Bumi yang kita kenal telah lama menghilang dari jagad raya, digantikan oleh bumi-bumi baru yang menciptakan era manusia baru yang berbeda-beda, lalu hancur dan digantikan lagi oleh bumi yang lebih baru lagi terus berulang-ulang bagai jam yang terus berputar. Meninggalkan berbagai ras manusia, dan salah satunya… Ras manusia ruh.
“Kita harus menghentikannya, sir,” bisik salah seorang laki-laki berbaju layaknya seorang perwira pada seorang laki-laki berambut hitam panjang di depannya.
Read more (3073 words)
“Tapi, kapten… Dia masih terlalu muda, dia bisa mati!” Nada kecemasan terdengar jelas dalam suara perwira itu, matanya melirik ke arah laki-laki berambut hitam kapten-nya itu.
Laki-laki itu memandang dingin ke arah seorang bocah laki-laki yang terbaring di depannya. Wajah bocah itu terlihat sangat-sangat pucat, bibirnya yang membiru tak henti-henti menggumamkan sesuatu, ia bagai mayat hidup, umurnya baru lima belas tahun. Laki-laki itu mengarahkan tangannya ke pipi bocah itu, dipejamkannya mata sejenak lalu menoleh pada seorang dokter yang ada di situ.
“Bagaimana keadaannya?”
“Buruk, fisiknya menolak dan sama sekali tidak kuat menerima ruh ini.”
“Kita harus menghentikannya, tuan,” sela sang perwira lagi, cemas, ia memandang tubuh bocah itu putus asa.
“Aku yakin kau tahu satu-satunya bangsa pemilik ruh hanyalah bangsa Freum, dan aku yakin kau pasti mengerti betul tinggal berapa jumlah mereka,” ucap sang kapten tanpa menoleh sedikitpun, “Dia bocah terakhir dari bangsa Freum, aku tidak bisa melepaskannya.”
Sang perwira terdiam. Benar apa yang dikatakan kapten-nya itu. Bangsa Freum, salah satu bangsa yang menghuni zome—sebutan untuk bumi yang digunakan ras manusia ruh—mereka sedikit berbeda dengan bangsa-bangsa lain, pada umur-umur tertentu—tergantung pemiliknya—kekuatan yang mereka sebut sebagai ruh akan bangkit dalam dirinya. Kekuatan ini benar-benar dashyat, perlu kekuatan fisik yang benar-benar kuat untuk bertahan selama proses pembangkitan, kekuatan itu akan semakin kuat jika umur pemiliknya mengalami pembangkitan ruh semakin muda.
“Jantungnya melemah, kita harus menghentikannya.” Ucapan dokter itu membuyarkan lamunan sang kapten, ia memejamkan matanya sejenak.
“Jangan dihentikan, dia sudah melewati 60% proses ini,” sergah laki-laki itu lagi, ia menghela nafas berat.
“Dan 40% itu adalah saat-saat yang paling kritis kan, Dorm?” tanya sang perwira.
“Ya, ini aka menjadi malam yang panjang, Brian.”
Brian tahu betul, bahwa apa yang diputuskan kapten-nya pastilah hal terbaik yang dapat dilakukan. Dorm bukanlah orang bodoh yang hanya berlaga sok memerintah ini-itu untuk menjunjung kepemimpinannya, kapten-nya itu adalah orang yang paling mengerti bagaimana rasa sakit yang dirasakan saat pembangkitan ruh itu, karena ia sendiri adalah seorang keturunan Freum. Dormistler Storm, kapten divisi pertahanan pemerintahan yang juga salah seorang keturunan Freum, keturunan Freum termuda saat ini yang tersisa di Zome.
Dorm berjalan keluar ruangan melewati pintu diikuti Brian. Langkahnya tenang berjalan menyusuri lorong-lorong dan berhenti tepat di depan pintu kokpit.
“Periksa keadaan pesawat, lapotkan padaku dalam waktu lima belas menit.”
“Siap, kapten!” Brian memosisikan dirinya dalam posisinya siap lalu berjalan tegap meninggalkan kapten-nya. Dorm menghela nafas, bola matanya yang bewarna merah marun tampak redup, raut putus asa terpancar di wajahnya untuk sepersekian detik, lalu raut wajahnya kembali berubah seperti biasa, dingin tanpa emosi.
Ia melangkahkan kakinya cepat, pintu yang berada di depannya langsung terbuka otomatis. Sang pilot menoleh sebentar untuk melihat siapa yang datang, tatapan pilot itu tak jauh berbeda dengan Brian, tampak putus asa.
“Bagaiman keadaannya?”
“Buruk.” Suaranya terdengar pahit dan sarat keputusasaan.
“Aku minta maaf tidak bisa membawa pesawat ini lebih cepat,” gumam sang pilot.
“Jangan minta maaf, ini bukan salahmu.” Pilot itu hanya mengangguk singkat.
“Masih berapa lama lagi hingga sampai ke markas pusat?”
“Kurang lebih tujuh jam jika dengan kecepatan penuh.” Dorm menghela nafas berat, ia tidak yakin bocah itu akan bertahan hingga tujuh jam.
Pembangkitan ruh adalah hal alami yang akan dialami seorang Freum dalam waktu tertentu dan hanya akan terjadi sekali, walaupun itu adalah hal yang alami tapi pembangkitan ruh dapat dihentikan, pembangkitan ruh dapat dihentikan oleh pemilik kekuatan ruh lainnya. Hanya sebuah serum yang dapat menggandakan kekuatan fisik seorang pemilik kekuatan ruh, serum dari daun pohon lochvess.
Pohon lochvess sekarang sudah sangat jarang ditemukan, hanya beberapa orang yang berhasil menanam pohon itu diluar wilayah Freum Seath, salah satunya adalah Dokter Nexon, salah satu dokter pemerintahan yang kemahirannya sudah sangat terkenal di seantero Zome, Dokter Nexon adalah ahli kesehatan dan kapten divisi kesehatan pemerintah.
Dan itulah yang membuat semua awak pesawat ini cemas. Jika ada serum itu, ditambah seluruh peralatan canggih milik pemerintahan dan keahlian Dokter Nexon mereka yakin bocah Freum itu dapat diselamatkan.
“Dorm, kau harus segera ke sini,” panggil Dokter Cald—dokter yang menjaga bocah laki-laki itu— dari ruang kesehatan, ia terdengar sangat panik.
Dorm segera berbalik melewati pintu yang segera terbuka cepat. Langkahnya cepat dan terburu-buru, pikirannya mulai dihantui berbagai kemungkinan buruk. Bagaimanapun Dorm tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya, ia menyayangi bocah itu lebih dari siapapun yang telah mengenal bocah itu, satu-satunya keluarganya yang tersisa, Alfredgar Storm, Adik kandungnya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Dorm langsung begitu memasuki ruangan bernuansa putih itu.
Dokter Cald menggeleng lesu., “Buruk, sangat buruk, kurasa ia tidak bisa bertahan.”
Dorm memandang tubuh Adiknya. Hawa dingin merebak cepat dari pori-porinya, bibirnya terus mengigau cepat seiring badannya yang bergetar hebat. Jantungnya yang dari tadi berdetak lemah justur berdetak sangat cepat dan tak beraturan, nafasnya tersengal-sengal.
“Panggil Brian segera,” perintah Dorm pada Dokter Cald, Dokter Cald segera berbalik dan meraih michrophone-nya,
Dorm mengarahkan tangannya ke arah wajah Alfred, tangannya yang pucat mengelus wajah Alfred. Tangannya yang sebelah lagi merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah botol tabung kecil berisi cairan ke-emasan, tangannya membuka mulut Alfred lembut dan memasukkan cairan itu kedalam mulutnya. Dorm melepaskan botol tabung itu dari tangannya, suara ‘klentang’ terdengar seiring jatuhnya botol itu.
Ia mengarahkan kedua tangannya tepat di bagian jantung Alfred. Dorm memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba fokus pada sesuatu. Sebuah cahaya bewarna biru terang terpancar dari tangan Dorm. Mata Alfred terbuka seketika, membelalak lebar dan tubuhnya melengkung seakan tertarik ke atas. Badannya mengejang hebat dan tak henti bergemetar. Dorm mengalihkan tangannya untuk menahan tubuh Alfred tetap di ranjangnya, cahaya bewarna biru itu masih terpancar dari tangannya. Alfred berhenti mengejang seketika, jantungku berhenti dan paru-parunya berhenti bernafas, matanya masih membelalak lebar menatap Dorm.
“ARGH!!!”
***
Satu tahun kemudian
Ruangan itu sangat besar, bahkan nyaris dua kali lapangan sepak bola. Dengan warna putih yang mendominasi, retak-retakan tebal dan tipis tertera jelas di seluruh ruangan itu, bagai ukiran abstrak.
“Lagi!” perintah Dorm dingin tanpa menoleh, matanya memperhatikan retakan terbaru yang cukup dalam di ruangan itu.
“Tidak mau!” bantah sebuah suara yang terdengar dari belakang Dorm. Dorm memutar bola mata dan mendelik ke arah suara itu.
“Lakukan sekali lagi! Alfredgar Storm!” Dorm mengulang perintahnya dengan nada yang lebih keras dan tegas, ia mengeja nama Alfred dengan nada yang menusuk. Alfred bangkit dari duduknya, tangannya mengelap darah yang mengalir dari pelipisnya karena terhempas ke dinding di belakangnya, bibirnya berkomat-kamit cepat mengumpat Dorm.
“Aku mendengarnya.”
“Argh! Kau menyuruhku mengulang-ulang itu terus selama tiga hari ini, tanpa makan! Tanpa minum! Aku lelah tau!” cerocos Alfred panjang lebar pada Dorm, omelan itu hanya ditanggapi dingin oleh Dorm.
“Sudah kubilang jika kau bisa menghancurkan ruangan ini dalam satu serangan kau dapat keluar dari ruangan ini,” ucap Dorm, dingin, Alfred hanya bersungut-sungut di belakangnya.
“Kak… Ayolah,” rajuk Alfred melancarkan andalannya, suaranya terdengar lembut yang manja, bahkan orang dingin seperti Dorm saja sering luluh karenanya.
“Jangan lakukan itu!”
“Kak…”
“Alfredgar Storm!” Dorm mendelik ke arah Alfred, kali ini rayuannya benar-benar tidak mempan.
“Aku lapar!” Alfred kembali merajuk di depan kakaknya, wajahnya cemberut dan tampak kesal, bibirnya manyun.
“Bagaimana bisa kau bertahan di medan perang jika kerjamu hanya mengeluh saja ?! Kau memintaku mengijinkanmu untuk ikut perang tapi bertahan tiga hari saja tidak bisa!” Gerutu Kakaknya sambil menatap Alfred garang, Alfred lagi-lagi hanya dapat bersungut-sungut.
Alfred berjalan beberapa langkah ke depan melewati Dorm, lalu berhenti tepat di tengah-tengah ruangan. Ia mengarahkan kedua tangannya ke depan dan menumpuk kedua tangannya menjadi satu sehingga membentuk sebuah lengkungan seperti posisi tangan seseorang yang hendak menangkap bola rugby. Alfred memejamkan matanya sejenak, memfokuskan dirinya pada kekuatan ruh yang terdiam dalam dirinya untuk beberapa saat.
“Bangkitkan emosimu.” Suara Dorm terdengar jelas ditelinganya disela-sela usahanya untuk berkonsentrasi, Alfred memejamkan matanya lebih rapat dan memfokuskan lebih dalam lagi.
Tiba-tiba Alfred membuka matanya, bola matanya yang bewarna hijau zamrud menjadi bersinar sangat terang, cahaya bewarna hijau-putih berpendar dari tangannya dan mulai merambat ke lengannya. Alfred mencoba menekan kekuatannya hingga batas maksimal, cahaya itu mulai memenuhi ruangan, merambat cepat keseluruh sudut ruangan dan masuk ke sela-sela retakan.
Cahaya itu semakin menguat, membesar dan semakin memanas. Karena sering bolak-balik membangkitkan kekuatan selama beberapa hari ini, tahap itu sudah dikuasainya, yang tersusah adalah tetap menahan kekuatan dan terus menambahkan kekuatannya, lalu menekan ruh hingga ke batas maksimal.
Alfred merasakan kekutannya mulai menurun. Ia memejamkan matanya rapat-rapat dan mencoba untuk lebih fokus, namun hal itu sia-sia. Cahaya bewarna hijau itu berpendar sangat terang sehingga nyaris bewarna putih, cahaya itu mulai meredup perlahan-lahan. Otak Alfred berpikir keras, keringat mengalir deras dari pori-porinya, darahnya mengucur kembali dari pelipisnya akibat tekanan yang ditimbulkannya.
“Bangkitkan emosimu.”
Kata-kata Dorm terngiang di kepala Alfred. Emosi! Ya, emosilah yang diperlukan Alfred. Kekuatannya selalu meningkat beberapa kali lipat setiap kali emosinya berada di puncak tertingginya. Alfred mencoba fokus, dan mulai memikirkan hal-hal yang selama ini dapat membangkitkan emosinya.
“Bodoh! Ulangi lagi.” Kata-kata itu terngiang dalam pikiran Alfred, kalimat cemooh itu dilontarkan Dorm ketika dia pertama kali belajar menciptakan gelombang cahaya.
“Payah! Kau memalukan!” cemoohan yang pernah dilontarkan Dorm dulu kembali muncul dalam kepala Alfred.
Alfred merasakan badannya bergemetar hebat, cahaya yang sempat meredup itu kembali membesar dan semakin panas. Cahaya itu merambat ke lengannya lalu ke lehernya, badan Alfred telah dikelilingi cahaya bewarna hijau itu.
“Alfred?” panggil Dorm mulai cemas melihat perubahan yang terjadi pada Alfred. Cahaya itu semakin membesar, membesar, dan membesar.
“Alfred?”
“Alfred!” Cahaya itu telah memenuhi seluruh ruangan, Dorm berusaha melihat Alfred yang berdiri beberapa meter di depannya, namun nihil, cahaya itu terlalu menyilaukan.
Alfred mencoba mengendalikan dirinya, namun kekuatan itu justru semakin bertambah besar. Alfred dapat merasakan darahnya mengalir hingga ke lehernya. Alfred mencoba memberhentikan aliran ruh yang menguasainya, tapi sia-sia. Ruh itu telah benar-benar menguasainya dan cahaya itu meledak…
Cahaya itu meledak seketika dan berterbaran bagai salju, lalu mulai meredup perlahan-lahan. Alfred terhempas hingga menabrak dinding di belakangnya, dinding itu remuk seketika. Mata Dorm membelalak lebar melihat adiknya terhempas dari jarak sepuluh meter, matanya berpindah cepat dari Alfred yang pingsan ke langit-langit ruangan yang sudah nyaris runtuh. Dorm melompat secepat kilat ke arah Alfred dan membuat seperti gelombang cahaya kecil yang mengelilingi mereka berdua.
Lalu semuanya gelap…
Ruangan itu benar-benar gelap, Dorm menjetikkan jarinya dan sebuah cahaya kecil terpancar dari ujung-ujung jarinya, menerangi bola cahaya yang mengelilinginya dan Alfred. Suara pintu yang bergeser membuat Dorm mengalihkan pandangannya dari wajah Alfred ke arah pintu.
“Kapten? Apa yang terjadi?” tanya Brian diikuti beberapa perwira lainnya.
“Singkirkan dulu reruntuhan ini.” Brian dan para perwira lainnya segera menyingkirkan reruntuhan yang menimpa Alfred dan Dorm, untung saja reruntuhan itu dapat ditahan oleh Dorm dengan gelombang cahayanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Brian sekali lagi sambil membantu Dorm berdiri.
“Alfred benar-benar menggunakan kekuatan maksimalnya.” Brian mengangguk singkat, mengerti apa yang terjadi, Dorm kembali merunduk dan mengangkat Alfred.
“Siapkan ruang kesehatan.”
“Baik.”
***
Alfred membuka matanya perlahan, langit-langit bewarna putih terang langsung terpampang di matanya. Sekilas Alfred mengira ia masih berada di ruangan yang sama tempat terakhir kali ia berada, namun ruangan itu tidak memiliki retakan-retakan yang seharusnya ada di langit-langit ruangan itu.
“Kau sudah sadar, ya?” sapa sebuah suara parau yang terdengar tidak jauh dari tempatnya, Alfred mencoba menoleh, tapi tulang lehernya terasa sangat sakit.
“Jangan dipaksakan.” Tiba-tiba pemilik suara itu telah muncul tepat di hadapan Alfred, membuat Alfred terkejut setengah mati.
“Dokter Nexon?”
“Hai! Selamat datang kembali,” sapa Dokter Nexon ceria sambil menyuntikkan sebuah cairan ke dalam infusnya, ia terkekeh pelan memperlihatkan giginya yang mulai ompong.
“Apa yang terjadi?” tanya Alfred langsung sembari berusaha duduk, wajahnya masih pucat karena terkejut tadi.
“Kau pingsan karena terlalu banyak menekan kekuatan ruh mu, kau ingat ?”
“Hai, semua!” potong sebuah suara yang berasal dari pintu, Alfred dan Dokter Nexon menoleh ke arah suara itu. Brian berdiri di ambang pintu dengan baju merah-hitam tentaranya, baju tentara untuk wakil kapten di semua divisi.
“Hai, Brian,” balas Alfred, Brian berjalan masuk sambil membawa nampan berisi makanan.
Brian meletakkan nampan itu di atas meja geser yang di tempatkan di depan Alfred, Alfred langsung menyambar sup ayam jagung yang masih hangat dan kental, tangannya juga langsung mencomot roti yang juga masih hangat.
“Brian?” panggil Alfred, yang dipanggil segera mendekat.
“Dimana Dorm?”
“Kapten? Oh, dia sedang pergi.”
“Pergi? Kemana?” tanya Alfred lagi masih tak puas dengan jawaban yang diberikan Brian.
“Perang dimajukan, Alfred.” Alfred terdiam sejenak, mengartikan kata-kata Brian barusan, dalam hitungan detik alisnya telah bertaut. Wajahnya yang tadinya tampak segar berubah merah seketika. Ia melipat tangannya tepat di dadanya, bibirnya manyun dan alisnya bertaut.
“Dia sudah berjanji akan mengajakku jika aku berhasil menyelesaikan pelatihan ini!” gerutu Alfred tak terima, ia menatap Brian kesal.
“Alfred… Ia sungguh tak mau mengingkari janjinya, perang dimajukan dan kau saat itu belum sadar,” jelas Brian, lembut, tapi Alfred tetap tidak mau terima.
“Kenapa tidak bangunkan saja aku atau semacamnya?!”
“Tidak semudah itu, Alfred.”
Alfred masih tidak terima dengan penjelasan Brian. Dia mati-matian mau melakukan pelatihan ketat Kakaknya agar diijinkan untuk mengikuti perang. Alfred sudah menunggu-nunggu ketika hari itu tiba selama satu tahun, dan sekarang Kakaknya mengikari janjinya. Brian mendesah pelan dan duduk di sampingnya.
“Jangan seperti anak kecil begitu,” bujuk Brian mengacak rambut Alfred, Alfred masih tetap tak bergeming.
“Begini saja,” Brian berdiri dari duduknya dan membetulkan ikat pinggangnya, “Jika kau sudah benar-benar pulih esok, kau akan kuijinkan ikut bersamaku di pesawat terakhir, bagaimana?”
Secercah senyum terukir di wajah Alfred, ia langsung berdiri—meloncat lebih tepatnya—memeluk Brian yang sudah seperti Kakak keduanya sendiri. Brian terkekeh senang dan mengacak rambut Alfred. Wajah Alfred merona merah karena senang, bukan lagi karena marah.
Pagi-pagi sekali Alfred telah bangun dari tidurnya. Alfred mengenakan baju seragam perwira bewarna putih dengan warna biru muda di pinggirannya, ikat pinggang hitam dan topi yang bewarna putih-biru juga, dengan langkah tegap ia berjalan keluar kamar.
Pesawat diluncurkan tepat jam 7.00 pagi, pesawat diluncurkan di bawah pimpinan Brain dengan tugas sebagai tim pembantu pesawat Frons 5 - 1 yang dipimpin oleh Dorm. Perang ini adalah perang terbuka melawan kelompok Cronch, kelompok Cronch sudah lama menentang pemerintahan dan telah menduduk sepertiga zome.
Jarak antara markas terdekat dan tempat wilayah kekuasaan Cronch memakan kurang lebih sembilan jam perjalanan. Alfred terus gelisah di tempatnya dan berjalan mondar-mandir di kabin pesawat.
“Tenanglah, Alfred, tak ada yang perlu kau cemaskan,” ujar Brian mencoba menenangkan Alfred.
“Aku tidak mencemaskan apa-apa, aku hanya tidak sabar untuk berperang.” Alfred akhirnya menghempaskan tubuhnya ke sebuah sofa.
“Tenangkanlah dirimu, itu akan sangat membantu.”
Brian berdiri dan pergi untuk mengecek keadaan. Alfred duduk sendiri di kabin pesawat, sudah tujuh jam perjalanan sejak mereka bertolak dari markas paling barat—markas terdekat dengan wilayah kekuasaan Cronch. Alfred memandangi senjata laras panjang yang tergeletak di sampingnya, Brian memberikannya sebelum mereka berangkat, walaupun Brian mengerti dengan jelas Alfred mempunyai kekuatan yang jauh melebihi senjata itu. Tapi justru karena kekuatan yang dashyat itulah yang Brian takutkan, pemerintahan belum tahu apa maksud dari kelompok Cronch, dan kenyataan Alfred adalah seorang Freum juga harus disembunyikan terlebih dahulu.
“Wakil Kapten Brain? Kami mendapatkan pesan dari Frons 5 – 1,” panggil sang pilot ketika Alfred berjalan-jalan ke ruang kokpit, balasan terdengar dari ujung michrophone itu.
“Ada apa?” tanya Brain begitu sampai di ruang kokpit, sang pilot menggelengkan kepalanya sambil melepas headsetnya.
“Kapten Dorm tertangkap.”
“Apa?!” tanya Alfred dan Brain bersamaan, nada keterkejutan terdengar jelas dari keduanya.
“Oh, tidak.”
“Mereka meninggalkan pesan, sir,” ucap pilot itu, lalu memencet tombol sebuah kamera yang terletak di ruang kokpit berputar ke arah bawah dan memunculkan gambar virtual.
“Kapten Dorms ada di tangan kami, kami tahu bahwa ada seorang Freum muda, kami menginginkannya. Serahkan dia di perbatasan wilayah atau Dorm akan mati, kami telah meminumkan serum padanya agar ia tidak dapat menggunakan kemampuannya,” ujar seseorang laki-laki dari gambar virtual itu, Alfred mendesis.
“Suruh semuanya bersiap,” perintah Brain dingin pada pilot itu, sang pilot mengangguk singkat lalu mengambil michrophonenya.
“Tidak, kirimkan aku ke perbatasan, biar aku yang menyelesaikannya.”
Alfred berdiri di perbatasan, sebuah gurun sahara terpampang di depannya, sebuah jurang besar—yang Alfred perkirakan pasti sangat dalam—terdapat ditengah-tengah gurun itu.
“Jadi kau bocah Freum itu ya?” Salah seorang laki-laki berdiri di depan Alfred tiba-tiba, kulitnya putih dengan mata biru bersinar, wajahnya licik dengan senyum aneh yang mengiasi wajahnya.
“Dimana Dorm?” tanya Alfred langsung, suaranya dingin dan menusuk.
“Jangan terburu-buru begitu, dear. Mari kita bicarakan ini baik-baik, kawan,” ucap laki-laki itu menghiraukan pertanyaan Dorm, ia menggiring Alfred ke arah jurang itu, sebuah lift muncul dari dalam.
“Alfred!” panggil sebuah suara yang amat dikenal Alfred, Alfred mencari-mencari asal suara itu, pandangannya tertuju pada Dorm yang berdiri di salah satu satu lorong, kedua tangannya di rantai, beberapa orang penjaga mengejar Dorm dari belakang.
“Cih!” Seketika pria bermata biru itu berbalik, ia membentuk tangannya menjadi sebuah lengkungan, sebuah cahaya biru keluar dari tangannya dan menghantam tepat di dada Dorm, Dorm jatuh seketika.
“Tidak!” jerit Alfred, tangannya refleks membentuk lengkungan yang sama dan mengeluarkan cahaya bewarna hijau seperti ketika mereka latihan. Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun.
“Kau tahu bocah Freum? Aku sama sepertimu!” cibir laki-laki itu tampak senang, ketika melihat Alfred beraksi, ia juga memposisikan tangannya sama seperti Alfred.
Cahaya itu semakin membesar dan memanas, jauh lebih besar daripada cahaya yang dibuat Alfred ketika latihan. Cahaya itu berbentuk seperti bulatan besar dan memenuhi seluruh jurang lalu salah satu bagiannya melancip dan meluncur dengan kecepatan penuh menusuk tepat di jantung pria itu, dan pria itu mati seketika.
Lalu semua cahaya itu lenyap. Tubuh Alfred oleng karena kehabisan tenaga, terjatuh dan tak sadarkan diri
***
Embun masih menyelimuti pagi yang dingin, para perwira dari seluruh divisi telah berkumpul di lapangan pagi itu, menggunakan seragam terbaik mereka dalam posisi sempurna. Alfred menaiki podium yang dilapisi karpet merah, menghadap presiden pemerintahan zome, Dormistler Storm.
“Dengan ini, kunyatakan kau resmi sebagai kapten divisi pertahanan pemerintah, Kapten Alfredgar Storm,” ucap Dorm lantang sambil sedikit menunduk memasukkan medali ke leher Alfred, lalu menunduk hingga kepalanya sejajar dengan Alfred.
“Aku bangga padamu, Adikku.”
ini ceritanya udah selesai iia?
udah :)
hahahaha... thanks
@Ndyw : makasih :D
kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen,,,,
endingnya juga aq suka,,, beneran speachless biz
------------------------------------
cewek toh,,,
aq kira cowok :D
ini cewek....hiks..hiks
wah, q jadi merasa terhormat nih......
ok-ok... sudah ku baca kok, komenku gak masuk ya??? wkwkwkwk...
@ KEY : hehehehehe, ceritamu juga keren (cerita kalian smua sumpah keren abis...), aku gak tega klo sad ending he3
@ adrian : yup, all!
@ samael : ah.. boleh-boleh, ke jepangnya itu yang sulit wkwkwkwk
Ho ho ho. Ceritanya menarik. Bingung mau komen apa. Komen yang ini aja deh:
.
Ruangan itu sangat besar, bahkan nyaris dua kali lapangan sepak bola. Dengan warna putih yang mendominasi, retak-retakan tebal dan tipis tertera jelas di seluruh ruangan itu,
.
Maksudnya seluruh dinding ruangan, termasuk lantai dan langit-langit kan?
------------------------------
Fantasy Fiesta 2009: Götterdämmerung
Battle scene-nya mantap, jadi ingat masa muda... (haha, emang sekarang saya setua apa?)
.
Happy ending lagi... suka deh ^^ (ceritaku ngga happy ending sih...)
.
Salam kenal ya sebelumnya,
.
my Fantasy Fiesta
2012 : The Truth of God
Good job...!
Bner tuh! Aku jg sempet ngira km cwo! Udah namanya akatsuki, gambarny mendukung lg!
gitu ya?? emang gya ceritaku ky cowok ya???
secara keseluruhan, cerita ini OK, sip sip.
Gimana kalo deskripsi tentang waktu dan tempat
kejadian agak diperjelas dan dikuatkan dengan
logika yang berlaku, namun jangan sampai bertele-tele.
Idenya OK, bikinlah beberapa jebakan agar sedikit
ada rasa penasaran untuk episode selanjutnya.
Selamat berkarya, dikau emang berbakat, sip sip !
bukannya gak mau k, but berhubung bts maksimalnya 3000 word (versi ms word) jd q harus menghemat kata....wkwkwkwk
Kamu cewekkan? hebat bisa bikin cerita kyak gini, salut dah :)
hehehehe ceritanya mbak onik juga keren, tapi masih bersambung ya??? bisa mbuat cerita kaya gini (akibat terlalu sering baca komik cowok bukannya cewek) wkwkwkwkwkwk
Jadi inget bleach....hehehe...
Kamu pinter juga bikin fantasi...apalagi waktunya singkat banget....salut...aku punya applause untk kamu
thanks he3... kejer-kejer nih buatnya.... frustated