Aku menopang dagu di bibir jendela, memandang jauh-jauh ke depan sana walau mataku tak tentu dalam menangkap fokus sesuatu. Aku hanya ingin melihat, melihat kemampuan titik jauh mata yang kumiliki. Namun ternyata, indra penglihatanku ini tak mencapai 1 kilometer -mungkin, dibanding dengan teori yang mengatakan kalau titik jauh mata berjarak tak terhingga- . Kesimpulan itu kukemukakan tatkala diluar dari jarak terkaanku tadi. Pandanganku terlihat kabur.
Read more (1257 words)
Aku meniupkan nafas hangat ke telapak tangan dan menggosokkannya ke badanku. Udara dingin sepertinya akan menusuk kulit. Tentu saja, daerah tempatku tinggal ini baru saja menjadi naungan hujan. Tak heran, kalau kebanyakan penduduk memakai sweter jika akan keluar rumah.
Bosan mengetes kemampuan indra, aku mencoba untuk memperhatikan sesuatu. Entah itu benda atau makhluk hidup, tak lama kemudian kutentukan untuk menangkap segerombolan burung-burung gereja –entah berapa jaraknya dari tempatku berdiri saat ini- untuk diperhatikan oleh kedua mata sementara pikiranku, otakku melamunkan sesuatu. Melamunkan sesuatu? Sesuatu? Sesuatu apa? Mungkin akan melamunkan sesuatu yang ingin kulamunkan? Tapi apa? Apa sesuatu itu? Pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu membuatku bingung, membuatku trauma, entahlah..
Terfikirkan dengan kata sesuatu, aku kemudian teringat dengan sesuatu-sesuatu yang kudengar dari percakapan kakek nenek yang selalu saja mengucapkan kata sesuatu pada saat itu. Tepatnya kejadian itu berlangsung sekitar 6 tahun lalu –kira-kira saat usiaku mencapai 7 tahun- Saat itu, tidur malamku tak seperti biasanya, ada sedikit kegaduhan kecil di lantai bawah yang ber-aura aneh, entahlah mengapa firasatku mengatakan demikian. Mataku yang semulanya berat menjadi terbangun dan bersiaga. Kantuk terusir dan pikiranku tak terbayang-bayang lagi oleh mimpi yang semula membuatku setengah melayang. Ya, semuanya akibat kegaduhan kecil yang terjadi di lantai bawah. Dan kurasa, kegaduhan itu akibat Kakek dan Nenek. Aku yakin mereka tengah beradu mulut. Mereka pasti tak tersadar, bunyi dari pertengkaran mereka merambat ke lantai dua, kamarku.
Dari yang kutahu hingga saat ini, jika ada masalah yang membelit Kakek ataupun Nenek akan mereka bicarakan secara baik-baik hingga masalah mereka pun terselesaikan secara santai. Tidak seperti sekarang. Aku berniat menegur mereka. Namun, mungkin kehadiranku yang secara tiba-tiba diantara mereka tidak akan membuat mereka buka mulut tentang penyebab permasalahan mereka. Maka, kuputuskan untuk mencuri dengar tentang penyebab perselisihan paham antara keduanya.
Aku mengendap-endap ke lantai dasar. Sungguh, mereka tak menyadari akan kehadiranku. Hawa kehadiranku pun sama sekali tak mereka rasakan. Mungkin, keasyikan mereka akan perbincangan serius membuat mereka tak memperhatikan sekitar sehingga, orang yang mencuri-curi dengar dapat dengan bebas mengonsumsi pembicaraan mereka. Aku menempelkan daun telingaku ke tembok yang berjarak lumayan dekat dengan jarak kakek dan nenek sehingga pembicaraan mereka menjadi terdengar jelas di indra pendengaranku.
“ Jadi kamu benar-benar serius?” Tanya Nenek dengan nada ragu-ragu sementara Kakek terlihat santai saja. Aku semakin merapatkan kedua telingaku, penasaran.
“ Serius? Serius apanya?” Ucap Kakek, berpura-pura bodoh. Nenek melanjutkan “ tentang niatmu menjemput Richard dan Ariztha?” Richard dan Ariztha? Kenapa nama orang tuaku disebut-sebut?
“ Aku sudah bilang berulang kali. Aku benar-benar serius Martha, kan kujemput orang tua Richie, percayalah, aku akan kembali” Nada keyakinan menggema di telinga Nenek. Kakek memegang pundak wanita tua tersebut, memberi tanda bahwa tak akan terjadi apa-apa.
“ Memangnya kamu ingin menghilang lagi seperti Orang tua Richie? Tertelan dengan benda itu, sesuatu yang entah apa asal usulnya yang tiba-tiba membuat mereka tertelan begitu saja? Kau ingin meninggalkan lagi cucu tersayangmu? Setelah Richard menghilang sebelum Richie lahir dan Ariztha yang berkeinginan untuk menyusul Richard saat Richie masih balita? alasan karena Ariztha ingin membuat ayah Richie kembali namun apa yang didapat oleh Ariztha? Ariztha malah meninggalkan anaknya.. dan kau juga ingin meninggalkan Richie? Membuatku sendirian mengurusnya? Yang akan kau lakukan bodoh! Bodoh Alfred!” Suara Nenek makin meninggi. Aku masih bingung, entah karena mungkin umurku yang pada saat itu berumur 7 tahun? Tetapi seiring dengan waktu, aku mengerti kata perkata yang diucapkan oleh Nenek dan Kakek, semuanya kecuali kata sesuatu yang masih belum kumengerti. Sesuatu itu apa?
Kakek tersenyum “ Yakinlah denganku, aku tak akan menghilang karena sesuatu itu, benda itu..” Nenek membuang muka. “ percayalah...”
***
Sesudah kejadian itu, kejadian percakapan nenek dan kakek 6 tahun lalu, Kakek ikut menghilang. Mungkin saja ia tertelan oleh sesuatu itu, sesuatu yang entah tak kuketahui siapa dan apa. Mungkin saja sesuatu itu adalah monster setinggi 5 kilometer yang dapat menelan manusia yang berani menyentuhnya. Sementara, didalam perut monster itu terdapat korban-korban hasil penelanannya. Hey, mengapa Kakek begitu bodoh tak meminta bantuan ultraman saja untuk membasmi monster tersebut? Tetapi yang sesungguhnya bodoh adalah aku yang masih mempercayai tokoh-tokoh kartun Naruto, Avatar, Spiderman, Superman, Ultraman dan yang sejenis dengan mereka. Lagipula, memangnya Kakek dan Orangtuaku tertelan oleh monster?
Burung-burung gereja yang kuamati sejak tadi kini tak bersisa lagi. Mereka terbang berlomba untuk mencapai tujuan lebih cepat. Namun entah tujuan apa yang menjadi petunjuk finishnya. Yang mereka pikirkan hanyalah terbang, terbang dan terbang.
Mataku kemudian teralihkan ke halaman sekitar rumahku. Setelah bola mataku cukup lama berputar-putar, ruang penelitian kakek menjadi fokusku kini. Ruang penelitian kakek itu terlihat tua dan tak terurus. Tak seperti dulu, itu mungkin karena ruangan tersebut kini di biarkan begitu saja. Entah kenapa sejak kakek menghilang. Nenek tak pernah sekalipun menyentuh ruangan penelitian kakek. Padahal dulu, aku sangat sering bermain di ruangan tersebut. Melihat gambar-gambar dinosaurus beserta tulang-belulangnya yang telah menjadi koleksi kakek. Kakek bekerja sebagai peneliti benda-benda bersejarah macam prasasti, tulang-belulang dinosaurus dan entahlah apa itu. Entah juga apa istilah dari pekerjaan kakek itu.
Rindu akan ruangan yang kini mengambil alih pikiranku. Aku berjalan menuju ke tempat itu, menuruni tangga dan menuju ke pekarangan rumah. Dengan bertelanjang kaki sehingga pijakan-pijakan tanah basah terasa menghujam kulitku, memberi rasa hawa dingin pada jaringan kulit epidermis, jaringan kulit paling atas dan luar.
Sesampai di pintu ruangan, aku memutar gagang pintu aluminium yang telah berhiaskan karat. Terkunci! Tak habis akal, aku membuka peniti yang terkait pada sweeter yang kukenakan, dan bagiannya yang runcing kumasukkan dalam lubang kunci sekaligus kugedor-gedor berkali-kali. Krek! Berhasil! Pintu terbuka dan aroma debu menyeruak keluar dari ruangan. Semua masih seperti dulu, rak-rak buku kakek yang tersusun mengitari ruangan, alat-alat aneh kakek untuk meneliti benda-benda yang aneh pula, kumpulan tulang-belulang dan bebatuan masih tersimpan rapi di dalam ruangan namun diselimuti oleh debu yang menebal.
“Hatttcchiiiiwww” debu-debu ini membuat hidungku menjadi memerah dan bersin yang tak di undang terhempas begitu saja. Aku membersihkan lantai di dekat rak buku kakek untuk tempatku duduk nantinya dan kuambil satu buah buku dari rak. Kakiku mengapit bersila dan mataku tertuju pada gambar-gambar dinosaurus, keterangannya tak dapat kubaca karena mungkin secara keseluruhan kata-perkata yang terdapat pada buku ini dalam berbahasa inggris. Aku benci bahasa Inggris
Tak lama kemudian, aku merasakan seperti ada yang menggeliat-geliat di telapak kakiku. Mengusik keasikanku, secara reflek aku langsung berdiri memandangi penyebab keasikanku terusik.
“ Kecoaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” Seperti seorang banci aku berteriak sejadi-jadinya. Perasaan jijik dan mual berkumpul menjadi satu. Serangga kotor penyebab penyakit SARS membuatku oleng hingga jatuh menubruk rak buku. Bagaikan sedang berada di dalam kartun Scooby doo rak tersebut berputar dan membawaku ke ruangan lain.
Setengah sadar, aku bangkit memperhatikan sekitar ruangan yang kutemukan dalam rak berputar. Penuh dengan kabel adalah kesan pertama yang kudapatkan ketika melihat ruangan ini. Kemudian, yang paling menonjol adalah kapsul besi yang besar –kira-kira setinggi 4 meter lebih- dan tombol merah yang terletak tak jauh dari kapsul besi.
Selain daripada benda-benda itu , terdapat sebuah buku bersampul cokelat polos. Dengan judul yang tak dapat kubaca dari jauh. Setelah aku mendekat, akhirnya buku tersebut dapat terbaca
NINE WORLDS,
Dunia tak hanya terdiri dari satu dunia saja. Namun, banyak dunia-dunia lain yang tertelan dalam dimensi waktu. melanggar hukum dimensi, membuat pelanggar hukum akan terjebak selama-lamanya dan akan tergabung dalam permainan tak berujung.
Maka, semua akan terjawab ketika menjelajahi sembilan dunia.
----Richard Krum----
Richard Krum? Bukannya itu adalah nama ayahku? Apa hubungan antara ayah dengan Nine worlds sebenarnya? Dan apapula itu Nine worlds?
-----Bersambung--
Be the first person to continue this post
hi..belum baca semuanya tapi masalah tabnda baca...
setelah tanda petik, ga usah spasi ya... :)
emang bisa yang kyk gini ya??
memoinkan diri sendiri.. hahahaha
:)
:) juga... hehehehe
lama tak berjumpa
whew .. seperti nya mantab nih, ceritanya .. lanjutannya sudah ada, sis ?
ehhehehe... trimakasih.. Icchan-san!!
lanjutannya sudah saya buat. Tapi, saya ingin melihat respon pembaca dulu :)
ehhehehe... trimakasih.. Icchan-san!!
lanjutannya sudah saya buat. Tapi, saya ingin melihat respon pembaca dulu :)
tanda ( " ) sebelum dialog gak perlu isi space deh kayaknya
oohoho... itu kupelajari waktu les bhs indonesia. hehehe
emang gk bsa ya?
Aku dapet info itu dari majalah story
ng... Baiklah, untuk itu akan Mirza perbaiki lagi :D