Zheik, The One With Power - 3rd Scroll Chapter 2

“Ah…dimana ini ... gelap...”

Reiđ membuka mata dan melihat keadaan sekeliling. Tapi semuanya gelap. Tidak ada yang bisa dia lihat. Hanya tempat yang gelap dan dingin. Sangat gelap dan sangat dingin.

Reiđ, Reiđ Reream. Ternyata dia masih hidup. Terkapar di dasar jurang yang gelap dan sangat dalam. Bahkan langit hanya terlihat seperti seutas tali. Sungguh suatu keajaiban dia masih hidup.

Udara yang sangat dingin membuat Reiđ semakin merasakan ngilu pada bagian tubuh yang sakit. Bau lumut yang menempel pada bebatuan yang tidak pernah tersentuh matahari membuat Reiđ kesulitan bernafas dan memaksa Reiđ untuk berdiri. Jantungnya sedikit berat dan terbebani saat dia mencoba untuk berdiri.

”Reiđ...”

Sebuah suara memanggil. Reiđ memaling-malingkan wajah. Tidak ada seseorangpun di sana. Mungkin hanya khayalan saja. Mungkin akibat dia terjatuh dia merasa mendengar yang tidak-tidak.

“Ah … cahaya……” Reiđ melihat setitik cahaya di kejauhan sana. Entah cahaya apa itu. Yang jelas hanya cahaya itulah tempat dia bisa memperoleh harapan untuk bertahan hidup.

Reiđ mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Dia sudah bisa merasakan semua anggota tubuhnya dan mencoba berdiri. Dia tidak habis pikir kenapa dia bisa selamat setelah jatuh dari jurang. Sedikit demi sedikit dia mengayunkan kaki dengan menahan sakit. Dengan sisa kekuatan dia menuju seberkas cahaya yang merupakan satu-satunya harapan yang dia miliki. Beberapa tulang entah dari makhluk apa berserakan di tanah. Makhluk-makhluk yang tidak beruntung dan terjatuh ke Jurang Falco. Tidak jauh dari tempatnya. Reiđ melihat onggokan kepala Classyalabolas Collat.

Reiđ memperjelas pandangan matanya, ternyata cahaya itu berasal darisebuah gua. Reiđ memaksa menggerakkan tubuhnya memasuki gua tersebut, seiring dengan semakin terang cahaya yang dia lihat menandakan dia semakin dekat dengan sumber cahaya itu. Reiđ mendesah, berharap tidak ada makhluk yang akan mencelakakan dirinya lagi, sudah cukup baginya kejadian hari ini. Keajaiban tidak datang terus menerus pikir Reiđ.

Di dalam gua tersebut Reiđ menemuan sebuah ruangan, tepatnya seperti sebuah ruangan. Dan tepat di tengah ruangan itu terlihat sebuah batu yang berbentuk seperti sebuah meja, paling tidak itulah yang Reiđ saksikan. Dia masih tidak menyadari diinya sedang bermimpi atau sadar. Dari atas meja itulah cahaya tadi berasal. Sebuah benda yang tidak bisa Reiđ lihat dengan jelas.

Cahaya yang terang menyilaukan membuat Reiđ tidak bisa melihat bentuk sumber cahaya itu. Belum lagi keadaan di luar gua yang gelap membuat matanya belum terbiasa dengan keadaan yang sangat terang. Reiđ masih belum mengetahui benda apa sebenarnya yang bisa mengeluarkan cahaya itu. Perlahan dia mendekat dan sambil membiasakan penglihatan tehadap keadaan yang sangat terang.

Ah! Ternyata sebilah pedang, Reiđ akhirnya bisa melihat sumber cahaya itu meski masih dengan samar-samar. Sebilah pedang bermata dua yang amat bagus. Bagaikan terbuat dari cahaya rembulan dan air mata bidadari. Pedang yang terbuat bukan dari bahan logam. Dari gagang sampai bagian uung pedang merupakan satu kesatuan seperti bukan hasil tempaan inland. Reiđ belum pernah melihat pedang seperti ini di manapun. Dipangkal gagang pedang terdapat sebuah bola kecil, sementara bagian pengamannya terdiri dari dua tingkat. Yang bawah dekat gagang lebih besar daripada yang di atas, namun bentuk keduanya sama. Di badan pedang terdapat semacam ukiran, namun Reiđ tidak bisa membacanya.

Reiđ tergoda untuk mengambil pedang yang tertancap di tengah-tengah batu yang berbentuk seperti meja bundar. Tapi sebuah dinding kasat mata menahan gerakannya. Reiđ tidak bisa mendekat juga tidak bisa bergerak mundur untuk melepaskan diri. Dia terjebak, tidak bisa bergerak kemanapun, tidak bisa bergerak sedikitpun.

Reiđ merasakan ada sesuatu yang aneh, tubuhnya menjadi semakin lemas. Meski tidak yakin, namun Reiđ menduga kalau kekuatan dari dinding tak terlihat itu menyerap tenaganya. Tidak sempat Reiđ berpikir banyak, tiba-tiba seberkas sinar menembus kepala Reiđ. Pupil matanya berubah mejadi putih dan jantungnya berhenti berdetak.

Para penduduk berlarian. Kreyzure Tuan Tanah mengamuk. Dengan beberapa gerakan dia menghancurkan gedung balai desa.

Orang-orang terkuat di desa mencoba memberikan perlawanan termasuk empat prajurit bayaran Tuan Tanah. Tapi sia sia, kreyzure itu begitu kuat. Pedang dan tombak hanya mampu menggores kulit kreyzure. Malahan kreyzure itu dengan mudah membuat orang-orang terkuat di desa terpental jauh dengan sekali kibasan tangan.

Meski tubuhnya belum pulih benar, Mina juga tidak ketinggalan menyerang. Dengan bowgun dan panah sihir, strateginya membidikan panah-panah ke arah mata kreyzure Tuan Tanah membuat kreyzure Tuan Tanah kewalahan. Tapi Mina tidak menduga bukannya membuat kreyzure itu berhenti atau melemah, seranganya malah semakin membuat kreyzure itu menjadi berang. Dan sekarang kreyzure itu mengejar dirinya dan meninggalkan yang lain.

Mina menganga sesaat dan segera berlari menjauh secepat-cepatnya. Mina merasa kalau hari ini memang bukan harinya, kreyzure itu selain kuat juga cepat. Dalam beberapa saat saja kreyzure itu sudah berada tepat di belakang Mina. Meski gesit, Mina sempat panik dengan kejaran makhluk yang sangat besar dari dirinya. Mina teringat dengan sebuah flashbomb yang diberikan Reiđ saat mereka bertemu di hutan, dengan cekatan dia mengambil dan melemparkan flashbomb ke wajah kreyzure Tuan Tanah. Berhasil, kreyzure itu menjadi buta sesaat. Mina segera mengambil kesempatan itu untuk berlari dan bersembunyi di antara tong air yang tak jauh di samping kanan.

Kreyzure itu mengusap-usap kedua matanya. Penglihatannya kembali normal. Dia kebingungan karena mangsa buruannya menghilang dalam sekejap. Menoleh ke kiri dan ke kanan, kreyzure itu bergerak maju perlahan.

“GROAAAAAAARRRRRRR !!!!!!!!!” Kreyzure itu meraung kesal masih belum menemukan tanda-tanda buruannya.

“DIMANA KAU GADIS KECIL SIALAN!”

Suara yang menggetarkan semua bangunan berjarak sekitar empat ratus kaki dari tempat kreyzure itu berdiri. Penduduk desa semakin bergidik, sebagian sudah melarikan diri menjauh dari pusat desa, sebagian lagi bersembunyi baik hendak menyerang kembali atau benar-benar bersembunyi agar tidak mati terkena terjangn kreyzure itu. Mereka tidak punya pilihan lain.

Mina mengintip dari celah-celah tong air, badannya basah terendam air dalam tong, beruntung tong itu hanya berisi tiga perempatnya saja sehingga dia tidak perlu menahan nafas. Mina bisa melihat meski jaraknya cukup jauh, kreyzure itu menghirup udara sedalam-dalamnya seperti hendak melakukan sesuatu. Benar saja! Begitu paru-parunya terisi penuh, kreyzure itu kembali berteriak.

“GROAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGGGGG!!!!!!!!”

Bersamaan dengan itu beberapa benda disekitar kreyzure itu hancur bagaikan ditabrak angin puting beliung . Kali ini getaran yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat. Tidak luput tong air tempat Mina bersembunyi terkena tekanan suara kreyzure Tuan Tanah sehingga Mina dan tong air itu terlempar beberapa kaki.

Kreyzure Tuan Tanah berhenti berteriak. Keadaan kembali tenang, Mina menggeleng-gelengkan kepala yang sakit akibat terantuk dan mencoba berdiri. Belum sempat Mina berdiri di depan sudah terlihat sebuah bayangan besar. Bayangan kreyzure Tuan Tanah. Mina kaget dan tersentak. Mina berusaha lari. Namun dia tidak bisa menggerakan badan. Tubuhnya terasa beku. Tidak bisa digerakan. Takut dan lelah yang dia dera sudah terlalu banyak.

Kreyzure itu menyeringai dan mengayunkan tangan kanan yang dilengkapi dengan kuku-kuku besar di kelima jarinya. Mina pasrah dan hanya bisa memejamkan mata.

WHUSSS ! Kelebatan angin terdengar dan ...

TRING ! Sebuah benda logam menahan cakar kreyzure itu.

Mina membuka mata dan membalikkan badan. Seorang ksatria dengan memakai pakaian perang berwarna putih perak dengan jubah merah sedang menahan kuku-kuku kreyzure itu dengan pedangnya yang berukuran besar.

“Makanya kalau jadi perempuan, lebih baik bekerja di rumah saja. Tidak usah bertarung seperti laki-laki, hanya membuat orang lain susah saja !” ksatria itu menyindir Mina.

Mina tersentak mendengar suara itu. Mina yakin sekali suara ksatria itu, suara yang pernah dia dengar.

“MIKAÉL (baca:mi-ka-él) ... kamukah itu Mikaél? Pangeran Mikaél dari Bés Yua? Si Jelek?” rentet Mina.

Sebelumnya sang pemuda sempat tersenyum, namun begitu mendengar kalimat Mina yang terakhir senyumnya kembali menguncup. Dengan sekali hentakan Pangeran Mikaél menghentak, menghempaskan kreyzure beberapa kaki ke belakang.

“Ya, itu aku. Tapi aku tidak jelek! Nostalgianya nanti saja!” Pangeran Mikaél melesat secepat kilat tidak memberi kesempatan kreyzure itu untuk bersiap. Pangeran Mikaél mengayunkan pedang besar beberapa kali, menebas-nebas angin untuk membuat kreyzure mundur, dia memberi jarak yang aman untuk Mina mengindar.

Kreyzure menjadi kewalahan, meskipun begitu kreyzure dengan gesit menghindari serangan Pangeran Mikaél. Berkali-kali tebasan pedang Pangeran Mikaél hanya mengenai udara kosong, tapi dia tidak pantang menyerah. Pangeran Mikaél meningkatkan kecepatan. Mina terkagum, kecepatan itu termasuk kecepatan yang luar biasa jika dilihat dari besar senjata yang digunakan Pangeran Mikaél. Meskipun tidak secepat dirinya atau Reiđ.

CRES! Pangeran Mikaél terus mendesak mundur kreyzure hingga pada suatu kesempatan, salah satu serangan Pangeran Mikaél berhasil memotong lengan kiri kreyzure itu. Pangeran Mikaél tersenyum.

“Mungkin senjata lain tidak bisa memotongmu, tapi pedangku ini terbuat dari logam murni yang bisa membelah gunung sekalipun !” Pangeran Mikaél menggertak. Mina baru sadar, pedang besar itu berukuran hampir sama dengan tinggi badan Pangeran Mikaél. Dan Mina yakin pedang itu pedang yang istimewa karena bisa memotong lengan kreyzure yang dagingnya hampir sekeras besi.

Kreyzure Tuan Tanah tidak menggubris lengannya yang putus, malahan dia balas menyerang dengan membabi buta. Pangeran Mikaél berkelit menahan serangan yang tidak terduga itu, meangkis dengan badan pedang besarnya. Tapi sial tak dapat ditolak, sekarang giliran Pangeran Mikaél yang terluka di pundak kiri akibat terkena cakaran. Baju baja putih tidak mampu menahan serangan kreyzure itu.

Giliran si kreyzure yang tersenyum penuh kemenangan.

“Hhh…sialan..!” Pangeran Mikaél memegang pundaknya, sebercak darah menempel pada sarung tangannya. Pangeran Mikaél merasakan nyeri pada pundaknya, dia yakin luka lebih dalam dari kelihatannya. Kondisi mereka sekarang berimbang, luka itu membuat Pangeran Mikaél tidak bisa leluasa menggerakkan tangan kirinya. Padahal diperlukan dua belah tangan untuk menggunakan pedang besar.

Pangeran Mikaél memaksa menggunakan pedang besar dengan kedua tangan. Dia melemparkan beberapa benda-benda besar yang ada di sekitar ke wajah kreyzure itu. Untuk beberapa saat kreyzure itu kesulitan mengejar Pangeran Mikaél.

Kreyzure yang mendapat angin menyerang Pangeran Mikaél dengan membabi buta, menampar, memukul, mencakar bahkan menanduk. Apapun untuk menghabisi lawannya. Sementara Pangeran Mikaél menangkis tiap serangan dengan penuh was-was.

Serang beruntun kreyzure hampir membuahkan hasil, Pangeran Mikaél merasa kondisi tangannya semakin parah, nyeri dan perih berbaur menjadi satu dengan rasa kejang. Sementara tangan kanannya yang tidak terbiasa menahan beban dengan satu tangan terasa pegal dan hampir mati rasa.

Pangeran Mikaél mundur beberapa langkah membuat jarak. Dengan satu tangan dia menghujamkan pedang besar ke tanah. Pedang itu menancapkan tegak. Pangeran Mikaél menarik semacam tuas kecil dari bagian pengaman pedangnya. Setelah terdengar bunyi ceklik, Pangeran Mikaél segera menarik gagang pedangnya.

Mina melihat satu kehebatan lagi, sebuah pedang baru muncul dari pedang besar. Pedang besar itu terdiri dari dua bagian. Bagian tengah pedang besar ternyata adalah pedang lain yang lebih kecil yang dipasang. Sementara kini pedang yang menancap tidak ada mempunyai bagian tengahnya seperti sebuah garpu. Kini Pangeran Mikaél bisa menggunakan pedang dengan satu tangan. Mina menggeleng-geleng, sampai di manakah kehebatan sahabatnya itu.

”Dia yang bersemayam dalam diriku, yang melindungi tiap tetes darah Nathaniel dan putra-putranya, bangkitlah karena ku bangkitkan, melalui darah dan daging ini. Atas nama Kyros, aku memanggil.” Pangeran Mikael membaca mantra sambil berusaha menggerakkan tangan kirinya. Bukan untuk memegang pedang melainkan untuk melakukan sesuatu.

Rupanya Pangeran Mikaél mengeluarkan mantra api. Dari telapak tangan kiri muncul cahaya merah dan berubah menjadi seberkas api. Pangeran Mikaél memindahkan api itu ke pedang. Seketika itu juga pedangnya diselimuti api yang merah menyala. Pangeran Mikaél mengangkat pedang ke atas dengan satu tangan. Api pedang itu semakin memanjang ke atas bagaikan membentuk sebuah tiang yang sangat tinggi menjulang seakan-akan menyentuh langit.

Mina teringat, keluarga Kerajaan memang dilindungi oleh Dewa Kyros. Nathaniel sang pendiri Kerajaan Bés Yua adalah orang yang diistimewakan oleh Dewa Kyros sehingga Nathaniel dan keturunannya diberikan kekuatan api, meski hanya keturunan laki-laki saja yang mendapatkan berkah itu.

Pangeran Mikaél mengerahkan tenaganya, dia selalu ingat ajaran gurunya. Panjang api tergantung dengan kekuatan yang diberikan si pengguna kepada pedang. Pangeran Mikaél menyebutnya ilmu ini Fire Pole karena bentuknya memang menyerupai tiang api. Semakin besar kekuatan, semakin panjang tiang api.

“Rasakan ini !” Pangeran Mikaél memasang kuda-kuda.

“HAAAHH !” Pangeran Mikaél mengarahkan pedang ke kreyzure itu.
WUSH! Tekanan dari Fire Pole membelah angin dari jalur pedang sampai ke ujung tiang api. Suara yang menggelegar bagaikan petir terdengar dengan keras. Bagaikan tiang yang jatuh, tiang api menghantam semua yang berada lurus di depan Pangeran Mikaél, tak terkecuali si kreyzure.

Semua terbakar. Asap membumbung tinggi menutupi pandangan. Sisa-sisa api menjulur liar bagaikan lidah ular. Pangeran Mikaél memperhatikan dengan cermat ke dalam kepulan asap. Dia tidak melihat keberadaan kreyzure itu lagi.

“Berhasil !” Pangeran Mikaél bersorak kegirangan.
Pangeran Mikaél berjalan mendekati Mina sambil tersenyum kemenenangan.

“Bagaimana? Kamu kagum tidak dengan kehebatanku?” Pangeran Mikaél membanggakan diri pada teman lamanya. Mina hanya menjulurkan lidah. Ternyata sikap teman lamanya itu tidak berubah. Mina menunduk membereskan barang-barang miliknya yang terjatuh. Salah satu bowgun-nya entah jatuh kemana, Mina tidak menemukan benda itu di sekitar mereka. Padahal benda itu khusus diciptakan oleh pamannya untuk dia. Butuh waktu yang lama dan bahan yang tidak mudah untuk membuat senjata itu lagi.

Mina menatap Pangeran Mikaél yang sedang menatap dirinya sambil tersenyum. Tapi belum sempat Mina mengejek Pangeran Mikaél, terdengar suara desiran angin dari belakang Pangeran Mikaél. Dia menoleh ke belakang, sebuah pedati melayang ke arah mereka dengan cepat.

Pangeran Mikaél tidak sempat menghindar. Dengan telak pedati itu menghantam tubuhnya. Untung dia memakai armor, sehingga cedera yang dia alami tidak terlalu parah. Namun benda itu membuat dia terlempar berpuluh-puluh kaki.

Mina tersentak, beruntung pedati itu tidak mengarah ke dirinya. Dia langsung menghindar mencari posisi yang aman untuk mengamati dan mencari tahu siapa yang melemparkan pedati itu. Sepi tidak terlihat siapapun. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar dengusan nafas yang berat. Mina menoleh ke belakang dan ternyata kreyzure Tuan Tanah masih hidup. Meski dengan badan penuh dengan luka bakar dia masih terlihat kuat dan menakutkan. Mina menjerit keras sambil menutup mata.
Tiba-tiba sebuah cahaya melintasi Mina dari arah depan dan menghantam tepat di dada si kreyzure. Kreyzure itu terpental ke kebelakang beberapa kaki. Kreyzure itu tetap berdiri meski terlihat dia menahan rasa sakit di dada, wajah makhluk itu menunjukkan kesakitan yang amat sangat. Tidak berapa lama, dari dalam tubuh kreyzure itu bermunculan beberapa buah bola cahaya, seakan-akan meledak dari dalam tubuh kreyzure tersebut. Kreyzure itu terjatuh ke belakang menabrak sebuah rumah kayu dan terjebak di reruntuhan.

“Kamu tidak apa apa?” terdengar suara seorang pemuda berjalan dari arah depan Mina.

Mina membuka mata dan astaga,

“Reiđ, astaga kamu masih hidup” mata Mina langsung berbinar bahagia. Seakan tak percaya kalau yang berdiri di depan adalah Reiđ, dia menggosok-gosok matanya.

“Benarkah itu kamu Reiđ?” Mina berdiri dan memandangi pemuda itu.

Reiđ tidak menjawab. Pupil mata yang dulu berwarna biru berubah menjadi putih, seputih salju. Sikap Reiđ juga menjadi dingin, sangat dingin. Dia bahkan tidak menoleh Mina untuk mengamati keadaan gadis itu.

GROOARR ! Kreyzure itu menggeram dan bangkit dari reruntuhan rumah yang menimpa. Reiđ kembali memasang kuda-kuda. Dia mengeluarkan sebilah pedang yang menempel di punggung. Bersamaan dengan keluarnya pedang itu, muncul seberkas cahaya terang menyilaukan. Mina terpana. Pedang yang terlihat begitu menyilaukan. Seakan beradu dengan cahaya matahari.

“Ayo tunjukkan kehebatanmu!” Reiđ melesat melayang di udara ke depan menuju kreyzure itu. Tanpa menunggu kreyzure itu bersiap-siap, Reiđ langsung mengayunkan pedang menebas kreyzure itu tanpa ampun.
Mina melihat dalam dua kali tebasan, kreyzure itu langsung terbelah menjadi delapan.

Sebelum potongan tubuh kreyzure itu jatuh, seberkas sinar putih menyilaukan dari titik tengah tebasan pedang Reiđ membuat potongan-potongan tubuh itu menguap tanpa bekas di udara.

Mina melompat kegirangan. Reiđ hanya berdiam mengamati keadaan. Ekspresinya dingin, sangat dingin. Seakan-akan bukan seorang makhluk hidup.

Mina mendekati Reiđ dari belakang dan menepuk punggung Reiđ. Beberapa saat kemudian baru Reiđ menoleh ke arah Mina. Pupil mata Reiđ kembali berganti menjadi hitam seperti biasa. Dia tersenyum.

“Bagaimana bisa?” tanya Mina yang keheranan bagaimana temannya itu masih hidup setelah jatuh dari tebing, bahkan tanpa ada cedera sedikitpun. Bahkan tidak ada luka gores ataupun memar.

“Aku sendiri pun tidak percaya kalau aku bisa selamat dari jurang itu.” kata Reiđ sambil menatap pedangnya.

Pangeran Mikaél berjalan mendekati Mina dan Reiđ sambil melepaskan helm perangnya. Rambut pirang yang lurus dan panjang sebahu menunjukkan bahwa dia orang yang sangat terawat.

Tak berapa lama, beberapa penduduk desa keluar dari tempat persembunyian. Mereka bertepuk tangan mengelu-elukan pahlawan mereka. Reiđ hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Pangeran Mikaél menatap Reiđ.

“Kenalkan temanku, Pangeran Mikaél.” Mina mengenalkan Pangeran Mikaél pada Reiđ. Reiđ meletakkan pedang ke dalam sarungnya yang berada di punggung. Dia mengumpulkan energi untuk memberi hormat pada sang putra mahkota, entah kenapa dia merasa lelah sekali.

Reiđ menundukkan kepala sesaat memberi hormat.

“Mikaél Right. Putra Mahkota Raja Bés Yua, Quér Asmot.” Pangeran Mikaél mengulurkan tangan. Reiđ sedikit kaget dengan perlakuan Pangeran Mikaél. Padahal dia hanya seorang rakyat biasa, tidak pantas untuk berjabat tangan dengan keluarga Kerajaan meskipun dia telah berhasil menumbangkan seekor kreyzure.

”Jangan khawatir, seorang ksatria sepertimu tidak kalah kedudukannya dengan para bangsawan.” Pangeran Mikaél mengerti keraguan Reiđ untuk berjabat tangan dengannya.

“Reiđ, Reiđ Reream.” Reiđ tak urung menjabat pergelangan tangan Mikaél setelah mendengar ucapan Pangeran Mikaél. Namun Reiđ merasakan nafasnya masih tidak teratur, dan semakin lama semakin pendek.

“Kamu hebat sekali Reiđ. Aku tidak menyangka kamu ternyata sangat hebat.” Mina memuji Reiđ. “Bahkan lebih hebat dari seorang pangeran bodoh, banyak mulut dan gombal yang katanya hebat tiada tanding.” Mina sengaja menyindir Pangeran Mikaél. Meskipun bukan keluarga Kerajaan tapi Mina dengan tenang menganggap Pangeran Mikaél seperti seorang teman.

“Hei, bukan salahku. Dia menyerang dari belakang saat aku mencoba membantumu.” Pangeran Mikaél membela diri. Cara berbicara Pangeran Mikaél terhadap Mina pun seperti berbicara dengan seorang teman saja.

“Tapi sama saja, kamu tidak punya insting yang tajam..weeeee !” Mina menjulurkan lidah seperti anak kecil.

“Sudah..sudah..hentikan!” Reiđ menengahi. “Akupun sebenarnya tidaklah sehebat itu. Tapi berkat pedang ini.” kata Reiđ sambil menunjuk pedang yang tergantung di punggung. Reiđ merasakan keringat dingin mengalir di leher.

“Pedang inilah yang memberikanku kekuatan yang sangat besar.” Reiđ mengambil pedang beserta sarungnya yang berada di punggung.

“Dari mana kau mendapatkan pedang itu” Mina terlihat mengagumi pedang Reiđ.

“Ceritanya aneh sekali!” Reiđ hanya bisa memandangi pedang itu sambil mengingat kembali peristiwa di gua.

Tiba-tiba setelah berkata begitu, Reiđ merasakan nafasnya menjadi semakin berat, lebih sesak dari sebelumnya, matanya mulai berkunang-kunang dan kabur setelah sesaat kemudian menjadi putih. Reiđ jatuh pingsan. Pangeran Mikaél dengan cekatan menangkap tubuh Reiđ.
Penduduk desa bergegas mengerumuni Reiđ, Mina dan Pangeran Mikaél kaget melihat Reiđ jatuh pingsan. Pangeran Mikaél memeriksa keadaan Reiđ.

Nyonya Lyall, ibu Reiđ, menyeruak dari kerumunan dan menghampiri Reiđ.
“Reiđ..Reiđ anakku, kau masih hidup?” Nyonya Lyall memeluk Reiđ sekuat-kuatnya dan menguncang-guncangkan tubuhnya.

“Tenang Bu, dia hanya pingsan.” Pangeran Mikaél mencoba menenangkan ibu Reiđ yang menangis sambil memeluk Reiđ. Begitu menyadari orang yang di dekatnya adalah Putra Mahkota, Nyonya Lyall memberi hormat. Pangeran Mikaél membalas.

“Ayo kita ke rumah, Finly sudah menantimu sejak kamu pergi.” bisik Nyonya Lyall kepada Reiđ.

“Bolehkah saya ikut mengantar Reiđ ke rumah?” Mina bertanya kepada Ibu Reiđ.

“Iya, kalau tidak merepotkan, saya memang membutuhkan bantuan. Terima kasih sekali.” jawab Nyonya Lyall sambil menghapus air mata.

“Kamu ikut?” tanya Mina pada Pangeran Mikaél. Pangeran Mikaél menggeleng.

“Maaf, aku harus pergi. Aku masih ada urusan. Mungkin lain kali.” kata Pangeran Mikaél sambil menoleh ke arah Reiđ dan Nyonya Lyall.

“Tidak apa-apa !” Mina memaklumi.

“Hmm mungkin setelah ini aku akan menyusulmu ke istana. Aku rasa aku melakukan beberapa perbaikan, terutama senjataku. Dan para pandai besi istana pasti punya kemampuan yang terbukti.” tambah Mina sambil melirik ke arah Pangeran Mikaél. Pangeran Mikaél hanya tersenyum melihat teman lamanya itu. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Mina, kalau tidak salah setelah kedua orang tuanya tewas, Mina tidak pernah terlihat lagi di sekitar istana lamun Pangeran Mikaél.

Pangeran Mikaél menegakkan badan dan menatap para penduduk desa. Para penduduk desa menunduk memberi hormat kepada Putra Mahkota mereka.

“Semua kejadian ini adalah rekayasa dari seseorang yang kalian kenal dengan nama Tuan Tanah. Dia memalsukan sayembara dengan tujuan untuk menjadikan inland-inland sebagai tumbal untuk mendapatkan Bunga Bening.” Pangeran Mikaél berteriak memberikan pengumuman kepada para penduduk desa.

“Pihak Kerajaan terlambat mengetahui hal ini karena Tuan Tanah telah membuat laporan palsu kepada pihak Kerajaan !” tambahnya lagi.

”Kalau ada yang mengetahui keberadaan orang ini mohon melaporkan kepada pihak Kerajaan.” lanjut Pangeran Mikaél. Para penduduk desa saling berpandangan. Mina menendang kaki Pangeran Mikaél dari belakang.

”Hei monyet, kalau kamu seorang necromancer (penyihir yang bisa menghidupkan kembali yang mati) mungkin kamu bisa menangkapnya.” bisik Mina sambil menunjuk ke arah tempat di mana kreyzure Tuan Tanah dimusnahkan Reiđ.

Pangeran Mikaél membalikkan badan kembali menatap Mina dan Nyonya Lyall.

”Ya sudah kalau begitu.” jawab Pangeran Mikaél.

Pangeran Mikaél memberikan sebuah kantung kain berwarna coklat pada Nyonya Lyall.

“Apa ini?” tanya Nyonya Lyall sambil mengamati kantung itu.

“Sebagai permintaan maaf dari pihak Kerajaan, seribu Strici buat yang membunuh Classyalabolas Colllat.” kata Pangeran Mikaél sambil menyiapkan ippleon.

Kemudian Pangeran Mikaél kembali berbalik ke arah penduduk,

“Dan sebagai permintaan maaf dari pihak kerajaan, perbaikan seluruh bangunan yang rusak di desa ini atas jasa Reiđ yang berhasil membunuh satu kreyzure lagi yang juga Tuan Tanah.” teriak Pangeran Mikaél kepada penduduk desa.

Mina berbisik kepada Pangeran Mikaél

“Memang gara-gara ilmu siapa rumah-rumah penduduk di sini jadi tambah hancur?” sindir Mina. Pangeran Mikaél hanya bisa tersenyum bodoh.

“Terima Kasih Pangeran !” penduduk desa bersorak gembira.

”Sejahtera Selalu kepada Raja, Ratu dan Pangeran BésYua! Semoga Kyros Yang Agung selalu memberkati Para Raja dan Tanah ini!” teriak mereka.

“Terima kasih Pangeran Mikaél !” kata Kepala Desa

“Jangan berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada Reiđ putra Reream!” Pangeran Mikaél merendahkan diri. Sedikitpun tidak terlihat kesombongan seorang yang berdarah biru pada dirinya atau perasaan iri pada Reiđ yang berhasil mengalahkan kreyzure itu. Pangeran Mikaél memang dididik menjadi seorang yang rendah diri.

Mina hanya tertawa bodoh. Sedangkan Nyonya Lyall kebingungan, sekarang dia tidak memerlukan lagi uang itu karena Tuan Tanah yang adalah kreyzure telah tewas. Namun tak urung dia tetap menerima uang pemberian itu. Mungkin akan berguna nanti pikirnya, apalagi si kecil Finly sudah saatnya mendapatkan pendidikan yang layak.

“Terima kasih banyak!” Nyonya Lyall tidak dapat berkata-kata lagi. Pangeran Mikaél hanya tersenyum dan menaiki ippleon-nya. Sementara Mina juga ikut menaiki seekor ippleon yang diberikan Kepala Desa setelah menaikkan Reiđ ke dalam kereta barang milik keluarga Reream.

“Besok prajuritku akan datang memperbaiki rumah-rumah kalian!” Pangeran Mikaél melarikan ippleon ke arah barat.

“Sampai jumpa lagi!” teriak Mina kepada Pangeran Mikaél.

”Aku tunggu kedatanganmu di Istana!” balas Pangeran Mikaél pada Mina. Mina balas melambaikan tangan.

Penduduk desa, Mina dan Ibu Reiđ melambaikan-lambaikan tangan sampai Pangeran itu menghilang dari pandangan mereka.

Read previous post:  
0
points
(2365 words) posted by makkie 9 years 44 weeks ago
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
100

ceritanya bagus

makasi...
ni bagian awalnya
http://www.kemudian.com/node/228349