Richard sudah berdiri tepat di depan Della. Ia berdiri dengan tenang selama beberapa detik, berusaha menunggu kedua wanita yang sedang berbincang itu menyadari keberasaannya. Baru empat detik berlalu, tapi ia sudah merasa berdiri selama berjam-jam. “Maaf,” ucapnya langsung menyela.
Read more (550 words)
Della dan perempuan setengah baya yang bernama Endah itu menoleh. Cowok di hadapan mereka itu tidak bisa dibilang tampan, meski orang bilang ketampanan itu relatif tapi Della menilai pria itu berwajah biasa aja. Wajah keras khas pria yang sudah mapan. Wajah standar seorang dokter. Ah..entah...Della memang tidak ahli mendeskripsikan sesuatu.
“Nama saya Richard Kantera. Saya membutuhkan Anda di Korea untuk menjadi penerjemah saya. Anda bersedia kan?” Itu bukan pertanyaan, itu perintah. Suara Richard terdengar tegas dan dalam, membuat Della yakin pria ini memiliki kekuasaan, kepintaran atau harta yang membuatnya sangat percaya diri.
“Kapan?” Della menutupi keterkejutannya. Tidak pernah ada tawaran pekerjaan secara individu seperti ini.
“Minggu depan. Hari Sabtu. Jum’at pagi kita berangkat dari sini dengan penerbangan jam setengah 8. Sabtu jam 10 acaranya dimulai. Giliran saya, menurut jadwal sekitar jam 11.” Jawaban Richard membuat Della menyipitkan mata dengan menautkan alisnya. Pria ini sungguh yakin dirinya akan pergi ke Korea bersamanya. Dan pria itu benar. Ia tertarik. Entah apa kata bosnya nanti jika ia harus terbang ke luar negri. Tiga tahun bekerja di Transworld, belum pernah ia mendapat job ke luar negeri. Ia selalu menjadi interpreter pada seminar-seminar nasional. Ia penerjemah ahli dibidang medis. Terimakasih pada ayahnya yang menggembengnya dengan jurnal-jurnal kedokteran berbahasa Korea. Begitu Della mengatakan pada ayahnya ia ingin mengambil jurusan sastra Korea, tanpa mengatakan satu patah katapun gadis ini tahu ayahnya kecewa.
Kakaknya terlebih dulu mengecewakan ayahnya dengan mengambil jurnalistik, beberapa detik kemudian, kekecewaan itu bertambah besar, layaknya bola salju yang menggelinding dari atas gunung. Dua bersaudara itu mengungkapkan keinginan mereka bersama-sama, tahu benar bahwa ayahnya menginginkan salah satu dari mereka mengikuti jejaknya. Sayang, dominasi ibunya yang menyukai seni lebih besar meski wanita itu telah meninggal sejak dua bersaudara ini duduk di bangku SMP. Betapapun kecewanya yang dirasakan ayahnya, ia tetap mendukungnya.
Awalnya, Della merasa gemblengan ayahnya sebagai suatu penyiksaan. Ia tidak perlu tahu kosa kata kedokteran. Ia tidak butuh menerjemahkan jurnal-jurnal ayahnya. Ia cuma ingin mendalami bahasa Korea saja.
“Kenapa harus jadi sarjana kalau cuma ingin bisa bahasa korea? Kursus saja sudah cukup.” ayahnya menghardiknya, beberapa bulan setelah ia menimba ilmu di Kyung Hee University, belasan kali setelah ia menahan dirinya menolak permintaan ayahnya menerjemahkan sebuah jurnal untuknya.
Bayangan ayahnya pecah. Ia kembali menatap pria di depannya. “Bagaimana dengan fee nya?” tanya Della terus terang.
”Itu bisa diatur. Ini kartu nama saya. Kirimkan saja perinciannya di email.” Richard mengambil kartu nama yang sudah ia persiapkan di kantong kemeja lengan panjangnya. “Bidang saya identifikasi jenasah dan kriminalitas melalui gigi. Anda ada pengalaman di bidang ini kan?”
Della membalas cepat. Ia tersinggung, keprofesionalitasnya dipertanyakan. “Post mortem, bite mark dan sejenisnya?”
Richard terpesona, tapi tidak diperlihatkannya. Gadis ini memang pintar. Ia mengangguk. “Anda terima beres saja. Visa dan akomodasi akan saya persiapkan semuanya. Tiket akan saya kirim ke rumah Anda,”
Della mengambil kartu nama itu. “Oke,” ucapnya singkat seperti anak kecil yang patuh pada segala aturan yang dibuat ayahnya. Ia tidak perlu menanyakan detailnya lagi. Entah kenapa, ia percaya ucapan pria asing itu. Bagaimanapun, pria itu dokter kan? Masa orang terpelajar berbohong? Della mengangguk-angguk kecil sambil memandang punggung pria itu yang mulai menjauh. Diamatinya kartu nama yang sekarang sudah berada di tangannya itu sambil menahan senyum. Kira-kira berapa ya feenya?
Rating Views: 229 reads
Comments: 7
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
Be the first person to continue this post
kereeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn ^^
rasanya menyenangkan membaca cerita ini
emang sengaja sedikit2...biar ga bosen...hehehe..
wah..target pembaca ya...biasanya sih remaja-dewasa muda. Sementara ini pembacanya biasanya kelompok segituan...cewek kebanyakan karena mereka tertarik dengan 'korea' nya...hahaha
Aku suka gaya postingnya. Pendek-pendek. Mata jadi ga perih^^
Omong-omong, cerita ini kayaknya bakal banyak ilmu yang bisa ditimba. Untuk itu, tetapkan dari sekarang target pembaca. Mau remaja, dewasa, atau kalangan tertentu. Soalnya, itu akan mempengaruhi kedalaman informasi atau tingkat kesulitan pemahaman^^
deleted...keliru posting...hehehe
tengkyu2 komennya...ntar aku lanjutin lagi yah :)
wew, gaya penulisan kamu oke bgt, aku baca dengan asyik. sangat mengalir, pokoknya keren!! bab ini masih blum kelihatan konfilknya ya. oke, ditunggu kelanjutannya.