Ramdan berdiri diam bagai patung di depan salah satu kedai makanan, matanya berpindah-pindah dari satu kedai ke kedai lain. Berkali-kali Ramdan mendengus kesal mengutuki kebodohannya sendiri. Pengunjung-pengunjung mal lainnya—yang sebagian besar adalah murid-murid LIHS—tampak memperhatikannya yang sudah berdiri nyaris setengah jam di tempat yang sama.
Read more (1430 words)
Bukan salahnya juga jika Ramdan kembali terdampar di tempat asing lagi. Sena mencercanya habis-habisan gara-gara dia berkelahi dengan anak-anak SMA Citra Kencana dua hari lalu. Belum lagi perutnya yang telah memberontak karena berminggu-minggu selalu diisi makanan siap saja yang tak lebih dari piza dan ayam goreng.
Sebenarnya, Sena tidak begitu marah padanya. Sena hanya memperingatkannya agar menutupi kejadian itu dan menanyakan alasannya. Tentu saja, seorang Sena yang jutek luar ‘binasa’ tidak akan mengurusi hal-hal sepele seperti itu, tapi setelahnya itu yang buruk. Ketika Ramdan mengatakan jika anak-anak SMA Citra Kencana itu berniat memperkosa Rey, wajah Sena yang tanpa emosi berubah merah seketika, giginya bergemeletuk keras sambil mengumpat dalam bahasa Indonesia yang pastinya tidak Ramdan ketahui.
Walaupun begitu, bukan masalah Sena yang marah padanya yang membuatnya memutuskan untuk ke mal terdekat dan bukannya pulang ke apartemennya, tapi lebih pada… Reaksi Sena saat ia mengatakan Rey mau diperkosa oleh anak-anak SMA Citra Kencana itu. Tapi toh itu bukan masalah besar juga. Perutnya yang tidak biasa makan makanan siap saji telah memberontak, jadi Ramdan memutuskan untuk pergi ke mal dan makan siang.
Dan sekarang masalahnya… Ia tidak mengeri satupun dari jenis makanan itu dan nama-namanya.
“Hai,” sapa seseorang dari belakang Ramdan, Ramdan menoleh seketika dan menemukan Rey berdiri tepat dibelakangnya
“Hai.” Ramdan membalas sapaan Rey dengan sebuah senyum menawan, sebuah semburat merah terbentuk samar di sekitar pipi Rey yang pucat.
“Aku ingin mengembalikan ini.” Rey menyerahkan sebuah kemeja bewarna putih yang dimasukkan kedalam sebuah kantong. Kemeja seragam Rey memang sedikit robek karena berusaha memberontak pada para ‘bajingan’ itu, untung saja jasnya tidak ikut rusak karena anak-anak SMA Citra Kencana itu sudah melepas jasnya.
“Oh, ya…Thanks.”
“Tidak, harusnya aku yang berterimakasih. Jika begitu aku pergi dulu.” Rey membalikkan badannya dan berjalan lambat.
Ramdan memandangi Rey yang berjalan menjauh, sebuah ide terlintas di kepalanya,”Rey?”
“Ya?”
“Kau mau menemaniku makan siang? Aku tidak tahu satupun arti dari kata-kata ini, kurasa kau bisa mentraktirku. Tenang saja, aku traktir.”
***
Ramdan memandangi sebuah mobil sedan yang memasuki halaman parkir. Tangannya terlipat rapi di atas meja. Matanya kembali menyisir ruangan itu dengan seksama, dan ini tepat seperti yang dia harapkan.
Rey menyutujui ketika Ramdan memintanya menemani makan siang—membantu, lebih tepatnya. Ramdan bukan tipe orang yang suka berada di tempat yang ramai dan hingar bingar, beda dengan Evan yang suka ke klub malam bersama dengan wanita-wanita yang entah siapa. Rey menunjukkan sebuah restoran yang terletak sekitar enam puluh kilometer dari mal itu, tempatnya tenang dan jauh dari jalan besar, cukup asri walaupun keasrian itu adalah buatan tangan manusia.
“So, this is a first time you visit Indonesia? ” tanya Rey setengah tak percaya ketika Ramdan menceritakan mengapa ia tinggal di Indonesia.
“Ya,” jawab Ramdan singkat sambil tersenyum geli melihat ekspresi Rey.
“Kau gila.”
“Memang.” Ramdan mengucapkan kata itu sambil menahan tawa melihat raut wajah Rey, rahang bawahnya seakan selalu tertarik, membentuk sebuah senyum menawan yang membuat siapapun berdesir.
“Sekarang ceritakan tentang dirimu.”
“Aku?”
“Ya,” jawab Ramdan antusias, Rey mengernyitkan dahi.
“Tak ada yang menarik dari hidupku.”
“Aku sudah menceritkan tentang diriku, tidak adil jika kau menolak menceritakan tentang dirimu,” desak Ramdan.
“Kan kau yang menceritakan sendiri, bukannya aku yang minta,” protes Rey tidak setuju, Ramdan hanya tersenyum tanpa arti.
“Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil, ayahku seorang pengusaha, dan kakakku aktor,” ujar Rey singkat dan tak berminat.
“Sena bilang kau sakit parah, benarkah?” ungkit Ramdan hati-hati, Rey menawan tawa mendengarnya.
“Ya, aku sakit parah, sangat parah…” Rey masih terus menahan tawa sambil sesekali menyeruput es cendolnya. Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka, Rey memesan gado-gado dan untuk Ramdan, dia pesankan nasi goreng, makanan paling umum yang menurutnya paling cocok untuk Ramdan.
“Seriuslah!”
“Sungguh, Ramdan. Aku sakit parah, hanya saja kau tidak bisa melihatnya.” Nada suara Rey berubah menjadi serius, ia menatap Ramdan dalam-dalam mencoba mengetahui reaksinya.
“Mungkin aku akan mati besok, lusa, minggu depan, bulan depan, kapanpun waktu bisa menjadi hari bersejarah itu bagiku,” lanjutnya lagi.
Ramdan terdiam, menatap Rey dalam-dalam sama seperti yang dilakukan Rey tadi, mencoba mencari jejak keisengan yang mungkin terselubung dalam matanya. Tapi mata itu memang bekata yang sebenarnya, mata lugu seperti mata seorang anak kecil yang tidak dapat menyembunyikan perasaannya, hanya saja mata lugu itu… hampa.
“Kau tidak tampak seperti orang sakit parah,” komentar Ramdan datar sambil menyeruput jus alpukatnya.
“Mungkin, tapi sebetulnya tidak begitu.”
“Kalau aku boleh tahu, penyakit apa itu?” Ramdan bertanya dengan sangat hati-hati, tidak mau membuat Rey merasa tersinggung atau sebagainya, tapi Rey justru hanya tersenyum simpul padanya.
“Guillain barre syndrome . Penyakit yang timbul akibat pembengkakan syaraf peripheral, sehingga tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang diterima oleh otot—seperti bernafas misalnya. Biasanya gejalanya baru tampak semakin parah selama 3-4 minggu. Biasanya juga penderita penyakit ini hanya butuh waktu beberapa minggu atau beberapa bulan untuk sembuh, tapi ada juga yang meninggal atau bahkan lumpuh,” jelas Rey panjang lebar.
“Berarti kau bisa sembuhkan?”
“Aku tidak tahu, aku sudah mengidap penyakit ini sejak tiga tahun lalu, dan penyakit itu seperti terus bersarang ditubuhku. Memang sembuh saat setelah diobati tapi beberapa bulan kemudian kambuh lagi bahkan seringkali lebih parah.” Ramdan kembali menatap Rey seksama, tak ada satupun nada kesedihan tersirat dari suaranya, sangat ceria dan biasa, seakan mereka berdua hanya tengah membicarakan sebuah topik yang tak ada sangkutannya dengan nyawa.
“Bagaimana reaksi keluargamu?”
“Tentu saja tidak akan yang senang oleh diagnosa itu kan?” Rey tertawa kecil mendengar pertanyaan Ramdan,”Ibuku meninggal tak lama setelah itu, Kakaku berubah jadi kejam dan Ayahku jadi sangat tidak pedulian.”
Rey mengatakan semua itu dengan sangat mudahnya, membuatnya lebih terlihat seperti sebuah bualan. Tak ada raut kecewa, sedih, atau apapun yang ‘sewajarnya’ ditunjukkan oleh orang yang sedang sakit parah. Tapi justru itu yang menarik perhatian Ramdan, semuanya sangat tidak wajar. Berbagai pertanyaaan berkelibat dalam batin Ramdan, terlalu banyak yang disembunyikan Rey, terlalu berat.
Rey mengajak Ramdan ke sebuah tempat yang sudah tak asing lagi bagi Ramdan, SMA LIHS. Ramdan sempat tercengang ketika tempat istimewa yang Rey maksud itu adalah gedung SMA ini. Rey mengajak Ramdan ke lantai teratas tempat ini dan memanjat bagian samping ruang astronomi hingga ke atapnya yang rata, ke bagian tertinggi sekolah.
Ramdan menatap takjub ke arah barat gedung, cahaya bewarna kemerahan berbentuk setengah lingkaran terpancar dari belakang-belakang gedung tinggi, tidak ada gedung yang benar-benar menutupi sunset itu. Langit sangat cerah hari ini, bewarna merah ke-kuningan, mengiringi pergantian hari.
“Indah kan?”
“Ya, indah sekali,” ucap Ramdan takjub.
“Ini tempat favorit ku.”
Mereka berdua terdiam sambil menatap matahari yang semakin lama-semakin tenggelam ke tempat peristirahatannya. Sesekali Ramdan melirik ke arah Rey yang duduk disampingnya, matanya memandang matahari itu. Dan sekilas, Ramdan melihat air mata menetes ujung matanya.
Tiba-tiba Rey meluncur turun dari atap ruang astronomi, Ramdan mengikutinya dengan melompat kecil ke bawah.
“Jadi hutangku padaku sudah lunas kan?” Rey tersenyum sambil memandang Ramdan.
“Ya, sepertinya,” ucap Ramdan tersenyum kaku.
“Jika begitu aku pulang dulu.” Suara Rey terdengar lirih dan getir.
“Ya.”
Ramdan memandangi Rey dari belakang. Tubuhnya yang dibungkus oleh sebuah kemeja bewarna coklat muda tampak rapuh di matanya, rok sebatas lutut bermotif kotak-kotak yang bewarna coklat-hitam itu bergerak anggun seiring langkah kaki pemiliknya, sebuah syal bewarna putih gading tipis dililitkan begitu saja sehingga ujungnya berkibar terkena hembusan angin.
Tiba-tiba Rey merasakan tangannya ditarik lembut oleh seseorang, dia merasakan tubuhnya berputar dan dalam sekejap dia menemukan tubuhnya telah berada dalam dekapan Ramdan.
“Lepaskan, Rey,” gumam Ramdan lirih, suaranya terdengar parau.
“Apa?” tanya Rey heran sambil berusaha melepaskan pelukan Ramdan.
“Lepaskan semuanya, aku tidak tahu sudah berapa lama kau menyimpan ini, tapi lepaskan rasa itu sesaat saja selagi engkau bisa.”
Rey menatap wajah Ramdan yang memandangnya sedih, air matanya mengumpul di ujung pelupuk matanya. Rey berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh ke pipinya. Tidak, Rey tidak mau menunjukkan kesakitan yang dirasakannya pada Ramdan. Tapi air mata itu semakin mengumpul ketika Rey semakin berusaha mencegahnya jatuh, dan akhirnya… Air mata itu jatuh.
Rey menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ramdan. Melepaskan semuanya topeng ceria yang telah dipasangnya selama bertahun-tahun. Membiarkan tangis menguasainya untuk sesaat.
“Menangislah Rey, selagi kau bisa menangis.”
Dan disana, seorang laki-laki tengah berdiri memandang kedua insan yang berpelukan di bawah sinar senja. Rambutnya yang bewarna merah-hitam terlihat basah, dengan baju yang kusut membungkus tubuhnya asal-asal. Kesedihan tersirat dari matanya, mata penuh penyesalan.
BL yaaah??? waaah!!! mau2!! genre fav aku ni. wkwkwk. xP ceritanya bgs bgt tapi... alurnya ga kecepetan yah? rasanya kok si ramdan tuh tangannya cepet bgt. maen peluk2 gitu ke cewek yg bru dia kenal. wkwkwk.
tapi aku suka karakter ceweknya! bukan yg tipe lebay gitu. bagus2. XDD lanjut dong lanjut.
pecinta BL ga masalah kan? justru cerita BL malah keren2. dan lagi (lmyn) susah bikin cerita2 normal disini. yg rikues BL byk bgt. wkwkwk.
Boleh BL, tp jgn pke karakter Sena... (Ga relaaaa)
Kalw yg laen blh deh... Bwt aja tokoh bru... (Terlalu cinta ama Sena :-)) )
Numpang Lewat... :-)
Crita baruku dah ada lo...
Bca y! Hehehe
Susah jg kalw nama sama...
The Note 9 mana??
Hm..., berhubung gak ngikutin dari awal jadinya bingung sendiri :-D
Ehm, mbak Intan doyan BL juga ternyata B-)
Hm..., penulisan dan deskripsinya bagus, mungkin yang bikin pusing (bingung kali ya) adalah perpindahan lokasinya (Tatsuke mulai ngawur lagi =)) ) Hm...,
Ngggaaaaak... :-(
Siapa yg suka komik BL?!?!
Eh ketua akatsuki, jgn di buat BL antara sena n ramdan, kalw ramdan ama y lain, blh deh...
(Yah, sma aja... :p)
Kok mbak si? Aq kn bru 15 thn??
nama gue Anita Intan say, mungkin yang dimaksud q, soalnya dia pernah chat sama q...hahahahahaha (soalnya gue doyan bl dan dia tau itu :D)
hm... Sena n Ramdan ya? hm.. hm.. hm... ok..ok.. request dikabulkan (silahkan berhip-hip hore! wkwkwkwkwk)
wah.. berarti q manggil kmu mbak/kk, donk!
hehehehehehehe... makanya.. dibaca dari awal ya.. wkwkwkwkwk htung2 ngisi waktu luang.. :D
Akhirnyaa... Keluar juga...
Eh, yg ngeliatin tuh si Sena 'kan? ;-)
(Jangan2 Sena suka lg ama Rey, apa Ramdan jg??!! ) :-o
oooo......
yup, thats right, thats Sena....
silahkan ditebak, dia suka sama Rey ato Ramdan (kemungkinan boyslove terbuka lebar ) :D
sekadar clue aja...
besok gilirannya Sena....
hhmm.... you will now, tomorrow...
sori gak bisa nge-pos sekarang, ada acara nih... wwkwkwkwkwk...
BL! BL! BL! Wkwkwkwkwkwkwk...
Tema BL?!?! :o (kuperingatkan jgn coba2 merusak imej Sena, please... )