LILIA

Aku tahu aku cinta rahasiamu
Dan aku tahu rahasia tentangmu

Lilia menusukkan pisaunya ke seonggok daging di piring di depannya. Menusuknya seolah tidak bermaksud memakannya. Sesungguhnya ia memang tidak ingin memakan apa-apa. Matanya masih saja melekat pada pisau dan daging itu, saat telepon di rumah kontrakannya–yang menjadi satu-satunya penghubung dirinya dengan dunia luar setelah ia menjual TV dan tape recordernya–menjerit-jerit.

“Halo,” ia meraih gagang telepon.

“Lilia! Apa kabarmu? Sudah tiga tahun tidak pulang kampung. Sudah jadi apa kau di Jakarta?”

Lilia mengernyit, mencoba merangkai data-data dalam otaknya tentang suara itu, suara wanita cempreng penuh semangat yang sepertinya pernah dikenalnya.

“Hai, aku….”

“Hmm…. Kau pasti lupa padaku, kan? Dengar, aku mendapat nomor teleponmu dari ibumu. Katanya kau sudah tiga tahun tidak pulang, tidak jelas beritanya. Ini aku, Lena.”

“Lena!” Lilia terlonjak. Bagaimana ia bisa melupakan Lena yang sejak kecil terus bersamanya?

“Eum, kau dimana, Len?”

“Sekarang sedang di Jogja, sudah tiga hari. Kemarin aku ke rumahmu. Nah, Lilia, katanya kau belum menikah juga?”

Lilia menarik nafas enggan. “Eh, em… hampir,” jawabnya lesu.

“Hampir menikah? Katanya ibumu selalu tidak setuju pada pacar-pacarmu?”
Lilia menarik nafas lagi. Bicara dengan Lena sama seperti bicara dengan wartawan gosip. Dan tidak bertemu dengannya selama empat tahun terakhir, membuat Lena seolah ingin mengorek informasi apa saja darinya sekarang.

“Yah… begitulah. Yang terakhir ini seorang dokter, ibu setuju.”

“Tapi kau bahkan tidak pulang menemui ibumu untuk memperkenalkannya?”sahut Lena cepat.
Lilia melilitkan telunjuknya pada kabel telepon. Mungkin sudah saatnya ia harus bercerita pada seseorang–setelah sekian waktu memendam kebusukan-kebusukannya sendirian.

“Begini masalahnya, Len… aku… aku selalu tidak bisa setia. Jadi…”

“Jadi bagaimana bisa seorang wanita yang tidak setia menikah dan memberikan hati hanya untuk satu lelaki, begitu?” potong Lena, lalu menghela nafas, “Apakah kau masih Lilia yang kukenal waktu itu?”
Lilia waktu itu, adalah Lilia yang jatuh cinta, dan seperti layaknya remaja ABG lainnya, terluka, menangis dan mengasihani dirinya sendiri. Dan Lilia, seterusnya memposisikan diri sebagai sang pecinta yang gagal. Mencintai Seno ternyata lebih sakit dari yang dilihatnya di sinetron-sinetron bodoh itu. Sampai lama setelahnya, ia masih menunggu orang yang sama, orang yang seterusnya tidak pernah menatap ke arah gadis buruk rupa sepertinya. Pacaran dengan siapa saja padahal hatinya untuk Seno. Benar-benar bodoh.

“Ehm… oke….” Lilia merasa harus mengakhiri lamunan busuknya, juga pembicaraan aneh itu. “Jadi, ada apa di Jogja sekarang?”

“Tidak perlu mengalihkan pembicaraan, Li. Karena apa yang akan aku katakan tetap ada hubungannya dengan Seno-mu itu. Akan ada reuni SMU dan kau diundang. Tepatnya, aku yang mengundangmu.”

“Kau yang mengundangku?” Lilia mengernyit.

“Aku akan bertunangan, dan mengundang semua teman SMU yang aku kenal. Ide bagus bukan? Sekalian kita bisa reuni.”

“Ide bagus?” Lilia menjulurkan lidahnya. Ide bagus apanya? Lena adalah gadis paling cerewet di SMU mereka. Entah berapa orang di sekolah yang ia kenal. Yang pasti lebih dari tiga ratus orang. Dan pastinya… Seno adalah salah satunya.

“Kau… bertunangan dengan siapa, Len?”

“Atasanku di kantor. Ah, sudahlah, kau pasti datang, kan? Aku tahu kau masih menganggapku sahabatmu, dan tidak mungkin melewatkan pertemuan dengan Seno.”

Lilia menghela nafas. “Lena…. Kenapa sih harus dikaitkan dengan Seno? Aku juga sudah hampir bertunangan dengan Dava. Tidak ada yang penting lagi tentang Seno. Ia hanya cinta monyet.”

Lilia mendengar Lena mendengus, lalu tertawa. “Oh, dokter itu bernama Dava? Apapun itu, datanglah, Li. Tanggal 6 Agustus, di rumahku. Ah, sudah ya. Mahal telepon ke Jakarta. See you…”

Lilia meletakkan gagang telepon dengan murung. Tentu saja ia mau datang. Demi Lena, demi Dava yang ingin bertemu ibunya, atau bahkan memang…. Demi Seno. Lilia tersenyum kecut. Bodoh sekali jika ia harus mengalami ini. Mengingat Seno lagi setelah delapan tahun mereka sama-sama lulus SMU. Melewati waktu dengan bekerja di butik yang gajinya pas-pasan, pacaran dengan banyak pria–yang biasanya hanya seumur jagung, jarang pulang karena tidak punya biaya, sementara orang tua di rumah memburu-buru untuk menikah. Lilia merasa hidupnya tragis. Bahkan sekian banyak lelaki yang ditemuinya tidak membuatnya merasa istimewa. Entah, mungkin karena ia juga tidak pernah mengistimewakan mereka seperti…. Seno. Dava mungkin bisa disebut pengecualian. Ia seorang dokter muda, baik, sabar, dan mau serius dengan mengajaknya menemui orang tua Lilia meski mereka baru kenal dua bulan terakhir ini.
Lilia menghela nafas. Seno… kenapa ia hadir di saat seperti ini, saat Lilia telah merasa menemukan pegangannya kembali di sosok Dava?
***

Aku sadar dia selalu di sampingmu
Tapi aku yakin hatimu jauh

Sepertinya tidak ada yang lebih bahagia dari Lena malam hari ini. Ia mengenakan gaun biru muda yang anggun dengan mahkota di kepalanya. Dan tunangannya tenyata lebih tampan dari bayangan Lilia. Hmmm…. seperti seorang putri menyanding pangerannya. Senyumnya mengembang saat menyalami tamunya yang hadir–hampir delapan puluh persen dari yang Lilia perkirakan.

Lilia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Bukan untuk mencari siapa-siapa, memang. Matanya telah menangkap sosok itu sejak memasuki rumah Lena. Seno datang sendirian, wajahnya tampak lebih matang dari dulu. Kata Lena, Seno tetap tinggal di Jogja dan menjadi novelis di beberapa penerbit besar. Lilia tahu itu. Buku-buku Seno yang dikoleksinya diam-diam di Jakarta-lah yang terus menumbuhkan perasaan itu. Setidaknya, sebelum Dava datang. Meski setelahnya, ia masih juga merasa bodoh dengan terus membanding-bandingkan Seno dengan Dava.

Dava menggamit lengan Lilia yang tampak gelisah. “Kenapa, Li? Lapar?”
Lilia tergagap. “Eh… ti-tidak. Cuma… dingin…”
Dava merangkul pundak Lilia, seakan ingin melindunginya dari dingin. Lalu mengajak gadis itu mencari makanan yang hangat.

Lilia menggigit bibir di bawah dekapan Dava. Mengutuk diri karena merasa bersalah mengabaikan kebaikan hati lelaki itu. Apalagi saat mendadak matanya bertabrakan dengan sepasang mata Seno yang berdiri tepat di seberang meja tempat mereka mengambil makanan. Lilia makin merapat di tubuh Dava. Tapi ia merasa, pandangan Seno menguncinya.
***

Jogja, tiga tahun kemudian,

Sudah, sudah… hentikan tangismu
Percayakan saja cintamu padaku
Sudah, sudah…Lupakanlah semua
Percayakan saja hidup bersamaku….

Lilia menatap Lena kesal. “Aku masih tidak percaya kalau kau dulu adalah sahabatku!” pekiknya, disambut tawa Lena yang membahana.

“Oh, jahatnya kau, Lilia. Aku sudah merawatmu sekian bulan, membantumu mengingat masa lalumu, dan…”

“Dan menyuapiku dengan bubur hijau menjijikkan itu!” Lilia meleletkan lidahnya jijik.

“Ah, ini cuma nasi dan bayam yang diblender, kok.”

Lilia mencibir. “Memangnya aku bayi? Huh!”

“Lilia sayang, kau membutuhkan ini.”

Lilia memandang Lena lagi. “Kalau kau sahabatku, kenapa selalu mengatakan hal buruk tentangku?”

Lena meletakkan mangkuk bubur hijau itu dan menggenggam tangan Lilia sabar.
“Hal buruk apa? Aku mengatakan hal-hal baik tentangmu, kan? Bahwa kau punya suami yang sangat baik… yang meninggal dalam kecelakaan setengah tahun lalu. Kecelakaan yang juga membuatmu hilang ingatan seperti sekarang.”

“Aku tahu. Kau sudah mengulang kalimat itu duapuluh kali lebih,” tukas Lilia. “Tapi aku tidak suka kau bercerita tentang aku yang mencintai orang dengan bodoh!”

Lena tertawa. “Memang bodoh, Li. Kau mencintainya selama lebih dari sepuluh tahun. Bahkan saat kau sudah menikah pun, kau masih menyimpan buku-buku tulisannya. Tapi, saat dia mulai mencintaimu, kau malah melupakannya sama sekali.”

Lilia mengernyit. “Sepertinya aku tidak sebodoh itu, deh.”
Lena menghela nafas, lalu menyodorkan setangkai bunga sakura plastik ke arah Lilia.

“Ini dari Seno.”

Lilia tidak menerimanya. “Seno siapa lagi? Kemarin Dava, sekarang Seno. Sungguh, aku tidak ingat mereka berdua, Len. Ah, jangan mempermainkan aku…”

Lena hendak menjawab, tapi Lilia berkata lagi, “Kalau Dava, meski aku tidak bisa mengingatnya, mungkin ada hal baik tentang hubungan kami.” Ia menunduk.

“Hal baik apa itu?”

“Setelah melihat foto pernikahan kami itu… kurasa… kurasa aku jatuh cinta padanya. Mungkin jatuh cinta sekali lagi.” Airmata Lilia tiba-tiba terjatuh. “Dan meski tidak bisa mengingatnya, saat ini aku merindukannya, Len.”

Lena memeluk sahabatnya itu. “Sekarang dia sudah tidak ada, Li.”
Lilia makin terisak di atas kursi rodanya.

Lena mengelus rambut Lilia yang tipis, memberinya kekuatan.
“Kau pasti tidak ingat doamu di malam pernikahan, kan Li?”

“Apa itu?”

“Waktu itu kau berdoa, agar kau bisa mencintai Dava sepenuhnya, dan melupakan Seno. Kau tahu, sekarang doamu dikabulkan.”

Lilia melerai pelukannya, menatap Lena sedih. “Sekarang ini? Saat aku hilang ingatan begini?”

“Pernah dengar kalimat ini? Tuhan tahu, tapi menunggu. Tuhan tahu kau akan mencintai Dava dengan tulus. Tuhan tahu, Dia akan membuatmu melupakan Seno, dengan caraNya sendiri. Dan Dia menunggu sampai saat ini.”

“Ke-kenapa? Kenapa saat ini? Apa menurutmu, nasibku sangat tragis, Lena?”

Lena menggeleng. “Kau yang selalu bilang padaku kan… Tuhan tahu lebih dari yang kita tahu. Hmmm… sudahlah, ayo makan lagi…”

“Tidaaaakkkk…..”

“Lilia, jangan nakal. Ayo, buka mulutmu!”

“Hentikan!”

Sepasang mata menatap dari balik jendela, menyimak percakapan di dalam ruang kecil itu. Hatinya teriris oleh rasa yang terlambat.

Jika Tuhan tahu lebih dari yang kita tahu… lalu apa lagi yang tergaris untukku, jika bukan Lilia yang akan bersamaku?

Tuhan seakan mengatakan ‘terlambat’ padanya. Tapi, apakah ia yang bersalah karena terlambat jatuh cinta?

Ia hanya bisa melangkah pergi, dan membuang setangkai bunga sakura plastik yang ia bawa ke selokan yang dilewatinya.[]

Jogja, 14 Juli 2009
Inspired by ‘Pihak Ketiga’—song of Shati.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer panah hujan
panah hujan at LILIA (9 years 44 weeks ago)

Jakarta, Jogja. :)
Hu-uh. Pembicaraan tentang Tuhan di atas sana cukup membuatku memiringkan topi di kepalaku. :)