“Lihat, Avera,” kata sang pemuda berkulit gelap sambil menunjuk ke arah Matahari yang hendak terbit di ufuk timur, “indah, ya?”
Remaja yang mengenakan rompi kulit tersebut tersenyum ceria dan membiarkan angin sepoi-sepoi membelai rambutnya yang hitam dan sebahu, “Jangan begitu, kita takkan kalah.”
Read more (2776 words)
Dia kemudian menengok ke belakang mereka. Yang dilihatnya adalah ribuan pasangan kesatria dan naga tunggangan mereka, sama seperti dirinya dan Avera. Selain itu ratusan naga raksasa dan burung api pun turut serta. Kaum penyihir pun tak kalah serta, mereka turut mengangkasa meski hanya dalam jumlah puluhan. Sang pemuda mengalihkan pandangan ke laut di bawah mereka dan mendapati beberapa ratus kapal perang yang telah dilengkapi persenjataan berat jarak jauh.
Penunggang naga itu berkata dengan khidmat, “Hari ini kita menguasai langit dan laut.”
“Sedangkan Sang Dewa menguasai daratan ,” timpal Avera.
Nun jauh di depan sana, ombak tak henti-hentinya menghantam tembok karang yang menjulang tinggi. Di atasnya membentanglah sebuah dataran luas yang melebar hingga mendekati bagian tengah benua yang dikuasai seorang raja yang dijuluki Sang Dewa.
Avera menoleh ke arah pemuda yang duduk di atas sadel di punggungnya, “Valia Sah Artana, apakah kau siap mati bersamaku ?”
Valia mengangguk, “Ya, tapi aku takkan mati di sini. Aku akan bertahan hidup dan membebaskan kaumku dari penindasan!”
“Bagus ,” Avera mengalihkan pandangannya ke depan, “jika begitu bertarunglah bersamaku .”
Seketika itu juga muncul sebilah pedang yang bersinar kemerahan dari punggung Avera tepat di depan sadel yang diduduki Valia. Sang pemuda segera mengambilnya. Dia lalu menoleh dan mendapati semua kesatria penunggang naga kini menggenggam senjata serupa miliknya.
Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar dari arah depan. Sebuah cahaya yang menyilaukan muncul di atas laut.
Valia menghalangi matanya dengan lengannya, “Itu ...”
Secara perlahan cahaya itu meredup. Dengan matanya yang tajam, Avera dapat melihat sosok pucat berambut keperakan, berparas rupawan sekaligus bermuka masam serta mengenakan jubah putih dengan empat pasang sayap di punggungnya.
“Alexio Si Bengis ,” suara si naga muda agak bergetar saat menyebutkan nama tersebut.
Valia menyeringai, “Bagus, kita habisi dia.” Dia mengacungkan pedangnya, “Serang!”
Para kesatria naga lain menjerit dan mengikuti aksinya, tapi sebelum mereka melaju, burung api yang paling besar telah melesat ke depan diikuti burung-burung api lain dan para naga raksasa.
“Hati-hati, dia sangat tangguh ,” suara pemimpin burung api sangat lembut dan keibuan.
Para kesatria naga segera memacu diri dengan kecepatan penuh. Kepakan sayap baik kulit maupun api saling bersahutan, menghasilkan bunyi dengungan seolah gerombolah hama dari neraka telah tiba di dunia.
Meski ribuan musuh bergerak ke arahnya dengan kecepatan tinggi, Alexio tak bergeser sedikit pun. Dia merentangkan kedua lengan dan perlahan tapi pasti cahaya yang menyilaukan muncul dari kedua telapak tangannya. Cahaya itu seolah bergetar, makin lama makin hebat.
Sadar bahwa musuh sedang menyiapkan serangan pertama, Avera langsung menambah kecepatannya, “Kuharap kakimu sudah terikat kuat di sadel !”
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, kapal-kapal tempur pun mengarahkan moncong meriam mereka ke sosok yang mengambang di udara tersebut. Dalam hitungan detik, peluru-peluru besi menerjang ke arah Alexio dan menyisakan jejak asap yang sungguh enak dipandang mata sekaligus menggetarkan jiwa.
Cahaya di telapak tangan Alexio bergetar hebat dan meledak menjadi sulur-sulur cahaya yang tak terkira jumlahnya, melesat ke sisi kiri dan kanannya sebelum menukik deras mengincar pasukan penyerbu. Sesaat kemudian peluru-peluru besi menghantam sang makhluk bersayap dan menghasilkan ledakan dahsyat.
“Menyebar dan menghindar !” burung api di garis terdepan memberikan instruksi meski tubuhnya tercabik-cabik sulur cahaya yang menerjang deras.
Naga-naga raksasa dan pasukan burung api pula tetap mempertahankan jalur terbang. Serangan Alexio tak menimbulkan dampak berarti bagi makhluk-makhluk perkasa tersebut.
Avera yang berada di belakang mereka segera mengurangi ketinggian tanpa memperlambat lajunya, “Aku takkan bisa menghindari semuanya, sisanya kuserahkan padamu !”
Naga itu pun meluncur deras ke bawah sambil menghindari sinar-sinar yang melesat melintasi mereka. Sesekali Valia mengayunkan pedangnya untuk menangkis cahaya yang gagal dihindari Avera.
Naga-naga tunggangan lain turut bermanuver, ada yang menambah ketinggian, ada yang menukik ke bawah, dan ada pula yang tak mengubah arah, tapi mengandalkan kemampuan meliuknya di udara untuk menghindari serangan Alexio. Para penyihir segera merapal berbagai mantra perlindungan. Sayangnya banyak pula yang tak berhasil menghindar dan hancur berkeping-keping dihantam cahaya-cahaya tesebut.
Setelah serangan itu mereda, Valia menoleh ke belakangnya dan terkejut melihat jumlah rekannya berkurang nyaris setengahnya, “Gila, padahal ini baru serangan pertama!”
Belum selesai kekagetannya, Valia kembali dikejutkan oleh aksi Avera yang tiba-tiba menukik untuk menghindari kepala seekor naga raksasa yang terlempar ke arah mereka.
“Apa yang ...” pemuda itu mengalihkan pandangannya ke atas dan tak bisa berkata-kata.
Yang dilihatnya adalah Alexio melesat ke sana dan ke mari sambil menghabisi siapa pun yang berada di hadapannya dengan pedang besarnya. Kecepatannya sungguh mengagumkan, tapi pergerakannya sangat gemulai bagai tarian para bidadari. Meski dikepung dari berbagai arah, makhluk bersayap itu tak gentar sedikit pun dan tak berusaha melarikan diri.
Sadar mereka punya urusan yang lebih mendesak daripada sekadar meladeni Alexio, burung api yang paling besar mengeluarkan perintah, “Aku sendiri yang akan menghadapinya, kalian semua pergi dan habisi Sang Dewa !”
Tanpa ragu, para kesatria naga, penyihir, burung api serta naga raksasa segera menjauhi Alexio dan menuju ke daratan yang menjadi sasaran mereka. Si rambut perak menggeram dan berusaha mengejar, tapi lajunya dihalang-halangi oleh burung api tersebut.
“Pengacau!” Alexio mendesis.
Kedelapan sayapnya mulai bersinar dan secepat kilat dia melesat menembus tubuh lawannya. Burung api itu mengeluarkan lengkingan yang memilukan saat tubuhnya terbelah dua dan jatuh ke bawah.
“Ratu Willsha!” jerit Valia saat melihat apa yang terjadi di belakangnnya.
Avera tetap melaju tanpa menoleh sedikit pun, “Tenanglah, dia takkan mati begitu saja .”
Alexio memandang ke arah pasukan udara yang mulai meninggalkannya. Dia lalu memusatkan kekuatan dan tangan kirinya mulai bercahaya. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu mendekatinya. Dia melirik ke bawah dan melihat bahwa dua bagian tubuh Ratu Willsha yang terpisah telah menjelma menjadi gelombang api yang bergerak bagaikan sepasang ular kembar.
Keduanya mengepung Alexio, memaksanya membatalkan serangan yang hendak diluncurkannya. Sosok bersayap itu akhirnya bergumul dengan dahsyat melawan dua gelombang api penjelmaan Ratu Willsha. Pertarungan tersebut makin lama makin membumbung tinggi membentuk sebuah tornado kecil yang terbuat dari api.
Para awak kapal-kapal perang hanya bisa terpana menyaksikan duel hebat yang terjadi di atas kepala mereka. Tiba-tiba terdengar gelegar dahsyat. Alexio mengambang di udara dan terengah-engah sedangkan kedua gelombang api itu kini memutarinya dari jarak yang agak jauh bagai dua ekor ular yang hendak saling patuk.
Tak sampai sedetik kemudian, kedua gelombang itu serentak menghantam Alexio dari sisi kiri dan kanannya dengan kecepatan yang menakutkan. Ledakan yang dihasilkan serangan tersebut membentuk sebuah bola api raksasa di langit. Perlahan tapi pasti bola api tersebut berubah bentuk menjadi seekor burung api raksasa.
Sorak-sorai kemenangan segera membahana dari ribuan kapal perang di laut. Para awak gembira melihat Ratu Willsha yang terbang dengan perkasa di atas mereka. Sayangnya kegembiraan itu tak berlangsung lama. Pilar-pilar cahaya perlahan muncul dari sekujur tubuh Ratu Willsha, makin lama makin terang sebelum akhirnya tubuh burung api tersebut meledak menjadi ribuan bara api yang terlempar ke laut.
Kini yang mengangkasa hanyalah tubuh Alexio yang berpendar menyilaukan. Dia melemparkan pedangnya kemudian merentangkan kedua lengan dan kedelapan sayapnya.
Meski tubuh apinya tercerai-berai, Ratu Willsha masih bisa mengeluarkan perintah, “Penyihir, lindungi pasukan !”
Para penyihir langsung membalikkan badan ke arah Alexio. Mereka segera merapal mantra perlindungan. Lambat laun muncullah aksara-aksara kuno yang membentuk pentagram keemasan yang membentang dari timur ke barat dan dari utara ke selatan.
Alexio menyeringai lalu dengan jeritan panjang, dia melepaskan energi murninya. Ribuan cahaya yang lebih dahsyat dari serangan pertamanya segera memancar dari kedua tangan dan kedelapan sayapnya serta langsung menukik ke arah perisai sihir raksasa tersebut.
Suara ledakan dahsyat menggema saat cahaya-cahaya tersebut menghantam perisai sihir bagaikan titik air membasahi tanah saat hujan turun. Meski mereka beramai-ramai menyatukan tenaga, perbedaaan kekuatan itu tetap saja terlalu besar. Sebagian besar serangan Alexio berhasil menembus perisai sihir itu dengan mudah dan langsung melesat ke arah pasukan yang sedang menuju ke daratan. Tubuh para penyihir bergetar hebat, lalu satu per satu meluncur ke laut dalam keadaan tak bernyawa karena kehabisan energi. Perisai sihir mereka lenyap dari pandangan.
Pasukan tersebut kocar-kacir menghindari serangan tak terduga dari belakang. Avera segera berbalik 180 derajat dan mengembuskan bola api dari mulutnya secara berantai ke arah sulur-sulur cahaya yang menyerbunya. Itu pun masih harus ditambah dengan manuver menghindar dan bantuan Valia karena tak semua sulur cahaya berhasil ditembaknya. Para kesatria naga lain juga melakukan hal serupa.
Di arah yang berlawanan, tubuh Alexio kembali dihajar ratusan peluru meriam yang ditembakkan oleh kapal-kapal perang di bawahnya. Sosok makhluk bersayap tersebut hanya bisa pasrah, kekuatannya sudah habis. Dia hanya bisa merelakan tubuhnya dihantam tanpa henti saat terjun bebas tanpa daya ke laut di bawahnya.
“Alexio telah tumbang ,” ujar Avera yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata naganya.
Valia tersenyum, “Bagus!”
Tapi sang naga kecil tetap gamang, “Aneh ,” dan matanya menangkap sesuatu yang tak terduga, “selain sekumpulan penyihir, tidak ada ketapel, meriam, pasukan atau apa pun di daratan sana. Gila !”
Valia turut pula meneropong, “Entahlah, mungkin Sang Dewa terlalu congkak.”
“Kuharap begitu dan bukan jebakan ,” jawab si tunggangan.
Terlepas dari apa pun rencana musuh, pasukan itu pun segera melaju ke depan. Kini yang menghalangi mereka dari Sang Dewa hanyalah segelintir penyihir saja. Para naga raksasa langsung menyemburkan nafas api mereka ke arah para ahli teluh di bawah mereka. Anehnya, lawan hanya merapal mantra perlindungan yang tak terlalu berguna. Alhasil, terjadilah pembantaian yang boleh dibilang terlalu mudah.
“Tampaknya mereka tak berniat bertarung ,” ujar salah satu burung api sambil mengamati pertempuran sepihak itu.
Valia menyeringai, “Jika begitu, tunggu apa lagi? Kita langsung habisi saja si dewa palsu!”
Para kesatria naga, burung api segera serta naga raksasa kemudian mendekati sebuah bukit tandus yang merupakan ujung dari dataran luas ini. Dengan mata naganya Avera dapat melihat permukaan bukit itu menyerupai sebuah singgasana raksasa yang dipenuhi berbagai ukiran indah berukuran besar yang mustahil dipahat oleh tangan manusia. Di bagian tengahnya duduklah seorang pria berambut biru dan berjubah hitam. Dia bahkan tidak mengenakan mahkota atau perhiasan kebesaran lain.
“Itu …” Avera seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Dia tampak terlalu biasa-biasa saja untuk ukuran seorang diktator berkekuatan super,” ujar Valia setengah kecewa sambil menurunkan teropongnya.
“Jangan lengah, Alexio saja sekuat itu ,” ujar salah satu naga raksasa yang mendengar ucapan Valia.
Pasukan itu pun makin mendekat saat sebuah cahaya yang amat menyilaukan memancar ke atas dari bukit yang menjadi singgasana Sang Dewa. Melihat fenomena itu para naga tunggangan, naga raksasa, burung api memperlambat laju mereka untuk mengamati keadaan.
Yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaan. Langit pagi berubah warna menjadi hitam dan bintang-bintang pun bersinar. Matahari bersinar terang di ufuk timur, sedangkan Bulan bercahaya di sebelah barat. Angin kencang bertiup dan petir menyambar meski tak ada awan sama sekali. Lautan mulai bergolak hebat dan kapal-kapal perang terombang-ambing tanpa daya.
“Ada apa ini?” tanya Valia kebingungan saat menoleh ke belakang dan mendapati bangkai-bangkai penyihir musuh juga mengeluarkan cahaya terang.
Para naga raksasa segera dan burung api segera menyerang pilar cahaya itu dengan kekuatan penuh, tapi tidak ada hasil. Embusan dan kibasan sayap api mereka seolah menghantam tembok yang benar-benar kokoh. Lamat-lamat terdengarlah bisikan-bisikan aneh seolah angin sedang mencibir mereka yang terbang di langit.
“Gawat ,” kecemasan terasa jelas di suara Avera.
Pemuda itu mulai panik,”Avera, apa yang terjadi?”
Pertanyaannya dijawab oleh seekor burung api,”Dengarlah sendiri ,”
Bisikan-bisikan itu perlahan mulai terdengar seperti senandung lirih yang mencekam. Seiring itu angin makin menggila dan halilintar pun tak mau kalah.
“Apa ini? Lagu?” tanyanya keheranan, tapi tetap waspada.
Avera angkat bicara, “Kau sedang menyaksikan ilmu sihir terkuat di alam semesta .”
“Kukira sihir ini hanya legenda belaka ,” seekor naga raksasa menimpali ucapan Avera.
Valia mulai tak sabar, “Memangnya apa yang sedang terjadi?”
“Valia Sah Artana, lawan kita benar-benar luar biasa, dia bukan dewa palsu ,” ketakutan dan sejumput rasa hormat membayangi kata-kata Avera.
Ucapan tunggangannya itu membuat Valia terkaget-kaget, “Apa?”
Naga raksasa itu kembali angkat bicara, “Lihat ke sekelilingmu, Anak muda. Semua ini adalah Kidung Semesta Alam .”
Avera mengangguk, “Benar, Takbir Sang Dewa, dan inilah hari terakhir kita .”
Valia meludah ke bawah, “Avera, apakah tak ada cara untuk mengalahkannya?”
Salah satu burung api angkat bicara menjawab pertanyaan pemuda itu, “Ketahuilah, Nak, mereka yang ingin menggunakan kekuatan sihir harus mengucapkan mantra. Kidung Semesta Alam sama sekali berbeda, dia adalah sihir yang dipersembahkan dunia kepada seseorang .”
Pemuda itu kebingungan, “Hah? Maksudmu?”
“Maksudnya adalah alam semestalah yang merapal sihir itu atau mengucapkan mantranya. Dalam kata lain, alam semesta tunduk dan menyerahkan kekuasaan penuh terhadap Sang Dewa ,” kali ini Avera menjawab dengan nada kesal.
“Tapi pasti ada cara untuk melawannya, kan?” Valia berupaya untuk tetap tenang.
Tanggapan Avera sederhana, “Ya, dengan Kidung Semesta Alam juga .”
Belum sempat pemuda itu menanggapi ucapan rekannya, senandung lirih tadi kini makin jelas terdengar bagaikan dilantunkan suara-suara surgawi yang entah berkumandang dari mana. Lirik-liriknya penuh pujian terhadap Sang Dewa, serta hinaan, cacian dan kutukan terhadap pasukan penyerbu.
Pilar cahaya yang tinggi itu akhirnya lenyap, menyisakan sosok Sang Dewa yang melayang-layang dengan santainya. Tak ada yang berubah dari dirinya. Jubah hitamnya berkibar-kibar sedang rambut birunya dibelai dengan lembut oleh angin.
Sang Dewa menatap pasukan penyerbu di hadapannya. Tiba-tiba Valia merasakan rasa sakit yang teramat sangat di dadanya. Dari sudut matanya dia dapat melihat rekan-rekan kesatria naganya juga merasakan hal serupa.
“Apa yang terjadi?” jerit salah satu kesatria naga.
“Bertahanlah, dia mencoba menghapus kalian dari dunia ,” salah satu naga raksasa angkat bicara.
Seekor naga tunggangan menengok ke belakang ke arah laut, “Tapi kapal-kapal tempur juga sudah tak ada .”
“Jadi, cuma tinggal kita lawan dia,” ujar Valia terengah-engah menahan rasa sakitnya.
“Begitulah ,” Avera menjawabnya datar.
“Aku Renfrew Al Hidras IV, kuucapkan selamat datang kepada kalian semua ,” suara agung itu membahana entah dari mana.
“Keparat!” maki kesatria naga di sebelah Valia.
“Naga dan burung api, kenapa kalian tidak bergabung denganku seperti alam semesta yang telah tunduk di bawah kakiku ?” suara itu kembali menggema tanpa Renfrew menggerakkan mulutnya. “Tidakkah kalian lihat? Alam semesta memilihku, dunia ini mencintaiku. Mereka tahu aku berdiri di golongan orang-orang yang benar .”
Tiba-tiba dari arah laut terdengar lengkingan yang luar biasa dahsyatnya. Seketika itu pula sesosok burung api melesat secepat kilat dan menghantamkan dirinya ke Sang Dewa. Ledakan dahsyat terjadi dan hujan api pun menyusul. Pasukan besar itu terpana menyaksikan kejadian yang berlangsung dengan cepat tersebut.
“Tunggu apa lagi ?” suara Ratu Willsha menyentak, seolah ingin membuyarkan ketakutan yang melanda pasukannya. “Semuanya! Rapal Takbir Sang Dewa! Alam semesta akan menjawab panggilan kalian !”
“Tapi siapa yang akan menerimanya ?” tanya Avera
“Biarkan takdir yang menentukannya. Jika tak ada yang terpilih, maka kitalah yang salah telah menentang kehendak alam semesta ,” ada keputusasaan tersembunyi dalam suara ratu burung api tersebut.
Melihat pemimpin mereka meledak untuk kesekian kalinya, para burung api segera melantunkan mantra yang benar-benar aneh. Naga-naga raksasa dan tunggangan para kesatria pun melantunkan mantra dalam bahasa ibu mereka.
Melihat hal itu, mata Renfrew bercahaya. Dia mengibaskan tangannya, beberapa naga raksasa dan puluhan naga tunggangan beserta kesatria mereka meledak begitu saja. Tanpa menghiraukan Ratu Willsha yang menyerangnya tanpa henti, Sang Dewa terus mengibaskan tangannya dan naga-naga kembali meledak.
“Baiklah, kuhabisi kalian semua ,” seiring ucapan Renfrew, kadal-kadal perkasa kembali berguguran.
Air mata Valia mengalir melihat rekan-rekannya kandas secara tragis, “Avera, hentikan omong kosong ini.”
Naga betina itu berhenti merapal mantra, “Hanya inilah jalan yang kita miliki. Jika alam semesta tak menjawab permohonan kita, itu berarti kita memang layak mati di tangan Sang Dewa .”
Dengan air mata bercucuran, Valia menatap tunggangannya, “Aku tidak takut mati, tapi aku tak sanggup menyaksikan rekan-rekanku berguguran tanpa berbuat apa-apa.” Pemuda itu menyeka air matanya, “Sekali lagi kutanyakan padamu, apakah kau mau mendampingiku sampai akhir?”
Avera mendesah, “Tentu aku akan mendampingimu .”
Valia tersenyum, “Jika begitu kepakkan sayapmu, semburkan bola apimu, kita habisi dia!”
Valia mengalihkan pandangannya ke Sang Dewa, “Aku tersanjung kau memilihku Valia Sah Artana, dan aku merasa terhormat bisa menemanimu ke alam kubur .”
Pemuda itu menggenggam pedangnya erat-erat, “Maju!”
Dengan itu Avera meraung dan melesat ke arah Renfrew. Bola api pun meluncur secara beruntun dari mulutnya dan menghantam Sang Dewa tanpa ampun. Sosok berambut biru itu tak terluka sedikit pun. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
Avera makin mendekati lawannya, tapi Valia hanya bisa terpana saat tubuhnya tercerai-berai begitu saja. Merasakan bebannya berkurang, naga muda itu segera menengok dan mendapati penunggangnya telah hancur lebur menjadi percikan darah, daging dan tulang.
“Vali ...” jeritan Avera terpotong saat tubuhnya juga mengalami nasib serupa. Sisik-sisiknya terkelupas, sayapnya terlepas, lehernya terpenggal dan sang naga muda menyadari bahwa perannya dalam perang ini telah berakhir.
Asli battle. Hihi, nilik-nilik peserta fantasy fiesta taun lalu.
Yep, battle. Karena itulah gw memutuskan untuk melakukan yang berbeda pada ajang tahun ini. Heuheuheu.
sadis heheheh
jauh lebih bagus dr punyaku :(
meskipun terganggu dengan pembukaan yang berupa dialog
Wow. Aku udah menduga bahwa bakal ada yang bikin cerita tentang sebuah pertempuran terakhir, dan pertempuran yang kunanti-nanti emang lebih dahsyat dari bayanganku. Cuma, uh, kok ternyata isinya cuma pertempuran aja ya? Kupikir, kalo ada satu dua cerita latar belakang buat disempilin juga bisa kok.
Heuheuheu, thx dah baca. Memang bisa dan memang masih ada ruang untuk memasukkan kisah latar, cuma gw memilih untuk tidak memasukkannya. Nggak ada alasan selain fokus gw emang cuma battle aja. Dan mungkin, untuk menyembunyikan pihak mana yang baik dan pihak mana yang jahat, heuheuheu.
Kereeeen! Perangnya seru!
.
Btw, maap ga bermaksud sotoy atau sok ngajarin, tapi penjelasan siapa mereka dan latar belakang perang itu kok ga ada ya. Gw dari awal mengharap itu ada tapi sampe akhir ga ada juga, malah langsung masuk ke action. Gw sih ngembayangin pengenalannya setelah kalimat ini: “Sedangkan Sang Dewa menguasai daratan,” timpal Avera.. Paragraf berikutnya jelasin deh siapa tuh dewa, dan kenapa perang bisa terjadi.
.
Tapi bro, lo bisa banget bikin adegan perang yang seru. Endingnya juga keren. Top banget dah. Maap kalo kurang berkenan.
------------------------------
Fantasy Fiesta 2009: Götterdämmerung
Heuheuheu, kisah latar belakang peperangan itu emang nggak ada karena sengaja nggak dimasukin. Gw emang cuma pengen menampilkan adegan pertempuran aja, tanpa backstory, jadi yah, bener-bener apa adanya atau "as is", heuheuheu.
Thx dah baca dan kasih masukan.
battle scene nya indah dan...
ow... endingnya... so? amanatnya???
.
Salam kenal ya, bdw...
komenmu di ceritaku dah ku debat tuh, hahahha!
Berani debat lagi?
.
my Fantasy Fiesta
2012 : The Truth of God
Errr, nggak ada amanat apa-apa. Moral of the story is not required, heuheuheu.
Soal debat, you betcha!
Bagus banget bro.
Oh penulis yang kejam, teganya..teganya :)
Thx dah baca bos. Heuheu, harus tega, dunia memang kejam, muahahahaha!
Alurnya aq suka....tapi kok gitu sih endingnya, , ,
Heuheuheu, thx dah baca. Soal ending, yah, namanya juga perang, pasti ada korban jiwa,