Latvia

Lampu-lampu telah dimatikan ketika Latvia memasuki rumah itu. Segera ia menghampiri sebuah kamar yang letaknya di belakang ruang tamu dan membuka pintunya. Setelah meletakkan tas dan melihat ke sekeliling ruangan, Latvia keluar dari kamar itu, beralih ke ruangan lain yang terletak di samping ruang nonton TV. Latvia memutar pegangan pintu dan membukanya. Seorang laki-laki yang duduk di depan meja gambar menoleh sebentar.

”Baru pulang?”tanya laki-laki itu.

”Iya...”Latvia menghampirinya, memegang pundak laki-laki yang sedang menggambar itu.

”...lembur lagi?”

”Hmm.”jawabnya mengiyakan.

”I miss you, handsome...”Latvia melingkarkan kedua tangannya di depan dada laki-laki itu.

”Vi, aku lagi gambar. Kontraktor itu menyuruhku menyelesaikan pertokoannya cepat-cepat.”

Latvia menghela nafas.”Kamu udah makan?”

”Udah.”

”Aku buatkan kopi ya?”

Laki-laki itu hanya mengangguk dengan pandangan masih pada meja gambar. Latvia berjalan menuju dapur yang terletak menyatu dengan ruang nonton TV, bersama meja makan bundar sebagai pemisahnya. Setelah membuat secangkir kopi tanpa krimer, Latvia kembali ke ruang kerja.

”Ini kopinya.”

”Taruh saja di meja.”

Latvia meletakkan kopi itu di meja kecil disamping meja gambar. Dia berdiri memandangi laki-laki itu bekerja.

”Istirahatlah, ini sudah larut.”ucap Latvia kemudian.

”Kamu aja yang istirahat.”

Kali ini Latvia menghela nafas cukup keras kemudian memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, kembali ke kamarnya. Dengan kecewa ia duduk di tepi ranjang.

”Hey,babe...”terdengar suara dari ambang pintu beberapa saat kemudian.
”...sorry...”

Tanpa memandang asal suara itu, Latvia menunggu kelanjutan kalimatnya. Laki-laki itu mendekat ke arahnya dan duduk di sampingnya.

”…I miss you too,” bisiknya pelan. Latvia masih belum mau memandang laki-laki itu. Ketika laki-laki itu memegang telapak tangannya, Latvia menoleh. Dan saat itu pula laki-laki itu mencium bibirnya cukup lama. Rasa lelah dan penat yang sedari tadi dirasakan Latvia langsung hilang seketika.

”Kamu habis merokok ya?”ucap Latvia.

”Bukannya kamu suka?”goda laki-laki itu.

”Kapan kamu akan mengurangi kebiasaan merokokmu itu?”

”Someday.”

”Handsome...”

”Sejak kamu buka REDSTARZ, kita jadi jarang ketemu. Kamu terlalu sibuk,babe.”

”Aku tahu. Dan tiap kali aku pulang, kamu selalu sedang duduk di depan meja gambar.”

”Kenapa kamu tidak minta Indra buat urus segala kegiatan kedai?”

”Kedai itu baru sebulan dibuka, dear... Gimana aku bisa langsung lepas tangan?”

”Aku nggak mau kamu nanti kecapekan.”

Latvia menatap mata lawan bicaranya. Dia tahu persis apa yang baru saja diucapkan pria itu adalah wujud lain dari ungkapan cintanya. Dan Latvia merasa sangat beruntung.

”I love you too.”balas Latvia. Pria itu tersenyum,”Lebih baik kamu istirahat sekarang.”

”Lalu kamu?”

”Aku harus menyelesaikan gambarku sedikit lagi.”

”Tapi...”

”Babe...”

”Iya deh. Kamu juga jangan kebanyakan merokok ya.”

”Iya, iya.”

*********

”Pagi, Vi.”sapa Daryn, seorang staff personalia yang kantornya paling dekat dengan kantor Latvia pagi itu ketika Latvia baru saja duduk di kursi kantornya.

”Pagi, Dar.”

Cowok tinggi berambut cepak yang kira-kira dua tahun lebih tua dari Latvia duduk di kursi depan Latvia. Latvia sudah cukup akrab dengannya sejak pertama kali masuk ke pabrik itu.

”Aku dengar, Pak Ganda sudah mendapat seorang R&D Supervisor. Dia sudah mulai bekerja hari ini.”

Latvia yang tengah mengangkat gagang telepon, mengurungkan niatnya untuk menelepon begitu mendengar ucapan Daryn.

”Apa?! Kenapa aku tidak diajak berunding sama Pak Ganda ya untuk mencari orang di posisi itu?”

”Kata Pak Ganda kamu sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya. Kamu sudah beri dia banyak pesan tentang kriteria yang kauinginkan. Dan ditemukanlah dia. Dia sangat berkompeten di bidangnya. Aku 100% yakin kau pasti setuju. Jadi tidak perlu lagi diskusi denganmu.”

”Tapi setidaknya biarkan aku menilai orang itu. Meskipun Pak Ganda sebagai Factory Manager, tapi supervisor R&D kan akan sering kerja denganku. Aku nggak mau orang sembarangan mengacaukan produk kita nanti.”

”Dia bukan orang sembarangan, Vi.”

”Daryn...”

”Apa aku sudah bilang kalau dia tuh alumni kampusmu? Kalau nggak salah dia seniormu dulu.”

”Apa?!” lagi-lagi Latvia menghentikan kegiatannya.

”See? Aku tahu kamu pasti bakal kaget banget.”

”Dar, apa kau bisa memintanya menemuiku?”

”Tentu saja. Aku akan turun dan membawa dia naik secepat mungkin.” tanpa dikomando, Daryn langsung keluar dari ruangan Latvia, meninggalkan Latvia dengan rasa penasaran yang sangat besar di pikirannya.

Beberapa saat kemudian terdengar pintu dibuka disusul suara berat Daryn,”Bu Latvia, perkenalkan R&D Supervisor baru kita, Pak Andromeda Aditya.”

Latvia tersentak memandang laki-laki yang berdiri disamping Daryn. Benar apa kata Daryn, dia memang senior Latvia dulu sewaktu kuliah. Dan Latvia masih sangat ingat betul dengan laki-laki itu. Berbeda dengan reaksi Latvia, pegawai barunya itu tampak tenang-tenang saja.

”Vi?”

Tak ingin Daryn bertanya-tanya, Latvia langsung berdiri dari tempat duduknya, menghampiri mereka. Andromeda, seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang. Rambutnya lurus dan ada sedikit bagian yang terjuntai menutupi dahinya. Ada sedikit goresan pada bagian ujung alis mata kirinya. Suatu ciri fisik yang tak akan dilupakan Latvia. Sesaat kenangan masa lalunya berkelebat di pikirannya.

”Latvia Alisha.”ucap Latvia memperkenalkan diri. Mereka pun berjabatan tangan.

”Selamat pagi, Bu. Saya berharap bisa mendapat bimbingan dari Anda.”

”Kalau begitu, saya permisi dulu Bu Latvia. Silakan dilanjutkan.”Daryn berpamitan disusul anggukan dari Latvia.

Latvia dan R&D Supervisor itu kini tinggal berhadapan berdua di dalam ruangan yang kira-kira berukuran 4x5 meter itu. Latvia merasa terjebak dalam posisi itu. Ia hanya mampu terdiam.

”Apa kabar?”

Latvia tak menjawab pertanyaan itu. Ia menghindar, kembali pada berkas-berkasnya di meja.

”Aku kira kau tidak akan mengenaliku. Aku kira kau tak akan ingat padaku.”ucap Latvia kemudian duduk di kursinya.

”Well,ternyata aku ingat kamu. Prediksimu salah. Kau belum jawab pertanyaanku. Apa kabar?”

”Apa itu penting?”baru kali ini Latvia menatap mata laki-laki yang masih berdiri di sebarang mejanya.

”Mengingat kau sekarang adalah rekan kerjaku, aku rasa itu cukup penting.”

Latvia menutup map kertas di mejanya, menyilangkan kedua siku tangannya di atas meja.

”Kupikir tidak akan pernah penting bagimu untuk tahu apapun tentangku sejak dulu.”

”Kau salah.”

”Banyak perubahan dalam empat tahun. Dan aku bisa mengatasi segalanya.”Latvia kembali beranjak dari kursinya.

”Uh, tough woman!” Andromeda tersenyum.

”Kita harus profesional. Jadi Pak Andromeda, silakan kembali bekerja. Karena saya juga harus meneruskan pekerjaan saya.”

”Latvia, Latvia... or... should I call you...kitty?...aku tidak pernah mengira kau akan jadi rekan kerjaku.”

Latvia menatap mata lawan bicaranya cukup tajam,”Kalau Anda tidak suka dengan pekerjaan ini, Anda bisa mengundurkan diri. Dan jangan panggil aku seperti itu!”

Andro tersenyum lagi,”Kau memang supervisor yang tegas. Hmm... tidak... aku tidak akan mengundurkan diri. Aku anggap ini sebuah tantangan.”

”Pak Andro, apa anda ingin produksi kita terlambat? Jadi saya mohon...”

”Iya, iya. Saya akan kembali bekerja, Bu. Apakah ada instruksi untuk saya?”

”Tidak. Nanti akan saya sampaikan kalau ada.”ucap Latvia tak sanggup berpikir.

”Terima kasih atas kerjasamanya...”Andro berbalik dan melangkah mendekati pintu. Sebelum membuka pintu, dia berbalik lagi,”...Anda benar. Empat tahun memang memberi banyak perubahan pada diri Anda.”Andro tersenyum memandang Latvia dari ujung kepala hingga ujung kaki membuat Latvia merasa tak nyaman.

”Ya Tuhan...”ucap Latvia ketika Andro sudah meninggalkan ruangannya. Segera dia menghampiri dispenser yang diletakkan disamping rak TV. Latvia menuangkan air ke dalam gelas plastik dan meneguknya cepat-cepat.”... kenapa harus dia?”

Dalam hati Latvia menyesalkan kemunculan Andro, seseorang dari masa lalunya yang pernah menjejalkan kenangan pahit di hatinya. Sudah lama kenangan itu terkunci rapat di dasar hati Latvia. Namun sekarang, tiba-tiba kenangan pahit itu terasa kembali.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer fairynee
fairynee at Latvia (9 years 45 weeks ago)
70

Cerber ya? Hmm...sepertinya akan menjd cerita yg panjang. Lum ada kejelasan konflik.

Writer Endy Tatsuke
Endy Tatsuke at Latvia (9 years 45 weeks ago)
70

Hm...,gaya penulisannya..., pada umumnya :-D normal. Memang inilah tantangan bagi penulis dengan tema seperti ini. Bisa menarik jika ketemu konfliknya, kalau bagian pengenalan bisa gawat (pembaca cepet bosan) :-D

HAyo...!!!! Cinta Lama Bersemi Besok :P