Peri Cinta, dengan wajah tertunduk, membuat langkah-langkah panjang menyusuri lorong Istana Langit. Ia melangkah begitu cepat hingga mengabaikan hormat yang diberikan oleh para penjaga. Saat telah mencapai gerbang Singgasana, ia berhenti sesaat untuk menarik nafas.
“Hadapkan aku kepada Kaisar,” ucapnya kepada kepala penjaga.
Kepala penjaga melemparkan tatapan aneh kepadanya. Saat ia membuka mulutnya, Peri Cinta mengangkat tangan kanannya, “ Lakukan saja, segera! Ini darurat.”
Read more (1017 words)
Kepala penjaga menutup kembali mulutnya—mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia sadar sesuatu yang sangat penting pasti telah terjadi karena tidak setiap hari Peri Cinta menunjukkan wajah pucat dan ketakutan. Peri Cinta biasanya selalu tersenyum hangat, menyebarkan perasaan damai dan bahagia kepada yang melihatnya. Namun hal itu tidak terjadi hari ini.
“Tunggu sebentar,” kata kepala penjaga yang lalu masuk ke ruang Singgasana.
Ketika kembali, ia mempersilahkan sang Peri untuk langsung menghadap kaisar.
“Kau tampak tak biasa hari ini, ada apa?” tanya Kaisar saat sang Peri selesai memberi hormat.
“Gawat Paduka, telur cinta ... ,” kata Peri Cinta.
Ia berhenti sesaat dan terlihat ragu menyelesaikan kalimatnya. Jeda itu memang hanya sekejap, namun dalam waktu yang sangat singkat itu kegundahan sang peri menyebar dan menyengat begitu kuat.
Kaisar menatap tajam. Ia menahan diri—memberi kesempatan kepada Peri Cinta untuk menyelesaikan kalimatnya. Namun, tanpa bisa ditahannya, kegundahan sang Peri perlahan menyengatnya.
“...Telur cinta Paduka,” ulang sang Peri, ”Telur cinta telah berubah menjadi hitam.”
Deg!
Mata Kaisar sedikit membesar dan tubuhnya menegang. Ia tahu ini pertanda buruk. Telur cinta seharusnya berwarna merah jambu dan telah berabad-abad lamanya telur itu selalu berwarna merah jambu—menandakan cinta dan kebencian berada dalam keseimbangan. Hitam seperti halnya putih adalah dua kutub ekstrem yang hampir mustahil untuk tercapai. Saat telur cinta berwarna putih, telur itu memberi tahu bahwa seluruh manusia sedang diliputi cinta dan kasih sayang. Tiada lagi rasa benci di hati mereka. Sebaliknya hitam, memberi tahu para penghuni langit bahwa kebencian sedang merajai manusia.
Mungkinkah telur itu salah? Pikir Kaisar. Tapi selama berabad-abad telur itu tidak pernah salah?
Ada setitik keraguan di ujung pikiran Kaisar tentang keakuratan telur cinta, karena sebenarnya telur itu hanya memantau satu miliar sampel di dunia. Namun selama berabad-abad telur itu tidak pernah salah. Hanya Kaisar dan Peri Cinta yang tahu manusia-manusia yang menjadi sampel, jadi mustahil dalam waktu yang bersamaan seluruh sampel dihinggapi kebencian.
“Apakah telah hitam sempurna,” akhirnya Kaisar bersuara setelah lama diam dan hanya menatap peri cinta.
“Belum Paduka. Namun perkiraanku hanya tinggal beberapa ribu sampel saja yang belum tertulari rasa benci.”
Gawat, pikir Kaisar. Saat dunia tidak dalam keseimbangan maka kehidupan di langit juga akan demikian. Ia harus segera bertindak.
-o0o-
Dalam murung, Peri Cinta berjalan perlahan menyusuri lorong istananya. Setelah berbelok ke kiri, ia akhirnya sampai di ruang kerjanya. Peri Cinta berhenti dan menatap sosok berjubah gelap yang berdiri lima meter di depannya. Sosok itu berwajah keras dengan jubah hitam terbuat dari logam metrinol. Pedang panjang terselip di pinggang kirinya, memperkuat citra gagahnya. Seharusnya sosok itu tidak disini. Istana ini bukan tempatnya.
“Ares,” kata sang Peri.
Ares, sang dewa kebencian melangkah mantap ke arah Peri Cinta. Matanya menatap lurus ke arah Peri Cinta dengan ekspresi sedingin malam.
“Apakah dia telah mengetahuinya?” tanya Ares tanpa melepaskan pandangannya dari Peri Cinta.
Sang Peri mengangguk lemah, menunduk, mencoba menghindar dari tatapan Ares. Guratan kesedihan tergambar jelas di wajah peri cantik itu. Bagaimana tidak, selama berabad-abad dia berhasil menebarkan cinta ke penjuru dunia, hingga pengaruhnya dan pengaruh kebencian selalu berada dalam keseimbangan. Namun kini keadaan telah berubah. Sang Peri tak yakin bagaimana harus bersikap.
Ares semakin mendekat.
Peri Cinta mengangkat wajahnya dan menatap lekat Ares. Ia adalah Peri Cinta yang selalu menebarkan cinta dan kebahagian ke penjuru dunia. Dihadapannya berdiri dewa kebencian yang menjadi sisi lain dari keseimbangan dunia. Mereka berada pada dua sisi yang berseberangan. Mereka seharusnya tidak berada disini, di tempat yang sama.
Ares akhirnya berada tepat dihadapan Peri Cinta.
Tatapannya menghujam langsung ke dalam mata sang Peri. Mata mereka beradu. Tak ada kata yang terucap saat itu, namun mereka bisa saling mendengar perdebatan sengit batin mereka. Saat Ares mengangkat kedua tangannya, Peri Cinta telah memeluknya. Perasaan gundahnya perlahan mereda, kini aura cinta kembali menyelimutinya.
Tanpa perlu bertanya, Ares tahu kegundahan itu. Ia balas mendekap erat sang Peri.
“Kita saling membutuhkan kekasihku,” kata Ares, “Segera setelah kurebut tahta Langit, berdua kita akan memimpin kerajaan ini.”
Peri Cinta hanya diam dalam pelukan Ares. Ia ingin melupakan segala pertentangan yang ada. Momen seperti ini sungguh sukar untuk didapat. Dan karenanya ia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Cinta selalu butuh pengorbanan dan dalam cinta segala rahasia harus dibuka, pikir sang Peri.
Namun, saat ia kembali teringat akan kaisar, perasaan bersalah kembali mengental dalam hati sang Peri. Ia telah menghianati Kaisar Langit dengan memberitahu Ares segalanya. Ia tahu, Ares pasti menggunakan informasi itu untuk meraih ambisinya. Tapi jika ingin bersatu dengan kekasihnya, ia harus berjuang menyingkirkan perasaan itu.
Cinta selalu butuh pengorbanan.
Ares mempererat dekapannya, seolah ingin mengungkapkan terima kasih atas segala informasi yang didapatnya. Berbulan-bulan ia telah menggunakan informasi itu—menyebarkan kebencian kepada para manusia yang diamati oleh telur cinta. Namun, betapa keraspun Ares berusaha, tetap ada puluhan ribu manusia yang tidak dapat dipengaruhinya. Mereka adalah manusia-manusia kuat yang selalu menjaga hatinya, menyingkirkan kebencian dari diri mereka. Manusia-manusia itu sanggup menggunakan kekuatannya tanpa rasa benci sebagai motivatornya. Hal itu membuat Ares tidak mampu untuk membuat telur cinta berwarna hitam sempurna. Dan jika belum hitam sempurna, kekuatan Kaisar Langit masih belum bisa dikalahkannya.
“Apakah dia akan bertindak?” tanya Ares.
Peri cinta melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Ares.
“Aku tak tahu.”
“Aku harus pergi,” kata Ares yang lalu berbalik meninggalkan Peri Cinta menuju pintu rahasia Istana Cinta.
-o0o-
Peri Cinta termangu menatap pemandangan Kerajaan Langit dari balik jendela ruang kerjanya. Semuanya tampak tenang. Namun ia sadar, sebentar lagi kekacauan akan bergulung menghantam.
Demi cintanya, ia telah mengatakan rahasia telur cinta kepada Ares. Kekacauan mungkin akan terjadi di dunia, tapi ia pikir kekacauan tidak akan pernah merambah ke Kerajaan Langit, karena telur cinta tidak akan pernah hitam sempurna.
Kini, tampaknya ia harus mengakui kesalahannya.
Ares memang ahli strategi ulung. Ia pasti telah memperhitungkannya.
Segera setelah kaisar mengetahui ketidakseimbangan kekuatan di dunia, ia akan membagi-bagikan kekuatannya kepada pasukan langit untuk menyeimbangkan dunia. Dan saat para pasukan telah dikirim ke dunia...
“Ah,” sang peri berdesah gundah, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi saat Ares dan pasukannya menyerbu Istana Langit.
Semua ini salahnya. Semua ini salah cinta. Cinta yang membuat kekacauan ini terjadi.
[]
Ronny Mailindra
Jakarta, 4 Oktober 2009
Be the first person to continue this post
Mempersalahkan cinta ya hehehe...iya sih agak flat gitu, konfliknya kurang terasa menurutku.
Terima kasih buat kawan-kawan yang udah kasi komentar. Sementara ini belum kepikir untuk buat lanjutannya. Ngga tau nanti.
A very good opening! Komenku berikutnya sama kaya Hirata-kun: bakal ada lanjutannya? Ato ini hanya sekedar cerita metafora?
wehehee....uda lama ga liat ceritanya mas mailindra....
lanjoooottt!!
wuich
fantastik, sip sip !
Ini dari fanfic apa?
fanfic apa gimana?
maksudnya fan fiction mana barang kali :D
ares dewa kebencian? bukannya dia dewa perang?
ahahah,, btw ini ambil fanfic dari greek mythology kah? saya cukup suka dengan pengambilan tokohnya :) tapi agak flat ya..
Haha iya, Ares kan dewa perang,,
Mungkin hanya menggunakan nama saja
greek mythology? mitologi ngaco he.he.., tau deh ini mitologi apa he.he.
flat ya? iya nih lagi belajar maen-maen ama emosi, bisa kasi pencerahan??
Thanks udah mampir
keren....
maaf jadi dobel kyk gini. internetnya lagi bermasalah
keren....
wow..
ini ada lanjutannya gak?
koq bikin penasaran gini??