“Mohon perhatian!” teriak Pak Rudi mengangkat tangannya membentuk simbol time out. Beliau adalah Kepala Sekolah di SMA Citra Angkasa Bandung, Wajahnya memang terlihat buruk, karena bekas luka bakar membuat kulit wajahnya belang. Tapi beliau terkenal bak pahlawan—luka tersebut hasil menolong muridnya dari kecelakaan di laboratorium kimia.
Kelas akhirnya hening. Sesosok pria dengan rambut spike di depan pintu kelas, kemudian masuk setelah Pak Rudi melambaikan tangannya, masuk.
Read more (3033 words)
Pak Rudi merangkul pria itu.
“Hari ini sekolah kita kedatangan murid pindahan dari Jakarta,” kata Pak Rudi sambil menepuk pundak pria di sampingnya. “Nama...”
“Ganteng bangett!!!” potong Angel mengalihkan pandangan Pak Rudi, ia duduk di bangku depan; tepat di depan Pak Rudi memperkenalkan murid pindahan itu. Angel memang terkenal ceplas-ceplos. Ia tak henti terus memandangi wajah murid pindahan itu, dengan mata berkedip genit.
“HUUUU!!!” seluruh siswa bergemuruh. Pak Rudi hanya tersenyum. Sementara murid pindahan itu, tak memberi respon apa-apa. Pandangannya lurus.
“Perkenalkan,” kata Pak Rudi, “namanya Alexander Grey. Panggilannya Grey. Ia Pindahan dari SMA Perguruan Ciputra Jakarta.” Lanjut Pak Rudi memperkenalkan.
“Wow!” kata seluruh siswa, terkejut.
Mereka menyiratkan wajah kagum, mendengar pria itu pindahan dari salah satu SMA yang terkenal dengan fasilitasnya. Berbeda dengan situasi kelas di SMA ini, yang nampak kurang terawat, karena kaca ventilasi di samping kiri pecah, dan kaca berukuran 8 X 3 M, bernasib sama. Seluruh meja dan kursi, pun, nampak begitu kusam—dan tembok-tembok penuh dengan coretan ballpoint dan spidol. Satu hal lagi, kelas ini tak ber-AC.
“Kenapa pindah, Grey? Bukannya di sana tempatnya lebih enak?” tanya Angel nampak perhatian. Seluruh siswa yang mencium bau-bau PDKT, kembali menyorakinya.
“Bapak pindah tugas.” Jawab Grey datar. Angel langsung mencibir sambil menirukan perkataan Grey tanpa bersuara, mendengar jawaban yang tak disertai dengan gestur yang baik, dari pria berwajah Indo-Inggris itu. Seluruh siswa gemuruh tertawa keras, melihat ekspressi Angel.
“Sudah-sudah,” Pak Rudi mengangkat tangannya, “Sesi pertanyaan selesai.” Kata Pak Rudi tersenyum sumringah.
“Grey kamu duduk sama....” Pak Rudi mencari kursi untuk Grey; telunjuknya bergeser ke kiri, dan kanan. Angel nampak menawarkan sebelah tempat duduknya yang kosong. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berdiri.
“Boleh saya duduk disana, Pak?” tawar Grey menunjuk ke meja sudut belakang kelas. Nada bicaranya kini terdengar lembut; seolah memintanya dengan sangat hormat.
Semua orang lantas melihat arah telunjuk Grey.
***
Tempat dudukku?!
Murid pindahan itu mengejutkanku. Baru kali ini ada yang mau duduk denganku. Lagi.
“Kamu yakin mau duduk dengan Al?” tanya Angel heran. Aku tak tersinggung; aku sudah biasa mendengar Angel berkata seperti itu. Dulu dia teman sebangku-ku.
Tapi...
“Aku pernah hampir mati, gara-gara Al, lho, Grey?!” kata Angel cuek,
“Masa kamu...?”
“En jel?!” Pak Rudi memotong dengan setengah membentak, “jangan menebar gosip.” Aku yakin, itu adalah hiburan dari Pak Rudi untukku.
Pak Rudi melihat raut wajah Grey yang kini berubah, “Kamu yakin ingin duduk dengan Al, Grey?” yakin Pak Rudi mengangkat alisnya. Aku tahu, sebenarnya agak setuju dengan pernyataan Angel.
“Iya saya mau duduk dengannya, Pak. Siapa namanya? Al?” Grey nampak antusias kali ini. Sosok dinginnya seketika berubah menjadi riang mendengar namaku.
Pak Rudi terlihat bingung dengan ke-antusias-an Grey. Ia hanya menghela nafasnya, kemudian mengantarkan Grey duduk di sebelahku seperti bellboy yang mengantarkan barang ke dalam ruangannya.
Pak Rudi nampak menarik sudut bibirnya setelah mempersilahkan Grey duduk disebelahku, kemudian ia kembali ke depan kelas untuk pamit, dan memberi pesan-pesan kepada seluruh siswa: agar semua berkenalan dengan Grey, dan bisa beradaptasi dengannya sesingkat mungkin.
Kupikir Grey memperhatikan pesan-pesan Angel secara tak langsung—namun—sejak tadi Grey terus senyum sambil melihat wajahku, tanpa peduli dengan wajah-wajah seluruh siswa yang nampak bingung dengan keputusannya. Senyum Grey menyimpan ‘sesuatu’. Sepertinya sebuah tujuan, namun aku masih ragu. Aku hanya yakin, Grey tak sembarangan mengambil keputusan untuk sekedar berteman, lantas duduk di sampingku.
Grey sepertinya orang yang istimewa. Sama seperti aku.
Aku akhirnya terpaksa senyum, hingga tak sengaja kuperhatikan bola mata Grey, yang ternyata berwarna abu-abu. Ya, berwarna abu-abu tua.
***
Grey mengikuti kemana pun aku pergi, hari ini. Ketika aku izin ke belakang (dibaca: kamar kecil), ia juga minta izin pada guru. Ketika aku mengangkat tanganku untuk menyelesaikan kuis dari guru, ia juga ikut-ikutan. Dan ketika aku sengaja keluar kelas ketika guru belum masuk, Grey juga mengikutiku keluar kelas—sungguh seperti ekor sapi, kesalku dalam hati. Tapi hingga saat itu terjadi, ia belum
mengeluarkan basa-basi persahabatan sejak Grey memilih duduk di
sampingku. Seluruh siswa juga nampak heran dengan gerak-gerik Grey,
yang mengikuti setiap kegiatanku. Kuharap dia bukan manusia bayangan.
Aku juga merasakan, kalau sejak tadi Angel memperhatikan gerak-gerikku bersama Grey. Matanya selalu melirik tajam, melihat wajahku. Mungkin Angel takut, Grey akan bernasib sama dengannnya ketika berteman denganku.
Nyaris mati.
Di Kantin, Grey tetap mengikutiku, bahkan duduk di depanku saat ini. Awalnya, Grey terkejut melihat Meja yang kududuki telah diberi lambang X menggunakan cat warna merah. Namun aku tetap tenang memberikan penjelasan, walaupun Grey entah mendengarnya atau tidak.
“Konon, meja ini memang sengaja disediakan untukku, oleh Angel. Meja lain tak boleh digunakan. Jika aku menggunakan meja lain, maka meja itu akan dibuang keesokan harinya.” Sebenarnya aku tak mau membuka percakapan. Tapi, aku mulai bosan dengan tingkah laku Grey hari ini.
Grey mengangguk-angguk. Sungguh bahasa tubuh yang menyebalkan.
“Bolehkah aku tahu, kenapa Angel pernah nyaris mati bersamamu?” Tanya Grey lembut. Akhirnya Grey bersuara juga. Pertanyaan itu sepertinya pertanda awal persahabatan kita—tapi awal kebingungan juga, karena aku belum mengetahui pasti siapa Grey sebenarnya. Grey masih menyimpan sisi misterius di mataku. Orang lain mungkin bisa tertipu dengan ketampanannya—tapi tidak dengan aku. Grey jelas orang yang istimewa.
Aku harus tetap waspada.
“Rumahmu dimana, Grey?” kucoba alihkan pertanyaannya.
Grey langsung menarik sudut bibirnya, ia pasti tahu apa pikiranku—dan ia pun segera memesan bakso, yang berada tepat di belakangnya. Ia pergi seolah-olah pertanyaan itu tak ada. Dasar bule sinting.
Sejak tadi seluruh siswa memperhatikan kami. Radius mereka sekitar 3 meter; sesuai dengan peraturan makan di Kantin, yang pernah diterapkan Angel di mading. Pun, Angel seperti memiliki telepati. Ketika aku melirik ke belakang, Angel pasti selalu ada.
Akh...
***
“AAAAAAAAA!!!” terdengar jeritan wanita dari suatu tempat. Aku lantas memutar tubuhku melirik; mencari suara itu berada. Di dalam mulutku masih menggumpal nasi goreng yang belum habis kutelan. Tapi...ini bukan pertama kalinya jeritan wanita terdengar. Ketika istirahat, banyak canda yang berbaur, disertai ke-iseng-an yang membuat wanita merasa terganggu, jadi, suara itu bisa jadi karena ke-iseng-an dari sebagian siswa di sekolah ini.
Aku kembali berbalik menyantap makananku.
Hah?! Kemana Grey?
Baru saja aku melirik sebentar, Grey tiba-tiba hilang. Aku mulai menyimpan curiga pada murid baru itu. Mimik wajahku berubah dengan cepat menjadi curiga. Aku mencium bau-bau keistimewaan dari seorang Grey, yang kukenal kurang dari 1 hari.
“Al, kau pasti mendengar suaraku. ” Tiba-tiba kudengar suara batin lelaki, di kepalaku.
Itu suara Grey!
“Dimana kau, Grey? ”
“Aku ada di depanmu. ”
Ternyata memang benar.
“Kau pasti salah satu dari orang-orang istimewa. Apa aku salah tebak? ” aku memperhatikan kursi di depanku, memasang konsentrasi. Kedua alisku melengkung, dan bola mataku coba memperbesar penglihatan sambil menahan sisi keningku dengan kedua tanganku.
“Tidak. kau sama sekali tak salah. Kita satu spesies. ” Suara Grey terdengar meninggi.
“Tunggu, aku manusia. Memangnya kau spesies apa? Alien? ”
“Aku tak sebodoh itu, Al. Ketika kuperhatikan aura di sekelilingmu berwarna ungu, saat perkenalan; aku tahu kau punya keistimewaan. Kau boleh mempercayaiku .”
“Kau belum jawab pertanyaanku. Kau spesies apa? ”
“Menurutmu? ”
Kucoba pertajam penglihatanku dengan lebih sempurna. Kulihat gerak-gerak bayangan berwarna bening, namun begitu samar.
“Kau manusia tak terlihat—Invisible Man! ”
“Kurang tepat. ”
“Sudahlah jangan bermain tebak-tebakan. Katakan saja, takkan ada yang mendengarmu kecuali aku disini. ”
“Tidak, aku merasakan satu aura lagi yang memiliki keistimewaan sama seperti kita. Aku juga takut, ia memiliki indera yang sama seperti kita. ”
“Hah?! Siapa? Kenapa pandanganku tak pernah merasakannya? ”
“Aku juga belum yakin, dia bisa mencampurkan auranya dengan aura orang di sekitarnya. Auranya begitu hitam pekat, firasatku mengatakan: orang ini sangat jahat. Kupikir kau bisa bantu aku mencari tahu siapa orang itu. ”
Aku melepas setengah konsentrasiku. Kedua lenganku reflek kembali memegang sendok, dan garpu di atas hidangan nasi goreng, milikku. Aku ingin bersikap wajar. Instingku merasakan, kalau Angel masih mengintaiku dari kejauhan.
Suara batin dari Grey jadi terdengar kecil. Grey yang memahami gerakanku, mengalah dengan mengeluarkan konsentrasinya dua kali lipat lebih besar, hingga suaranya kini sama jelasnya dengan tadi.
“Apa orang itu Angel? ” tanyaku sambil menyantap nasi goreng.
“Tidak mungkin. Aura tubuhnya putih. ”
“Lalu siapa? Aku tak bisa melihat aura tubuh orang sepertimu, Grey. ”
“Aku juga tak punya penglihatan tajam seperti yang kau punya, Al. ”
Secara tidak langsung, aku dan Grey mengungkapkan kelebihan kita masing-masing. Grey adalah Manusia Aura. Dan aku, manusia berpenglihatan tajam—atau Manusia Zoom.
***
BUSHHH.....PRANG.....
Tujuh jendela kelas tiba-tiba pecah. Serpihannya berserakan hampir di segala sudut, di dalam kelas. Sesuatu mendorong kaca itu dengan kekuatan yang sangat besar. Meja, kursi, white board, dan tas milik para siswa terhempas ke sisi yang berlainan dari pusat pecahnya kaca.
Belasan siswa yang kebetulan sedang di dalam kelas ketika istirahat nampak mengerang kesakitan; tubuh mereka penuh serpihan kaca. Mereka semua bernasib sama dengan seluruh alat-alat yang ikut terhempas; kebanyakan dari mereka tertimpa meja, dan kursi dalam posisi terbalik—dan sebagiannya lagi telungkup tidak sadarkan diri. Percikan darah begitu mencolok; menggenang tepat di meja guru, di depan kelas. Pintu kayu yang reyot terbelah dua, dan terhempas hingga menimpa 2 orang siswa yang sedang nongkrong. Tembok-tembok antara koridor, dan kelas nampak retak, percis seperti akar pohon yang menjalar.
Pak Rudi akhirnya tiba di dalam kelas. Ia terkejut, panik, dan jelas bingung dengan kondisi kelas yang porak-poranda oleh angin super kencang, yang datang dari luar gedung. Anehnya, angin itu hanya mengincar kelas 3 IPA 2. Kelas Al, dan Grey berada.
Seluruh siswa dari kelas lain, akhirnya masuk untuk menolong satu per satu korban. Ada yang mengangkat meja, lalu mengangkat korban yang tertimpa, dan terjepit. Dan ada juga yang menggotong korban yang tergeletak lemas di dekat pintu kelas untuk keluar. Tubuh seluruh korban berlumuran darah.
Beberapa menit kemudian, jeritan perempuan menggema di tengah koridor ketika melihatan cipratan darah di lantai koridor kelas itu; dengan cepat koridor seperti pasar. Penuh dengan seluruh siwa-siswi yang berkerumun. Siswa-siswa yang baru datang, satu persatu masuk menolong rekannya menggotong korban menuju Aula. UKS tidak akan cukup untuk korban sebanyak ini.
Al berlari di tengah koridor menuju kerumunan. Ia bersama Grey, yang menyamarkan dirinya menjadi aura. Wajahnya langsung pucat-pasi melihat salah satu korban wanita digotong keluar pintu. Wajah wanita itu penuh serpihan kaca sebesar kerikil, dan berlumur darah—rambut panjang sepinggangnya terlihat kusut, dan seragam putih-abu-nya bertukar warna menjadi merah. Wanita itu mengerang kesakitan, sambil memegang wajahnya. Ia adalah seorang wanita yang Al cintai.
Angel.
Al mengikuti para penggotong Angel menuju Aula. Wajahnya berkaca-kaca; ia nampak sedih, karena kejadian setahun yang lalu, terulang lagi kembali. Bedanya, hari ini ia tak bisa menolong Angel.
***
“Sekarang jelaskan padaku, Al. Apa yang baru saja terjadi?” tanya batin Grey serius. Kami berdiri di luar gedung sekolah. Belasan mobil Ambulance akhirnya datang setengah jam kemudian—dan membawa satu persatu korban ke dalam mobil. Para siswa-siswi berpelukan mendoakan rekan-rekan mereka di luar gedung. Satu persatu kendaraan orang tua siswa datang, melihat keselamatan anaknya.
Aku termenung di dalam kelas; memperhatikan kerumunan orang-orang dari atas ke bawah. Kelas ini sekarang tak berjendela, lubang besar berbentuk persegi telah membiarkan mataku memandangi satu per satu Ambulance pergi menuju Rumah Sakit Hasan Salahuddin. Aku tak mengantar Angel, aku takut disalahkan lagi oleh siswa-siswi di kelasku ketika berkunjung ke Rumah Sakit, seperti kejadian setahun yang lalu. Sebenarnya, di hatiku hanya ada Angel, Angel, dan Angel. Kata-kata Grey tak terdengar jelas, hingga Grey berulang-ulang menegurku.
Kurasakan Grey merangkulku.
Airmata ini tak bisa diajak kompromi, hingga akhirnya keluar tanpa kusadari.
“Al, kita harus cari tahu. Ayo bangkit!” kata-kata Grey bersemangat. Kali ini suaranya terdengar jelas—dan konsentrasiku sedikit menangkapnya. Ia membuatku sadar.
Deg!
Kurasakan bayangan hitam seakan lewat dengan cepat di belakangku.
“Grey! Kurasa di dalam ruangan ini, tidak hanya ada kita. ” Mataku bergerak melirik Grey, tubuhnya kini kembali dalam bentuk manusia.
“Aku juga merasakannya Al. Aura hitam pekat itu mendadak muncul, lalu hilang kembali begitu cepat. ” Kata Grey waspada. Ia akhirnya menampakkan wujudnya dengan utuh di sampingku.
“Coba kau lihat? !” ujar Grey menyentuh lenganku pelan.
Aku mengangguk.
Kucoba pertajam pandanganku ke sekeliling. Kutembus pandanganku ke setiap penjuru ruangan sekolah dengan berurutan, dari kelas ini ke samping kanan: kelas 3 IPA 1, 3 IPS 1, Laboratorium Bahasa, Perpustakaan, dan urutan kelas 2, dari A-G.
Tak ada gerak-gerik mencurigakan. Semua ruangan kosong.
Kulanjutkan perjalanan pandanganku ke samping kiri: Kelas 3 IPA 3, Kelas 3 IPS 2, Kelas 3 IPS 3, Kantin, dan Aula.
“Tak ada siapa-siapa di lantai 2 ini, Grey! ” Aku melepas konsentrasiku.
“Coba kau cari di lantai dasar. ” Perintah Grey tegas. Ia sedang menutup matanya; mungkin mencari keberadaan aura hitam pekat itu berada.
Aku melanjutkan pandanganku dengan lebih kuat, hingga urat-urat di keningku keluar, otot-otot di lenganku tegang, dan nafasku terasa sesak. Dari depan pintu gerbang, pandanganku masuk ke lapangan upacara, lalu masuk ke pintu ruangan tata usaha, ruang guru, Kelas 1 A-G, hingga terakhir...
Ruang Kepala Sekolah.
Deg!
Di dalam ruangan berukuran 3 X 4 itu, kulihat seseorang sedang duduk di meja Kepala Sekolah. Sosok itu sedang duduk di atas kursi putar; ia membelakangi pandanganku. Kucoba putar pandanganku untuk melihat dengan jelas siapa sosok itu dari depan...
Tubuhku bergemetar. Jantungku berdegup kencang. Mataku akhirnya terbuka lebar, dan coba mencari tahu: apa ada yang salah dengan pandanganku?
Aku berlari turun ke lantai 1 menuju Ruang Kepala Sekolah. Grey yang sadar, mengikutiku dari belakang. Ia belum tahu dengan penglihatanku.
“Siapa itu Al?” tanya Grey jelas; ia akhirnya merasakan aura itu berasal.
Sambil berlari, dan nafas terengah-engah di koridor lantai 2, aku menjawab: Aku!
Mata Grey terbelalak.
“Kau?!”
“Iya, aku. Entah siapa orang istimewa yang bisa merubah wujudnya menjadi aku. Mungkin ini sebabnya Angel menyangka, aku yang berusaha mencelakainya. Angel bilang: aku melihatmu mengeluarkan pusaran angin dari depan gedung sekolah, ke arah kelas, Al. Aku melihatnya dengan jelas. Pusaran angin seperti tornado kecil berputar keluar dari tanganmu, menuju kelas dengan kecepatan tinggi . Beruntung Angel cepat menyelamatkan diri, jadi, ia tak terluka seperti sekarang.”
“Jadi Angel tahu kau manusia istimewa?”
“Tidak, aku tak merasa memiliki keistimewaan seperti itu. Aku mengelak.”
“Apa kau merasa punya musuh, Al? Mungkin dia sebenarnya mengincarmu, jadi ia lebih memilih orang-orang yang ada didekatmu, agar ia lebih puas.”
“Aku tak punya musuh...”
Kata-kataku tersentak.
“Tapi...aku pernah berbuat salah pada...,oh shit! Tidak salah lagi, dia pasti orangnya. Dia sengaja berbuat ini agar aku terpancing. Ia benar-benar merencanakannya.”
“Siapa?”
“Kita lihat saja, aku takut salah.”
***
Akhirnya aku tiba di depan pintu Ruang Kepala Sekolah. Pintunya ternyata memang sengaja tak dikunci, agar aku bisa masuk ke dalam ruangan dengan leluasa. Aku akhirnya bisa melihat sosok yang sedang duduk di kursi itu. Posisi duduknya sesuai dengan yang kulihat tadi.
Sosok itu berbalik.
“Pak Rudi?!” Aku dan Grey terhenyak.
Kesabaranku habis. Rupanya memang Pak Rudi yang melakukan ini semua. Ternyata ia tak sudi wajahnya rusak karena aku ceroboh menumpahkan cairan kimia ke wajahnya. Ia menuntut pembalasan dendam.
Pak Rudi berubah menjadi Angel. Tangannya menengadah ke langit mengeluarkan angin tornado dengan tinggi 5 meter, yang pernah disebutkan oleh Angel (menghancurkan kelas).
Pak Rudi melemparkan angin itu ke tubuhku.
Aku terhempas sekitar 10 meter ke luar Ruangan Kepala Sekolah; membuat pintu menjadi terbelah dua. Grey yang merasakan aura itu sebelumnya sempat menghindar. Ia menghilangkan diri.
Dari wajah itu aku sadar, ternyata Angel dan aku, sama. Kita memiliki keistimewaan. Angel bisa mengeluarkan tornado kecil. Ia Manusia Angin.
“Kau dan Angel bodoh!” Teriak Pak Rudi keras. “ia sebenarnya ingin melindungimu selama ini, tapi ia malah mengorbankan dirinya sendiri.”
Pak Rudi berjalan mendekatiku dengan tornado kecil di lengannya yang menggumpal semakin besar.
“Kau tahu, murid bodoh?! Wanita yang mencintaimu itu mengalihkan angin ke tubuhnya sendiri, ketika aku mengincarmu di Kantin. Tetapi ia gagal. Angin itu juga malah mengorbankan teman-temannya. Ia masih terlalu bodoh untuk memiliki keistimewaan. Dan ia juga terlalu bodoh untuk menggunakan perasaan cinta.”
Pak Rudi semakin mendekat. Ia kini 2 meter di depanku.
Darah dari dalam mulutku keluar. Aku muntah darah. Aku tak berdaya. Aku tak punya keistimewaan menghancurkan sesuatu.
Grey menampakkan wujudnya di sampingku
“Kau tak apa-apa?” tanya Grey perhatian, menahan kepalaku.
Aku mengangguk.
Pak Rudi melempar angin itu hingga menimbulkan pusaran yang sangat besar. Grey menunduk. Ia memusatkan konsentrasinya dengan sangat tinggi. Matanya mengerjap begitu keras, hingga darah keluar dari mulut, hidung, dan kedua telinganya.
WUSHHH
Angin itu semakin lama semakin mengecil. Grey berhasil menyedot aura dari angin itu. Pak Rudi pun, kembali pada wujudnya semula. Ia berlutut, karena sesuatu menguras tenaganya.
Grey berhasil menyedot aura Pak Rudi juga.
Grey kelelahan, tenaganya terkuras. Ia pingsan. Pak Rudi berusaha mengangkat tangannya kembali, tapi tenaganya sirna. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, kuraih potongan pintu yang terbelah, lalu melemparkannya ke wajah Pak Rudi.
KRAK
Potongan pintu itu berhasil mengenai wajah Pak Rudi. Dan ia pun, pingsan sekaligus kehilangan keistimewaannya.
***
Keesokan harinya, di Rumah Sakit Hasan Salahudin aku menjenguk Angel. Ia siuman. Wajahnya memang tak cantik lagi karena dibungkus perban, namun aku masih mencintainya. Kuceritakan kronologis kejadian sebenarnya setahun yang lalu –termasuk kejadian semalam, padanya.
Angel terkejut.
“Trus Pak Rudi kemana, sekarang?”
“Menurutmu?”
“Jangan bilang Pak Rudi gila?” celoteh Angel—walaupun ekspresinya tak terlihat. Sisi jahil dari Angel selalu ada.
Aku tersenyum.
Selama beberapa menit, kita bergeming. Kusentuh lengan Angel dengan lembut. Kemudian menggenggamnya. Tak peduli dengan banyak sayatan bekas serpihan kaca, ataupun angin yang terkadang mendadak keluar sangat kecil, karena konsentrasinya agak kacau. Aku ingin mengatakannya sekarang.
“Angel...sebenarnya...”
Angel memandang bola mataku.
“Kenapa kau menjengukku? Bukan Grey?” Potong Angel menarik lengannya, sepertinya ia malu.
Aku tersenyum
“Setelah kejadian kemarin, aku ikut pingsan. Setelah sadar, polisi mengelilingiku. Dan saat itu juga aku tak melihat Grey. Dia menghilang.”
“Penglihatanmu, kan, tajam. Apa kau tak bisa melihatnya?”
Aku tersenyum.
“Ia sekarang punya 2 keistimewaan, Enjel. Mungkin sekarang yang lagi jenguk kamu ini Grey.”
“Hah?!” kata Angel, ”Tapi Angel pengen Aldo aja!” Angel manja, menyambut lenganku lembut.
Aku dan Angel akhirnya tertawa, dan bercanda mesra. Sepintas kulihat Pak Rudi melihat dari jendela kaca, tempat Angel dirawat. Ia tersenyum. Lalu menghilang.
Itu pasti bukan Pak Rudi, tebakku dalam hati.
cuma suka baca aja, ga bia kument :(
uhuy mantaf bos
:-D
keren... pertama kukira al itu cewek (sori soalnya umumnya cewek duduk sebangku ama cwek) hmm.... i like grey, keren banget
waduh...
tak pikir kayak invisible man gitu...
trus ku pikir al itu cewek...
haih...
nice lah...
:)) hehehe, sekali sekali buat yang gak-sewah biasanya gpp kan, dan. hehehe.
waw .
seru .
hehehe...
:D
cukup kesulitan tow, dengan batas 3000 katanya.
ketika ingin memotong bagian tertentu, eh, malah jadi janggal.
jadi, saya potong suasananya saja. Toh, suasana sekolahan pasti semua orang tahu.
endingnya memang sengaja kaya gitu seh. sekali-sekali buat hap-hap ending lah.
:D
wah...setan-setan ber-aura
ah nga toz atuh yang sama2 di menit-menit terakhir
heuheu
Agak membingungkan...hehehe
Unik kak rey....latarnya aq suka