Zheik, The One With Power - 3rd Scroll Chapter 1

Day 13th of Siwali, 514 Bés Yua’s Years

Desa Hallari

Puluhan penduduk desa Hallari berkumpul di depan balai desa, halaman balai desa yang luas menjadi sesak. Hampir seluruh orang dewasa di desa Hallari bekumpul di sana. Suara para penduduk yang bercerita membahana, suasana menjadi ribut.

Seorang yang sudah tua berjalan menuju depan pintu balai desa. Dia baru saja datang dari rumah. Begitu sampai di depan balai desa, orang tua itu memimpin pembicaraan. Dia adalah Kepala Desa Harali.

“Wargaku sekalian!” Kepala Desa menghentikan keributan “Seperti yang kita ketahui, keberadaan Classyalabolas Collat mulai mengganggu kestabilan perekonomian desa kita. Para pedagang dari kota Sahar yang hendak memasuki desa kita terpaksa harus memutar menghindari hutan Collat. Ini tentu saja mengakibatkan tidak tentunya kedatangan mereka dan sektor perdagangan kita menjadi merosot.”

Penduduk yang tadi sibuk dengan cerita masing-masing menghentikan pembicaraan dan menatap ke arah Kepala Desa. Mereka sebenarnya tidak begitu mengerti kenapa mereka diperintahkan untuk berkumpul di balai desa pagi ini. Mereka hanya mengikuti seruan dari pengawal Tuan Tanah yang memaksa mereka untuk berkumpul di balai desa.

”Aku takut kalau dibiarkan terlalu lama, maka akan berakibat hancurnya perekonomian desa kita. Oleh karena itu, dengan izin dari pihak istana Bés Yua, aku dan Tuan Tanah mengajak orang-orang terkuat desa ini untuk membunuh Classyalabolas Collat.” Kepala Desa melanjutkan. Para penduduk kembali ramai. Riuh.

“Tenang, semuanya tenang. Pihak Kerajaan sudah memberikan ijin! Dan jika kita berhasil membunuh Classyalabolas Collat, pihak Kerajaan akan memberikan imbalan yang pantas bagi desa kita.” Kepala Desa mencoba mengendalikan situasi. Kepala Desa mengeluarkan beberapa lembar kertas yang dia dapat dari Tuan Tanah tadi malam. Surat-surat dari pihak Istana Bés Yua.

”Tapi Pak Kepala Desa, puluhan bahkan ratusan prajurit istana tidak bisa membunuhnya. Bagaimana mungkin kita yang hanya penduduk biasa ini bisa mengalahkannya?” seorang penduduk merasa hal itu adalah sesuatu yang mustahil.

“Aku tahu ini tidak mudah. Tapi kami yakin, jika semua orang-orang kuat di desa ini bersatu maka Classyalabolas Collat sekalipun tidak mampu menghalangi. Seiring bertambahnya waktu, tentu kreyzure itu juga semakin tua. Semakin lemah.” Tuan Tanah ikut menimpali. Penduduk desa mulai terpancing oleh kata-kata Tuan Tanah.

“Aku akan memberikan imbalan yang sama bagi semua yang ikut membantu membasmi kreyzure itu. Tidak hanya satu orang yang akan menerima uang, tapi masing-masing orang yang ikut berjuang akan menerima seribu Strici.” Tuan Tanah menambahkan.

Pallas yang juga berada di tempat itu merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Tuan Tanah. Entah kenapa dia merasa Tuan Tanah sangat bersemangat sekali. Apa mungkin keuangannya juga menjadi terganggu akibat Classyalabolas Collat pikir Pallas.

”Aku juga sudah menyewa empat orang prajurit bayaran yang terkuat dari Bés Yua untuk ikut beserta rombongan kalian.” tambah Tuan Tanah seolah-olah yakin dengan kekuatan prajurit bayaran Classyalabolas Collat bisa dikalahkan.

Pallas menatap prajurit-prajurit bayaran yang disewa Tuan Tanah, badan mereka besar dan tegap. Umur mereka pun masih muda, mungkin hanya 5 tahun lebih tua dari dirinya. Pallas tersenyum kecil, empat prajurit bayaran yang muda dan kokoh berdiri di depan balai yang terbuat dari kayu dan berumur hampir dua kali lipat umurnya. Sudah sering dilakukan perbaikan untuk membuat bangunan tua ini tetap berdiri. Sesuatu yang sangat berbanding terbalik lamun Pallas.

Pallas mengitarkan pandangan, halaman desa yang luas dan lapang menjadi terlihat sempit dengan kerumunan penduduk. Mengelilingi bangunan ini, pagar kokoh yang juga terbuat dari kayu. Pagar ini tidak setua bangunan balai desa. Pagar ini baru saja dibuat untuk memberi batas luas balai desa. Paling tidak ada yang tidak tua di sini, Pallas hanyut dalam lamunannya. Dia tidak mempedulikan pidato Tuan Tanah.

Tidak seperti Pallas yang tidak mempedulikan, beberapa penduduk desa Hallari mulai tergiur. Janji-janji Tuan Tanah menuai hasil dengan cepat. Apalagi karena perekonomian desa Hallari yang semakin hari semakin menipis. Duit memang menjadi strategi yang tepat yang diajukan Tuan Tanah.

“Hidup Kepala Desa! Hidup Tuan Tanah!” sorak orang-orang yang ingin ikut mendapatkan uang tersebut. Tuan Tanah hanya tersenyum melihat penduduk desa yang sangat antusias. Rencananya berhasil, sekarang tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan keuntungan. Rencana yang telah dia susun dengan rapi sejak lama ini tentu akan berhasil. Tuan Tanah menyalakan sebatang cerutu yang dari tadi hanya dia pegang. Sesaat dia menikmati rasa nikmat dari cerutu itu, kenikmatan itu semakin bertambah dengan suara sorakan penduduk Hallari.

Pallas tersentak dari lamunannya, dia melihat sesuatu yang aneh dari arah timur, kepulan debu dan pasir mendekat dengan cepat. Sebagian penduduk terbagi konsentrasi. Suara berderak kayu beradu dengan jalan terdengar keras. Pallas kini bisa melihat dengan jelas, sebuah trade cart yang ditarik dua ekor kuda sedang melaju dengan kecepatan penuh ke arah kerumunan penduduk. Kereta itu semakin mendekat melewati pintu pagar halaman balai desa. Meskipun sempat sedikit menabrak pagar namun hal itu tidak menghentikan laju kereta liar.

Pallas berteriak memerintahkan penduduk desa untuk menyingkir, namun sebenarnya dia ingin agar tidak terhimpit di tengah-tengah kerumunan massa. Dia ingin secepatnya menyingkir ke daerah aman, jauh dari kejaran kereta gila. Pallas merasa dia akan mati muda jika para penduduk desa ini tidak bergerak cepat, keringat dingin membasahi tengkuk dan dahinya.

Teriakan Pallas terbukti jitu, penduduk yang mulanya panik dan terkesima dengan cepat berlarian menghindar dari kejaran kereta liar itu.

“MINGGIR…AKU TIDAK DAPAT MENGENDALIKANNYA !” teriak sseorang gadis yang menjadi pengendara kereta barang. Kereta tak terkendali itu terus melaju ke arah balai desa dan membuat beberapa penduduk berlari kocar-kacir. Seorang prajurit bayaran Tuan Tanah maju ke depan menghadang kereta. Badan yang besar membuatnya yakin bisa menghentikan kereta itu. Kereta mendekat dan dengan keras prajurit bayaran berbadan besar itu menghantam kepala salah satu dari dua ekor kuda yang menarik kereta.

BRAK! Kuda yang dipukul terjatuh bersamaan dengan jatuhnya kereta. Tapi kereta tidak langsung berhenti meskipun jatuh. Kereta terus meluncur dan akhirnya menabrak balai desa. Debu semakin mengepul. Gadis yang mengendarai kereta terpental beberapa kaki dan terhempas dengan keras di tanah.

“Gelap..apakah aku sudah mati?…………”
“…………………”
”Di manakah aku?... ... ...”
“Apakah ini underworld?………”
“Tubuhku ……”
“…………………”

“Aku tidak bisa merasakan tubuhku…”
“Tanganku…………”
“Kakiku………”
“Tidak dapat ku gerakkan……”

Mata gadis pengemudi kereta barang terbuka perlahan. Namun dia masih tidak dapat bergerak. Matanya hanya bisa menatap apa yang ada di depannya, kepalanya tidak bisa digerakan. Belum. Setelah agak lama gadis pengendara kereta itu bangkit dari jatuh dan berdiri.

Tidak ada luka yang serius, hanya beberapa luka memar menghiasi beberapa bagian tubuh gadis pengemudi, namun tubuh gadis terlihat lunglai. Gadis itu membersihkan wajah dan pakaian yang kotor terkena debu sambil mengamati ada berapa luka yang didapat. Pakaian gadis itu penuh dengan bercak darah, entah darah miliknya, siapa atau apa.

Beberapa penduduk yang marah karena hampir ditabrak mendekati dan mengerumuni gadis pengemudi kereta. Beberapa lagi bersimpati dan berusaha membantu si gadis.

“Hei anak kecil. Kamu pikir kereta barang itu mainan yang bisa kamu jadikan kereta balap?” seorang laki-laki yang berumur 40 tahunan menghampiri gadis itu dengan muka merah karena ia nyaris ditabrak.

“Siapa namamu anak kecil? Dan kenapa kamu membuat kami semua yang ada disini hampir celaka?” seorang wanita tua gemuk memberikan sapu tangan dan satu kantung air minum pada gadis itu. Pallas mendekat, dia menjadi tertarik begitu tahu pengemudi kereta adi adalah seorang gadis.

“Terima kasih.” Gadis itu langsung meminum air tadi tanpa mempedulikan hujatan orang-orang di sekitar. Entah sudah berapa banyak cemoohan yang dia dapat, air tadi meredakan sedikit emosi.

“Namaku Mina. Mina Kynthia dari Contur. Aku baru saja dari Hutan Collat.” Mina langsung berkata-kata tanpa peduli dengan keadaan sekitar. Pallas semakin tertarik, mungkin gadis ini mempunyai kabar tentang Reiđ.

Penduduk mulai kaget. Ada urusan apa gadis cantik itu dari Hutan Collat. Mina mengelap wajah dengan sapu tangan. Debu yang menempel sedikit berkurang, Mina merasakan lebam di beberapa bagian tubuhnya.

“Kuda-kudaku tiba-tiba menjadi ketakutan. Mungkin gara-gara benda yang kubawa di belakang kereta.” kata Mina sambil menoleh ke arah kereta yang terbalik, dia memaksakan untuk berbicara meski masih terengah-engah.

“Memang apa yang kau bawa?” tanya prajurit bayaran Tuan Tanah yang menghentikan kereta sambil mendekat ke arah kereta Mina. Prajurit itu terperanjat, dia mencium bau amis darah begitu pekat, begitu dekat dengan kereta. Prajurit bayaran mendekat, dengan tangan sedikit bergetar dia memaksakan diri membuka kain penutup bak muatan kereta.

“Hei gadis muda, apakah ini ...?” Kepala Desa yang berada di dekat kereta setengah tak percaya dengan apa yang dia lihat, begitupun dengan penduduk desa yang bisa melihat apa yang ada di balik kain penutup. Pallas membelalakan mata, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

“Classyalabolas Collat? Ya anda benar. Itu adalah potongan badan Classyalabolas Collat.” Mina menjawab dengan santai, meskipun bukan dia yang menghabisi kreyzure itu, dia sedikit merasa ambil peran dalam hal itu.

Penduduk desa langsung beramai-ramai mendekati kereta itu, dalam sekejap menjadi sesak berhimpitan. Pallas yang berada di depan tanpa sadar sudah berpindah ke barisan belakang akibat desakan orang-orang yang ingin menyaksikan dari dekat. Beberapa dari mereka terpekik kaget melihat potongan-potongan daging bertumpuk yang di bak muatan kereta. Mereka tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang gadis yang mungkin belum mencapai dua puluh tahun bisa mengalahkan Classyalabolas Collat yang tidak bisa dikalahkan oleh satu peleton prajurit.

“Katakan hai gadis dari Contur, benarkah kamu yang membunuh makhluk ini?”

Mina menatap Kepala Desa dengan tatapan yang dalam, dan kemudian menggeleng.

“Bukan, bukan aku. Tapi temanku, dan mungkin teman kalian juga yang telah membunuhnya.” Mina berusaha menguasai dirinya agar tidak bergetar, tidak gugup dan gelisah.

“Teman kami? Apakah dia seorang yang kami kenal?” Kepala Desa keheranan.

“Dia bilang dia berasal dari desa Hallari ini. Namanya Reiđ, Reiđ Reream. Dia bilang ingin mengambil Jantung Hijau untuk ibunya.” kata Mina sambil memandangi langit seakan mengingat kembali perjuangan singkat bersama Reiđ.

“Reiđ putra Reream.” Kepala Desa bertambah kaget. Pallas yang dari tadi tidak bisa mendengar dengan jelas kata-kata Mina, tersentak begitu mendengar dari mulut Kepala Desa. Pallas berusaha untuk mendekat.

Mata Kepala Desa mencoba mencari sosok Nyoya Lyall Reream, ibu Reiđ. Nyonya Lyall dikenal sebagai sosok yang ramah, berbeda dengan suaminya yang keras kepala. Namun Kepala Desa tidak menemukan perempuan itu di antara kerumunan penduduk. Padahal tadi pagi dia sempat bertemu dengan Nyonya Lyall di satu-satunya pasar yang ada di desa ini. Kepala Desa kembali menatap Mina,

“Sekarang dimanakah Reiđ berada?” Kepala Desa bertanya sambil masih mengamati keadaan Mina.

“Bagaimana ya, agak sulit mengatakannya. Tapi sepertinya dia telah tewas..” Mina menunduk mengenang kembali pertemuan singkat mereka.

Meskipun hanya berlangsung sebentar, tapi tanpa mempedulikan itu Reiđ rela mengorbankan nyawanya demi dia.

“Sepertinya…maksud anda bagaimana nona?” seorang wanita menyeruak dari kerumunan. Ternyata dia adalah Nyonya Lyall Reream, Ibu Reiđ.

“Mmm, aku tidak tahu pasti apakah dia sudah meninggal atau belum, yang aku lihat dia terjatuh ke jurang Falco di Hutan Collat.”

Mina menatap perempuan itu. Wajah perempuan itu sangat mirip dengan Reiđ.

Nyonya Reream tersentak kaget. Jurang Falco adalah kengerian kedua yang ada di Hutan Collat setelah Classyalabolas Collat. Jurang yang berada di tengah-tengah rimbun dan gelapnya hutan Collat. Jurang itu merupakan jurang yang dijuluki jurang tanpa dasar, karena kedalaman yang tidak diketahui, yang terlihat hanya kegelapan.

Ibu Reiđ mulai menitikkan air mata. Setelah suami tercinta tewas di Hutan Collat sekarang anak kesayangannya juga tewas di Hutan Collat. Apakah ini sebuah kutukan pikir Nyonya Lyall, ibu Reiđ. Tubuh Nyanya Lyall menjadi lemas, kedua kakinya tidak mampu lagi untuk menahan berat badan. Dia jatuh terduduk di tanah.

Sementara Pallas tidak kalah kalutnya. Reiđ, sahabatnya sejak kecil. Reiđ si anak yang nakal dan jahil dari prajurit istana, Bach Reream. Reiđ yang kerasa kepala dan sering berpikir pendek namun juga dikenal sebagai seseorang yang setia kawan dan tidak pernah tinggal diam jika ada orang lemah yang dianiaya itu kini telah tiada. Pallas merasakan matanya menjadi berkunang-kunang, perutnya terasa bagaikan dihantam dengan puluhan kayu secara bersamaan. Pallas merasa dunia menjadi berputar dan tidak seimbang.

Mina mendekat ke arah Nyonya Lyall.

“Apakah anda Ibunya Reiđ?” Mina memberanikan diri bertanya dengan suara yang pelan.

Nyonya Lyall Reream masih menitikan air mata. Namun dia menguatkan diri untuk menjawab.“Ya. Dia anakku.”

Mina menyerahkan sebuah bungkusan kain kepada Nyonya Lyall

“Ini Jantung Hijau yang diperjuangkan dengan seluruh nyawanya.”
Terdengar tangisan dari arah kereta. Ternyata Tuan Tanah juga menangis.
Apakah dia juga menyayangi Reiđ, atau hanya sekedar air mata palsu untuk mengolok-olok Nyonya Reream.

“TIDAAAAK ! Ini tidak mungkin terjadi. Harusnya aku tidak menyuruhnya ke sana.” teriakan Tuan Tanah bukanlah bohongan. Kesedihan dan kemarahan menyatu dalam teriakannya.

“Kurang ajar, kenapa dia bisa mati…kenapa dia bisa terbunuh…padahal seharusnya dia tak terkalahkan. SEHARUSNYA ADIKKU TIDAK TERKALAHKAN!” Tuan Tanah berteriak keras bercampur dengan amarah.

ADIK? apakah Tuan Tanah adalah kakak Reiđ? Mina yang tidak mengenal keluarga Reiđ terkaget, tapi seingat dia Reiđ hanya mempunyai satu orang adik kandung.

Tuan Tanah memeluk bangkai Classyalabolas Collat.

“BAJINGAN KALIAN SEMUA! Padahal seharusnya kami berhasil mendapatkan Bunga Bening. Buah yang tumbuh dari Jantung Hijau yang berbentuk seperti bunga berwarna bening. Buah yang apabila dimakan akan memberikan kekuatan tak terbatas, hidup abadi, dan bahkan bisa menghidupkan yang mati. Kami telah membuat kalian menjauhi Hutan Collat agar bisa dengan leluasa mendapatkan buah itu. Dan sengaja ku pancing korban karena dengan darah kalian para inland untuk mempercepat pertumbuhan Bunga Bening.” Mata Tuan Tanah berubah menjadi merah semerah api.

Para penduduk keheranan, bingung dan takut.

Mina berpikir, dia pernah mendengar hal itu dari mendiang ayahnya. Bunga Bening memang merupakan buah dari Jantung Hijau. Namun itu hanya bisa terjadi seratus tahun sekali. Kecuali jika pertumbuhan Jantung Hijau dipaksa untuk menjadi lebih cepat. Walaupun begitu, Bunga Bening tidak mempunyai khasiat buat inland, Bunga Bening hanya berguna bagi Kreyzure. Kenapa dengan orang ini pikir Mina.

Tuan Tanah menatap para penduduk desa dengan mata yang melotot dan membesar seperti akan lepas.

“Sekarang kalian telah membunuh satu-satunya adikku. RASAKAN PEMBALASANKU ” Tuan Tanah segera beranjak dari kereta dan menuju kerumunan orang-orang. Tujuannya satu, memusnahkan semua penduduk desa Hallari.

Tuan Tanah berteriak keras. Tubuhnya membengkak dan membesar. Pakaiannya sobek. Terlihat otot-otot membesar melebihi tubuhnya.

Bulu-bulu berwarna putih mulai menutupi sekujur tubuh, dan dari kepala keluar empat buah tanduk, kulit wajahnya terkelupas seperti ada yang mendesak dari keluar dari tengkorak kepala. Dan keluar wajah yang mirip dengan kerbau yang mempunyai taring. Mina dan semua yang ada di sana tersentak hebat begitu menyadari ternyata Tuan Tanah adalah seekor KREYZURE.

Read previous post:  
20
points
(3981 words) posted by makkie 10 years 14 weeks ago
66.6667
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  

aku baru tau kalo sekarang di batasi 2 posting perhari...
hu hu..padahal 1 bab aku bagi jadi 3 chapter...terus gimana ini...hiks hiks...