Alfare yg bikin key udah ngga bisa ngomong apa-apa lagi dah, haha...!
.
Tapi bener nih, sekarang beralih ke cerita misteri detektif? Key udah lama ngga baca...
.
Fantasy Fiesta 2009 -ku:
2012 : The Truth of God
Sepertinya cerita ini akan lebih menarik kalau dimulai dari awal, tidak langsung meloncat ke
beberapa saat sebelum cerita berakhir. Sehingga pengenalan tokoh (paling vital dalam kisah
detektif) beserta fakta-fakta yang ada disajikan dengan tenang/nyaman/lancar, dan yang lebih
penting lagi adalah ketegangan/suspense dapat menumpuk lembar demi lembar, menggunung, dan
akhirnya meletus di saat-saat terakhir.
Overall, Ide yang bagus, cerita detektif/misteri berbau magis. hanya saja ya itu, cerita
yang nampaknya cocok memiliki panjang 15.000-20.000 kata dipangkas menjadi 3000an kata...
Restriksi 2700-3000 kata memang susah dilawan :)
Ada rencana mengubah 'Lite Version' menjadi 'Full Version' ? Saya yakin bakal lebih keren!
...
Justru karena full versionnya ga kebayang makanya aku cuma bikin kayak begini...
Ouch!
Wokeh, komentarku ini sepertinya bakalan termasuk komentar yang TSST,'Terlalu Sangat Sok Tahu'.
Di mataku karya ini seperti urutan huruf 'fdgeaicj'.
Kalau fakta2/jejak plot yang tersisip diambil maka akan menjadi 'fgij'.
Yang diambil itu, 'deac', bisa diurutkan menjadi 'acde'.
'acde' disambung dg 'fgij' menjadi 'acdefgij'.
Ada yang hilang? tentu saja, 'a(b)cdefg(h)ij'.
Saatnya putar otak bikin 'b' dan 'h'.
Setelah jadi langsung disisipkan, dan jadilah 'abcdefghij'.
Sebuah urutan yang urut dan 'sexy.'
Kini tinggal dibaca ulang, mencari benjolan logika yang tidak diinginkan, lalu meriasnya sampai cantik! Disarankan juga memakai gaun deskripsi yang memamerkan lekuk-lekuk tubuh yang aduhai! :D
... Dasar ubr, bicara memang gampang ...
bhew...keren
...
walo aku terlempar bingung pada kalimat "Ratna, meski sebagai teman, kuharap kelak kita bertemu lagi."
kata 'meski'itu lho :-)
------------------------------------------------
yuk mari...
yangrajinberkomentartapibelummengirimkankaryanya
Tidaaak!
Padahal untuk sekali ini aku berharap kau akan mencaci makiku!
bagus
trims!
woah.. sejak kapan senior beralih jadi detektif?
four thumbs up deh
dan yang paling utama dan seperti biasa adalah... ceritanya terlalu berat buat wa ngerti ^^a
peace love n ngawur
* kabor ah
Kenapa semua orang ngomong detektif, detektif, detektif?
Maksudku ini misteri! Bukan detektif!
Ho ho ho. Ceritanya menarik, dengan setting detektif a la Detektif Conan dicampur fantasi. Gabungan yang unik dan ga biasa.
------------------------------
Fantasy Fiesta 2009: Götterdämmerung
Wuah, kata-kata Bung Adrian terlalu berlebih. Kalau cuma karena idenya bagus aja, aku enggak yakin apakah suatu karya sudah patut untuk dipuji. Lagian secara pribadi, karyaku yang ini lumayan messed up.
Tapi yah, aku emang mesti aku akui kalo aku sangat menikmati proses bikinnya sih. Trims.
Selamat pagi. Diriku terlalu mengantuk untuk berkomentar panjang sekarang.
Tapi secara struktural, ada beberapa miss EYD yang perlu diperhatikan. Tiga atau empat atau lima, mungkin.
"Sengaja dikumpulkan di sini untuk dibunuh."
Wow. Adegan-adegan detektif yang umum nyasar juga di sini..
Overall, ceritanya agak membingungkan. -_-"
Wuaah, cewek yang lagi mengantuk emang mengerikan! Aku jadi mikir dua kali kalo di masa depan nanti aku mau mindahin istriku yang ketiduran di depan tivi ke atas kasur.