Kelas XI IA 4. Aku terduduk di pojok kanan depan kelas dengan wajah menunduk. Teman sebangkuku hari ini kembali tidak masuk, dan kudengar beberapa mulut di belakang berlontar kata-kata yang cukup pedas. Satu di antaranya bahkan terkikik.
“Hari ini ada yang low batt lagi, ya?” Itu Stela. Begitu tahu kursi di sampingku kosong, ia langsung membuka konferensi dengan teman-temannya. Mereka berkumpul di pojok kanan belakang kelas, sehingga dengungan mereka cukup terdengar olehku.
Enak bacanya. Meski aku merasa bs menebak arah cerita, tp kurasa akan ada hal2 yg tak terduga nantinya. Aku cuma msh kurang mengerti kenapa temannya bs ngomong 'low batt' soal jantung seseorg dg tanpa perasaan. Kayaknya kejam aja. Ada konflik sebelumnya di antara mereka y?
Kyaaaa, keren cuy .. lanjutkan, pro rakyat dan lebih cepat lebih baik ...
Thanks sudah visit ke jendela k.com ku .. d'a luka lama memang berdasarkan kisah nyata, dan judulnya emang begitu .. Do'a Luka Lama. Ada yang terluka, ada yang dilukai, yang melukai tidak merasa melukai, yang luka bingung lukanya nggak sembuh-sembuh, lalu berbuah do'a ... btw, thanks karena sudah komentar. Visit ke blog ku yah, trus tinggalkan jejakmu juga .. senag mengenalmu di k.com
Hahhaa. Jujur aku kaget dengan komentarku waktu itu. Napa ya aku bisa komen aneh begitu? Karena setelah kubaca ulang, cerita bersambung ini enak-enak aja, kok.
Hm, apa mungkin karena di awal kau menggunakan analogi low-batt untuk menggambarkan jantung yang lemah, ya? Soalnya kalau rada kupikirin lagi, sih, kesannya agak berlebihan. Bayangkan anak SMA zaman sekarang ngobrolnya kek gimana... meski, well, kelas IPA sekalipun engga menjamin chit-chat mereka itu bermutu. Maksudku, rasanya kau belum membuat dialogmu senatural dialog-dialog anak SMA pada umumnya. :D
(uh, lagian, keknya ngebuat pesawat kertas itu agak buang-buang waktu. mengapa tak kau bilang meremas kertas lalu melemparnya ke arah si biANGgosIP? :p)
Selain itu dialog antara Bibi dirGITA (haha, rupanya kau terobsesi jadi dokter juga [apa gitu ya maksudku?]! hahaha) dengan Sira juga agak kaku. Terlalu banyak detil dengan kata-kata semanis madu. Karakter mereka jadi agaknya mirip-mirip (terlepas dari mereka emang sedarah).
Hm, kalau masalah deskripsinya yang kurang mengalir. Sorry, my bad. Ini udah ngalir banget, kok.
Oke. Bacanya mengalir. Di beberapa paragraf awal cukup mengundang rasa ingin tahu. Pengenalan konflik juga tidak ditunda-tunda. Nanti saya baca ulang lagi, untuk lebih detailnya.
Cerita ini terinspirasi dari lagu Opick, yang salah satu liriknya berbunyi, "Bila waktu tlah berhenti...."
Mohon komentarnya, kritikan plus saran. Sehingga cerita ini bisa lebih mengalir dan menyentuh. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku lebih suka membuat cerita dengan tema seperti ini....
heheh selesai baca bagian satu beralih ke bagian dua :)
hhhhhhmmmm...
Enak bacanya. Meski aku merasa bs menebak arah cerita, tp kurasa akan ada hal2 yg tak terduga nantinya. Aku cuma msh kurang mengerti kenapa temannya bs ngomong 'low batt' soal jantung seseorg dg tanpa perasaan. Kayaknya kejam aja. Ada konflik sebelumnya di antara mereka y?
Kyaaaa, keren cuy .. lanjutkan, pro rakyat dan lebih cepat lebih baik ...
Thanks sudah visit ke jendela k.com ku .. d'a luka lama memang berdasarkan kisah nyata, dan judulnya emang begitu .. Do'a Luka Lama. Ada yang terluka, ada yang dilukai, yang melukai tidak merasa melukai, yang luka bingung lukanya nggak sembuh-sembuh, lalu berbuah do'a ... btw, thanks karena sudah komentar. Visit ke blog ku yah, trus tinggalkan jejakmu juga .. senag mengenalmu di k.com
http://arsitekbersastra.blogspot.com/
wah, ini bakal jadi cerita sedih niyh..
well, selamat berjuang dan jangan menyerah!
(*sama seperti yang lain, menunggu kelanjutannya)
banyak hal yg masih tanda tanya ya... moga2 dijelaskan di bab berikutnya. he3.
wuaaaaaah..........
stuju, agak kurang mengalir, tp ok kok!
judulnya mengharu-biru.
dialognya terlalu berat.
deskripsinya kurang mengalir.
:)
Sarannya, dong, supaya lebih mengalir....
Hahhaa. Jujur aku kaget dengan komentarku waktu itu. Napa ya aku bisa komen aneh begitu? Karena setelah kubaca ulang, cerita bersambung ini enak-enak aja, kok.
Hm, apa mungkin karena di awal kau menggunakan analogi low-batt untuk menggambarkan jantung yang lemah, ya? Soalnya kalau rada kupikirin lagi, sih, kesannya agak berlebihan. Bayangkan anak SMA zaman sekarang ngobrolnya kek gimana... meski, well, kelas IPA sekalipun engga menjamin chit-chat mereka itu bermutu. Maksudku, rasanya kau belum membuat dialogmu senatural dialog-dialog anak SMA pada umumnya. :D
(uh, lagian, keknya ngebuat pesawat kertas itu agak buang-buang waktu. mengapa tak kau bilang meremas kertas lalu melemparnya ke arah si biANGgosIP? :p)
Selain itu dialog antara Bibi dirGITA (haha, rupanya kau terobsesi jadi dokter juga [apa gitu ya maksudku?]! hahaha) dengan Sira juga agak kaku. Terlalu banyak detil dengan kata-kata semanis madu. Karakter mereka jadi agaknya mirip-mirip (terlepas dari mereka emang sedarah).
Hm, kalau masalah deskripsinya yang kurang mengalir. Sorry, my bad. Ini udah ngalir banget, kok.
Cheers, Pap :)
Uh, koneksiku jelek. Dobel post -_-
Well, aku akan lanjut baca bagian selanjutnya.
penasaran... masih belum nangkep bandul bentuk arlojinya kayak apa..tapi lanjutinnn
Lanjutin yaa..:)
Setuju sama Samalona alurnya mengalir dan mengundang rasa ingin tahu, ditambah dengan adanya jam penghitung mundur kematian feelnya jadi makin berasa.
Ditunggu lanjutannya, eh aku dah liat komik Ubunchunya. Lumayan sih, walau kurang mengekspos sisi OS nya masing-masing
Kunjungi aku juga yah.Dikritik, dicaci, dimaki terserah. Tapi harus dikomenin :D
uups...
jenis kesedihan yg chie suka.
sangad2 ditunggu lanjutannya, kak dirgi :D
Sama dengan samalona. ditunggu kelanjutannya...
a
Wah, komennya ketinggalan^^
Oke. Bacanya mengalir. Di beberapa paragraf awal cukup mengundang rasa ingin tahu. Pengenalan konflik juga tidak ditunda-tunda. Nanti saya baca ulang lagi, untuk lebih detailnya.